
Seperti biasanya Pak Tua Hendra adalah orang yang tidak suka melihat orang-orangnya duduk diam dan menganggur. Dia kemudian langsung membagi dan menyuruh para anggota barunya untuk membantu.
"Apa yang kau lakukan Malika? Kenapa kau terus mengikutiku?"
"Kak, kenapa kau mengendap-endap seakan mencoba untuk menghilang dan kabur. Bukankah ketua kita telah meminta untuk membantunya? Kenapa kakak malah mencoba lari darinya."
"Tidak bukan begitu Malika. Aku tidak mungkin melakukannya. Aku sekarang sedang ada janji dengan seseorang, dan urusan kita lebih penting lagi."
Lagipula sudah ada terlalu banyak orang di sana, ditambah dia sendirilah orang yang memanggil banyak arsitek dan desainer terkenal untuk membangun kembali paguyubannya. Apa gunanya kami semua di sana kalau begitu?
"Eh...? Kakak ternyata orang yang sangat sibuk juga. Setelah menjemput kami, kau akan bertemu dengan seorang pria untuk melakukan urusan bisnis, ya?"
Aku mengernyitkan keningku, kenapa Malika bisa tahu hal itu. Dan kenapa juga tiba-tiba suara Malika berubah menjadi lebih berat sekarang. Tidak. Ada yang tidak benar di sini. Aku segera berbalik dan menemukan Andy yang tertawa kecil sembari menutupi senyum di mulutnya.
"Sudah aku bilang untuk menunggu di tempat yang biasanya. Kenapa kau malah di sini? Apa kau ingin kita putus kontrak?"
"Ti-Tidak. Aku minta maaf..."
"Kak Evans. Siapa pria itu?"
Bisa gawat jika Pak Tua Hendra melihat kami di sini. Jalur pelarian juga akan berantakan, jadi aku segera menarik dua orang itu untuk masuk ke dalam mobil sedanku.
Kami sekarang berada di kafe terdekat dengan menyewa sebuah ruang rapat sederhana.
"Oho? Jadi begitu, kau adalah adik tingkat Evans. Kau manis juga, berapa umurmu sekarang?"
"Ah, terima kasih paman. Aku masih sembilan tahun saat ini."
"Paman?"
"Maaf, jika saya tidak salah sebelumnya. Nama paman adalah Andy, benarkan? Paman juga orang yang cukup tampan dan mempesona."
"Apa! Benarkah hal itu Malika?!"
"Tentu saja. Paman pasti orang yang cukup populer, kan?"
"K-Kurasa kau benar. Aku sama sekali tidak menyadari hal itu. Terimakasih Malika..."
Andy terlihat sangat senang dan malu-malu di sana. Dia mengusap hidungnya berulang kali menggunakan telunjuk kenanan dan kekiri.
Mereka terlihat dekat dan semakin akrab sekarang. Aku melihat obrolan santai mereka sembari menenggak secangkir kopi di atas meja sedangkan Malika duduk tepat di sampingku dan berhadapan dengan Andy di depannya.
Aku tidak tahu dan cukup terkejut sekarang. Malika ternyata cukup ahli mendapatkan hati orang-orang di sekitarnya. Sejauh ini aku telah mengamati sikap Malika yang ceria dan selalu tersenyum itu, kedepannya aku yakin dia akan tumbuh menjadi sosok perempuan yang terkenal dan mudah memikat hati di kalangan para pria.
"Benar, aku adalah seorang kepala berita dari cabang industri berita lokal."
"Benarkah? Keren! Yang mana namanya paman?"
__ADS_1
"Jadi itu... Nah, itu... A-News!"
Andy mengarahkan Malika yang sedang membuka layar sistemnya di website Tower. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu mereka di sana, tetapi jika begini terus maka tidak akan pernah selesai dan kita akan pulang sampai larut malam.
"Ehem! Kalian berdua. Bisakah kita langsung memulainya. Jadi Malika diamlah sebentar, dan kau juga Andy tenanglah sedikit."
"Maaf..."
"Maaf..."
"Jadi bagaimana dengan perkembangannya sekarang?"
"Semuanya sudah selesai. Besok kita sudah bisa mulai mengerjakan proyeknya karena semua orang sudah setuju."
Aku mengangguk dan tersenyum mendengarnya.
