Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 44 |


__ADS_3

Chp. 44 Level 6 : Sidang Akbar(3).


"Seperti inilah yang dimaksud dengan epic comeback yang sesungguhnya hehehe." Hendra tertawa kecil sembari memijat belakang lehernya, padahal dia tidak merasakan pegal sedikitpun di sana.


Hendra kemudian berjalan perlahan ke tengah aula dari White House.


"Tuan Hakim Agung, biasanya tanpa persidangan perlu diadakan para player yang bersalah akan menerima hukuman yang sangat berat dari Moonlight Guild, dan karena itulah kami menghormati Anda."


Hukuman pencabutan jabatan sebagai kapten, penjara selama satu tahun dan penurunan level sebanyak sepuluh masih dianggap ringan mengingat apa yang telah diperbuat oleh Jun Ichiro.


"Melakukan PK kepada dua anggotaku, memfitnah mereka dan menyerang player yang lebih lemah darinya. Hanya mendapatkan hukuman yang begitu kecil?" Hendra menatap salah satu Hakim Agung, Massa Koujiro.


"Lalu apakah maksudmu jika hukuman yang aku berikan ini masih terbilang ringan?" Massa Koujiro melotot kearah Hendra, membuatnya sekarang mundur ke belakang karena tekanan yang diberikan.


"Ya, Tuan!" Hendra mengangguk membenarkan, meskipun menunjukan tingkah yang berani di hadapan semua orang, tetapi tidak dapat disembunyikan jika keringat perlahan mengucur deras di balik punggungnya.


Hendra sangat ketakutan, jiwanya seakan menjerit dan meronta ingin secepatnya menjauh dari sana.


"Tahi!" Hendra menelan ludahnya, dia mengumpat saat melihat pandangan dari Massa yang tetap tidak berubah dan masih melotot cukup lama kepadanya.


"Kalau begitu mari kita dengarkan apa yang terdakwa Jun Ichiro ingin katakan, katanya dia mengetahui sendiri siapa pembunuhnya. Kalau begitu siapa orang yang telah membunuh dan membuatmu seperti ini?"


Massa Koujiro kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jun Ichiro yang sedang berdiri di podiumnya.


"Heh... Apa maksud anda dengan anggota yang lemah. Lalu bagaimana bisa salah satu anggota mu melakukan hal semacam ini kepadaku?" Jun Ichiro tersenyum lebar kepada Hendra.


"Kau hanya berpura-pura, setelah mengetahui anggotaku yang diam-diam merekam mu. Kau kemudian membunuh dirimu sendiri agar terhindar dari semua hukuman, benarkan!" Hendra berkata dengan sangat yakin, dirinya berulang kali juga menunjuk kearah Jun Ichiro.


"Aku? Aku yang membunuh diriku sendiri? Jangan katakan hal yang sangat konyol begitu." Raut wajah Jun Ichiro tiba-tiba saja menjadi serius. Semua hadirin juga berpikiran hal yang sama dengannya.


Bagaimana bisa seseorang memilih untuk merelakan sampai 10 levelnya, sedangkan exp sangat susah untuk ditingkatkan dan dicari khususnya untuk para player yang melampaui tahap Amateur.


"Justru karena ini kau berpikiran untuk membunuh dirimu sendiri dan mendapatkan hukuman yang paling ringan, kan?" Hendra lalu menaikan salah satu alisnya.


Jun Ichiro yang tidak terima karena semua yang telah diberikannya adalah fakta dan keadaan yang sesungguhnya terjadi di sana, kemudian menjadi sangat geram dan hampir saja mengamuk.


"Sialan, Kau berpikir jika semuanya adalah alasan? Apa maksudmu itu, huh?! Kau hanyalah seseorang player dengan job common dan berani bicara hal seperti itu! Jika begitu cobalah untuk menaikan level, Kau harus mengerti bagaimana perasaan seorang player yang sudah bersusah payah untuk menaikan levelnya, Brengs*k-!!!"

__ADS_1


Perkataannya yang tulus dari dalam hati, membuat Jun Ichiro sukses menggait emosi para hadirin dan penonton yang ada di sana.


Jun Ichiro semakin dipercaya dan di atas angin, dia menjadi lebih kuat untuk memenangkan persidangan hari ini.


"Cih, Kau sangat cerdik. Kau menipu semua orang yang ada di sini!"


"Apa maksudmu? Dari tadi aku masih mencoba untuk menahan diri karena menghargaimu sebagai orang yang lebih tua di sini, tetapi sekarang kau yang memaksa, dasar Pak Tua-!"


"Jaga cara bicara mu, bocah!"


"Diamlah, Bodoh!"


Hendra dan Jun Ichiro saling membalas makian selama satu menit lebih di sana, sebelum pertengkaran mereka akhirnya ditengahi oleh Rodrigo.


Setelah membuat keduanya terdiam Rodrigo kembali dipusingkan oleh kedua belah pihak di belakangnya.


