
Evans yang mendengarkan setiap penjelasan Lan Suzi hanya mengangguk tanpa sedikitpun bertanya kepadanya.
"Argh! Lupakan saja, ayo kita kembali ke dalam pulau secepatnya." Lan Suzi berjalan memimpin di paling depan.
Mereka kemudian meneruskan perjalanannya untuk kembali ke dalam pulau, entah kenapa Lan Suzi terlihat terburu kali ini.
Hampir sampai di ujung lantai kedua belas ada yang aneh di sini, Evans menanam Mallika dan menyembunyikannya di area Lantai kedua belas.
"Hm? Kenapa kau menanam di lantai kedua belas, bagaimana caramu untuk mengambilnya jika begini?" Lan Suzi mengernyitkan keningnya setelah melihat Evans yang bertingkah mencurigakan.
Evans tidak menjawabnya dan memilih untuk tetap menanam Mallika, "Sayangnya aku hanya bisa menanam satu di setiap lantai."
Lan Suzi yang mendengarnya hanya memiringkan kepala karena penasaran kemudian menggelengkannya berulang kali.
Mereka lanjut meneruskan perjalanannya kembali ke dalam pulau.
Tidak ada yang berubah di sini selain makan, beristirahat, dan juga mencari tempat untuk menyembunyikan Mallika.
Mereka akhirnya sampai di Katedral setelah melalui tiga hari dan tiga malam di sana.
Seperti biasanya Katedral selalu ramai dikunjungi berbagai player di seluruh pulau, banyak sekali orang yang berlalu lalang di sini.
Mereka tiba disaat hari sudah petang, Evans dan Lan Suzi masih melanjutkan perjalanannya kembali ke kota Excel.
Jika dihitung seluruhnya seminggu sudah terlewat sekarang, Evans menjadi sedikit penasaran dengan keadaan semua orang dalam paguyuban.
Malamnya keduanya sampai di depan gerbang pintu masuk Paguyuban Usaha Tani, Lan Suzi terlihat kelelahan dan menghela napas panjang di sana.
"Ahhh! Akhirnya sampai juga."
"Apa kau ingin masuk."
Lan Suzi tidak menjawabnya dan langsung pergi meninggalkan Evans di belakang.
Tidak ada yang berubah di sini, semua bangunan dalam paguyuban usaha tani masih di tahap perbaikan selama satu minggu terakhir.
Semua anggota juga masih tetap menginap di tenda-tenda dekat tepi pantai.
Hendra yang melihat kedatangan Evans dan Lan Suzi di kejauhan, segera melambaikan tangannya dari dalam tenda.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana liburan kalian berdua, apakah menyenangkan? Tunggu dulu, kalian tidak pergi berlibur hanya berdua, kan?!"
Evans tidak menjawabnya, dia hanya melihat ke sekeliling, banyak sekali orang yang ada di sini tetapi dia tidak menemukan keberadaan dari tiga bersaudara itu.
Sekarang Lan Suzi terlihat sedang kesusahan karena menghadapi kerumunan orang yang penasaran tentang mereka, di mana kebanyakan darinya adalah para pria.
Evans tidak terlihat tertarik di sana, dia kemudian mendekat kearah Hendra dan bertanya tentang kabar dari tiga bersaudara itu.
"Oh, tidak. Jangan bilang kau masih belum mengetahui kabar tentang mereka bertiga."
Evans sedikit memiringkan kepalanya, apa yang sedang terjadi dengan mereka bertiga sekarang.
"Jangan terkejut saat melihatnya, mereka bertiga berada di tepi pantai berseberangan dengan kita. Untuk lebih pastinya kalian bisa melihatnya di [ Tower.site ]."
Evans bergegas pergi dan menerobos kerumunan orang di sana, dia meninggalkan Lan Suzi yang sudah tidak dapat lagi bernapas karena rombongan yang mendesaknya.
"Tu-Tunggu, aku ikut! Ti, Tidak jangan tinggalkan aku sendirian di sini, Evans-!!!"
.
.
.
Tempat itu sangat bercahaya dan megah sekali, Evans dengan Lan Suzi hanya melihat pemandangan di depannya dengan tatapan yang tidak percaya.
