
Napas Evans menjadi memburu. Sudah berapa lama terlewat sekarang, dan dia baru saja menghabisi setengahnya. Ditambah sekarang bertambah lagi yang merepotkan.
Semua orang membentuk lingkaran dan mengepungnya, Fany tiba dan berada di tengah bersama dengan dirinya.
"Semuanya! Ikuti aku dan kita akan menyerang orang ini secara bersamaan. Kalian mengerti?"
"Baik Bos!"
Meskipun harus melukai harga dirinya, tetapi Fany sadar jika dia bukanlah lawan yang sebanding dengan Evans.
Evans masih tetap tenang, meskipun bertambah semakin merepotkan sekarang. Mereka pasti akan lebih terkoordinasi dan sulit untuk diprediksi.
"Pertama-tama menjatuhkan pimpinannya sekali lagi akan kembali membantuku."
"Ohhh? Begitukah, tetapi kali ini akan lebih sulit lagi. Kau tahu kenapa, Evans?"
"Di luar kekuatan seperti jumlah. Mungkin aku tidak bisa menang dari kalian. Tapi, tetap saja aku tidak peduli pada semua itu. Apapun yang kalian rencanakan, tidak akan ada satupun yang bisa menjatuhkanku."
'Apa-apaan tadi itu... Keren!'
Fany tersenyum manis mendengarnya.
Evans memiringkan kepala karena tidak tahu apa yang terjadi pada Fany.
Setelah cukup mengambil napas. Evans kembali melesat ke depannya. Fany tidak tinggal diam saja di sana, dia pergi dan memimpin semua orang untuk mengikutinya dari belakang.
"Buk."
"Bak!"
Evans menepis pukulan Fany menggunakan tangan kirinya. Fany juga sama, menahan pukulan Evans meskipun harus dengan meringis kesakitan. Dari arah belakang, muncul orang-orang yang membantu Fany.
Evans harus mundur karena menghindari serangan itu.
Mereka semua menyerang secara bergantian, setelah menjatuhkan satu orang akan datang yang lain berikutnya. Bahkan Fany kadang ikut membantu, sayang sekali Evans kembali gagal menghabisinya karena terus diganggu di sana.
Tidak ada satupun yang bisa menggores Evans, bahkan Fany tidak berdaya melawannya.
Awalnya semua orang sangat percaya diri, tidak lama kemudian mental mereka semakin terkikis. Perbedaan kekuatan mereka menjadi jelas dan melebar, Evans bahkan berhasil mengalahkan para petarung terkuat mereka.
__ADS_1
Napas Evans semakin memburu, tetapi kekuatan dan kelincahannya masih sama seperti sebelumnya.
Bendera-bendera tanda aliansi yang mereka bawa, jatuh satu persatu. Beberapa orang bahkan mendapatkan patah tulang di tangan dan kakinya.
"Apa-apaan dengan tenagamu itu? Haa... Haa..."
Tersisa lima orang dari mereka termasuk Fany sekarang. Kemenangan sudah berada diujung mata, tinggal masalah waktu saja sampai hal itu terwujud.
Tetapi Fany kembali berdiri, meskipun sudah banyak luka dan memar yang memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tetap kembali berdiri.
"Kenapa kau tidak beristirahat dan duduk saja."
"Jika begitu siapa yang akan menemanimu bermain? Dan, akulah yang seharusnya mengatakan hal itu, kan?"
Empat orang yang tersisa melihat Evans dengan tatapan benci, bersama Fany mereka melakukan serangan bersama sekali lagi.
Hasilnya, tentu saja tidak ada yang bisa menjatuhkan Evans. Dia masih berdiri tegak dengan kedua kakinya.
Fany kembali memaksakan dirinya untuk berdiri.
Pertarungan besar itu berlangsung sampai sore, dan sekarang tersisa dua orang dari mereka. Evans dengan Fany saling berhadapan sekali lagi.
"Aku tidak tertarik sedikitpun dengan pertarungan ini. Aku di sini hanya untuk memberikan pelajaran pada orang-orang yang tidak tahu diri seperti kalian."