Beberapa anggota dari Paguyuban Usaha Tani yang sedari tadi mencoba untuk bersabar dan menahan diri. Sekarang sudah mulai menunjukan perlawanannya, mereka semua secara bersamaan mengumpat kearah Jun Ichiro.


Sebaliknya dari pihak seberang, mereka tidak terima dan juga ikut memaki para anggota dari Paguyuban Usaha Tani.


Membutuhkan waktu lebih dari dua puluh menitan sebelum akhirnya kedua belah pihak dapat kembali tenang seperti semula, walaupun berkali-kali juga Rodrigo diharuskan menunjukan kemampuannya.


"Cih, Mereka duluan yang telah memulai semua ini!"


"Dasar petani sialan, maju sini jika kau berani!"


Setelah semua orang mengambil istirahat dan menunda persidangan selama lima belas menit.


Persidangan kembali dibuka setelah Rodrigo melihat kembali suasana di sana yang menjadi lebih tenang, dirinya lalu berani untuk melanjutkan sidang dan memanggil Bam untuk maju bersaksi.


Para hadirin lantas berganti arah menatap Bam, di sana mereka melihat Bam yang harus dipapah untuk naik ke podium besar di samping Jun Ichiro.


Setelah sampai di podium Bam hanya dapat diam dan melirik ke sekitarnya, tingkahnya sama seperti orang yang linglung saja, sorot matanya sangat gelap dan kosong seperti tidak adanya jiwa di dalam tubuh itu.


"Hakim Agung, apakah anda tahu jika Bam yang seperti ini karena perbuatan dari terdakwa Jun?" Seiring perkataan Hendra, mata para hadirin terbelalak terkejut.


"Apa maksudmu sekarang orang tua gila?!" Jun Ichiro yang mendengarnya langsung memotong Hendra yang akan melanjutkan.

__ADS_1


"Bisa jadi ini semua adalah ulah dari kalian sendiri untuk memenangkan hati para Hakim Agung dan para penonton, dalam video juga terlihat diriku hanya menebas Bam dan tidak lebih dari itu." Jun Ichiro sekarang membalikan keadaan, alasan yang telah lama dibuatnya sampai seminggu sangat berguna sekarang.


Tentu saja keenam Hakim Agung memihak Jun Ichiro dari awalnya, mereka juga yang telah membuat rencana sampai sedemikian rupa, mencabut jabatan Kapten dari Jun Ichiro meski hanya untuk sementara waktu dan mengembalikannya di waktu yang tepat.


Melihat sudah tidak ada harapan di sisi mereka, Hendra hanya tertunduk lesu dan pasrah.


Hukuman yang akan di jalani oleh Jun Ichiro pastinya akan seperti yang dikatakan oleh Hakim Agung tadi, sangat ringan untuk pelaku penjahat sepertinya.


**


"Ehem! Karena semua perkataan dari Tuan Hendra masih belum terbukti benar maka mari kita lanjutkan ke layar ini."


Seiring perkataan Rodrigo keluar sebuah layar dengan sebuah video dan gambar bertuliskan "Live" di pojok atasnya, di sampingnya juga ada kolom komentar berwarna putih bersih dan berukuran seperempat dari video.


Sontak saja melihat hal ini membuat semua orang terkejut. Sebuah Livestreaming, produk terbaru yang katanya masih berada dalam tahap pengembangan, sekarang telah sempurna dan berada di depan mereka semua.


"Baiklah di sini akan terlihat seorang player. Player inilah yang diduga menyalahgunakan kekuatannya dan membunuh saudara terdakwa Jun dengan keji, benarkan Tuan Jun?"


"Ya Ya! Benar, Dia adalah orangnya. Si Brengs*k itu yang telah membuatku sampai seperti ini hahaha!"


Jun Ichiro menyeringai dan tertawa dengan keras saat melihatnya bahkan sampai tidak kuat lagi untuk menahan air matanya.


"Ini baru pertama kalinya aku melihat sebuah channel video dengan tulisan [ Live ] di atasnya."


"Ish! Kau ini... Itu adalah Livestreaming! Kurasa Broadcasting Alliance telah resmi meluncurkan produk terbarunya."


"Jadi ini adalah Livestreaming yang terkenal itu? Woah. Dengan ini sekarang setiap player dapat melakukan Livestreaming, kan?"


"Benar sekali, bukan hanya di dalam pulau saja yang dapat melihat Livestreaming bahkan dari luar pulau juga dapat melihatnya hehehe."


Mereka sangat bersemangat dengan kabar ini, Livestreaming membuat mereka sedikit terhubung dengan dunia luar meski hanya berinteraksi melalui chat dari kolom komentar.


Semua orang sedang ricuh dengan layar hologram di depan mereka sampai melupakan isi dari videonya.


Siaran Live ini menampilkan seorang bocah yang muncul dari layar dan tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah senjata.


Bocah ini terlihat sangat marah sekali, dia menggenggam erat senjatanya dan maju untuk menyerang seseorang.

__ADS_1


__ADS_2