Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 25 |


__ADS_3

Chp. 25 Level 3 : Skill Card Kelas A(2).


Hendra masih tertawa dengan keras memegangi perutnya yang mulai kesakitan, tingkah Evans memang aneh sejak pertama kali bergabung dan tidak bisa ditebak apa yang selalu dipikirkannya.


Setiap malam dia keluar dari asrama dan terus menatap kearah langit malam dengan kursi yang dia pinjam dari lobby asrama.


Setelah beberapa hari Evans melakukannya banyak orang juga berkumpul disisinya membuat mereka ikut menikmati keindahan langit malam itu dari sana, Evans juga terus mendapatkan teman dan mereka semua berkumpul disetiap malamnya.


"Sudah lupakan, apa Kau tau besok hari apa? Besok adalah hari kerja! Jadi sekarang cepatlah makan bersama dengan yang lain dan segera tertidur karena sekarang sudah gelap."


Hendra setiap saat selalu mengingatkan seluruh anggotanya untuk tidur lebih awal supaya dapat bangun pagi-pagi sekali dan bekerja dengan penuh semangat.


Evans hanya menganggukkan kepalanya mengerti, dia akan segera makan dan tidur asalkan setelah Hendra mengembalikan buku yang dipegangnya sekarang.


"Huft... Kau tahu buku ini tidak akan banyak membantu."


Hendra menghela napas sebelum membalikan tubuhnya, dia tiba-tiba saja melemparkan sebuah buku hingga buku itu terjatuh ke tanah dengan sampul yang agak terkelupas dan Hendra yang sudah pergi dari hadapan Evans.


Evans lalu memungut kembali bukunya dan menemukan sesuatu di sampul buku yang setengah terkelupas itu, Evans segera merobek sampul buku dan menemukan sebuah kartu skill dengan kelas ( A ).


"Ini dia."


Evans tersenyum lebar karena usahanya sekarang membuahkan hasil, dengan sedikit bantuan dari Hendra dan setelah berjam-jam mencoba mencari.


Skill Card kelas ( A ) yang seharga dengan 100.000 koin entah bagaimana berada di sebuah sampul buku.


________________


[ Skill Card : A ]


Swords Energy.


Menembakan sebuah energi dari senjata pedang dengan mengonsumsi mana sejumlah 50. Damage yang di berikan 150% dari poin stats INT.


________°_________


Evans membalikkan kartu dengan gambar A di belakangnya itu, dia membaca penjelasan dari kartunya dan sekarang tersenyum tipis, dia mendapatkan sebuah tangkapan yang besar hari ini.


...***...


Disebuah ruangan meeting beberapa orang sedang berkumpul dan membicarakan satu masalah.


"Kau bilang apa tadi?! Skill card kelas A, hilang?!"

__ADS_1


Seseorang pria sepuh mengerutkan dahinya tidak percaya dengan kata-kata anak buahnya dan menggebrak mejanya berulang kali.


Kata cacian dikeluarkan pada anak buahnya yang tidak tahu apa-apa itu. Anak buah itu hanya dapat menunduk pasrah dan mendengarkannya berulang kali, kata maaf juga banyak keluar dari mulutnya.


"Cih, segera kabari pemimpin Silvergold Guild, salah satu barang perjanjian telah hilang!"


"Tapi Guild Master, mereka tidak akan percaya begitu saja. Mereka akan mengira kita mengambil barang tersebut dan tidak mau membayarnya."


"Atau, merekalah yang tidak menepati janji lantas menjebak kita." Salah seseorang petinggi menambahkan, membuat suasana di ruangan itu semakin berat dan kebencian merembes keluar dari semua orang dalam ruangan.


"Kau benar juga banyak guild juga membenci kita, tidak menutup kemungkinan Silver Gold juga demikian."


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Guild Master?"


Semua petinggi yang ada di sana menunggu perintah dari pria sepuh itu, menatap lama kulit coklat matangnya lengkap dengan keriput di wajahnya yang semakin terlipat.


"Baiklah. Jangan bertindak gegabah dulu, kita lihat situasinya dan bagaimana keadaan kartu skill yang lain. Apakah ini jebakan dari mereka atau-- Ada pihak lain yang ingin menjatuhkan kita."


Pria sepuh itu mengepalkan kedua tangannya membuatnya gemetaran sampai tubuhnya juga ikut menahan getaran itu.


"Baik, Tuan Massa-!" Jawab semua petinggi itu berbarengan.


Mereka adalah para player penting dari Moonlight Guild dan pria sepuh yang berbicara barusan adalah Massa Koujiro Guild Master dari Moonlight Guild.


...***...


Evans juga sangat yakin apa yang dia lihat, cahaya ungu yang tidak akan pernah padam kecuali Evans mendekat itu sebenarnya adalah sebuah bug dari stigma-nya.


Stigma [ The One Who Can Find Bugs: The Real Genius ] [ S ] membantu Evans untuk menemukan sebuah bug dan memberikan tanda untuknya sebuah cahaya ungu dan perlahan menjadi aura saat Evans sudah sangat dekat.


