
Chp. 2 Pelatihan.
Orang pertama yang mengetahui bahwa Evans menjadi player adalah kedua orang tuanya. Evans terlahir dari keluarga yang sederhana, mereka bertiga tinggal di sebuah perkotaan dan menyewa rumah yang seadanya di sana.
Evans tidak pernah membuat masalah sekalipun karena dirinya tidak ingin melihat wajah kedua orang tuanya yang bersedih sekali lagi, seperti yang ada di masa lalu.
Evans pernah melakukan dosa besar dan membuat ayahnya sampai benci kepadanya, keluarganya menjadi berantakan dan keduanya hampir saja berpisah.
Evans kecil tidak tahu mana yang salah dan benar saat itu. Tetapi syukurlah semuanya telah kembali menjadi normal sekarang.
Pagi itu suara burung yang sedang berkicau kalah dengan mesin beroda empat yang tiba-tiba saja parkir tepat di depan rumah Evans.
Terlihat seorang pria muda berusia dua puluhan memberikan salam dan menjelaskan maksud tujuannya kemari. Pria itu adalah pegawai dari pemerintahan, dirinya mengenakan pakaian berwarna serba hitam dari kacamata sampai sepatu.
Setelah dipersilakan masuk kedalam, pegawai itu tidak membuang waktu dan segera menunjukan sebuah surat kepada ketiganya.
Mereka berempat sedang duduk di ruang tengah, ruangan yang kecil dan kosong itu tidak memiliki hiasan apapun selain tv.
Evans merasakan kehidupan mereka bertiga sudah sempurna, dia sangat bersyukur memiliki mereka bertiga. Satu persatu kenangan mulai mengalir di dalam kepalanya, membuatnya bernostalgia dan bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga ini.
Evans melihat kedua orang tuanya meneteskan air mata, perasaan yang aneh mulai timbul lagi di dadanya.
"Ini..." Seorang pria paruh baya yang memecah keheningan adalah ayah Evans, dia menelan ludahnya saat membaca isi surat.
"Kami akan membawa Evans untuk segera memulai sepuluh hari pelatihannya." Kata pegawai yang melepas kaca matanya dan tersenyum ramah.
"Apakah Kami bisa menolaknya? Atau, bisakah hal itu ditunda. Kami ingin lebih lama lagi bersama dengan anak semata wayang Kami ini, berikan Kami waktu dua minggu untuk bersamanya." Terdengar suara perempuan yang masih muda begitu bergetar saat memintanya.
Seolah sudah sering terjadi, pegawai ini hanya menggaruk belakang kepalanya ketika mendengar jawaban yang keluar dari Ibu Evans.
"Maaf, Bu. Kami mengerti bahwa kalian ingin menghabiskan waktu bersama dengan putra anda lebih lama. Tetapi di sini Kami sebagai utusan dari pihak pemerintah tidak bermaksud buruk.
Tugas Kami tetap mementingkan warganya. Sehingga kami memberikan fasilitas pelatihan dan bimbingan yang terbaik untuk seluruh calon player di Indonesia.
Membantu mereka beradaptasi dan memiliki kemampuan serta pengetahuan yang akan berguna di dalam pulau nantinya. Menciptakan player-player yang kuat dengan tujuan menghancurkan Tower sialan itu!"
Pegawai tersebut memang benar-benar ahli di bidangnya, dia berhasil membuat kedua orang tua Evans tidak dapat berkata lagi.
**
Mungkin karena ruangan itu tidak memiliki ventilasi yang cukup, suasana ruangan berubah menjadi panas. Terlihat Ayah dan Ibu Evans masih berdebat dengan pegawai itu hingga memakan waktu sampai siang hari.
Seakan Evans sudah tahu siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya, dia muncul dengan sebuah tas yang kini melekat di punggungnya.
Mereka kini berada di halaman, kedua orang tua Evans saling bergantian memeluknya erat dan seakan ingin membuatnya kesulitan untuk bernapas.
