
Chp. 6 Pulang.
Jeff masih sangat terkejut, dirinya tidak pernah menyangka akan menggunakan kekuatan penuhnya melawan bocah 15 tahun.
"Gunakanlah semua kekuatanmu Bang..."
Jeff menatap heran Evans, dia sangat terkejut dengan semua perubahan darinya. Mulai dari kecepatan, kekuatan, bahkan gaya bertarungnya juga berbeda.
Evans menjadi sosok orang yang berbeda tapi menggunakan tubuh yang sama. Tatapan tajam Evans, sangat tidak sesuai untuk dimiliki bocah yang sedang puber itu.
Tapi dari itu semua, bagaimana bisa Evans menciptakan aura yang sangat menakutkan, bahkan waktu dan udara seolah berhenti karena takut.
"Ev, kau menyembunyikan kekuatan yang seperti ini?" Jeff tersenyum lebar melihat Evans yang seperti ini.
Orang yang berdiri tidak jauh dari mereka juga terus-terusan tertawa sangat senang sekaligus terhibur dengan apa yang terjadi. Dia adalah sang Instruktur Henri.
"Jeff, Ku ijinkan Kau menggunakan semua kemampuanmu." Ucap Instruktur Henri mantap.
"Seluruh kekuatanku? Sudahlah lupakan itu, Ev masih ada dalam jangkauanku." Jeff mencoba bangkit dari posisi duduknya.
"Jika kukatakan, Dia masih menyembunyikan setengah kekuatannya, bagaimana?"
Jeff segera melirik kearah Evans dan membuat mata mereka bertemu. Rupanya Evans dari tadi masih terus berfokus pada Jeff.
Jeff yang mengetahuinya hanya merasakan merinding di seluruh tubuhnya. Jeff penasaran bagaimana Evans membuat kedua mata yang awalnya cerah seperti birunya langit, menjadi gelap sehitam dasar laut.
Sekarang giliran Evans yang merengsek maju ke depan, dia bersiap menggunakan pukulan dengan menarik penuh tangannya kebelakang dan berhasil membuat Jeff berpikiran seperti itu.
Hasilnya, Jeff tidak sadar dengan kaki Evans yang sudah menjegal Jeff hingga kehilangan keseimbangannya.
Dengan wajah yang dingin, Evans tidak menyiakan kesempatan dan dalam hitungan detik dirinya berhasil menjatuhkan seorang kapten kopassus bertubuh kekar itu.
Sebelum jatuh Evans meniru gerakan Jeff pada ronde pertama. Tangannya membentuk sebuah pedang dan menancapkannya pada leher belakang Jeff. Evans meniru secara sempurna dan hanya menyisakan tubuh yang pingsan tergeletak di atas tanah.
Evans kemudian berbalik memandang sang Instruktur. Instruktur itu hanya tersenyum dan tiba-tiba Evans merasakan sesuatu, dia bergerak menjauh mundur dengan cepat, dalam satu tarikan napas dirinya sudah berjarak lima meter.
"Oh~ Kau juga bisa seperti itu? Padahal, ancamannya saja masih belum terlihat dan Kau..." Tawa Henri lepas saat melihat reaksi Evans yang seperti itu.
"Kau pikir, seorang kapten kopassus yang telah menempuh berbagai macam perang dan latihan yang tidak pernah ada habisnya. Setiap harinya mereka menganggap, jika dirinya sudah mati. Dan begitu saja... Hanya akan berakhir seperti itu? Kalah ditangan seorang bocah?"
Tubuh Jeff perlahan berdiri, setelah dirinya menemukan keseimbangannya tatapan mata mereka bertemu.
"Hahaha. Ini mulai menarik-!" Henri tertawa keras, dia sangat penasaran siapa yang akan keluar sebagai pemenang duel ini.
"Ev, menyerahlah. Ini tidak akan berakhir baik jika berlanjut." Jeff memasang wajah dingin, serius dengan ucapannya.
Evans hanya diam mendengarnya. Mereka berdua kemudian saling berpandangan cukup lama dan entah bagaimana mereka bisa berpikiran hal yang sama.
'Ini hanya mengganggu.' batin keduanya.
"Plop."
"Kalian... Kalian tidak serius kan?!" Wajah Henri menjadi pucat pasi setelah melihat keduanya bergerak bersamaan dan melemparkan tas seberat 30 kg itu.
Evans dan Jeff melemparkan tasnya kesamping seolah menjadi kesepakatan mereka berdua. Mereka kemudiab melemaskan tubuh masing-masing dan sambil berjalan mendekat.
