Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 50 |


__ADS_3

Chp. 50 Level 7 : Alexi Bam.


Dengan napas yang memburu Bam berlari dengan sangat cepat sembari sesekali melihat ke sekitar, tidak ada apapun di sana selain hanya kegelapan yang tak berujung yang menemaninya.


Bam menjadi bertanya-tanya sudah berapa hari terlewat sejak dirinya bertarung dengan Jun Ichiro.


Bam sekarang terjebak di dalam gelap dan dinginnya malam di sebuah labirin yang seakan gua ini.


Anehnya Bam tidak merasakan lelah dan lapar sedikitpun di sana.


Kegelapan malam yang tak berujung ini membuatnya kesulitan untuk dapat melihat, bahkan dirinya sampai tidak dapat untuk bersuara.


Setiap kali Bam memaksakan mulutnya berbicara suaranya akan selalu tersangkut di tenggorokannya seakan seperti riyak dan berakhir dengan erangan-erangan.


Sayangnya kegelapan malam ini tidak dapat dilaluinya dengan sendirian, di sana Bam ditemani dengan seribu jiwa roh yang jahat.


Seribu jiwa roh jahat yang selalu menekan Bam setiap saat ini selalu berteriak dan menertawakannya, bahkan mereka selalu membuat Bam tidak pernah dapat mengalami ketenangan sejak dirinya berada di sini.


Mereka perlahan mengubah Bam menjadi stress dan depresi seakan emosi negatif darinya adalah makanan untuknya, tetapi meskipun begitu Bam masih tidak menyerah dan mencoba melawan.


"Apa yang kau lakukan? Perbuatan mu ini hanya dilakukan oleh orang gila saja jahahha..."


"Ketahuilah batasan darimu, kau harus menerima takdir yang kau miliki shihihi..."


"Baru kali ini ada manusia segila dan sekeras dirimu guahaha..."


"Manusia yang kebodohannya melampaui para binatang! Ha ha ha..."


Bam masih tetap berlari seakan dengan begitu dirinya bisa menghindar atau paling tidak mencoba mengalihkan fokusnya.


'Hentikan! Hentikan! Hentikan!!!' Bam memohon kepada seribu roh jahat yang selalu mengejarnya itu.


Setiap hari dirinya tidak bisa menghindar maupun bersembunyi dari kejaran mereka.


Bam ingin berteriak dengan keras tetapi tidak ada satupun suaranya yang keluar melainkan hanya isak tangis dengan beberapa tetes air mata.


Bam tidak dapat berpikir lagi, kepalanya terus menerus kesakitan seakan ditusuk menggunakan jarum. Dirinya juga tidak dapat menghitung hari sekarang, dalam ingatannya Bam berpikir satu atau dua tahun pasti telah terlewat.


Kaki Bam yang sudah tidak kuat untuk berlari akhirnya terjatuh dan membuatnya berguling jauh ke depan, Bam memeriksa kakinya sendiri dan menemukan kaki yang berwarna hitam dengan bengkak yang tidak biasa.


"Ha Ha Ha..."


"Ha Ha Ha..."


"Ha Ha Ha..."

__ADS_1


"Ha Ha Ha..."


Suara tertawaan dari para roh jahat yang terdengar jelas dan menggema di semua ruangan tanpa belas kasihan, berhasil membuat Bam menangis dan menutup kedua matanya.


Sebelum tanpa sadar dirinya akhirnya mulai merasakan berat dan lelah, Bam tertidur lelap dengan perasaan yang nyaman bersamaan dengan sinar putih terang yang membuatnya semakin nyaman.


.


.


.


Bam sekarang berdiri mematung di pojokan rumah, tidak tahu di mana dirinya berdiri sekarang.


Seorang bocah cilik tiba-tiba keluar dan berlarian di dalam rumah diikuti seorang pria paruh baya yang membuat Bam terkejut melihatnya.


"A-Ay, Aya--"


"Ayah!" Bocah kecil yang berlarian ini memeluk ayahnya dengan tersenyum lebar disaat Bam belum selesai untuk meneruskan.


"Kau ini... Tidak biasanya kau begini kepada ayah mu."


Bam melihat seorang ayah yang sedang mengusap lembut rambut anaknya itu membuat hatinya sangat tenang dan tersenyum, sekarang dirinya mengetahui di mana tempatnya berdiri.


Sebuah rumah kecil dengan jumlah tujuh orang tinggal di dalamnya, membuat rumah ini selalu dalam keadaan yang ramai dan penuh sesak. Meski begitu berbagai kenangan dan kerinduan mulai membanjiri Bam yang sedang berdiri di pojokan.


"Um... Enam? Enam tahun yah!"


