
Chp. 35 Level 5 : Bentrokan(2).
Evans dan Bam sedang santai mengobrol dengan pedang yang ada di tangan tanpa mempedulikan dua monster di hadapannya.
Dua monster ini adalah goblin, mereka sedang melotot tajam kearah Evans dan Bam.
Masing-masing dari mereka menunjukan empat taring yang mengkilap dan kebencian yang sangat mendalam sampai selaput mata yang awalnya putih sekarang menjadi merah, keduanya telah memusnahkan sukunya dan menyisakan mereka.
"Ada yang aneh, bukankah lantai pertama menjadi sangat sepi." Bam sekarang menatap ke sekitar.
"Ini sangat sepi dan terlalu tenang, tidak seperti biasanya. Meskipun lantai pertama sangat jarang dijadikan perburuan tetapi bukan berarti kita tidak bertemu para player, kan? Bagaimanapun para player harus melewati tempat ini untuk naik ke atas."
Bam kemudian menatap Evans ingin mendengar juga pendapat darinya, namun dia hanya menaikan bahu dan menggeleng kepada Bam.
"Grrr-!" Dua goblin itu sekarang mendekat dan menyerang keduanya dengan tiba-tiba.
Evans yang melihatnya memberikan tiga tebasan pada goblin yang mencoba menyerangnya, sedangkan satu lagi dipotong dengan satu tebasan dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh Bam.
[ +50 exp ]
[ +1 koin ]
Sebuah hologram kemudian keluar setelah mereka membunuh dua goblin yang berisikan sedikit koin dan exp. Sekilas menatap layar, tatapan mata Bam sekarang berganti di tempat yang kejauhan.
"Oh, kau menyadari keberadaan ku di sini?" Suara seorang pria yang tertawa segera melesat keluar dari persembunyiannya.
"Sebenarnya dari awal aku sangat ingin menyapa kalian tetapi karena takut mengganggu, lebih baik mundur dan mencari waktu yang tepat."
Jawab pria itu dengan ramah dan sopan, diikuti beberapa orang yang mulai keluar dari persembunyiannya juga.
"Lalu, ada urusan apa kalian dengan kami?" Bam mengernyitkan dahinya.
"Maafkan aku yang membuat kalian kebingungan, pertama kita mulai dengan perkenalan tidak baik jika mengobrol satu sama lain tetapi tidak mengetahui siapa orang yang diajak bicaranya...
Perkenalkan nama ku adalah Jun Ichiro, Satu dari Sepuluh Kapten Sunny Guild, Kapten termuda di sana. Aku datang dengan maksud yang baik."
Meskipun perkataan yang diberikannya bernada lemah lembut, tetapi hal itu sangat berbanding terbalik dengan sekelompok pasukan yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Evans yang melihatnya hanya diam saja dan mulai memperhatikan orang ini setelah mengenalkan dirinya sebagai Kapten Guild Besar.
"Aku hanya ingin bertanya apakah kalian mengenal gadis ini, dia juga adalah kekasihku. Namanya adalah Lan Suzi.
Dan orang bernama Bam ini tiba-tiba saja datang dan merusak segalanya meskipun sudah ditolaknya berkali-kali, Bam bahkan menyerang dan melakukan PK kepadanya!"
Alis mata Bam setelah mendengarkan menjadi bergetar, sedangkan Jun Ichiro yang melihat reaksi Bam itu mulai tersenyum tipis.
"Sungguh perbuatan yang kejam dan tidak dapat diampuni. Lalu, apakah kau adalah orang yang bernama Bam, ini?"
Setelah menanyakannya dan tanpa menunggu jawaban dari Bam, Jun Ichiro hanya tersenyum lebar.
"Aku, Jun Ichiro. Sebagai Kapten dari Sunny Guild sekaligus kekasih dari player yang kau bunuh. Sekarang akan menegakan keadilan dengan menggantikan The Executor dan Moonlight Guild. Menyerahlah dan terimalah hukuman mu."
Jun mengangkat kedua tangannya di udara, tiba-tiba saja dari sana muncul sepasang senjata kapak dengan kelas ( C ).
[ Silver Battle Axe ] [ C ]
[ Gold Battle Axe ] [ C ]
Sepasang kapak emas dan kapak perak mulai memancarkan keindahan cahayanya sekaligus mengakhiri obrolan diantara keduanya.
"A-Apa maksudmu... Mungkin ada sebuah kesalahan di sini..."
"Sampai akhir pun kau masih tidak mau untuk mengakuinya." Jun Ichiro lalu menatap ke salah satu bawahannya dan mengangguk.
"Bagaimana, sudah kau sudah rekam semua itu?" Jun Ichiro semakin tersenyum lebar setelah melihat bawahannya yang mengangguk kemudian berbalik kembali kearah Bam.
