Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Intermediate player | 118 |


__ADS_3

Semua orang yang mendengarnya menjadi bergidik ngeri dan bergetar ketakutan. Mereka tidak pernah merasakan seperti ini seumur hidup, bahkan kepada Fany yang saat itu memimpin dengan auranya.


Sebaliknya, Fany yang mendengarnya, mulai merasakan sesak di dalam dada. Jantungnya berdetak sangat cepat sekarang.


Evans penasaran apa yang sedang Fany pikirkan sekarang, melihat dia yang tidak bergerak dari tempatnya dan masih mematung.


Evans segera mengambil langkah pertama dengan merentangkan tangan kearah pundaknya sekali lagi, tetapi berhasil dicegah dengan salah satu orang di sana.


"Apa yang ingin kau lakukan, huh?"


Orang itu berlari dan meninju Evans, meskipun pukulannya tidak pernah sampai. Karena Evans yang menampar dengan kuat tangannya sampai berbalik ke belakang. Dia masih juga belum menyerah.


Sayangnya yang kedua tidak ada ampun lagi, Evans meninju tepat kearah kerongkongannya hingga jatuh dan terkapar di tanah.


Fany yang melihat anak buahnya seperti itu, segera membenarkan posisinya dan berdiri tegak dengan mengepalkan tangannya. Dia memilih menghiraukan perasaan yang baru pertama kali dirasakannya itu.


"Lawanmu adalah aku. Kemarilah kau, Evans, kan?"


"...Maka aku tidak akan segan lagi."


Evans berlari kearah Fany dan tiba-tiba saja berhenti. Tepat sejengkal dari wajahnya, sebuah pukulan tak terduga hampir mengenainya.


"Cih. Gagal, ya? Bagaimana bisa kau sampai mengetahuinya."


Mengejutkan sekali, jangkauan pukulan Fany sangat panjang dan cepat.


"Seharusnya orang yang pertama kali bertarung denganku, akan otomatis terkena pukulan itu karena tidak mengetahuinya. Tetapi kenapa kau tidak terkejut sama sekali?"


Fany menyerang Evans dengan memborbardirnya dari segala arah. Suara yang keluar, sangat jelas sekali sampai memekakkan telinga.


Semua orang yang melihat, meragukan jika pukulan itu sungguh berasal dari manusia apalagi seorang perempuan.


Evans berada diposisi bertahan dengan menerima semua serangan Fany. Dan beberapa detik kemudian...


"Apakah seperti ini."


"Guaaaahk-!"


"Mhm. Benar, kurasa seperti itu."


Sebuah pukulan dengan jangkauan yang menakjubkan, ditunjukan Evans dan mendarat tepat mengenai hidungnya. Dia mengakhiri momentum Fany dan membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang.


Fany mengernyitkan keningnya, itu adalah pukulannya dan bagaimana cara Evans bisa menirunya?

__ADS_1


Dengan mengambil referensi dari komik One Piece. Fany terus menerus berlatih dan meniru jurus dari Monkey. D. Luffy, Gear Second, Jet Pistol. Padahal dia perlu berlatih sampai mau mati, tetapi melihat Evans yang menirunya dengan sempurna membuatnya terkejut.


"Jet Pistol, ku... Bagaimana bisa kau..."


"Kau bahkan memberi nama pada jurusmu. Apa kau sungguh masih waras."


"Itu bukanlah jurusku. Dan jangan meremehkan jurus yang luar biasa itu. Kuakui kau memang sangat luar biasa dan memiliki kekuatan... Sekarang, bagaimana dengan ini, huh?"


"Apa lagi itu."


Fany mengambil ancang-ancang dan menarik napas dalam-dalam. Seketika semua orang menjadi ribut dan mengenalinya.


"Tidak mungkin. Apakah bos akan mengeluarkan rasengan!"


"Tidak! Itu bukan rasengan. Itu adalah..."


"Apa lagi sebenarnya itu."


Evans menghela napas melihatnya. Dia tidak mungkin membiarkan semua ini berlanjut atau akan keluar jalur nantinya.


Dalam sekejap Evans berada di hadapan Fany. Hebatnya, Dia masih bisa menyerang menggunakan refleknya.


Evans menangkap dan mencengkeram tangan Fany dengan sangat kuat sampai berbunyi krak di sana. Meskipun Fany sudah berteriak, Evans masih tetap mempertahankan kekuatannya.