"Hahaha Enam tahun ya... Berarti beberapa hari lagi anak ku akan berumur yang ketujuh. Apa yang Bam inginkan untuk hadiah?"


"Um! Kurasa Aku ingin makan kue, kue ulang tahun yang tinggi, tinggi... sekali!" Bam kecil mengangkat tangannya dengan tinggi sampai membuat Ayahnya tertawa kecil.


.


.


.


"Ayah dengarkanlah! Kumohon jangan keluar dan membelikan kue ini! Hanya cukup diri mu--" Belum selesai berbicara Bam melihat pemandangan yang sangat tidak asing menurutnya.


Skenario akhirnya berganti beralih ke tempat Ayahnya yang sedang pulang dari bekerja dengan membawa sebungkus kue.


Ayahnya pergi ke toko kue yang lumayan jauh dari tempatnya tinggal, saat itu hari sudah sangat larut kemudian tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil yang menangis dan memohon ketakutan.


Suara ini berkali-kali memanggilnya meminta bantuan tetapi asal suaranya keluar dari sebuah gang yang membuat Ayah Bam sempat ragu sejenak.

__ADS_1


"Tidak! Kumohon jangan sampai kau pergi ke sana. Kumohon padamu Ayah..."


Bam berulang kali berteriak dan mencoba menahan Ayahnya itu sekuat tenaga dengan menarik lengannya, tetapi dia gagal dan bahkan tidak berdaya.


"Buak!"


Ayahnya terkapar di lantai dengan bersimbah darah dan bocor di kepalanya, sekelompok perampok kemudian keluar dari persembunyiannya satu demi satu dan tertawa.


Modus kejahatan mereka sangat sederhana dengan menggunakan suara teriakan dari anak kecil kemudian mereka akan mendapatkan mangsa dengan sendirinya.


Skenario beralih lagi kepada anak kecil yang menangis melihat seseorang yang dikenalnya terkapar sekarat di Rumah Sakit. Ruangannya sangat sempit dengan hanya satu kasur untuk pasien.


"Ayah! Ayah! Ayah!!!"


"Hentikan mulut berisik mu itu, kau akan mengganggu yang lainnya..." Suara Ayah Bam terdengar bergetar sembari menyentil anaknya di dahi.


"Selamat ulang tahun semoga kau selalu diberikan kebaikan dan terkabul mimpi-mimpi mu..."


"Uhuk! Uhuk!"


"Uhuk! Uhuk!"


"Ugh..." Ayah Bam terbatuk berkali-kali karena terlalu memaksakan berbicara.


"Sayang cukup! Diam lah dan jangan terlalu banyak memaksakan dirimu." Ibu Bam yang sejak tadi hanya mendengarkan mereka berdua kini mulai berbicara.


Ayah Bam yang tidak mengindahkan nasehat dari istrinya itu malah meneruskannya, "Bam sekarang kau telah berumur tujuh tahun, maafkan diriku yang tidak bisa memberikan hadiah apapun padamu."


"Uhuk! Uhuk! Arrgh..."


Suasana yang sangat bising dari Rumah Sakit tiba-tiba menjadi sunyi senyap, perlahan Bam yang terisak disisi dari Bam kecil menyusut dan menyatu dengan tubuhnya yang ada di masa lalu.


Tanpa Bam sadari sekarang dia dapat mengeluarkan suaranya dan berbicara.


"Ayah kumohon jangan pergi kemanapun, jangan pergi lagi jangan tinggalkan diriku sendirian lagi. Aku Aku Aku..."


"Lagi kau bilang? Kau tahu kita selalu bersama, Kau bahkan selalu menguntit ku. Aku tidak pernah meninggalkan mu jadi jangan katakan hal itu." Ayah Bam tersenyum sangat lebar menatap wajah anaknya itu.


"Aku tidak akan kemanapun dan akan selalu berada di sisi mu melihat mu tumbuh besar dan menjadi kuat, kalau tidak begitu siapa yang akan menjaga mu."


Ayah Bam tertawa dengan terkekeh kecil sebelum perlahan menjadi menghilang.


"Maafkan diriku ini Bam, alih-alih memberikan hadiah aku malah memiliki satu permintaan yang merepotkan kepada mu."


Air mata mulai berjatuhan darinya, Bam yang sudah mengetahui permintaan dari Ayahnya itu hanya dapat menutup matanya tanpa membalas.

__ADS_1


"Berjanjilah untuk menjadi seseorang yang kuat lindungi mereka yang membutuhkan bantuan, jangan biarkan orang lain sampai melukai orang-orang terdekat dan yang berharga untukmu.


Aku yakin nama Bam Alexi! Akan menjadi pahlawan dan menyelamatkan semua orang hahaha..."


__ADS_2