
Chp. 7 Pulang(2).
Dua orang pasangan berumur dua puluhan sedang duduk di ruang tengah, mereka sedang menonton tv tetapi tidak ada dari pandangan mereka yang melihat kearah tabung itu.
"Sudah kuduga, Kau pasti salah menghitung harinya." Seorang ibu rumah tangga terlihat melototi suaminya itu.
"Sebelumnya juga Kau salah, Kau membeli banyak makanan tetapi Kau lihat, 'kan? Dia sangat tangguh persis seperti ayahnya hahaha." Seorang ayah tertawa dan sangat bangga dengan anaknya itu.
Tetapi dibalik itu semua mereka sangat khawatir kepada Evans. Mereka takut anaknya akan mengamuk dengan kekuatannya dan membuat masalah di sana.
"Lalu apa yang akan Kita lakukan, dengan semua makanan yang Kau beli ini, huh?!"
"Apa maksudmu, dikeluarga ini Kau yang memiliki perut buncit. Makanlah jangan malu-malu." Suara Ayah Evans dengan nada yang menggoda.
Suasana terlihat hening kemudia dengan sebuah lampu yang makin redup seiring berjalannya waktu.
"Eh. Sayang, Kau tidak memasukannya ke dalam hati, 'kan?" Wajah sang ayah terlihat panik, dia menelan ludahnya dan bergerak mundur kebelakang.
...***...
Evans sekarang berdiri di depan rumahnya cukup lama. Suasana di sana terlihat sangat hening, Evans segera menyadari ada yang salah dari ini semua. "Kenapa keluarga yang sangat ramai itu tiba-tiba menjadi sepi." Batin Evans.
Dalam hitungan detik puluhan skenario mengalir dalam pikirannya, semua itu ditepisnya dengan memutar gagang pintu rumah depan.
"Cklek."
Tebakan Evans benar, dirinya melihat dua orang bayangan sedang bertarung dan salah satu pihak terlihat sangat mendominasi, wanita itu kini sedang mencekik satunya.
Evans segera berlari kencang untu mendekati keduanya, dan melihat pemandangan yang sangat tidak asing bahkan selalu dia jumpai setiap harinya.
Evans tersenyum canggung merasa telah menganggu romantisme keluarga itu.
"Tidak, tunggu, Evans. Gyahh-ghhk." Salah satu pihak yang tercekik melihat Evans dan tidak lama kemudian jatuh pingsan.
**
Lengkap sudah keluarga yang terdiri dari tiga orang ini, mereka bersanda gurau dan menyantap makanan yang ada di depannya, yang dipikir Evans terlalu berlebihan jumlahnya itu.
Evans lalu mulai bercerita tentang pengalamannya di sana karena sang ayah yang selalu bertanya penasaran.
"Kau serius nak?" Mia, ibu Evans kaget dengan perkataan Evans.
"Hoo. Kau sangat mirip dengan ayah saat masih muda." Fery, ayah Evans menimpali seolah tidak terkejut dengan yang telah diperbuat Evans di sana.
"Tunggu sebentar." Evans mengangkat salah satu tangannya dan pergi menuju ke kamarnya.
Evans kembali dengan sebuah piagam medali dan sertifikat, dia melemparkan medalinya pada ayahnya dan memberikan sertifikat dengan halus kepada Mia.
Sesaat sebelum Evans meninggalkan pelatihan dirinya mendapatkan penghargaan sebagai peringkat pertama di sana.
Bahkan Evans sendiri tidak percaya, nyatanya Evans memulai dengan awalan yang buruk dan yakin jika poinnya akan tertinggal jauh dari Jeff.
Evans mulai menunjukan keseriusan saat hari-hari terakhirnya di sana, dia mengalahkan Jeff di pengetahuan dan seri saat berlatih tanding.
Evans tidak menceritakan semua kejadian di sana, khususnya saat bertanding dengan kapten kopassus.
__ADS_1
Evans tidak berani menceritakan hal yang sebenarnya pada mereka, setiap kali Evans bertarung atau terkena masalah mereka selalu bereaksi dengan berlebihan.
Evans berjanji pada mereka juga untuk menahan dirinya di masa lalu.