Fany tertawa kecil di sana. Dia menjadi sedikit tertarik kepada Evans, entah kenapa dadanya berdetak semakin kencang.
"Kalau begitu, apakah kita harus mulai ronde selanjutnya sekarang?"
Fany tidak menunggu Evans menjawabnya dan langsung melesat kedepan.
"Kalian hanyalah ikan teri yang berenang dan mencoba bersenang-senang di kolam besar. Sampai kemarin, kalian masih bisa selamat, tetapi mulai sekarang tidak akan ada lagi kata seperti itu lagi."
Fany menarik tangannya sangat jauh ke dalam. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk itu, dan memukul Evans tepat mengenai wajahnya. Tetapi dengan cepat semua itu langsung ditepis Evans. Dia memantulkan serangan Fany menggunakan telapak tangannya ke samping.
Dengan cepat Evans masuk dan semakin mendekat, wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa senti.
"A-A-Apa yang-- Apa yang ingin kau lakukan?"
Entah karena matahari sore saat itu atau hal lainnya, tetapi wajah Fany terlihat sangat memerah di sana.
__ADS_1
Tidak berhenti di sana wajah keduanya semakin mendekat dan hampir saja membuat hidung mereka bersentuhan.
Fany juga telah memejamkan matanya dan seolah bersiap.
Tanpa diduga, kepala keduanya berbenturan. Evans memberikan sundulan sangat kuat di dahinya. Bahkan Fany sampai harus terdorong mundur ke belakang. Dia juga berputar-putar di sana.
'Sialan. Apakah aku dijebak olehnya? Ughhh. Sakit sekali...'
Fany yang kesal kemudian menyerang dengan kakinya dan membabi buta, tetapi setelah tendangan kelima. Kakinya tidak bisa digerakkan ataupun diangkat. Evans menginjaknya dengan sangat kuat.
Evans sekali lagi mendekat pada Fany dan menggenggam tangannya.
"Ap- Apa lagi iniii??"
Fany menjadi gugup di sana. Tetapi beberapa detik kemudian, Evans memutar dan menggeser tulangnya.
Fany kemudian menjerit dengan kencang. Tetapi mulutnya langsung dibekap dan disumpal oleh Evans. Dia juga membisikan sesuatu ke telinganya.
"Sekali lagi kau berani bermain-main dengan Ney-- Tidak. Dia sudah bukan urusanku lagi sekarang."
Karena Ney sudah memiliki kekasih. Dia sudah bukan lagi siapapun bagi Evans, hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan dan teman masa kecilnya. Dia juga tidak ingin menjadi teman atau sahabat, apapun itulah kedepannya. Tetapi tidak perlu terlalu menunjukkannya.
Jika Ney mendekat atau ingin berteman dengannya di sekolah. Evans akan bersikap seperti biasa. Tetapi dia tidak akan memulai pembicaraan atau mendekatinya, yang pasti Evans akan menjaga jarak.
"Besok datanglah dan minta maaf kepada semua orang yang telah kau ganggu dengan perbuatanmu selama ini. Juga, kau perlu berubah dan menjadi lebih baik lagi. Atau jika tidak, aku akan mencari dan menghukummu. Ingatlah itu baik-baik.
Aku menjadi sangat jengkel setiap kali melihatmu, perempuan seperti dirimu aku sangat membencinya, kau tahu itu. Mulai dari sini geng konyol ini juga harus bubar. Mhm. Kurasa itu semua sudah cukup untuk saat ini."
Evans menarik tangannya dari mulut Fany dan pergi menuju ke dalam gudang. Dia tidak melihat ataupun peduli dengan ekspresi yang ditunjukkan Fany.
Rekor tidak terkalahkan, menjadi omong kosong sekarang.
Bersamaan dengan matahari sore yang hampir tenggelam Evans pergi dengan membawa Ney di punggungnya.
Meninggalkan puluhan orang yang pingsan dan meringkuk di atas tanah.
Sekarang semuanya sudah berakhir.
Tersisa menunggu apa jawaban Fany berikutnya.
__ADS_1
+++++