Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 57 |


__ADS_3

Chp. 57 Level 9 : Keluarga


"Sebelum itu, bagaimana kalau kau lepas dulu topeng mu David. Setiap kali melihatnya aku selalu salah dan hampir menyebutmu dengan panggilan Tuan Massa."


Jelas Ayeong Ara yang melihat David seakan selalu ingin menghormatinya karena perbedaan usia mereka.


"Hm... Topeng ini sangat bagus bagaimana bisa aku berubah menjadi Tua Bangka itu hanya dengan ini hahaha."


Setelah melepaskan topeng yang melekat di wajahnya, kini wajah Massa Koujiro tiba-tiba berubah menjadi sosoknya yang asli sebagai David Erenheit.


"Benarkan? Berterima kasihlah dengan ku berkat sihir ku, ini semua menjadi lebih mudah hihihi." Ayeong Ara tertawa kecil dengan menutup mulutnya.


Tiba-tiba saja seseorang pria menguap di sana dan menjadi pusat perhatian, pria itu terlihat sangat malas dan mengusap matanya berkali-kali


"Ah sudahlah, aku mengantuk sekali saat ini. Terlebih pekerjaanku sangat berat kemarin, saya pamit dulu boss." Vincent Adney berdiri dari tempat duduknya dan menundukkan kepalanya kepada Sam.


"Dasar pemalas!" Kompak keempat orang yang lain dengan mengatakannya secara terang-terangan, di sana ada Peter Joh, Ayeong Ara, Violet Winston, David Erenheit. Mereka adalah pemimpin Guild Besar yang sekarang.


Semua orang yang berada di ruangan sebenarnya mengetahui apa yang dikerjakan Vincent kemarin, bahkan jika diketahui publik hal itu akan menyebabkan perang karena besarnya.


Kemarin adalah saat di mana Vincent Adney membunuh Tua Bangka Massa Koujiro.


Sebenarnya Vincent Adney terlalu malas melakukannya tetapi karena semua ini adalah perintah langsung dari Sam, mau tidak mau dirinya harus bergerak.


Vincent Adney tidak mungkin bisa menang melawan Massa Koujiro sendirian, dia lalu meminta bantuan kepada Peter Joh.


Peter Joh yang gila bertarung itu akhirnya menerimanya dengan senang hati, meski dia hanya membantu sampai di pertengahan dan pergi meninggalkan keduanya.


"Baiklah terima kasih atas kerja kerasmu. Sekarang kita telah berhasil menangkap si Tua Massa dan menjebaknya. Dia juga sebentar lagi akan mendapatkan kesan yang buruk oleh semua orang, sehingga kejatuhannya tidak akan lama lagi." David sangat bersemangat berbicara sampai membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum.


David berhasil memerankan tokoh Massa dengan sempurna, dia memberikan hukuman yang sangat ringan kepada terpidana Jun Ichiro, membuat mata semua orang terbelalak tidak percaya dengan keputusan pemimpin Guild Moonlight Massa Koujiro.


Massa Koujiro akan mendapatkan pandangan yang buruk di masyarakat sehingga memudahkan mereka untuk mengkudeta Massa dari Moonlight.


"Sekarang hanya tinggal beberapa bumbu lagi dan kita akan membuat Massa lengser dari jabatannya. Inilah akibatnya jika kau masih berani untuk bermain-main denganku Pak Tua..." Sam menyeringai.


"Mhm! Memang rencana yang luar biasa dari master sekali lagi hahaha." David ikut tersenyum bersama Sam.


...***...

__ADS_1


Evans dan yang lainnya sekarang telah memasuki perbatasan wilayah kota Centre, mereka berjalan kaki sampai dua jam lamanya.


Semua itu mereka tempuh tanpa beristirahat di tempat manapun, diperkirakan butuh waktu setengah jam lagi sebelum mereka sampai di tempat tujuan.


Hiburan satu-satunya dalam perjalanan hanyalah pemandangan kota, mereka melihat banyak sekali bangunan yang unik dan cantik.


Mereka tidak percaya jika semua ini adalah buatan dari arsitek ataupun desainer dalam pulau, semua hal terlalu mirip dengan saat sebuah jaman kerajaan saja.


Semua orang yang ada di sana terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, bahkan mereka menemukan kereta kuda sesekali muncul dan pergi.


Adapun orang-orang yang mengenakan jirah dan senjata lengkap, mereka sedang berjalan di trotoar yang sama dengan kelompok Evans.


Pastinya mereka adalah para player yang akan berpetualang di dalam Tower, mereka berkelompok dengan tatapan mata yang sangat serius dan berjalan dengan membusungkan dada.


