
Chp. 52 Level 8 : Perubahan Bam.
Dua orang pasangan sedang duduk di bawah pohon yang rindang dengan salah satu cabang rantingnya menjalar ke dalam danau, mereka sedang berada di Tower Lantai Kedua berteduh di bawahnya menyantap buah apel dengan ukiran tato aneh.
"Ini Bam Ak! Ak! Buka mulutmu lebar-lebar... Nah... " Lan Suzi membuat mulut O dan menggerakkan sepotong apel yang telah dikupas di depan wajah Bam seakan meniru pesawat terbang.
"Bam! Kunyah dahulu sebelum ditelan!" Lan Suzi marah melihat bayinya yang menelan langsung makanannya.
"Bagaimana enak, 'kan?" Lan Suzi menaikan salah satu alisnya ingin mendengar jawaban langsung dari Bam tetapi lagi-lagi tidak ada reaksi yang muncul darinya.
Lan Suzi yang melihatnya hanya tersenyum pahit dan tetap melanjutkan menyuapi Bam sampai akhirnya satu buah apel habis dimakannya.
'Oh?! Bukannya ini adalah buah terkutuk? Kita harus memiliki buah ini temanku...'
Lan Suzi tidak tahu jika ruh Bam telah kembali kepada tempatnya dan perlahan terlihat sedang mencoba untuk menggerakkan tangannya.
Bam terbangun dan memperhatikan sekitar dengan perasaan yang bingung, pertanyaan yang muncul pertama kali padanya adalah bagaimana dirinya bisa berakhir di tempat ini.
Bam menatap wajah orang yang sedang duduk di sampingnya, Lan Suzi terlihat sangat menggemaskan karena sedang mengunyah apel juga sampai memicingkan mata dan menggembungkan kedua pipinya.
Perhatian Bam lalu beralih kepada Evans yang sedang berjongkok di kejauhan.
Lan Suzi yang masih disibukan dengan menghabiskan apelnya dibuat kaget dengan pemberitahuan dari sebuah layar hologram, layar hologram ini tiba-tiba saja terbang tepat di depan wajahnya dan membuat jatuh mulutnya.
[ +1.000 EXP ]
[ Level Up! ]
Seiring mata Lan Suzi yang melebar, Bam segera berdiri kemudian berjalan dengan perlahan dan hati-hati untuk menghampiri Evans.
Lan Suzi yang perlu waktu untuk mencerna apa maksud dari pemberitahuan yang tiba-tiba saja masuk tadi, sekarang menjadi lebih bingung lagi di saat Bam bergerak maju.
Dengan dua keanehan ini kaki Lan Suzi seakan merasakan berat yang luar biasa sehingga tidak dapat bergerak dari tempatnya.
Belum sampai dirinya mendekati Evans hanya beberapa langkah setelah meninggalkan Lan Suzi, Bam melihat dua buah pohon yang membuatnya paham asal dari buah yang dimakannya.
__ADS_1
'Kenapa ada dua buah Pohon Keramat di sini?! Ini sangat mustahil keajaiban macam apa ini?'
"Sialan! Aku perlu waktu untuk menaikan levelku dan lihat saja, bocah cilik itu hanya menanam pohon dan memetik buahnya, kemudian dia bisa mendapatkan kekuatan?! Aku penasaran apakah dari dulu cara kerja dunia selalu seperti ini?"
'Tenanglah temanku mari kuasai dulu Pohon Keramat ini. Benar! Pertama mari kita bunuh bocah itu! Entah kenapa aku merasakan kengerian padanya.'
"Diam lah, aku sudah tahu. Tentang Pohon itu kau tenanglah aku bisa membuatnya, yang jadi masalah adalah bocah itu."
'Tunggu! Kau bilang apa tadi? Itu adalah Pohon Keramat, salah satu Pohon Suci yang menopang dunia... Dan kau berani bilang...'
Belum selesai para roh jahat di dalam diri Bam berbicara, mereka dipotong oleh suara seseorang yang mengkagetkan Bam dan roh jahat di dalamnya.
"Bagaimana perasaan mu setelah memakan buah ini."
Bam hanya mengernyitkan keningnya penasaran, bagaimana Evans tahu seseorang berdiri di belakangnya.
