Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Intermediate player | 113 |


__ADS_3

Melihat Ney yang berjalan mundur, ketiga orang itu malah ikut bergerak semakin mendekat.


Mereka sekarang menyeringai dan terkekeh kecil, salah satu di antara mereka kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya.


"Ayolah jangan takut. Kami hanya ingin meminta nomer kontak mu tidak lebih."


'Wajahmu terlihat sangat menakutkan saat mengatakannya, apakah kau masih tidak menyadarinya juga Bos?'


Ney yang panik karena tidak tahu bagaimana cara untuk melepaskan diri dari ketiga orang itu akhirnya terpaksa untuk menerima ponsel dengan tangan yang bergemetaran.


Ney juga melirik ke setiap sudut jalan dan tidak menemukan satupun orang untuk dimintai tolong.


Jalanan yang biasanya ramai entah kenapa sekarang tiba-tiba menjadi sangat sepi hari ini.


Bukankah sangat aneh melihatnya, kemana keramaian yang kemarin itu menghilang?


Setelah selesai menulis nomer kontaknya hanya dalam hitungan detik, Ney kemudian menghela napas pelan dan mencoba untuk menenangkan diri.


"Selesai! Ah, benar juga. Seseorang pernah mengatakan begini kepadaku..."


Ney tidak menunjukkan nomer yang ditulisnya itu kepada ketiga orang di hadapannya dan hanya menggenggamnya erat di depan dada.


"...Dia memintaku untuk mencari seseorang pengganti yang lebih baik lagi dari dirinya. Jadi, aku meminta maaf jika agak kurang sopan mengatakan ini. Tetapi kupikir orang itu pasti bukanlah kalian."


"Apaaa?! Beraninya kau berbicara seperti itu di depan Bos--"


"Hei, diam lah sebentar."


"Ba, Baik Bos! Maafkan saya."


"Hmmm, bukankah mantanmu itu sangat kurang ajar. Apakah dia berpikir jika dirinya sudah sangat sempurna sampai melakukan hal seperti itu?"


"Benarkan. Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu kepada perempuan setelah mengatakan suka sampai lebih dari sekali. Apalagi dia langsung pergi begitu saja ke tempat yang sangat jauh dan mengatakan hal-hal aneh lainnya... Bla Bla Bla."


Semua orang pasti mengerti dan setuju jika kesempatan tidak akan pernah muncul untuk yang kedua kalinya, mereka juga berkata jangan pernah buang semua kesempatan yang muncul itu begitu saja.


Ney sangat setuju dalam hal itu.


Buktinya hatinya menjadi lebih lega dan pundaknya terasa lebih ringan sekarang.


Karena tidak memiliki teman untuk berbagi cerita dan tempat untuk berkeluh kesah, apalagi hal ini adalah pengalaman pertama dan hal yang baru baginya.

__ADS_1


Ney menjadi sangat bahagia dan tersenyum puas, dia juga berterimakasih di dalam hatinya.


Meskipun Evans sama sekali tidak meminta untuk menyembunyikannya, tetapi siapa orang yang berani bercerita kepada temannya jika yang diceritakan juga adalah temannya.


Jadi pilihan satu-satunya yang ada di sini adalah menceritakannya kepada orang asing yang sama sekali tidak mengenali orang yang diceritakan.


Jika tidak ada orang yang mengenalinya, mereka tidak akan ada banyak pertanyaan. Benarkan?


Ketiga orang itu tidak ada yang bergerak dari tempatnya berdiri dan hanya menggaruk rambutnya sendiri.


"Ummm, Misi... Apakah sudah selesai? Bolehkah kami mengambil ponsel itu?"


"Sebenarnya aku sudah menelpon kantor polisi sedari tadi."


"Huh??"


Dari awal Ney tidak pernah mengatakan setuju untuk memberikan nomer kontaknya, itulah bagaimana caranya bisa menulis nomer telepon dengan sangat cepat.


Karena hanya dalam tiga digit angka, semua orang bisa melakukan panggilan darurat.


