Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 4 |


__ADS_3

Chp. 4 Kapten Kopassus, Jeffrey Agler.


"Dor."


"Dor."


"Boom!"


Suara baku tembak dan ledakan terdengar dimana-mana, mereka semua menggema menghiasi langit malam. Puluhan prajurit terlihat sedang kesusahan untuk mempertahankan markasnya.


"Kapten! Musuh mulai menyerang dari kiri dan kanan."


"Cih. Kita akan mati jika terus begini, apa yang harus kita lakukan sekarang. Cap?!"


Sosok bertubuh kekar dan tinggi, terkejut dengan pemandangan di depannya. Bukan karena medan pertempuran melainkan sebuah layar hologram.


'Hidup adalah sebuah misteri, tidak akan ada seorangpun yang tahu besok akan seperti apa.' Pikir pria itu, dia adalah pemimpin dari puluhan orang ini.


Sekarang pemimpin itu mengambil amunisi yang tersisa dan melilitkannya di leher seperti selendang saja, "Kita berhasil menyusup sampai sejauh ini, Kita tidak akan mundur."


"Tapi ini sama saja dengan misi bunuh diri. Padahal Kita sudah mati-matian menyusup ke sini. Sial!" Tentara itu tiba-tiba berhenti menembak dan bergemetaran melihat kaptennya, "Tunggu... Apa yang akan anda lakukan Kapten?"


Seiring perkataan itu, semua orang spontan melihat kebelakang.


"Dengar! Aku sangat bangga pada kalian semua, tetaplah lindungi tempat ini." Suara sang kapten semakin lirih.


"K-Kapten... Kau... Tidak bermaksud untuk--"


"Sampai jumpa, jaga diri kalian hahaha." Kapten itu masih sempat tertawa dengan kencang saat melihat bawahannya yang menatapnya dengan pucat.


"Aku merasa terhormat, telah mengenal kalian semua prajurit. Selamat tinggal..." Sang Kapten berlari keluar sekuat tenaganya, dia membawa dua senjata dengan amunisi dikiri dan kanannya.


**


Kapten itu sekarang tergeletak dan bersimbah darah napasnya memburu tidak karuan. Tetapi sang kapten masih bisa untuk tersenyum lebar, "Sialan! Memang benar kata orang, hidup penuh misteri."


Sebuah keajaiban nyawa sang kapten tidak melayang. Anggota tubuhnya juga masih lengkap, hanya kelelahan yang sekarang melandanya.


Setelah berhenti tertawa sang kapten menyentuh sebuah logo gambar pesan dan keluarlah...


______________


[ Invitation ]


Kepada Yth. Jeffrey Agler


Selamat anda terpilih sebagai salah satu player yang berhak memasuki Tower, memproses pemindahan anda 719:59:59


Player tergabung : 1.2 M Orang


Waiting list : 1.000 Orang


_______°_______


 


...***...


Perhatian semua orang kini tertuju pada kapten itu, Jeffrey Agler. Mereka berbisik dan bergosip tentangnya.


"Ini, konyol. Bagaimana bisa kapten kopassus menjadi player?"


"Tentu saja Dia akan menjadi player terkuat nantinya, 'kan?"

__ADS_1


Instruktur Henri kembali berbalik kearah barisan, dia menjelaskan pada semuanya jika Kapten Jeff akan bersama mereka selama sepuluh hari kedepan juga.


Kapten Jeff sebenarnya tidak terlalu membutuhkan latihan fisik karena setiap hari tubuhnya selalu dilatihnya sendiri tanpa pernah beristirahat.


Kapten Jeff lebih membutuhkan pengetahuan di sana daripada latihan biasa dengan para calon player, tetapi Henri menolak dan tetap menyuruhnya untuk mengikuti sesi latihan.


Mereka berbaris rapi di lapangan dengan Kapten Jeff yang sekarang berbaris di belakang. Latihan kemudian dimulai dengan sebuah pemanasan.


Sepuluh menit kemudian latihan yang sesungguhnya akhirnya dimulai, para calon player harus berlari dengan sebuah tas seberat 30 kg, latihan ini dikenal dengan nama kaki tomat.