"Mereka serius saling bunuh? Ini memang maksud latihannya, tapi..." Henri menggaruk rambutnya yang mulai gatal.
'Sial apa yang telah Ku lakukan?!' Henri hanya menggigit kuku jarinya cemas.
__ADS_1
Kedua belah pihak melancarkan serangan bergantian, Evans dengan pergerakannya yang efektif melakukan serangan tanpa putusnya, berbeda dari ronde sebelumnya Evans mengarahkan semua serangan ke daerah vital lawannya.
Jeff merespon serangan Evans yang mendominasi dengan elakan danbbeberapa kali mencoba untuk menangkapnya.
Terlihat Evans mulai mengendurkan serangannya dan beralih menjadi pihak yang terjepit, dia kesusahan menangani teknik-teknik tingkat tinggi milik Jeff.
Semakin lama semakin terlihat jelas siapa yang akan keluar menjadi juaranya, tetapi tanpa disangka napas yang ditujukan bukan kelelahan namun napas yang teratur dan siap untuk membalikan keadaan.
Jeff menyadari hal itu, dia segera mengurangi frekuensi serangan dan berbalik ke pihak yang bertahan seperti semula.
Sesekali celah-celah sering ditemukan dalam pertempuran itu. Mereka memang sengaja membuat celah untuk membuat lengah lawannya.
Pertahanan Jeff akhirnya terbuka setelah Evans menyerbu ketempat yang sama berkali-kali, dirinya berputar dan dengan cepat mengangkat satu kaki ke daerah leher Jeff.
Sayangnya Jeff telah menunggu hal itu dari tadi, dia berhasil menghindar dan membalas menebas leher belakang Evans.
"Kau-!" Batin Jeff tercengang melihat tangan Evans yang menutupi belakang lehernya dengan cepat.
Sekarang tubuh Evans terbaring di tanah. Kesempatan kembali menghampiri Jeff, dirinya mengunci Evans yang terbaring di tanah dan membuatnya kesulitan bernapas.
Akhirnya sekarang yang ditunggu Evans menjadi kenyataan, Evans sudah tahu ini semua akan terjadi dan menyerahkan dirinya.
Karena merasa dirinya unggul Jeff mulai menjadi lengah, Evans dengan cepat berbalik dan menggantungkan kedua kaki nya di pundak lebar Jeff, dan membuat Jeff sekarang menunduk dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya di atas tanah.
'Aku kalah?' Batin Jeff.
Ini sebuah skakmat bahkan para pro mixed martial arts, tidak akan bisa berkutik menghadapi teknik ini. Sayangnya kemenangan Evans hanyalah sebuah mimpi, jika bukan berat badannya Evans pasti menang.
Jeff berhasil mengangkat tubuh Evans yang menggantung, lalu membantingnya ke tanah dengan keras. Hal itu menjadikan akhir dari pertarungan mereka.
**
Tubuh Evans bergetar dan bergerak memaksa untuk berdiri. Meski Jeff terlihat tenang, sebenarnya dia menyembunyikan sakit pada tangan karena memaksa mengangkat tubuh Evans tinggi.
"Tidak, bangunlah. Kau masih belum mencapai batas mu." ucap Instruktur Henri sembari menghentakkan kakinya di tanah beberapa kali.
Pertarungan itu ternyata masih berlanjut, dan selesai setelah keduanya saling bergantian jatuh dan bangun hingga tiga kali.
Duel panas itu berakhir dengan kedua belah pihak mengalami luka yang sama, lebam dan banyak beberapa tulang yang bergeser.
Mereka berakhir dengan jatuh pingsan di tempat. Evans pingsan saat akan melancarkan pukulan dan Jeff jatuh pingsan saat akan menghindar pukulan Evans yang berniat untuk membalasnya.
"Bruk."
"Bruk."
Jeff sebenarnya mendominasi pertarungan karena teknik dan pengalamannya dan akan keluar sebagai pemenang, jika saja di satu sisi Evans tidak cepat belajar dan meniru beberapa teknik Jeff. Evans akhirnya kalah hanya karena tubuhnya yang tidak bisa mengikuti.
**
"Apa yang membuatmu bertarung sampai seperti itu, Ev?"
"Aku minta maaf, Aku tidak tau akan berakhir begini."
Keduanya tampak tertawa dan melupakan apa yang terjadi, mereka sedang berada di sebuah klinik dengan keadaan diperban dan gibs di tangan dan kaki.
"Kau sebaiknya memperbaiki cara tertawa mu itu, jika ingin populer dimata para wanita." Saran Jeff setelah mendengar tawa yang mirip seorang robot.