Kelompok Evans sekarang masuk lebih dalam lagi ke kota Centre, setelah melihat banyak penginapan, toko dan bar mereka lewati.


Rombongan akhirnya sampai di depan Tower tepat setengah jam sesuai perkiraan.


"Baiklah kita akan menunggu di sini, kalian semua boleh beristirahat tetapi jangan ada yang tertidur."


Hendra sekilas melihat Evans tetapi kembali menyebarkan pandangannya kepada yang lain, dia memberikan mereka waktu istirahat sekadar untuk menghabiskan waktu sebelum semua anggotanya yang tersisa kembali berkumpul.


"Laparnya, kurasa aku ingin makan."


"Aku ingin melihat-lihat di sekitar."


Mereka semua berpencar dengan tujuannya masing-masing. Beberapa ada yang masih di tempat dan asik mengobrol, kemudian ada juga yang menuju ke stand makanan di sana.


Tiba-tiba suara langkah kaki seorang perempuan mendekat dan membuat semua orang berbalik, dia adalah Lan Suzi, muncul entah darimana dan langsung menjadi pusat perhatian.


Semua orang langsung menyambut hangat Lan Suzi dengan senyum lebar dan tertawa kecil, baik itu para perempuan maupun laki-laki.


"Selamat sore, Kak Suzi."


"Ada keperluan apa kakak kemari?"


"Kak Suzi kau sangat cantik hari ini."


Lan Suzi yang mendapatkan banyak pujian dari orang-orang di sekitarnya kemudian tersipu malu dan tertawa canggung, "Oh, benarkah. Terimakasih hihihi."

__ADS_1


.


.


.


Evans sekarang terlihat sedang kesusahan, dia tidak berani mendekati Lan Suzi atau pun memberikan salam kepadanya.


Tetapi ada yang aneh di sini, kenapa Lan Suzi malah bisa berada di sampingnya, membuat Evans tidak habis pikir lagi.


Suasana disekitar keduanya menjadi lebih berat dan canggung. Lan Suzi terus menunduk ke bawah tanpa sekalipun melihat Evans.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini." Evans yang pertama kali mengajak Lan Suzi untuk berbicara.


"Um... Ada sesuatu yang pertama-tama harus aku lakukan di sini."


Evans hanya terdiam mendengarkannya bercerita, Lan Suzi bercerita dengan raut wajah yang cemberut kemudian tersenyum pahit saat dirinya mulai berani melihat Evans.


"Pertama, aku ingin membuat permintaan maaf kepada mereka yang terbunuh dan semua orang-orang dari Paguyuban Usaha Tani, ini semua karena aku... Semua orang menjadi korbannya. Sepertinya aku telah banyak merepotkan kalian semua hihi."


Mendengarkannya berbicara dengan tulus seperti itu, Evans hanya mengalihkan pandangannya kearah yang lain sebelum tiba-tiba suara berisik orang-orang mulai terdengar dan membuat semua orang berkumpul.


Pintu Katedral mengeluarkan cahaya yang terang, semuanya terlihat sangat antusias saat melihatnya.


Mereka semua tersenyum lebar dan berlari kecil kearah pintu masuk, Hendra yang melihat anggotanya seperti itu hanya menggelengkan kepala.


Tatapan aneh juga keluar dari orang-orang yang berada di sana, mereka melihat kelompok Hendra ini seakan mirip orang kampung saja.


Mereka bereaksi terlalu berlebihan dengan hal yang sudah sering terjadi di dalam pulau, tetapi hal seperti ini merupakan pengalaman baru bagi setiap anggota Paguyuban Usaha Tani.


Evans dan Lan Suzi kemudian berjalan mengikuti semua orang paling belakang.


Lan Suzi yang melihat reaksi para anggota Paguyuban Usaha Tani sangat tersentuh sampai membuat matanya berkaca-kaca, dia mengingat kembali saat dirinya bergabung dengan Suny Guild.


Dibandingkan dengan Guild Besarnya, Lan Suzi sangat cemburu dengan kerukunan para anggota dari Paguyuban Usaha Tani.


Mereka terlihat saling menyayangi satu sama lain sebagai sebuah keluarga.


Lan Suzi tidak pernah sekalipun mendapatkan sambutan hangat seperti ini, bahkan semua orang tidak akan mendapatkan sambutan seperti ini dari teman dan semua orang terdekatnya.

__ADS_1


Mereka menganggap kematian di sini adalah hal yang biasa dan tidak perlu terlalu rumit dipikirkan.


"Kenapa kau diam saja seperti orang lain." Evans kemudian menepuk punggung Lan Suzi dan berjalan mendahuluinya, "Mereka juga adalah keluargamu."


__ADS_2