
Chp. 5 Jenius atau Monster.
"Evans Mallory?!"
Jeff tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dirinya meragukan bahwa bocah berusia 15 tahun itu akan mengikuti latihan yang sama dengannya.
Terlebih Instruktur Henri juga seperti melebih-lebihkan ceritanya.
Bagaimana bisa seorang bocah bertubuh pendek itu, menyimpan kekuatan yang luar biasa dengan memutari lapangan 2 kali lipat dari jumlahnya, apalagi hal itu dilakukan sembari membawa beban seberat 30 kg bersamanya.
Sangat tidak masuk akal baginya, Kapten Jeff sendiri melakukan 12 putaran dan hal itu berhasil membuatnya kelelahan, sedangkan Evans telah melakukan 24 putaran (ditambah dengan hukuman dari Eric).
Instruktur Henri lalu tidak menjelaskannya lebih lanjut, dirinya yakin jika Jeff tidak akan percaya bila tidak melihatnya secara langsung.
Malam itu suasana hati Henri sangat senang dirinya berkali-kali tertawa dan larut dalam imajinasinya sendiri, "Mari Kita lihat, sampai mana batas kemampuan kalian berdua..."
**
Pagi itu mereka melaksanakan apel sama seperti hari sebelumnya, perbedaannya jumlah dari calon player sekarang berkurang banyak.
Mereka bebas untuk memilih pergi atau tetap melanjutkan pelatihannya, tetapi bagi mereka yang bertahan selama sepuluh hari akan mendapatkan hadiah berupa hak eksklusif atas usaha mereka.
Evans bernapas lega karena tidak dapat menemukan sahabatnya itu. Pilihan yang dibuat Eric sudah tepat menurutnya.
Dengan tubuh dan fisik Eric sekarang, dia akan kesusahan untuk mengikuti pelatihan bahkan beresiko mengalami cedera yang tidak ringan.
Semua orang kemudian terkejut karena mendapatkan libur satu hari dan latihan yang akan mereka jalani menjadi lebih ringan (sesuai standar pelatihan para calon player sebelumnya).
Selama satu hari penuh, para player akan mendapatkan bimbingan dari Prof. Rise. Seketika wajah kecewa terlihat dalam diri mereka.
'Apa-apaan ini, mana istirahatnya?' batin semua orang.
Rombongan dengan wajah kusut segera memasuki ruang belajar untuk bertemu Rise.
Dan tanpa mereka sadari dua orang telah menghilang dari rombongan itu.
Di sana mereka mendapatkan buku panduan tentang semua hal di dalam pulau. Sepuluh tumpukan buku paket kini berada di meja mereka. Belum berakhir penderitaan mereka, mereka harus menghafal kesepuluh buku itu karena akan diadakan ujian saat malamnya.
Evans dan Jeff, kini hanya mereka berdua yang ada di lapangan. Mereka melaksanakan sesi latihan yang dibuat langsung oleh Henri.
Sore pun tiba Evans dan Jeff keduanya kini berada di ruang belajar bersama yang lain. Mereka sesaat menjadi pusat perhatian, tapi itu hanya sesaat mereka harus segera menghafal buku itu supaya tidak mendapatkan hukuman lagi.
Karena sudah menjadi bagian sehari-harinya, Kapten Jeff menjadi yang terbanyak dalam ujian itu. Dia menguasai 6 buku meski tiba saat sore hari.
Sedangkan kebanyakan dari calon player hanya menguasai 1 sampai 4 buku saja, padahal mereka berada di sana selama seharian. Melihat hal itu mereka hanya mengumpat dalam hatinya.
Sebaliknya, Henri tidak menyangka jika Evans hanya mampu memahami 2 buku saja.
"Apa yang Kau katakan Tuan Instruktur. Itu hal yang lumrah jika dirinya hanya mampu memahami 2 buku. Kau melakukan pelatihan bersamanya, 'kan?"
"Jika begitu bagaimana dengan Jeff?"
"Jeff adalah kasus yang spesial tuan. Bagaimana seseorang yang bodoh mampu menjadi anggota bahkan kapten dari Kopassus?
Sebaliknya Evans hanyalah remaja yang normal, bahkan termasuk cerdas karena mampu menguasai 2 buku dengan waktu singkat seperti itu."
__ADS_1
Dalam pikiran mereka berdua saling terbalik, Henri lebih melihat Jeff sebagai orang yang normal ketimbang Evans, begitu juga dengan Rise yang memandang Evans lebih normal.