Mereka harus berlari sejauh 2,8 km dalam waktu 12 menit. Untuk calon player yang tidak menyelesaikan tepat waktu dan yang berada dalam posisi terakhir, mereka akan diberi hadiah tambahan.


"Ini, 'kan?" Jeff tahu latihan ini. Latihan ini adalah yang dijalani para pasukan elit khusus. Untuk orang baru akan sangat berbahaya melakukannya.


Jeff berlari mendekat ke salah satu Assisten Instruktur di sana, "Interupsi Pak. Apakah latihan ini memang cocok untuk para calon player. Bukankah ini adalah hal yang berbahaya?"


"Memang ini sangat berbahaya, bahkan untuk Kami yang sudah terbiasa sekalipun masih terasa berat." Jawab sang assisten instruktur.


"Kalau memang begitu--"


"Tenanglah, mari Kita lihat selama satu hari. Pak Tua itu pasti akan merubahnya."


"Tetapi ini.." Kapten Jeff terlihat sangat khawatir dengan semua orang.


Sekarang latihan kaki tomat telah di mulai. Tanpa dirasa sudah 12 menit berlalu, Kapten Jeff berhasil menyelesaikan putaran dan segera berpaling kebelakang.


Tidak ada yang tersisa, mereka semua roboh bahkan sebelum menyelesaikan satu putaran.


Jeff bernapas lega, keputusan mereka sudah tepat meskipun akan menerima hukuman. Asalkan bukan untuk melanjutkan latihan kaki tomat maka apapun itu tidak masalah.


Tetapi jika mereka tetap memaksakan berjalan maka bukan tidak mungkin mereka akan mendapatkan hukuman melanjutkan latihan kaki tomat. Tetapi sayang sekali ada dua orang yang masih berusaha di belakang.


"Tiga belas menit! Silakan melanjutkan putaran sekali lagi dan untuk Kau yang dibelakang. Karena paling akhir, maka Kau akan mendapatkan tambahan 3 putaran lagi."


Keringat segera mengucur deras pada dahi Jeffrey. Wajahnya terlihat seakan pucat pasi sejak mendengar perkataan terakhir itu, pikirannya sekarang dipenuhi rasa bersalah.


Sebelumnya seharusnya dirinya lebih mencoba lagi untuk membujuk Assisten Instruktur.


**


Evans melihat pemandangan robohnya satu persatu temannya. Matanya menatap tajam wajah dari sang Instruktur Henri membuat tatapan keduanya saling bertemu.


Mata Henri melebar saat melihatnya bahkan kacamatanya tidak sanggup untuk menutupinya.


Semua calon player memang berasal dari berbagai umur. Tetapi dirinya tidak menyangka jika bocah berumur 15 tahun itu masih bisa berdiri, bahkan terlihat sedang berjalan santai tanpa mengeluarkan keringat barang setetes pun.


"Eric, sebaiknya Kau roboh sekarang. Aku tau Kau memaksakan tubuhmu." Evans berkata pada sahabatnya itu dengan berjalan mengikutinya dari dibelakang.


Dengan napas yang memburu dan tatapan yang semakin kabur, Eric tetap memaksakan tubuhnya. Eric sangat ingin mengumpat dan menyuruh Evans untuk tetap diam, tetapi sekarang dirinya terlalu lelah untuk melakukannya.


"Tiga belas menit! Silakan melanjutkan putaran sekali lagi, dan untuk Kau yang dibelakang. Karena paling akhir maka Kau akan mendapatkan tambahan 3 putaran lagi."


Eric tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, dia sudah sangat kelelahan untuk berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri tanpa perintahnya, setapak demi setapak seperti seorang pria sepuh yang sedang berjalan dengan tongkatnya.


Tidak ada orang lagi yang tersisa, hanya mereka berdua. Evans menghela napas melihat sahabatnya itu.


Kaki Eric yang melepuh itu mulai bergetar hebat. Tubuhnya seakan ditarik ratusan orang untuk jatuh kebelakang dan sampai akhirnya dirinya mendarat tepat di sebelah pundak Evans.


Evans yang tadinya berniat untuk roboh karena tahu motivasi Eric terus melangkah disebabkan olehnya kemudian membatalkannya. Pundak Evans sekarang terasa sedikit berat karena menopang Eric, perlahan dia mulai menurunkan Eric ke tanah.