"Hiks, Hiks. Berjuanglah semampu mu Nak, jaga dirimu di sana." Tangis seorang ibu dengan melambaikan tangannya, sedang sang ayah malah berbalik dan masuk ke rumah, "Berjuanglah!" Dia berteriak dari dalam rumah mereka.
Evans tersenyum tipis dan berbalik, perasaannya menjadi lebih baik untuk meninggalkannya. Dirinya perlahan berjalan menjauh dan masuk kedalam mobil hitam mewah.
__ADS_1
**
"Kau itu memiliki keluarga yang luar biasa, orang tuamu terlihat penuh perhatian."
"Terimakasih."
Sepanjang perjalanan mereka banyak mengobrol dan saling mengenal satu sama lain, bahkan pegawai itu terlihat nyaman dan terbuka kepada Evans.
"Hm... Dulu Aku pernah menjemput seseorang. Keluarga itu terlihat senang mengetahui anaknya menjadi seorang player."
Pegawai itu menceritakan jika keluarga yang dia temui itu aneh. Mereka tidak ada yang menolak anaknya untuk dibawa, mereka bahkan ikut membantunya berkemas.
"Sepertinya calon player itu dianggap seorang yang gila. Aku juga tidak tahu masalah apa yang terjadi di sana. Tapi katanya anaknya memiliki kekuatan supranatural, membuat keluarganya diusik dan terus mendapatkan kemalangan."
Evans hanya diam dan mendengarkan. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya mereka tiba di pangkalan militer. Tempat mereka menghabiskan sepuluh hari pelatihannya.
Bangunan dan semuanya sangat besar dan luas serta berwarna serba hijau. Fasilitas di sana juga sangat lengkap mulai dari kolam renang, perpustakaan, kantin, asrama, dan lapangan yang sangat luas.
"Akhirnya. Kita sampai ikuti Aku dari belakang." Kata pegawai itu setelah memarkirkan mobil Mercedes-Benz hitamnya.
Mereka berjalan kearah salah satu gedung dan membuat Evans untuk mengisi formulir calon player di sana.
Setelahnya Evans diharuskan melewati prosedur pengecekan keamanan dan beberapa rangkaian proses, seperti medical check up, pemotretan depan-belakang, pengukuran berat badan dan tinggi badan.
Setelah melewati rangkaian proses itu, Evans akhirnya tiba di depan pintu asrama dan memegang gagang pintu.
"Cklek."
Asrama di sana dibagi menjadi dua, asrama pria dan wanita. Setiap asrama sama, hanya satu ruang besar dengan jumlah kasur yang banyak.
"Dimana tempatku tidur." Batin Evans yang sedang tersenyum canggung melihat banyak orang telah memenuhi satu ruangan. Evans kemudian berjalan berkeliling sampai akhirnya menemukan sebuah tempat kosong baginya.
Setelah Evans menemukan tempat tidur kosong, tiba-tiba tiga orang berseragam tentara muncul dari balik pintu masuk. Seorang pria sepuh botak dan berkumis adalah pimpinan dari dua orang lainnya.
"Selamat sore, rekan-rekanku yang tercinta." Pria sepuh itu menyeringai, dia menoleh untuk memastikan jika semua orang telah mendengarkan, tetapi dirinya terheran saat melihat masih ada beberapa orang yang tertidur.
"Ehem!" Sang pimpinan terbatuk kecil kemudian menatap kedua pemuda gagah di belakangnya.
Kedua pemuda itu langsung paham dengan maksud dari pempinannya, dan menjawab dengan anggukan. Mereka mendekat maju kearah puluhan orang yang memandangnya.
"Selamat datang, di rumah kami yang sederhana. Buatlah diri kalian nyaman seakan sedang bertamasya." Ekspresi yang ramah dan bersahabat ditunjukan oleh pemimpin itu.
"Perkenalkan, namaku adalah Henri. Profesiku? Aku kebetulan seorang instruktur di sini. Ku ditugaskan untuk melatih para calon player dan, memberikan pelatihan bagai Neraka selama sepuluh hari ke depan."