"Rise, Ku sudah katakan berkali-kali dirinya bukan manusia normal. Tetap awasi Dia, jika Dia tidak mampu memahami lebih dari 5 buku maka sebaiknya Kau cepat tulis surat pengunduran diri."
Rise hanya menaikan salah satu alisnya tidak percaya, dilihat dari manapun Evans hanyalah bocah 15 tahun biasa.
**
Beberapa hari kemudian nampak wajah yang bercahaya pada Rise. Dirinya yang seakan bersiap menulis surat, dikagetkan dengan perkembangan Evans.
Evans kini telah mampu memahami 5 buku pada hari ketiga mereka di sana. Bukan hanya itu, Jeff sendiri juga dibuat kaget dengan perkembangan Evans.
Dalam latihan fisik, Evans sebelumnya selalu tertinggal jauh dari Jeff. Dan sekarang dia dapat mengejar setengah latihan yang dilakukan Jeff.
Rise dan Jeff segera tersadar dengan maksud Instruktur gila itu, dan menganggap Evans adalah seorang yang jenius.
Mendengar dua kabar luar biasa itu malah membuat Henri semakin menjadi-jadi, dirinya sangat geram dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya di pikirkan bocah itu.
"Cih, tidak ada cara lain." Gumam Henri.
Mereka bertiga kini sedang berada di lapangan, Henri melemparkan sepasang sarung tangan pada keduanya.
"Latihan Kita akan naik tingkat. Kalian akan melakukan combat atau duel atau apapun lah itu namanya."
Duel yang dimaksud Henri adalah pertarungan satu lawan satu. Masing-masing mengeluarkan ilmu beladirinya dan menganggap partner duel sebagai musuh, duel biasa berakhir dengan pihak-pihak yang terluka atau pihak yang kalah akan mendapat cedera yang tidak ringan.
Latihan ini sering dilakukan di militer, biasanya sebulan sekali atau tergantung Instruktur masing-masing.
Bagaimana bisa seorang Kapten Kopassus yang memiliki berbagai pengalaman membunuh dan bertarung, sekarang melawan seorang amatir apalagi bocah 15 tahun.
Dianggap protes Jeff sebagai ketidakpatuhan, Instruktur Henri menambahkan hukuman pada mereka untuk berduel dengan membawa tas seberat 5 kg.
Jeff masih tetap kekeh dan membantahnya, akhirnya mereka berakhir dengan hukuman membawa tas seberat 30 kg.
Melihat hal itu Jeff hanya mematung menatap tanah di bawahnya.
Evans tidak mungkin berkata, 'Terimakasih dengan bantuannya, sekarang kita jadi membawa beban lebih banyak' Hal itu hanya akan membuat Evans lebih buruk.
Sehingga dia hanya tetap tenang dan terlihat santai, sambil memasang tas di punggungnya.
"Kau jangan khawatir Ev. Aku akan mengakhirinya dengan cepat dan tanpa rasa sakit."
Selama tiga hari ini mereka menjadi lebih dekat dan Jeff mungkin sudah menganggapnya sebagai teman. Melihat hal itu Evans hanya tersenyum tipis. Evans juga merasakan hal yang sama seperti Jeff.
"Majulah Bang Jeff, mungkin Kau akan kalah hari ini." Evans mengangkat salah satu tangannya kepada Jeff.
Jeff tersenyum mendengarnya, dirinya bertekad mengakhiri ini semua dengan satu gerakan dan membuat Evans pingsan.
Dengan satu kata dari Henri mereka berdua saling bergerak maju. Jeff terkejut karena melihat Evans juga ikut maju, mereka saling bertukar pukulan singkat.
Jeff tersenyum melihat beberapa pukulan darinya dapat ditepis dan dihindari oleh Evans, sebaliknya Evans berhasil mendaratkan pukulannya di perut Jeff, meski Jeff hanya merasa gatal di sana.
Mereka terus bertukar serangan, tidak ada dari mereka yang mengalah. Meski setiap serangan itu tidak ada yang berbahaya sama sekali. Jeff kemudian yakin jika Evans sangatlah berbakat buktinya Evans dapat bertahan cukup lama melawannya.
Dengan satu tarikan napas Jeff merengsek maju, dengan cepat dia menghindari pukulan yang datang dari Evans dan melancarkan serangan pedang tepat mengenai belakang leher dari Evans.
__ADS_1
Jeff memutuskan untuk mengakhiri pertarungan tersebut dengan satu serangan dan membuat Evans jatuh ketanah.
"Apa-apaan yang kau lakukan-!"
Jeff terkejut dengan suara itu dan memandang orang yang berada di sampingnya.
Henri terlihat geram dan sangat marah dengan giginya yang bergeretakan.