"Minggir!" Tiba-tiba suara teriakan, terdengar dari belakang Evans.


Terlihat wajah tak bersahabat dan amarah dari sang Instruktur Henri, sekarang dia sedang menenteng seember penuh air.

__ADS_1


"Apa yang akan anda lakukan."


"Dia belum menyelesaikan hukumannya, minggir lah." Instruktur Henri memiringkan kepalanya dan melotot kearah Evans, sebuah urat otot juga terlihat di kepalanya.


"Minggir-!"


"Deg." Jantung Henri seolah berhenti sejenak, dia melihat tatapan Evans yang berubah menjadi dingin, mata birunya yang semula cerah seperti langit mulai berubah dan berganti menjadi biru gelap.


Evans kini sedang menatap tajam Instruktur dihadapannya.


Tubuh Henri seolah lebih berat dari yang biasanya, dirinya kemudian merasakan merinding di seluruh tubuhnya. Henri lalu penasaran bagaimana bisa tubuhnya itu ditekan dengan aura bocah dihadapannya.


'Bingo. Tebakanku benar.' Instruktur Henri terlihat masih tenang dengan menahan senyum di wajahnya.


Semua itu akhirnya berlangsung singkat sebelum para Assisten Instruktur datang mendekat.


"Bapak Instruktur, tolong hentikan tindakan anda ini sudah berlebihan."


"Tidak kalian minggir lah. Ini bukan wewenang kalian."


"Tapi Pak..."


"Bagaimana kalau seseorang menggantikannya untuk menerima hukuman." Suara bocah 15 tahun tiba-tiba memotong mereka.


"Oh~ Sangat menarik. Bagaimana dengan sepuluh putaran?" Henri melirik kebawah dengan senyum lebar sembari mengangkat kacamatanya.


"Deal." Evans menjawab tanpa keraguan.


"Apaaa?" Jerit para Assisten Instruktur, mereka menatap Henri dengan tatapan yang tidak percaya.


**


Jam makan malam akhirnya tiba, dan Eric dibangunkan oleh salah seorang Assisten Instruktur di sana. Sang Assisten mengajak Eric untuk makan malam, melihat hal itu Eric hanya mengangguk.


Di kafetaria terlihat orang-orang sedang tidak selera untuk makan, mereka hanya bermain-main dengan makanannya. Sama halnya yang dilakukan Eric sekarang.


"Ah! Apa-apaan latihan gila ini, Aku tidak dapat bergerak. Aku akan keluar dari latihan gila ini. Ini semua konyol-!"


"Tapi bagaimana dengan hak eksklusif? Kau tidak akan mendapatkannya jika keluar."


"Hak eksklusif matamu, keluar dari sini kita bakalan cedera, bahkan kau tidak akan bisa berjalan lagi nantinya!"


Semua yang ada di sana mengangguk setuju, beberapa malah sudah sepakat untuk keluar bersama besoknya. Eric yang mendengarkan juga mengangguk dan berniat untuk keluar juga.


**


Di ruangan lain, terlihat Instruktur Henri sedang mengeluarkan sebuah rokok dan berniat mengisapnya sebelum seseorang berjalan di belakangnya.


"Kau sudah tua berhentilah merokok. Umurmu akan berkurang banyak jika merokok."


Henri melirik kebelakangnya, melihat sesosok pemuda yang berada dikegelapan.


"Lagipula orang yang takut dengan alasan itu sepertinya tidak pernah beriman."


"Sejak kapan anda jadi religius begini Pak?"


Henri menanggapinya dengan tertawaan, lalu menyimpan rokoknya masuk kembali kedalam saku.


"Interupsi Pak! Saya disini ingin bertanya tentang metode latihan yang anda berikan barusan."


"Oh, Ku sudah tahu. Tenanglah besok semuanya akan kembali seperti semula bahkan besok mereka boleh beristirahat." Henri melihat kembali kebelakang.


"Kecuali dua orang sih. Mereka berdua akan berada dibawah pengawasan Ku langsung."

__ADS_1


Belum sempat orang itu bertanya, Henri langsung menambahkan, "Mereka berdua salah satunya adalah dirimu, Kapten kopassus dan satunya lagi adalah..."


__ADS_2