Evans kemudian berdiri dari kursinya dan bersiap untuk menyantap makan malam sebelum melihat langit malam sekali lagi, kali ini dalam pikirannya berbeda dia tidak melihat Ney di sana melainkan sebuah bug.


"Sekarang apa yang harus kulakukan dengan lima cahaya ungu itu."


Evans melihat lima cahaya ungu menjulang tinggi dan bersinar terang memenuhi langit malam, cahaya itu bahkan menjadi lebih jelas dan menyuruh Evans untuk mendekat.


Evans menjadi sedikit penasaran dengan bug seperti apa yang akan didapatnya nanti.


Evans kemudian pergi menuju kantin asrama untuk bersantap dengan yang lain, masalah lain akan diurusnya besok.


Pertama dan yang paling penting dia harus tenang dan sabar, Evans juga harus memikirkan tentang asal kartu skill yang baru saja didapatkannya apakah akan mengundang bahaya untuknya nanti atau malah sebaliknya.


**

__ADS_1


Pagi itu semua berjalan seperti hari-hari biasanya, Evans sarapan dan pergi bekerja bersama tiga temannya satu hal yang berbeda sekarang adalah channel-nya.


Evans membuat sebuah video dan memberitahukan kondisinya yang sekarang kepada dua orang tuanya, dan kerabat atau mungkin ditunjukan kepada satu orang lagi.


"Ini aku Evans--"


Evans cukup lama berhenti di sana, dia kebingungan akan mengatakan apa di depan kamera bahkan arah mana yang harus ditatapnya dia tidak tahu, sehingga Evans hanya duduk diam cukup lama di kamarnya sendirian.


Setelah satu video selesai dibuat, Evans mengeceknya kembali di channel-nya [ Tower.site ] bagian Player Video, semua dilakukannya saat dalam perjalanan untuk berkerja bersama teman-temannya di ladang.


Evans tertawa kecil melihat hasilnya dan sekarang tahu darimana arah kamera diambil, bahkan dia bisa menset sudut pandang yang mau direkamnya, Evans tampak asik sendiri dan tidak mendengarkan obrolan dari ketiga orang teman di sampingnya.


Tiga orang teman Evans ini adalah Antonio Daniel, Didi Carlos, dan Riza Eliot. Mereka adalah tiga bersaudara yang terus-terusan bersama dari waktu masuk ke dalam pulau sampai sekarang.


Evans sendiri bahkan bisa menyebut mereka adalah adik kakak mengingat kedekatan ketiganya. Mereka juga memiliki tinggi yang sama persis dan wajah yang hampir sebelas dua belas.


Antonio Daniel, biasa dipanggil Anton. Golongan darah : O. Memiliki kecenderungan nafsu yang tinggi. Pemuda puber yang normal.


Didi Carlos, biasa dipanggil Didi. Dirinya yakin jika selama hidup di dunia tidak pernah menggunakan terlalu banyak beban dipikirannya, hidup dengan penuh kebebasan sudah menjadi impiannya.


Riza Eliot, biasa dipanggil Riza. Seorang pemuda yang berkacamata dan terlihat pintar, karena bergaul lama dengan keduanya dia menjadi sedikit tidak tertolong.


"Hmm... Bagaimana jika kita membuat guild? Bagaimana menurutmu, Ton."


"Boleh, Aku juga ingin berpetualang di dalam Tower persis apa yang para top player lainnya lakukan kemudian mendapatkan pacar cantik di sini hehehe."


"Lalu dari mana uang untuk sewa gedung dan registrasi guildnya, Di?"


Mendirikan sebuah guild membutuhkan jumlah koin yang tidak sedikit bahkan sampai mencapai ratusan bahkan ribuan koin untuk pembayaran administrasi, belum kendala lainnya seperti gedung, gaji anggota, dan sebagainya.


"Tentu kita pakai uangmu, kau mendapatkan banyak koin kemarin di ladang slime."


"Benar, jika masih belum cukup kita bisa berutang lagi pada Evans seperti biasanya hahaha."


"Setelah itu kita akan mendirikan guild dan menjadi player yang kuat, kita akan menjadi terkenal! Memiliki istri yang cantik dan rumah mewah di dalam pulau hahaha." Anton begitu berapi-berapi saat mengatakannya.


Anton, Didi, dan Riza tertawa bersama-sama tentang mimpi mereka yang masih berbentuk angin dan sekarang mulai membayangkan akan tibanya hari itu.


Mereka membayangkan akan berdiri dengan gagah di depan Boss Monster berteriak dan memimpin penyerangan di depan ribuan player yang ada.


Evans yang sejak tadi sibuk dengan kameranya, sekarang sadar setelah namanya disebut.


Evans lalu mulai mendengarkan mimpi mereka bertiga, meskipun dia tidak menanggapinya dan tidak juga membantah.

__ADS_1


__ADS_2