Fany sampai membuka lebar mulutnya dan kesulitan bernapas.


Melihat pemimpin mereka yang sedang kesulitan dan menderita, semua orang di sana mulai panik dan berteriak.


"Apa-apaan ini... Jika terus berlanjut seperti itu. Maka bukankah kita nanti yang akan berada dalam bahaya?"


"Tidak. Tidak. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Kalian semua, tenang dan lihatlah ke belakang. Apa yang terjadi jika kita bergabung dengan mereka. Bukankah kesempatan menang kita akan lebih tinggi?"


Dalam kondisi seperti itu, masih ada satu orang yang tetap tenang dan berpikiran rasional.


Sebuah kelompok dengan bendera aliansi sekolah nakal dari wilayah x atau apalah itu, muncul dan membawa banyak orang bersama mereka.


Dengan bantuan jumlah di depan mereka dan Fany yang masih kuat untuk bertarung itu, mereka yakin akan menang melawan monster di depannya.


"Jadi dimana musuhnya?"


"Kami tidak melihat satupun. Dimana Fany sekarang?"

__ADS_1


Tanpa berbicara semua orang itu langsung membuka jalan dan memperlihatkan sebuah adegan yang menyayat hati.


Fany terluka parah dan terus dipukuli di sana.


"Apa yang kalian lakukan. Kenapa kalian semua masih diam saja. Cepat pergi dan serang orang itu!"


"Ba-Baik!"


Mereka semua pergi dan menyisakan satu orang di sana.


'Apakah mereka bodoh atau apa, jika Fany saja bisa mengalahkan kita semua sendirian. Berarti monster yang memukuli Fany juga... Bukankah dia ada diatasnya? Gawat! Jika begini semua wilayah kita akan hancur dan terpecah. Kelompok kita akan... Bubar?'


Evans sekarang melepaskan cengkramannya pada tangan Fany dan berbalik melihat semua orang, mereka berlari dan menuju kearahnya.


Evans tidak mempedulikan Fany yang sekarang sedang meringkuk sembari memegangi perutnya. Dia menarik napas dengan dalam dan menahannya.


Evans melesat dengan sangat cepat menghampiri semua orang di depannya, yang berteriak kencang dan mengibarkan bendera di langit-langit.


Ada lebih dari tiga puluh orang di sana, dan mereka pergi hanya untuk menerjang satu orang di depannya.


Evans memberikan serangan pertama pada seseorang di sana. Dia terus saja memaksa masuk dan menembus ke dalam barisan. Akhirnya, dia sekarang dikelilingi semua orang.


Keributan terjadi sangat heboh, Evans terus menerus menyerang setiap orang dan menghindari pukulan ataupun tendangan mereka juga.


Fany sekarang membuka matanya perlahan, setelah merasakan sakit di perutnya berkurang. Dengan terbaring di atas tanah dia melihat Evans yang berjuang sendirian di sana.


Anehnya, darah dan dadanya dipompa dengan sangat cepat setelah menyaksikan semua itu.


Evans bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia menjaga ruang untuk bertarungnya tetap terbuka. Entah kenapa sebuah senyum manis tersimpul di wajah Fany.


"Kenapa... Apa yang terjadi. Ada apa dengan tubuhku ini sekarang?"


Fany seharusnya merasakan marah, melihat jumlah korban yang tumbang semakin bertambah seiring waktu berjalan. Tetapi kenapa dada dan matanya tidak bisa dialihkan dari Evans?


Saat sedang menyerang, Fany melihat pergerakan Evans yang menakjubkan...


'Indah sekali. Semua yang dia lakukan sangat teratur dan efektif tanpa terlalu banyak membuang energi. Dia juga sangat yakin dalam setiap langkahnya. Pembawaannya sangat tenang meskipun saat ini sedang disudutkan. Lihat, tampangnya juga... Lumayan.'


"Tidak. Apakah aku menjadi gila sekarang. Kenapa aku malah mendukung musuhku? Tubuhku juga menjadi aneh. Ada apa dengan semua ini sebenarnya. Sial. Aku tidak tahu apapun lagi.'


Fany kemudian mulai bergerak dan memaksakan dirinya untuk berdiri dengan kedua kakinya.


"Evans harus kalah dan semua ini harus berakhir sekarang!"

__ADS_1


+++++


__ADS_2