Bam tidak pernah menyangka jika pergerakannya yang sangat hati-hati ini, dengan mudah dapat dibongkarnya.
"Hm? Rasanya kurasa sedikit pahit akan lebih baik jika di buat jus." Bam menyeringai melihat Evans yang masih belum mengetahui siapa dirinya.
Bam kemudian menarik pedang di balik pinggangnya lalu menebas Evans yang dalam keadaan tidak siap itu dan berhasil menorehkan sebuah luka yang sangat panjang di punggungnya.
Evans terkejut melihat Bam yang sudah bisa berdiri dan berbicara seperti yang biasanya, tetapi matanya masih tetap sama dan sama sekali tidak berubah tetap berwarna hitam hitam gelap.
Tanpa memberikan waktu kepada Evans sedetikpun untuk berpikir, Bam mulai bergerak untuk mencengkeram kuat leher dari Evans.
Evans sendiri yang masih tersungkur di atas tanah terlihat sedang memegangi punggungnya yang terluka dan saat mendongak kembali, tanpa bisa memberikan perlawanan dirinya hanya bisa pasrah dengan menggenggam dan menepuk tangan Bam berulang kali.
"Uhuk, Kau--" Tubuh Evans sekarang terbang di atas tanah dengan kekuatan dari Bam, tidak berhenti di sana Bam juga memberikan sebuah tusukan hingga menembus bahu kanannya.
"Bagaimana kau bisa sekuat ini?" Mata hitam Bam memandangi Evans lekat-lekat dari atas sampai ke bawah, berpikir bagaimana bisa sosok remaja yang baru berusia 16 tahun ini memiliki kekuatan yang di luar nalar.
Bam sudah mengetahui seberapa kuat Evans semenjak kali pertama mereka bertemu apalagi saat dirinya menghindari serangan dari Lan Suzi, tetapi masih tetap sulit untuk percaya.
"Jleb." Sekali lagi satu tusukan menembus bahu kiri Evans dan membuatnya meringis kesakitan untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Orang-orang bahkan bisa melihat apa yang ada di depan mereka dari dua buah lubang terowongan yang tercipta meski di dalamnya memancarkan cahaya kebiruan.
"Cepat jawablah!"
"Jleb." Satu lagi tusukan menembus di bawahnya menciptakan lubang yang baru.
Sekarang, tanpa bertanya lagi Bam melanjutkan di bawahnya sampai tiga tusukan dan setiap tusukan yang diberikannya selalu membuat ekspresi Evans berubah.
Bahu dan lengan kanan Evans sekarang tercipta empat buah terowongan.
Lan Suzi yang kebingungan dan tidak tahu apa yang sedang terjadi kemudian langsung bergegas dan menghampiri mereka dengan wajah yang pucat, "Apa yang... Apa yang sedang terjadi, kenapa Bam melakukan hal yang seperti itu?!"
Bam melotot kearah Evans sebelum tersenyum, melihatnya yang masih meringis kesakitan dan kebingungan dengan napas yang tidak karuan di tangannya, membuat Bam akhirnya terpuaskan.
Beginilah dirinya bisa membalas kedengkian yang dimilikinya melihat kelebihan yang dimiliki juniornya itu.
"Apa aku harus menunggu sampai kiamat? Baru kau mau memberitahuku Sialan?! Kau mau menyimpan kekuatan sebesar itu sendiri?" Raut wajah Bam sampai memerah karena amarahnya padahal Evans sendiri kesulitan untuk menjawabnya.
Jleb Jleb
Jleb Jleb
Jleb
Jleb!
Entah sudah berapa kali Bam memberikan tusukannya di tubuh Evans, tetapi sudah banyak sekali lubang yang tercipta darinya bahkan sudah sangat mirip dengan sebuah sarang tawon saja.
Bam juga tidak akan berhenti jika tidak mendengarkan langkah kaki dari seseorang yang mendekatinya.
"Sudah, Hiks. Tolong berhenti, Hiks. Kumohon berhentilah... Kumohon padamu Bam huhuhu..."
Suara isak tangis keluar dari Lan Suzi yang sudah berhenti mendekat dan hanya berteriak melihat mereka dari kejauhan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komen, Ok
─\=≡Σ(╯°□°)╯︵┻┻