
Chp. 16 Level 0 : Boss Monster.
Semua orang telah kembali dan berada di aula besar Katedral. Mereka bingung dengan apa yang baru saja terjadi, pasalnya masih ada sekitar dua belas jam hingga level 0 : Ladang Slime berakhir.
"Ada apa ini?!"
"Pemberitahuan apa yang tadi itu?!"
"Ada Boss Monster, di lantai nol?!"
Mereka semua berteriak dan ribut sendiri tentang apa yang baru saja terjadi. Semua orang yang melihat layar masing-masing, kemudian tercengang karena menemukan skor peringkat pertama dua kali lipat lebih banyak dari peringkat kedua. Player yang menjadi sorotan ini bernama Evans Mallory.
"Siapa player bernama Evans ini? Skornya sangat, gila-!"
"Berasal dari mana player ini? Aku belum pernah mendengarkan namanya sebelumnya."
"Player ini pasti sangat kuat!"
Mereka masih tetap heboh tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Tetapi dari itu semua ada beberapa orang yang ribut dengan hal yang lain.
Seorang pemuda menjadi pusat perhatian beberapa orang. Mereka tertawa dan menunjuk sang pemuda. Mereka juga tidak segan untuk mengoloknya.
"Hei, lihat! Lihat!"
"Hahaha. Dasar mesum-!"
"Pffft. Dia sangat berani, Ahaha."
Semua orang yang melihatnya sekarang menertawakan sang pemuda yang tidak mengenakan pakaian apapun dan sedang berbalik untuk bersembunyi. Ekspresi yang ditunjukan pemuda ini hanya datar dan seolah biasa saja.
Untungnya ada dua orang yang segera menyadari asal keributan berada di dekat mereka dan segera berlari mendekatinya.
__ADS_1
"Ini, cepat dan pakailah!" Seorang yang bertubuh tinggi dan kekar memberikan sebuah celana panjang kepadanya. Sedangkan satu orang lagi yang melihatnya hanya tertawa sembari memegangi perutnya, "Ahaha-!"
Pemuda ini tidak menghiraukannya dan hanya meraih celana yang diarahkan kepadanya dan tersenyum berterima kasih.
...***...
Evans mendapati dirinya bangun pada sore hari dibawah pohon besar yang rindang dengan perasaan bugar lalu menggosok sebelah matanya dan mengintip keduanya, dia melihat Jeff dan Eric yang hampir menyelesaikan perburuan mereka.
Evans tidak menyangka jika habitat yang dia temukan akan berakhir rata oleh mereka. Habitat yang awalnya ramai penuh dengan ratusan slime berukuran seekor sapi dewasa sekarang terlihat sepi dan kosong.
Evans kemudian berdiri dan berteriak kepada Eric yang berada tidak jauh darinya, "Aku akan pergi sebentar ke toilet."
Eric yang menoleh dengan kesal karena kesibukannya itu diganggu oleh Evans, hanya mengumpat dan menyuruhnya untuk pergi sejauh mungkin lalu jangan pernah kembali.
Eric tidak berpikir saat menjawabnya, dia hanya menyampaikan apa yang sudah ada dalam pikirannya sejak lama. Eric kemudian berbalik dan pergi melanjutkan pestanya bersama para slime.
Evans tersenyum canggung dan berbalik meninggalkan keduanya.
**
Evans berkeliling sebentar sebelum menemukan danau itu.
Awalnya Evans berniat untuk mencari makanan di habitat slime tetapi dia tidak menemukan makanan sama sekali di sana, hanya ada sebuah danau kecil dan rumput liar.
Evans kemudian curiga jika para slime ini hanya meminum air tanpa makan makanan apapun, sehingga pantas saja tubuh mereka membesar.
Evans menangkupkan kedua tangannya membentuk mangkok dan membilas wajahnya, perasaan dingin dan segar itu membuatnya kecanduan untuk membilas berulang kali.
Tidak hanya itu Evans juga meminum airnya, setelah seteguk semua rasa haus bahkan lapar seketika menghilang. Evans tersenyum tipis karena rasa air itu bahkan sangat enak.