Mereka mematung di depan pintu masuk kafe.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini." Evans sedikit menaikan salah satu alisnya.
"Li-Lihatlah ini!"
Lan Suzi kemudian memperlihatkan sebuah artikel yang berada di layar [ Tower.site ] kepada Evans.
Artikel itu tertulis, "AR DE Cafe, salah satu tempat yang baru-baru ini meledak karena mendapatkan rating bintang lima dari semua pengunjungnya."
Evans membaca artikel itu dengan teliti dan menemukan gambar yang sama dengan kafe yang ada di depannya.
"Ini, tidak mungkin, kan?" Lan Suzi menganga melihatnya, sementara di sana Evans masih terlihat mencoba untuk membandingkan poto dengan kafe yang ada di depannya sampai berulang kali.
__ADS_1
Juga di dalam artikel, salah satu dari pemilik perusahaan di sana berkomentar dan berhasil menuai banyak sekali simpati dari para warga netijen.
"Kafe ini akan segera menjadi yang terbaik dan berjejer menguasai pangsa pasar kuliner di dunia, bahkan mengalahkan perusahaan-perusahaan besar seperti G**gle, Y**tube, dan S**msung. Mereka semua, lewat!" Katanya.
Setelah membacanya Evans yakin jika pemilik perusahaan yang berkomentar ini pasti adalah Didi.
Sedangkan Lan Suzi yang ikut membaca menjadi bahagia dan tertawa kencang di sana, "Pffft. Apa-apaan itu, pemilik kafe ini pasti orang yang sangat bod-- Tidak, sangat menarik tentunya hihihi."
Mendengar dua orang yang tertawa dan membuat keributan di luar kafenya, sang manager segera keluar dengan mendengus kesal.
Setelah jarak mereka selisih lima langkah, manager itu segera mengenali salah satunya dan berteriak di sana bahkan dirinya berhasil mengaggetkan tamu yang lain, "Bu-Bukankah kau Evans?!"
Manager itu tersenyum lebar dan berlari keluar menghampirinya, "A, Ada Kak Suzi juga?!"
Manager itu adalah Riza, pria berkacamata yang terlihat sangat pintar dari luar.
Riza memeluk Evans sebentar dan memberikan salam kepada Lan Suzi, dia mengantarkan keduanya untuk masuk.
Di dalamnya Kafe itu ternyata sangat luas dan memiliki perlengkapan yang menarik, Riza memberikan sebuah meja kaca di lantai kedua dengan pemandangan paling pojok menghadap ke laut.
Bintang-bintang juga bercahaya sangat terang saat ini, Evans dan Lan Suzi diminta untuk duduk dengan nyaman di sana sembari menunggu Riza memanggil teman-temannya yang lain.
Beberapa saat kemudian munculah Anton dan Didi di belakang Riza, mereka tersenyum dengan berjalan kearah Evans dan Lan Suzi.
Mereka semua kemudian duduk di sana dan mengobrol cukup lama sembari sesekali tertawa, akhirnya empat sekawan itu berkumpul kembali setelah seminggu terpisahkan.
"Didi, aku tahu kau pasti pemimpin perusahaan yang berkomentar di artikel itu kan."
"Ba, Bagaimana kau bisa tahu?!"
Didi sangat terkejut dan mengernyitkan keningnya tidak percaya setelah mendengarkan Evans berbicara.
"Jadi itu benar kau, Didi. Woah, keren kok."
"Yah, aku sudah mengatakan kepadanya untuk berulang kali tidak berbicara yang aneh-aneh di depan wartawan, tetapi lihatlah apa yang terjadi, Cih!"
Apa yang dibicarakan Lan Suzi menjadi berubah dan sangat berbeda dengan apa yang dikatakannya saat pertama kali, sementara Anton hanya berdecak kesal saat mengatakannya.
Riza tertawa saat mendengarnya, dia kemudian berbicara tentang masing-masing tugas mereka di sana.
__ADS_1
Di AR DE kafe, Anton bertugas menjadi kepala pelayan sedangkan Riza bertugas untuk mengurusi segala berkas-berkas atau hal-hal mengenai administratif kantor, dan Didi adalah kepala juru masak yang ada di sana.