(Maaf sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Silahkan isi ulang pulsa anda sebelum melakukan panggilan ini...)


Langit sore dan udara dingin di sana menjadi saksi bisu diantara mereka bertiga yang sudah sangat panik setengah mati dengan jantung yang lemah itu.


Kenapa bisa dia selalu ceroboh dan melakukan kesalahan dalam setiap akhir pekerjaannya, semua ini mirip seperti sebuah kutukan baginya.


Padahal dia selalu bersikap baik kepada semua orang dan berdoa setiap malamnya, jadi kenapa nasib buruk selalu menghampirinya?


"Kau bilang apa tadi, Nona?"


"Ah! Sudahlah mari kita lupakan yang dulu dan berjalan menuju awal yang baru sekarang. Aku sama sekali tidak menelepon siapapun tadi, sumpah. Jadi, Mi-Misi biarkan saya lewat..."


Ney tertawa canggung dan langsung bergerak keluar dari barisan, dia juga memberikan ponsel itu kepada salah seorang di sana.


Baru melangkah beberapa kaki saja, tiba-tiba tangannya langsung ditarik mundur ke belakang.


"Eeeh. Ma-Mas, Apa yang ingin kau lakukan? Bisakah kalian mengizinkanku pergi dengan tenang keluar dari sini? Aku mohon..."


"Haa... Sayang sekali Nona, jika kau memberikan nomermu mungkin saja semua ini tidak akan pernah terjadi."


'Sial. Kupikir tadi akan tamat riwayat kami bertiga. U-Untunglah setiap kali aku mengisi pulsa, langsung habis untuk paket internet kapitalis itu. Dan sekarang... Apa yang harus aku lakukan pada perempuan ini?'

__ADS_1


Tangan Ney ditarik dengan sangat kuat di sana kemudian terjadi adegan saling tarik menarik antara keduanya. Ney menolak dan melawan dengan sekuat tenaga tetapi masih kalah dengan tenaga pria di hadapannya.


"To-Tolong! Siapapun saja... Tolong...!!"


Suara langkah kaki dari seseorang mulai terdengar dan semakin kencang mendekat kearahnya setelah Ney berteriak.


Kedua orang anak buah itu menyadari apa yang terjadi dan bersiap di sana, mereka menghadang tepat dimana kemunculan langkah kaki dari orang itu.


Tetapi setelah orang itu muncul, tidak ada seorang pun di sana yang akan menyangka jika orang itu sebenarnya adalah seorang perempuan.


.


.


.


Fany menggosok rambutnya yang berantakan sehabis bangun tidur, dia penasaran jam berapa sekarang ini karena melihat matahari yang sudah hampir mencapai puncaknya.


"Gawat aku kesiangan. Bukankah hari ini adalah hari minggu? Kenapa tulisan di hpku malah menunjukkan hari senin?"


Fany menguap dan merenggangkan tulang-tulangnya ke atas.


"Ibu... Hari apa... Sekarang ini?"


"Hah?! Kau masih ada di dalam kamar, nak? Sekarang sudah hari senin kau-- Haa... Terserahlah."


Fany bertanya dari dalam kamarnya dan menguap sekali lagi di sana.


Rupanya sekarang adalah hari senin dan kemarin adalah hari minggu. Rasanya, baru saja kemarin hari sabtu terlewat dan yang benar seharusnya sekarang adalah hari minggu.


Fany mengangguk dan sangat yakin dengan hal itu.


Bukankah dunia berjalan dalam waktu dua puluh empat jam, kenapa sekarang tiba-tiba menjadi berubah?


Apa yang dia lakukan juga cuma membaca komik manhua dan novel, menonton acara sports di televisi dan meditasi, yang semuanya berhubungan tentang martial arts.


Tidak lupa dia mempraktekkan semua itu setelah membacanya.


Saat akan kembali melakukan meditasi yang dirasanya adalah penipuan karena tidak mendapatkan hasil sama sekali, tiba-tiba seseorang menghubunginya melalui ponselnya.


(Fany, ini gawat...)

__ADS_1


+++++


__ADS_2