Jeff sudah menduga akan mendapatkan hukuman dari Instruktur Henri karena tidak bisa menahan kekuatannya, padahal Jeff sendiri yakin sudah menahan lebih dari setengah kemampuannya. Dirinya hanya merasa bersalah dan menundukkan kepala.
Henri segera menuju ketempat mereka, dan melakukan hal yang membuat semua orang melihatnya, mengangguk setuju jika Henri sudah kehilangan akalnya.
Henri terus menerus berteriak pada orang yang ada di bawahnya, orang lain bahkan bisa mengatakan jika Henri sekarang sedang berbicara dengan tanah.
"Jika Kau masih tetap begitu, maka Aku akan mencabut hak eksklusif yang dirimu dapatkan."
Jeff menaikan alisnya seperti sedang menatap orang yang tidak pernah dia kenal sebelumnya. Bagaimana bisa dia mencabut hak seseorang atas usaha mati-matian yang dilakukannya di sini, batin Jeff.
Melihat tidak ada respon, Henri hanya berbalik dan berniat pergi. Baru berjalan dua langkah saja dirinya berhenti dan melakukan usaha terakhirnya, "Aku akan memberikanmu dua hak eksklusif..."
Mata Jeff segera melebar tidak percaya dengan apa yang sekarang dilihatnya. Jeff tercengang dengan mulut yang terbuka lebar. Berbeda dengan Henri, kini dia merasakan perasaan yang sama persis seperti saat pertama kali melihat Evans.
Henri segera semangat membalikan badan dan melihat sesosok pria pendek dengan mata berwarna biru gelap berdiri dengan menatap dingin semua orang.
Seluruh tubuh Henri serasa bergetar menahan perasaan gembiranya, tidak ada yang bisa dia ungkapkan sekarang.
Dalam penglihatan mereka berdua setengah tubuh Evans seperti berwarna hitam, dirinya berdiri dengan tegak dan udara seakan berhenti di sekitar mereka.
Tapi yang mencolok dari semua itu adalah matanya yang berwarna biru gelap. Henri segera tersadar dan menyuruh Jeff melakukan duel ronde kedua.
Jeff masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya tidak bisa berpikir lagi dan seperti terhipnotis oleh ucapan Henri. Dia melangkah dan memasang sebuah kuda-kuda, hal yang tidak dia lakukan pada duel pertama mereka.
Dengan satu teriakan lagi dari Henri, pertandingan secara resmi dimulai.
Jeff melangkah dengan sangat hati-hati mendekati Evans, yang masih tenang melihatnya. Jeff mengangkat satu kakinya dan mengarahkannya tepat pada perut Evans.
Evans tetap tenang, dia hanya mundur beberapa senti kebelakang dan melihat tendangan, yang berhenti tepat beberapa senti di dekat perutnya. Hanya asap lah yang sekarang mencapai perut Evan.
Jeff mengerutkan wajahnya dan segera menarik mundur dirinya beberapa langkah dari Evans. Tatapan biru gelap Evans sangat mengganggu dirinya, sebelum sempat memasang kembali kuda-kudanya.
Evans secara cepat tiba di hadapannya, hal ini menunjukan bahwa kecepatannya masih belum keluar sepenuhnya pada ronde pertama. Tendangan yang sama persis dengan milik Jeff dia tunjukan padanya.
Jeff melompat ke belakang berusaha untuk menghindar, dirasa dirinya sudah sangat jauh dari kaki Evans.
Pupil mata Jeff berkedut dirinya yakin bahwa tendangan yang sama persis meniru gerakannya itu tidak akan pernah menancap dalam perutnya, tetapi kenapa.
Kenapa tendangan itu malah mengikutinya mundur, Jeff sudah tidak bisa mengelak dan terjatuh kebelakang dengan tendangan Evans.
Evans memang melakukan gerakan yang sama persis seperti yang ditunjukan oleh sang kapten kopassus itu, tetapi dengan imbuhan saat Jeff melompat Evans juga mengikutinya melompat.
Evans terlihat seperti terbang, dan menendang kebawah menusuk perut sang kapten.
Jeff meringis kesakitan di tanah. Dalam pikirannya dia merasa selain kecepatan, kekuatan Evans juga berubah.
"Gunakanlah seluruh kekuatanmu Bang..." Evans mengatakannya dengan wajah dingin, tetapi bukan hal itu yang membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
Mereka terkejut dengan perubahan suara Evans, suara yang tadinya terdengar datar tanpa jeda dan tanpa intonasi itu. Berubah menjadi dingin dan menakutkan.