
Di sebuah lantai kedua puluh tiga, tepatnya dipinggiran tembok. Seorang pemuda terlihat tertawa dengan sangat kencang dan bahagia sembari melihat dan memikirkan sejauh mana kekuatannya akan meningkat jika memakan ratusan buah dari kebun pohon di hadapannya.
Kebun itu sangat banyak sekali dan berjumlah ratusan, pohon-pohon itu sangat kering dan tidak memiliki daun satupun di rantingnya, hanya sebuah apel dengan tato aneh yang bergelantungan di setiap rantingnya.
Setiap pohon berbuah sangat banyak, sejumlah dua puluh tiga buah.
"Ba, Bam... Ka, Kami semua sudah melakukan semua yang kau minta... Jadi. Bisakah kau melepaskan kami..." Seseorang mendekat kearah Bam dan terlihat sangat ketakutan dengan sosok di depannya.
"Hmm, begitu ya..." Tubuh Bam menjadi bergetar dan menahan sesuatu.
Melihatnya yang seperti itu, orang itu secara reflek mundur dengan perlahan.
"Lalu, bagaimana jika aku tidak melakukannya, huh?! Apakah kau berani melawan perintahku. Hahaha!" Tawa Bam langsung meledak di sana, dia melotot kearah orang itu dan mengeluarkan pedangnya dari balik inventori.
"Akan aku berikan satu kesempatan lagi berhubung aku orangnya sangat baik kepada semua orang. Jadi, pergilah dan berkumpulah bersama dengan yang lain!"
"Ba, Baik!" Orang itu langsung berlari secepat yang dia bisa dan berkumpul bersama teman-temannya.
Bam yang melihatnya menjadi sangat terhibur dan tertawa di sana, dia kemudian menyimpan kembali pedangnya ke dalam inventori.
Beberapa saat kemudian setelah puas tertawa, Bam lanjut memikirkan kembali bagaimana bisa dirinya masuk ke dalam lantai ini.
"Lantai ini sangat sempurna, aku tidak menyangka dengan kekuatan stigma kelas ( A ) bisa membawaku sampai sejauh ini. Bahkan aku adalah orang yang pertama kali masuk ke dalam lantai ini, hahaha."
Dirinya tidak menyangka akan berhasil membawa ratusan orang di belakang bersamanya, untungnya mereka tidak bertemu terlalu bangak monster sehingga mereka hanya perlu berjalan dengan penuh kehati-hatian dan bersembunyi.
"Jika tidak salah lantai ini terbuka karena Evans yang mengalahkan Slime King di lantai keenol. Orang itu sebenarnya sejauh mana kekuatannya sekarang..." Bam terdiam cukup lama di sana.
"Yah, semua itu tidak penting lagi, akulah orang yang akan menjadi player nomor satu di dunia ini. Tidak ada lagi orang yang akan bisa menghentikanku, aku akan mengatur semua orang, tidak, seluruh dunia! Mereka semua akan aku buat menjadi lebih baik lagi. Bahaha!"
Bam tertawa sangat kencang dengan memandangi kebun buah miliknya.
**
Di lantai keempat belas, terlihat dua orang yang saling melotot dan bersiap untuk saling menerkam satu sama lain.
"Apa yang sebenarnya mereka ini lakukan?"
"Aku tidak tahu, bukankah mereka berdua adalah teman?"
__ADS_1
Dua kubu kelompok ini saling melihat dengan penuh keheranan dan memiringkan kepalanya, hanya karena masalah satu ekor monster bisa sampai merusak hubungan persahabatan antara keduanya?
Mereka tidak percaya hal itu dan menggelengkan kepalanya.
"Dasar sialan itu tadi mangsaku, Jeff ***!"
"Apa yang sedang kau bicarakan, huh?! Aku tidak mendengarnya karena banyak sekali sensor yang keluar dari mulut kotormu itu!"
Eric dan Jeff mengacungkan senjatanya kearah satu sama lain, sampai akhirnya Jeff menghela napas panjang dan memilih mengalah lalu menyarungkan pedangnya.
"Lupakan, semua ini tidak akan pernah berakhir. Lebih baik kita berpisah saja dan melakukan leveling sendiri-sendiri." Jeff berjalan mundur kearah kelompoknya.
