Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 60 |


__ADS_3

Chp. 60 Level 9 : Makan Malam(2).


Salah satu orang dari Paguyuban Usaha Tani melambaikan tangannya dan meminta pelayan restoran untuk datang dan mencatat pesanan mereka.


Melihatnya pelayan itu secepat mungkin tiba dengan perasaan yang bahagia, tetapi hanya berjalan untuk satu detik. Setelah dia menemukan ratusan orang yang datang ke restoran, raut wajah ketakutan terlihat di wajahnya.


"Oh, tidak. Bukankah kalian semua berasal dari paguyuban yang terkenal itu?"


Semua orang yang mendengarnya hanya menyunggingkan senyumnya seakan telah menjadi seorang yang terkenal.


"Pelayan itu sampai dibuat ketakutan?! Apakah Organisasi kalian sangat kaya?" Lan Suzi yang duduk bersebelahan dengan Evans kemudian bertanya dengannya.


Belum sempat Evans untuk menjawab pelanggan yang lain juga ikut ribut.


Pelayan itu sekarang menjadi panik dan segera berlari mundur ke belakang, "Maaf, kumohon tunggu sebentar."


"Apa? Kenapa orang miskin seperti mereka masuk ke sini, sih? Selera makan ku mendadak hilang."


"Haa... Mereka sudah sangat terkenal, mungkin target kali ini adalah restoran ini?"


Lan Suzi hanya mengernyitkan keningnya, dia penasaran apa yang sedang diributkan oleh pelanggan yang lain.


Mereka terlihat sedang berbisik satu sama lain dan sesekali menatap kearah Lan Suzi ataupun yang lain.


"Benar, berpikirlah dengan positif Lan Suzi. Kurasa aku terlalu meremehkan keuangan dari organisasi ini, juga mana mungkin ada orang-orang yang berani masuk ke restoran mewah seluas dan berbintang lima ini jika tidak sanggup untuk membayarnya."


Lan Suzi berbicara tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar Evans di sampingnya.


Sekarang giliran Evans yang menatap semua orang, dia juga baru pertama kali ini diajak makan bersama dengan semua orang selain di kantin milik Paguyuban Usaha Tani.


Evans menjadi ikut penasaran bagaimana organisasinya memiliki uang untuk membayar makanan di sini.


Beberapa menit setelah waiter itu pergi, munculah seseorang. Orang itu adalah manager dari sebuah restoran, dia ditemani dengan pelayan yang sebelumnya.


Mereka menuju ke salah satu meja makan yang ada di sana, "Maaf mengganggu waktu kalian tetapi... Ini berkenaan dengan metode pembayaran. Bagaimana cara kalian untuk membayar di sini?"


Semua orang kemudian menghela napas dan saling melirik, mereka sekarang terlihat sedang mencari seseorang.


Melihat mereka yang seperti ini, para pelanggan kembali berbisik tetapi sekarang dengan suara yang lebih keras.

__ADS_1


"Lihatlah, mereka kesusahan hahaha. Kenapa masih nekat makan kemari jika begitu."


"Apa mereka tidak memiliki malu. Memang benar mereka beberapa kali diterima di restoran, tetapi restoran yang menerima mereka kemudian mengalami kerugian yang lumayan."


Lan Suzi yang sejak tadi mendengarkan hanya mengedipkan matanya berkali-kali, dia merasakan kebingungan dengan maksud para pelanggan di sana.


'Apakah mereka tidak memiliki uang? Tidak, Tidak. Itu tidak mungkin, bagaimana bisa mereka memilih restoran bintang lima jika tidak memiliki uang?!'


Semua orang kemudian tersenyum setelah menemukan orang yang mereka cari, "Mungkin anda bisa bicarakan hal itu dengan bapak yang ada di pojokan sana, dia adalah Hendra. Orang yang memiliki kuasa di organisasi kami."


Manager itu kemudian melirik kearah yang dimaksud, dia menemukan Hendra yang sedang keluar dari kamar kecil di pojok ruangan.


"Permisi apakah anda adalah Tuan Hendra? Saya ada beberapa pertanyaan untuk Anda." Belum selesai manager itu berbicara, Hendra tiba-tiba saja memotongnya.


"Bisa Kita bicara empat mata di luar, tidak enak bila dilihat semua orang di sini." Hendra lantas segera pergi keluar disusul dengan manager restoran di belakangnya.


Hendra sadar jika semua pelanggan di sana sedang menatap mereka dengan sinis dan terkekeh kecil.