Menyakinkan semua orang untuk percaya, pasti sangatlah sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melakukannya.
"Sekarang kita tinggal memilih siapa yang akan menempati posisi kepemimpinan sekaligus pengawas di sana."
"Jika begitu, kurasa aku akan memilihmu. Kau sekarang yang akan bertanggung jawab di sana."
"Apa?! Aku? Tapi aku sudah menjadi kepala berita di sebuah kantor cabang berita kecil."
"Kau menolaknya? Lalu siapa lagi orang yang pantas di sana? Jika aku, aku minta maaf tetapi aku juga tidak bisa melakukannya karena ada suatu hal yang perlu ku urus sebelumnya."
"U-Uhh. Begitukah...?"
"Paman... Aku rasa kau adalah orang yang sangat cocok di sini."
"Tetapi Malika hal itu saja masih belum cukup kau tahu."
"Paman. Tolong lihatlah kearah wajah Kak Evans sekarang."
'Tunggu apa?'
Pandangan kami kemudian bertemu. Andy terlihat cukup lama menatapku lalu memejamkan matanya. Dia tampak berpikir cukup lama dan serius.
"Bukankah kau melihatnya?"
"M-Mhm! Harus kuakui aku melihatnya. sial!"
Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi di sini. Tetapi aku pikir hal ini cukup bagus jika terus berlanjut, bahkan aku tidak perlu menggunakan rencana yang sebelumnya telah kupersiapkan.
"Tidak! Seharusnya aku tidak menolaknya di sini. Karena hal ini sebenarnya adalah sebuah kehormatan untukku.
Dengan kepemimpinanku nantinya, kita akan bisa menghasilkan kekayaan yang luar biasa. Dan perusahaan kita akan menjadi yang terbaik.
__ADS_1
Sekarang, kau hanya perlu memikirkan namanya dan serahkan semua hal nanti kepadaku. Bagaimana menurutmu dengan itu Malika?"
"Benar. Memang begitulah yang seharusnya paman, kau sangat luar biasa."
Setelah Andy kembali bersemangat dengan dukungan Malika, aku segera memotongnya di sini.
"Kau lebih baik yang memutuskannya, itu adalah tugasmu yang pertama."
"Huh? Lalu..."
"Sekarang yang paling penting. Berapa lama kau perkirakan proyek ini akan selesai?"
"Aku tidak begitu yakin. Tapi akan aku pastikan dalam empat bulan lag-- Tidak. Tiga bulan maka--"
"Dua bulan. Aku akan menunggu hasilnya darimu.
"E-Eeeh, kurasa waktu itu agak..."
Andy menggaruk rambutnya dan tersenyum canggung.
Memang sedikit mustahil, tetapi aku harus tetap memberikan batasan yang tidak masuk akal agar membuatnya lebih termotivasi sehingga Andy dapat mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Di sana dengan menggunakan Malika lagi, aku akan membuat Andy menerimanya.
"Bagaimana menurutmu dengan itu Malika?"
"K-Kurasa itu terdengar sangat jahat dan kejam. Kupikir kau harus menurunkannya, Kak Ev-- Aw! Aw! Tidak! Sakit!
K-Ka-Kau harus menerimanya paman, aku sangat yakin dengan kemampuanmu itu. Lagipula dari semua itu, paman telah memiliki pengalaman sebelumnya dari memimpin di kantor industri berita kecil.
Aku yakin paman, jika ini adalah saatmu bersinar dan menunjukkan kemampuan paman yang sebenarnya.
Meski dari luar, kantor ini terlihat sangat besar dan akan merepotkan. Tapi aku sangat percaya kepadamu!"
"Kau benar, aku tidak bisa mengecewakan kalian berdua!"
Andy kemudian menerimanya dan aku berterimakasih kepada Malika.
Kami bertiga kemudian berpisah di sana. Aku dan Malika berjalan keluar menuju area parkir.
"Ka-Kau menyakitiku, Kak Evans. Kenapa kau sampai mencubit perutku?"
Malika yang keluar, masih mengusap perut sebelah kanannya sembari meringis sesekali.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya. Kau mau makan sushi malam ini?"
Dengan mengalihkan topik pembicaraan, Malika kemudian dengan cepat melupakan semua hal itu dan kembali tersenyum.
__ADS_1
- Bisnis.
\=\=\=\=\=\=\=