Fery dan Mia lantas berhenti bertanya tentang pelatihan melihat suasana yang mulai menjadi berat itu. Fery dan Mia, keduanya mulai tertawa canggung sedangkan Evans masih tetap terlihat tenang, dia sama sekali tidak merasakan apapun.
Fery dan Mia bertanya apa yang besok akan anaknya itu lakukan, tetapi Evans menjawab dengan menggeleng dan mungkin dirinya akan pergi ke sekolah.
Evans sendiri tidak tahu harus apa, dia setiap hari pergi ke sekolah melihat Ney dari jauh dan nongkrong bersama temannya, setelah itu dia pulang ke rumah. Tidak lupa juga dia mengerjakan pr yang selesai dalam setengah jam itu.
Keputusannya itu langsung disanggah oleh Fery dengan melotot, dirinya tidak habis pikir kenapa Evans sangat tertarik pada sekolah padahal kebanyakan anak-anak pria seusia Evans sangat benci sekolah dan sampai membolos sekolah.
Fery bahkan sampai menyuruh Evans untuk membolos, untungnya Evans tidak mendengarkan hal itu.
Fery dan Mia saling berpandangan, mereka setuju menyuruh Evans untuk tetap di rumah dan beristirahat memulihkan tenaga.
Selain itu mereka berniat seharian bersama Evans sekadar berkumpul bersama.
**
Esoknya di depan rumah Evans sangat ramai dengan sejumlah massa yang berkumpul, terlihat kebanyakan adalah para wartawan dan reporter berita.
"Hey, Mia apakah mereka sedang mencariku?" Fery melihat Mia.
"Kau tidak melakukan tindak kriminal, 'kan?" Mia menaikan salah satu alisnya.
"Tunggu ini bukan dompet yang kulihat di jalan kemarin, 'kan?"
"Kau, Kau tidak mengambilnya, 'kan?!"
Evans yang mengetahui sejumlah wartawan dan reporter berkumpul di depan rumahnya, lalu berjalan kearah tv untuk mencari tahu.
Kedua orang tua Evans heran dengan tingkah anaknya itu, di situasi seperti ini masih sempat untuk menonton tv, mereka hanya menghela napas sebelum akhirnya melihat gambar wajah anaknya muncul di tv.
Fery dan Mia sadar bukan masalah yang dibuat Evans, melainkan semua orang heran dengan aksinya. Pasalnya seorang pemuda berusia 15 tahun menjadi peringkat pertama di pelatihan. Belum pernah hal ini terjadi sebelumnya bahkan di dunia sekalipun.
Semua orang dari berbagai dunia merasa kabar itu hanyalah bohong atau mereka menganggap jika kualitas calon player di Indonesia sangatlah buruk, sehingga bocah berumur 15 tahun saja bisa mendapatkan peringkat pertama.
Fery dan Mia mereka merespon berita itu dengan memuji dan menari di depan anaknya, mereka saling berpelukan dan berputar di ruang tengah.
Evans yang memperhatikan mereka hanya tersenyum tetapi jika dilanjutkan, maka Evans hanya akan berdiam di rumah selama enam hari tersisa dan tidak melakukan apa-apa.
Karena itu Evans menghubungi nomor Henri yang telah ia berikan sendiri padanya dan meminta bantuannya.
Evans memintanya untuk menarik berita tentangnya dan merahasiakan identitasnya tersebut, paling tidak selama enam hari saja.
Setelah semua kembali normal dengan wartawan dan reporter menarik diri. Akhirnya satu hari, mereka jalani dengan bersama seperti hari-hari biasanya hingga waktu makan malam tiba.
"Nak, di hari terakhirmu, Kita berencana akan mengadakan pesta kecil-kecilan untukmu--" Fery berbicara sebelum memasukan sesuap nasi ke mulutnya.
"Kenapa kalian harus repot begitu--" Evans memasukan sesuap lauk ke mulutnya.
"Apa maksudmu nak, pada hari Kau pergi nanti Kau akan berulang tahun Hiks Hiks. Jadi, ini sudah biasa, 'kan?" Mia berkata dengan wajah yang sedih dan tersedu-sedu.