Setelah puas berkeliling Evans tidak segera kembali menemui kedua temannya itu, melainkan mencoba untuk tiduran di tepi sungai dan sedang memandangi langit sore itu.
__ADS_1
Lagi-lagi Evans terbayang wajah Ney saat menatap ke langit, bahkan dia merasa sangat rindu kepadanya. Begitu banyak kenangan dan penyesalan yang dia tinggalkan kepadanya.
Evans hanya berjanji jika suatu saat dia bisa kembali, dia akan mencoba untuk jujur dengan perasaannya dan berjuang sekali lagi.
Tetapi apa yang harus Evans lakukan, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi dalam pikirannya. Bahkan sudah ada 1.2 M player tergabung dan mereka baru mencapai lantai 21 meski sudah 20 tahun berada dalam pulau.
Benar kata Eric, dia harus merelakannya.
Evans bangkit dan berdiri dari posisinya, dia memikirkan kembali bagaimana caranya menemukan habitat slime ini. Evans menatap kesebuah gunung tandus yang berwarna coklat dengan sedikit rumput yang menempel.
Sebenarnya Evans menemukan habitat slime ini karena sebuah cahaya yang aneh.
Cahaya itu berwarna ungu seperti pasak terbalik terpancar dan menjulang tinggi ke langit, cahaya itu sudah ada di sana bahkan saat Evans pertama kali datang.
Bukan hanya gunung tandus itu tetapi bukit-bukit juga mengeluarkan aura ungu, dan setelah Evans mendekati aura ungu itu perlahan menghilang.
Evans yang awalnya cuek saat melihat cahaya ungu, namun lama kelamaan kembali tersadar jika hanya dirinya yang dapat melihat cahaya itu. Evans kemudian sedikit penasaran dengan cahaya itu, dia memberikan arahan kepada yang lainnya untuk bergerak ke sana.
Evans juga sempat ragu karena melihat banyak player yang berputar balik dan menyerah, tetapi Evans juga menyadari jika cahaya ungu yang dilihatnya semakin mengecil seakan memberi tanda kepadanya.
Evans yang yakin jika ada sesuatu di sana kemudian memberikan motivasi kepada Jeff dan Eric, dia tidak tahu apa motivasi yang diberikannya berhasil atau tidak, tetapi yang pasti wajah keduanya sama sekali tidak ada yang berubah.
Meski begitu mereka tetap mengikuti Evans dari belakang.
Evans juga tampak ragu di perjalanannya dan sebelum semua orang berubah pikiran, Evans terpaksa memacu kecepatannya dengan lebih cepat, syukurlah keduanya dapat mengikutinya.
Semenjak Evans memasuki Tower di sini, dia merasakan perubahan pada fisiknya, seperti kekuatan, kecapatan dan yang lainnya semua itu meningkat dengan tajam.
Di luar pulau Evans tidak bisa mengeluarkan seluruh kekuatannya atau tubuhnya akan ambruk dan terluka, tetapi dengan sistem yang ada di sini Evans sekarang berhasil mengeluarkan seluruh potensinya tanpa harus khawatir untuk terluka dan semacamnya.
Setelah Evans berada berada di depan tiga buah bukit yang hijau, aura ungu yang terpancar darinya kemudian dengan perlahan menghilang. Evans yang melihatnya segera menarik Jeff dan Eric untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada dibalik bukit itu.
__ADS_1
Evans sedikit tidak menyangka jika yang ada dibaliknya adalah sebuah habitat dari ratusan slime raksasa, dia hanya tersenyum tipis dan kemudian menepuk kedua pundak orang yang ada di sampingnya.
Begitulah cara Evans untuk menemukan habitat para slime itu dan sekarang yang tersisa hanyalah sebuah tiang cahaya dan berwarna keunguan di depannya, cahaya itu berdiri tegak menancap di atas sebuah gunung tandus dekat dengan tiga buah bukit yang lain.