"Plak."
"Plak."
Dua pemuda berseragam tentara itu, secara ajaib muncul didekat orang yang masih tertidur. Mereka masing-masing memberikan tamparan yang keras dan lanjut menghampiri satu persatu orang yang tertidur lainnya.
__ADS_1
"Jadi, akan ku ulangi sekali lagi. Buatlah diri kalian nyaman..." Wajah Henri yang tersenyum berubah menjadi dingin.
Henri dan dua orang bawahannya pergi dengan mengajak orang-orang yang baru bangun dari tidurnya. Mereka membuat ekspresi bingung dan ketakutan, mereka terpaksa mengikuti Henri dari belakang.
**
Malam pun tiba, rombongan itu muncul dengan wajah yang putih pucat dan kelelahan. Keringat mengucur deras di kening mereka, sontak rombongan itu memancing kegaduhan di ruangan. Melihat hal itu beberapa penjaga muncul dan berteriak.
"Diam. Segera tidur kalian akan bangun esok pagi!" Para penjaga melotot ke arah calon player. Seketika situasi menjadi terkendali, tidak ada yang berani mengeluarkan suara.
Malam itu semua orang kesulitan untuk tidur, kecuali satu orang. Jika orang biasa pasti akan sulit untuk tertidur, tapi entah bagaimana dia bisa tertidur pulas malam itu. Seakan tidak ada yang sedang terjadi di sana.
**
Jam 3 pagi, mereka semua dibangunkan dengan bising alarm yang sangat keras. Semua orang dipaksa bangun oleh sekelompok penjaga.
Beberapa yang sulit bangun terpaksa diguyur air dingin. Tetapi karena masih ada juga orang yang tertidur setelah disiram, mereka dibopong beramai-ramai ketempat lapangan apel.
"Ini masih jam 3 pagi, 'kan? Apa-apaan dengan ini semua?"
"Hoam.. Bukankah pelatihan ini tidak manusiawi?"
"Ini, dimana?!" (orang-orang yang dibopong masuk ke lapangan)
Di lapangan terlihat satu orang berdiri dengan gagah, tangan dilipat kebelakang dan tersenyum penuh kebanggaan. Dia adalah Sang Instruktur Sadis Henri. Pagi itu, Henri mengenakan kacamata orange dan topi koboi coklatnya.
Instruktur Henri yakin jika para calon player saat ini sedang bingung dan terkejut karena menerima perlakuan yang seperti ini.
Membayangkan hal itu membuat Instruktur Henri sangat bersemangat. Namun tanpa Instruktur Henri sadari ada satu orang yang tetap tenang. Dia berdiri dan bangun paling bugar.
"Pagi, rekan-rekan sekalian-!"
Puluhan orang berbaris dan membentuk dua barisan. Mungkin karena menahan rasa kantuk yang luar biasa, mereka diam membisu tidak menjawab salam dari Instruktur Henri.
"Pagi ini, cuaca sangat cerah. Karenanya bersyukurlah, Ku takkan memberikan ceramah yang akan membuat kalian mati kebosanan. Langsung saja, Ku katakan hari ini pelatihan kalian resmi dimulai."
Instruktur Henri kemudian menjelaskan latihan yang akan mereka terima.
Pertama apel pagi jam tiga pagi.
Kemudian latihan singkat sampai jam sarapan.
Dilanjut pencerdasan sampai jam makan siang.
Latihan fisik utama.
Dan berakhir dengan apel malam sampai jam makan malam.
Itulah yang akan semua orang lakukan selama sepuluh hari ke depan.
__ADS_1
"Kurasa, kalian akan mengerti. Pertama latihan singkat sampai jam makan sarapan tiba. Kalian akan dibimbing dengan penuh kasih, oleh para Assisten Instruktur di belakang. So have fun."
Gelak tawa Instruktur Henri terdengar menggema di telinga para calon player.