Evans sungguh melupakan hal itu, padahal dirinya akan genap berusia enam belas saat hari terakhirnya di sini. Mungkin Evans terlalu banyak pikiran, hingga melupakan ulang tahunnya.
__ADS_1
"Bukan begitu, Aku hanya merasa kenapa hanya pesta kecil jika ada yang besar. Aku akan mengajak teman dan sahabatku kemari."
"Benar yang dikatakan Evans, kita akan mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam di sini hahaha." Imbuh Fery dengan tertawa, dia tidak kesulitan untuk bicara dengan nasi di mulutnya.
"Baiklah, kalian sendiri yang bilang. Jadi serahkan padaku, Ibu akan berbelanja banyak bahan makanan sampai semua orang tidak sanggup lagi untuk berdiri hihihi." Kedip Mia terlihat seorang yang masih remaja.
"Hoo, Kita lihat besok perut buncitmu akan kalah tunggulah hahaha. Ah Mia?! Tungg-- Kenapa kau berdiri? Mia? Ahh... Gyahhh-ghhk..."
Mia berdiri dan mencekik leher Fery.
Suasana inilah yang mungkin akan dirindukan Evans saat sudah menjadi player.
Gelak tawa terdengar dari ketiganya, mereka terlihat sangat bahagia malam itu.
**
Kurang dari lima menit pelajaran dimulai, Evans muncul di depan kelasnya sehingga membuat kegaduhan di kelas yang kecil itu. Semua mata nampak memandang ke arahnya, Evans berjalan perlahan dan menaruh tasnya di kursi.
Dari semua mata yang memandang ini, Evans hanya tertarik kepada satu orang, tepatnya orang yang sekarang sedang duduk di sebelahnya.
Orang yang ada di sebelahnya itu hanya memandangi Evans seperti melihat hantu, Evans pun membalas dengan melihatnya dari atas kebawah dan menyimpulkan satu kata "Cantik."
Semua teman-teman Evans segera sadar dan mendekat kearahnya. Mereka menyerbu Evans dari segala arah tidak percaya bahwa Evans adalah salah satu dari dua calon player di sekolah mereka.
"Wow, jadi Kau sungguhan akan menjadi player?"
"Apa benar Kau mendapatkan peringkat pertama, di sana Vans?"
"Kalau begitu, apakah Kau mengetahui salah satu teman kita yang menjadi player? Siapa Dia Evans?"
Semua orang sangat antusias ingin mendengar jawaban darinya, Evans hanya tersenyum tipis, dan untuk pertanyaan terakhir dirinya hanya melirik orang di sudut ruangan.
Eric kini sedang menatap benci Evans sebelum pergi keluar mencari toilet.
Tiba-tiba salah satu teman Evans menarik tangannya dan mengajaknya untuk berbicara di luar kelas. Evans hanya pasrah mengikuti dari belakang.
"Evans, ini adalah waktu yang tepat."
"Apa maksudmu." Evans bingung menyikapi temannya itu.
"Hmm, bagaimana menjelaskannya, ya? Aku tau jika Kau menyukai Ney."
Evans tersedak dan batuk-batuk mendengarnya, dirinya penasaran bagaimana cara mereka mengetahuinya.
Evans tidak tahu jika sikap yang ditunjukannya sangat jelas hingga membuat semua teman di kelasnya bahkan orang-orang di sekolah sudah mengetahui hal itu. Hanya mereka berdua yang belum mengetahuinya, Evans dan Ney.
"Hadeh, kenapa Kau malah sampai kaget begitu. Dengarkan, sudah lima hari Ney putus dengan pacarnya--"
Evans sedikit terkejut mendengarnya, dia hanya menaikan sedikit kedua alisnya.
"Ini adalah kesempatanmu, jujurlah kepada Ney. Sebelum Kau masuk ke dalam Tower, kau harus--" Tutup temannya kemudian memandang kearah Evans.
"Kau mau kemana Vans?"
"Toilet. Dan juga besok minggu datanglah ke rumahku. Akan ada pesta di sana." Evans berbalik dan meninggalkan temannya itu.
__ADS_1