Keduanya akan membutuhkan waktu untuk sembuh, sehingga latihan fisik akan ditunda dan diganti dengan pencerdasan.
__ADS_1
Mereka akan diberi tingkatan yang lebih sulit atas saran dari Instruktur Henri. Prof. Rise hanya bisa mengangguk mengerti, tidak ada yang bisa mencegah Henri untuk menyiksa calon player, dan Prof. Rise sangat mengerti hal itu.
Evans menunjukan pemahaman yang luar biasa setelah bertarung dengan Jeff. Dia mampu memahami sepuluh buku dalam sehari dan mengalahkan Jeff yang masih kesulitan menembus angka sepuluh.
Setelah empat hari tubuh mereka sembuh meski setengahnya, mereka dipaksa menjalani latihan ringan karena tersisa tiga hari sebelum berakhirnya pelatihan dan bimbingan di sana.
Hari terakhir semua orang sudah terbiasa dengan kehidupan di sana, merasa tidak akan pernah lagi dapat bertemu dengan guru mereka yakni Assisten Instruktur.
Mereka terlihat menangis dan memeluk erat sang guru sebagai bentuk balas jasa mereka.
Susana sedih dan haru sangat terlihat jelas kecuali pada mereka bertiga yang saling berpandangan.
"Apa yang kalian lakukan? Majulah sini, peluk atau kalian akan mendapat hukuman-!" Ancam sang guru dengan kacamata orange nya.
Di sisi lain mereka hanya membayangkan tawa senang orang ini, yang tidak ragu untuk menyiksa mereka bahkan tidak memberikan istirahat barang sedetikpun.
Evans dan Jeff akhirnya memeluk Henri sedetik dan melepasnya.
Sebelum calon player pergi dari pangkalan militer, mereka berpesan untuk terus berlatih dan belajar dengan tekun di luar, karena akan sangat membantu stats bawaan mereka untuk naik.
Mereka juga memberi calon player sebuah form hak eksklusif, terlihat air mata mulai mengalir di mata masing-masing calon player. Evans mendapat dua form karena kebaikan Henri, dia akan memberikannya satu pada Eric nantinya.
"Ev, sampai jumpa seminggu lagi di Tower jaga dirimu. Dah."
"Baiklah, sampai nanti."
Keduanya tersenyum dan memberikan salam perpisahan dengan tinjunya.
"Tep."
**
Evans selalu memikirkan bagaimana keadaan mereka berdua yang ada di rumah, dia tidak pernah membayangkan akan sangat rindu pada kedua orang tuanya, padahal mereka hanya berpisah selama sepuluh hari.
Sepertinya selama tujuh hari terakhir nanti, Evans akan menghabiskan waktu bersama dengan mereka berdua di rumah.
Evans juga harus berpamitan dengan kerabat, sahabat dan teman-temannya di sekolah. Tiba-tiba wajah seseorang terlintas di pikirannya
'Hmm, bagaimana caraku menangani Ney nanti.' Pikir Evans.
Setelah penolakan dari Ney, Evans berpikir jika dirinya akan perlahan melupakan dan merelakan Ney bersama dengan kekasihnya itu.
Tetapi tanpa di sangka Evans, dia selalu bermimpi tentang Ney. Wajahnya yang cantik dan imut itu selalu mengalihkan dunianya.
Rambut pendeknya yang tebal dan sedikit bergelombang berwarna coklat terang itu serta sikap malu-malunya selalu membuat Evans tersenyum.
Tubuh Ney juga tidak kalah dengan wajahnya, memancarkan sosok orang dewasa padahal di usianya yang masih remaja.
Evans berpikiran apakah akan baik-baik saja selama dirinya tidak berada disampingnya.
Dulu Ney pernah dibully seorang preman sekolah yang cantik saat baru-baru menjadi kelas satu, bahkan hingga dikucilkan di kelasnya dan tidak memiliki teman satupun.
Saat itu, Evans mengenalkan Ney kepada teman-teman pria di kelasnya, agar Ney tidak merasa kesepian atau merasa tidak memiliki teman di sekolahnya.
Evans tidak ingin melihat Ney yang putus sekolah karena hal itu. Dan sekarang perlahan Ney mendapatkan tempatnya di kelas bahkan mendapatkan kembali teman-temannya.
Bukan hanya itu Ney bahkan membuat kemajuan dengan berpacaran salah satu teman yang di kenalkan Evans.
Saat itu, mungkin pertama kalinya Evans merasakan penyesalan.
__ADS_1