Bam yang tersadar akhirnya mulai mengerti semua yang baru saja terjadi tadi, semuanya adalah akting dan jebakan yang telah disiapkan sendiri oleh Jun Ichiro.
Gelak tawa dan tepuk tangan kemudian keluar dari Jun Ichiro, membuat kedua senjatanya berbenturan dan menghasilkan suara yang nyaring berulang kali.
"Sekarang tidak ada yang bisa menghalangi kita membunuh sampah ini hahaha." Ekspresi Jun Ichiro sekarang berubah, dia melotot kearah Bam dengan nafsu membunuh yang menakutkan.
"Tunggu Tuan Jun, kumohon tenanglah. Ini semua hanyalah kesalahpahaman, tarik kembali senjata mu atau kita berdua akan--" Belum selesai Bam bicara Jun langsung memotongnya.
"Bla bla bla bla. Kau terlalu cerewet apa kau sungguh seorang pria?" Jun tertawa sangat keras diikuti juga dengan sepuluh orang dibelakangnya.
__ADS_1
Dirasa percuma untuk berdiskusi, Bam kemudian menyuruh Evans untuk pergi dari sini.
Setidaknya dalam pikirannya saat ini, Evans akan memanggil bala bantuan atau paling tidak, hal ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri baginya mati demi melindungi juniornya.
Evans yang mengerti langsung menyarungkan pedangnya dan mengangguk, dia melesat maju ke depan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Bam tersenyum puas sekarang, hatinya lega melihat Evans yang menurut dengan permintaannya begitu saja, meskipun saat melihatnya berlari membuatnya merasakan campur aduk di dadanya.
Biasanya orang-orang pasti akan ragu untuk memilih pergi atau tidak berbeda halnya yang dilakukan Evans saat ini.
Bam hanya mengernyitkan dahinya, "Setidaknya cobalah untuk melawan atau menoleh ke belakang, tahi. Bukannya hubungan kita ini spesial?!"
Mereka telah bersama selama sebulan di Paguyuban Usaha Tani, berpetualang di Lantai Pertama dan Kedua selama tiga hari dan Evans bahkan tidak mencoba untuk menoleh ke belakang sekadar memastikan. Apa yang salah sebenarnya dengannya.
"Jangan biarkan sampah yang satunya itu pergi!" Jun menunjuk kearah Evans dengan geram, sepuluh orang bawahannya kemudian menunduk patuh.
"Huh?! Eh???"
Jun dengan sepuluh orang lainnya melongo melihat Evans yang berlari malah mendekat ke arahnya, sedangkan ekspresi Bam yang melihatnya hanya menepuk jidatnya tidak percaya.
Evans berlari menuju ke sebelas orang tanpa melihat raut wajah aneh yang mereka buat, dia tetap berlari dan berlari sampai akhirnya dirinya malah melewati sebelas orang ini dengan mulus.
"Aku sungguh tidak percaya, apa yang kalian lakukan. Kalian malah membukakan jalan untuknya?! Dasar bodoh-!" Perkataan dari Kapten mereka membuat sepuluh orang ini segera sadar dan berlari mengejar Evans.
"Hah... Aku tidak percaya ini..." Jun menggelengkan kepalanya dan memijat area sekitaran kening, di sisi lain Bam terlihat sedang berbalik mencoba menahan malunya.
Bam tidak pernah mengira Evans akan melakukan hal semacam itu, sosok yang dipikirnya selama ini orang yang sangat pintar, bahkan bisa melakukan hal seperti itu saat terdesak.
Bam hanya menghela napas panjang, mungkin ini karena pengaruh dari ketiga temannya itu. Bam kemudian berjanji akan menjauhkannya dari mereka bertiga.
"Awalnya kukira kalian berbeda dengan orang-orang job biasa yang lain, dua orang petani dengan pedang kelas ( C ) dan stats yang luar biasa.
Kali ini aku terlalu berlebihan, untung saja Aku tidak membawa wakil kapten atau lebih banyak orang lagi." Jun menghela napas sekaligus mengusap dadanya, bersyukur tidak melakukannya.
"Sekarang mari kita lanjutkan, bagaimana kalian bisa memiliki koin sangat banyak sampai memiliki senjata kelas ( C ) dan berburu di lantai dua ini berulang kali."
Bam terkejut dengan perkataan Jun itu, dari kata-kata nya sendiri bisa dipastikan mereka telah membuntuti Bam dan Evans sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah, lupakan..." Jun Ichiro hanya menghela napas dan menggeleng saat melihat Bam yang tidak berniat sama sekali untuk menjawab.
"Oke, Aku mengerti. Tetapi sekarang yang menjadi permasalahannya adalah... Berani-beraninya kau menggoda pacar orang, Brengs*k-!!!"