"Sialan itu tadi kalimatku!" Eric mendengus kesal dan berbalik, tetapi beberapa detik kemudian dia menjadi teringat akan sesuatu, "Tu, Tunggu dulu, aku yang rugi di sini dong. Hei! Kau telah mengambil mangsaku tadi, tanggung jawablah, sat!"
Jeff tetap melangkah berjalan pergi dari Eric yang sangat berisik di sana, dia berjalan sembari menutupi kedua telinganya.
...***...
Di sebuah bengkel reparasi mobil, Evans sekarang duduk termenung dan menunggu di ruang tunggu.
Setelah namanya dipanggil, Evans segera pergi untuk melihat pesanannya yang baru saja selesai dibuat setelah menunggu selama hampir dua minggu lebih.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" Seseorang teknisi di sana tiba-tiba saja mendekat dan bertanya kepada Evans yang ada di sampingnya.
Evans tidak dapat menahan senyumnya di sana, dia tersenyum tipis dan mengangguk setuju, "Sangat keren." Sembari menaikan jempolnya.
"Hahaha, luar biasa kan. Sekarang mari kita berbicara tentang biaya."
Evans sama sekali tidak memiliki uang sekarang, sebenarnya dia sangat ingin membayar dengan uangnya sendiri tetapi karena Andy datang kepadanya sebelum mobilnya selesai, Evans terpaksa harus memberikan semua uang itu kepada Andy.
Evans akhirnya terpaksa berhutang kepada teman-temannya, tetapi alangkah terkejutnya dia setelah menerima uang yang sangat berlebih dari mereka semua, katanya untuk membayar seluruh hutang-hutang mereka di masa lalu.
Setelah tiga bersaudara itu sukses, mereka tidak begitu saja menjadi sombong dan angkuh seperti yang selama ini Evans pikirkan.
Tetapi mereka malah membayar kebaikan yang Evans berikan sampai sepuluh kali lipatnya.
"Mhm! Lunas. Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang. Dadah~" Teknisi itu tersenyum lebar setelah menerima uang dari Evans, dia melambaikan tangan kearahnya setelah melihat Evans masuk ke dalam mobil.
Setelah puas melihat interior mobil yang sangat cantik di dalamnya, Evans segera menyalakan mobil sedannya dan mengambil sebuah benda dari balik layar inventorinya.
__ADS_1
Sebuah kacamata hitam keluar dari tangannya, Evans langsung memakainya dengan menggunakan salah satu tangannya.
Suara mesin mobil yang baru terdengar sangat merdu, tidak pernah sekalipun Evans membayangkan akan mengendarai mobil diusianya yang baru enam belas tahun bahkan sim saja dia tidak memilikinya, hanya sebuah pengalaman di masa lalu yang dia punya sekarang.
*Tolong jangan ditiru ya:)
Evans menginjak pedal gas mobilnya dan berjalan dengan kecepatan normal, setelah sampai di sebuah jalanan yang lurus dan sepi.
Evans segera menaikan kecepatannya dan membuka kaca jendelanya, angin yang sangat kencang menyambut dan membuat rambutnya berterbangan kesana kemari, dia tersenyum tipis dari balik kaca mata hitamnya.
Banyak sekali pengalaman yang telah dia buat di dalam pulau selama lebih dari satu bulan ini.
Mulai dari mengalahkan Boss Monster di lantai keenol.
Menyadari passionnya.
Mendapatkan teman-teman baru yang seperti saudara.
Melawan kapten guild sampai di persidangan yang belum pernah sekalipun digelar.
Dikhianati seniornya di organisasi.
Berpetualang bersama perempuan cantik sampai lantai ketiga belas.
Bertemu dengan teman-teman lamanya.
Mengingat semua itu membuat Evans kemudian menarik napasnya pelan dan menghembuskannya dengan perlahan berulang kali, dia semakin menambah kecepatan mobilnya setelah menyeringai di sana.
Welcome to The Tutorial Tower. ( Arc 1 End )
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya selesai~
Ngak nyangka bisa sampai sini, hehe
(^∇^)ノ♪
Aduhhh puas banget, cok wkwkw
__ADS_1
Jangan lupa, tinggalkan jejak biar lebih semangat lagi gans┬──┬◡ノ(° -°ノ)