Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Intermediate player | 116 |


__ADS_3

"Ba-Bagaimana ini... Bagaimana ini, Bagaimana ini! Apa yang harus aku lakukan. Aku bertemu dengan salah satu penguasa sekolah ini. Beauty Of Beast, Fany Indira..."


Wajah Ney tampak pucat sekarang. Dia berulang kali menghela napas di sana, dan juga menyalahkan nasib sial yang selalu menghantuinya.


Sekarang hari sudah siang dan kebetulan bel istirahat sudah berbunyi. Banyak siswa sudah pergi dan meninggalkan tempat duduknya.


Ney masih terduduk di tempatnya dengan mata kosong yang berulang kali berkedip.


"Gawat... Dompetku... Ketinggalan...."


Ney tertawa canggung dan melirik ke seluruh ruangan. Benar saja demi selamat dari ini semua dia harus meminjam uang pada salah satu temannya.


Ney kemudian bersyukur karena menemukan pacarnya masih berada di kelas.


"Ya, Ada apa Ney?"


Saat akan mengatakan niatnya. Seseorang tiba-tiba muncul dan mengetuk pintu kelas.


"Siapa dari kalian semua yang bernama, Ney. Cepat jawab!"


Pria garang botak yang memakai seragam sekolah acak-acakkan muncul di sana. Dia memperhatikan suasana kelas yang menjadi hening dan mencekam.


"...I-I-Itu aku..."


Ney tidak mungkin melibatkan semua teman sekolahnya. Dia mengangkat tangannya dengan ragu-ragu. Tetapi apa-apaan ini kenapa Fany sampai melakukannya sejauh ini hanya karena menabrak saja.


Pacar Ney tampak khawatir dan gelisah di sana, tetapi dia tidak mencegah Ney ataupun mengikutinya dari belakang. Malah seorang laki-laki yang baru saja akan masuk kelas dan mengunyah roti sandwich di tangan kanannya. Mengikuti Ney dari belakang dan berjalan dengan santainya.


Mereka berdua tiba di depan sebuah gudang bekas dan tidak digunakan. Tempat ini sering disebut orang-orang untuk jangan pernah berani mendekatinya.


Tapi apa yang terjadi malah sebaliknya, Ney sangat berani mendekatinya bahkan sampai mengetuk pintu itu dengan wajah yang seakan mau meninggal kapan saja.


Melihat puluhan orang sedang berkumpul di sana dengan Fany yang berada di tengah-tengahnya, sedang duduk di sofa bekas dan membaca sesuatu di ponselnya. Menambah laju denyut jantungnya.


Benar saja di sini adalah tempat markas para siswa nakal di sekolahnya.


"Ah. Lihat siapa yang kemari. Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu kemarin?"

__ADS_1


"Ma-Maaf..."


"Kenapa kau tidak juga kemari. Haa... Sudahlah, lupakan saja sekarang mana uang permintaan maaf yang kau janjikan kemarin?"


"I, Itu..."


"Hmmm, pasti begini, sudah kuduga. Kau akan bilang jika dompetmu tertinggal, kan? Alasan yang sangat klasik. Cih!"


Wajah Ney semakin bertambah pucat saja sekarang. 'Alasan klasik apa...? Aku bahkan tidak pernah berpikiran alasan seperti itu sebelumnya.'


"Kalian semua. Cepat berikan beberapa pelajaran kepada gadis itu."


Fany kemudian kembali berfokus kepada ponselnya yang saat itu sedang memproses gambar komik. Tetapi karena koneksi internet gambarnya terlihat tidak jelas dan blur.


'Dasar. harganya saja yang mahal tetapi koneksinya lemot.'


Ney memejamkan matanya dan berharap jika semuanya adalah mimpi tetapi setelah mendapatkan tamparan keras dari seseorang. Dia langsung membuka matanya dan menyadari jika ini semua adalah kenyataan.


'Ti... Tidak. Tolong. Seseorang, tolong... Tolong Kemarilah. Kumohon. Evans...'


Saat Ney sekali lagi memejamkan matanya karena akan menerima tamparan lagi dari seseorang di sana. Suara berisik dan ricuh muncul dari arah belakang, tepatnya di luar gudang bobrok ini.


"Apa lagi itu. Kenapa ada ribut-ribut di luar?"


"Fany, Aku takut jika kita sedang diserang sekarang. Dari suaranya pasti orang itu lebih banyak dari jumlah kita sekarang. Bahkan sampai penjaga diluar berteriak seperti itu..."


"Baiklah. Teleponlah yang lain suruh mereka semua secepatnya kemari. Oh, Dan juga teleponlah aliansi untuk membantu biar orang ini tahu rasa dan tidak akan mengulanginya lagi."


"Apa, sampai aliansi juga? Tapi... Itukan agak sedikit..."


Fany menatap dingin salah satu penjaga yang tidak mematuhinya itu. Dia memberikan aura intimidasi yang luar biasa menakutkan padanya.


"Aku tidak peduli cepatlah telepon mereka. Dia harus merasakan akibatnya karena menyerang disaat moodku sedang tidak enak hari ini."


"Mohon maaf, tetapi hal itu tidak perlu karena sudah saya lakukan dari awal."


Seseorang di samping Fany tiba-tiba saja memotong di sana.

__ADS_1


"Oh, Benarkah? Baguslah kalau begitu. Kalian! Cepat bukalah pintunya aku ingin melihat dari sekolah mana yang berani menyerang kita."


"Baik!"


Ney sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia hanya terduduk di atas tanah dengan lutut lemasnya. Hal ini baru pertama kali dia mengalaminya.


Dari apa yang semua di dengarnya, akan ada pertarungan besar-besaran di sekolahnya.


Pintu kecil gudang akhirnya terbuka, suara derit khas pintu tua terdengar di sana. Karena gudang ini hanya memiliki satu ruangan maka mereka bisa langsung melihat apa yang terjadi di luar.


Semua orang menahan napasnya, apa yang terjadi di depan mereka mungkin hanya akan ada di sebuah cerita ataupun imajinasi.


Tetapi ini semua adalah kebenarannya.


Ney menjerit melihatnya. Tidak mungkin dia bisa melihat semua ini, orang yang paling penting baginya sekarang berdiri di depan puluhan orang.


Sejauh ini Evans berhasil menjatuhkan lima orang, mereka tergeletak di dekatnya.


"Apa yang terjadi, kenapa di sana. Hanya ada satu orang?"


"Ini, Bohong, kan? Mustahil seseorang berani membuat keributan di sini."


"Dia juga adalah salah satu dari siswa sekolah kita. Apakah orang ini bodoh? Apa dia tidak pernah mendengar nama kita?!"


Mungkin, hanya Fany seorang yang menikmati semua ini. Dia tersenyum lebar melihat dan menjilati bibirnya.


Inilah yang sedari awal diincarnya. Meskipun dia sempat ragu sebelumnya, tetapi setelah melihat hasilnya dia berloncatan dari tempat duduknya.


Sehari sebelumnya, Fany mendengarkan rumor yang cukup aneh dan menjadi terkenal selama beberapa bulan terakhir di sekolahnya. Rumor ini mengatakan jika seseorang menakutkan akan muncul dan melibas semua orang siapapun itu.


Cara mengaktifkannya juga cukup sederhana.


Karena merasa tertarik, Fany kemudian mencobanya. Kebetulan juga saat itu orang ini, Nesya Anindita ada di depannya.


Fany menyeringai dari dalam hatinya dan tertawa kecil.


"Evanssss!"

__ADS_1


Ney berteriak sangat kencang di sana.


+++++


__ADS_2