"Baiklah jadi apa yang sebenarnya anda ingin tanyakan?" Hendra menatap serius manager di depannya.


"Ehem! Langsung saja bagaimana cara anda untuk membayar makanan di sini?"


"Karena di dunia ini tidak ada yang namanya kartu kredit sekarang, Kami dengan terpaksa harus berhutang. Jadi sekali ini saja jangan mengamuk dan dengarkan apa yang ingin--"


"Tidak, tunggu-tunggu... Mungkin ada beberapa kesalahpahaman di sini. Kami sungguh tidak ingin membuat restoran yang anda pimpin ini menjadi merugi atau yang lainnya.


Kami juga akan membayarnya dengan benar meski membutuhkan waktu yang agak lama, jadi bisakah anda menerima kami di sini."


"KELUAR!"


"Tunggu dulu, kau masih ingat dengan perkataan ku tadi, kan. Jangan terlalu cepat mudah marah dan mengamuk. Semua ini bisa selesai apabila kita bicarakan semuanya secara baik-baik."


Hendra yang tidak melihat perubahan warna wajah dari manager restoran masih tetap melanjutkan berbicara, dia terus saja menggunakan seni bernegosiasi yang sudah lama dibanggakannya itu.


.


.


.

__ADS_1


Hendra membawa manager itu kearah bilik ruangan dengan tembok yang memisahkan mereka dari ruangan meja makan, sehingga suara mereka masih cukup terdengar jelas kepada yang lain.


"Kalian dengar itu hahaha. Mereka sangat hebat."


"Kemampuan bernegosiasi nya memang tidak bisa dimiliki oleh sembarangan orang. Dia bisa berbicara begitu selama hampir lebih dari sepuluh menit? Luar biasa hehehe."


Semua anggota Paguyuban Usaha Tani hanya diam dan tidak peduli, mereka sedang menatap kearah yang lain.


Lan Suzi yang mendengarkannya sejak tadi mulai menunjukan kekesalan, dia segera mendekat dan berjalan keluar.


Hendra mendengarkan suara langkah kaki yang mendekat kemudian membalikan badannya karena penasaran.


"Oh, Nak Suzi ini semua akan baik-baik saja tenanglah. Semua masalah bisa kami atasi lebih baik kau duduk saja dan kembali menunggu di sana... Jadi mari kita lanjutkan, sampai di mana tadi ya? Oh--"


"KELUAR!"


"Ayolah bung, kau tidak harus berteriak setiap kali kita berbicara, kan?" Henda mengerutkan wajahnya melihat manager didepannya yang menundukkan kepala akibat kelelahan.


Hendra yang kembali akan bersuara tiba-tiba saja merasakan mulutnya dikunci, dia menemukan sebuah tangan yang lembut dan ramping membungkam mulutnya.


"Maaf paman, bolehkah saya tahu berapa harga untuk makanan di sini?" Lan Suzi berkata dengan canggung sembari menyumbat mulut Hendra.


Manager restoran kemudian berbicara panjang lebar mengenai nominal yang tidak masuk akal di setiap menunya.


Intinya paling tidak mereka membutuhkan ratusan koin untuk bisa makan di restoran bintang lima dan mewah ini.


"Kurasa kita harus memilih restoran yang lain. Jumlah tabunganku bahkan tidak sampai ratusan, maafkan aku." Lan Suzi tampak sedih saat mengatakannya kepada Hendra.


Meskipun Lan Suzi selalu menyisihkan uang dari gajinya, tetapi karena mahalnya biaya hidup di dalam pulau.


Lan Suzi hanya bisa menabung sampai seperlima dari jumlah gajinya, belum lagi dia harus dipusingkan dengan membeli sumber daya untuk meningkatkan kemampuannya.


"Kau tidak perlu minta maaf. Serahkan saja semua ini kepadaku." Salah satu tangan Hendra sekarang terbuka dan mengarah ke langit.


"Lihatlah tangan ini, tangan ini secara ajaib akan mendapatkan koin dari seorang dewa..."


"Oh, di sini kau ternyata pak tua. Ini ambilah."


Tiba-tiba tangan Hendra yang terbuka merasakan sebuah kain yang lembut dan cukup berat.

__ADS_1


Hendra melihat sebuah kantung yang seukuran dengan kepalan tangan orang dewasa dan mendarat dengan perlahan di tangannya, kantung itu juga menimbulkan suara yang khas. Hal ini membuat mata semua orang yang melihatnya hampir saja keluar.


[ 10.000 koin ]


__ADS_2