
Chp. 34 Level 5 : Bentrokan(1).
"Apa ini tempatnya?" Dilihat berapa kali pun Bam masih kebingungan, apa yang sebenarnya akan dilakukan Evans di tempat ini.
"Benar di sini." Evans sekarang melirik ke sana kemari seperti mencari sesuatu.
Apa yang dilihat keduanya di depan hanyalah sebuah pemandangan alam yang indah. Sebuah danau yang sangat luas dengan satu buah pohon di pinggirnya, salah satu cabang pohon ini menjulur kearah danau. Danau ini sekarang berwarna biru gelap dan mengkilap karena sinar bulan.
Evans tidak menyangka jika menemukan cahaya ungu itu memudar dan menghilang di atas sebuah benda seperti rongsokan kulit sebuah mobil.
"Kenapa ada sebuah mobil, tidak sebuah rongsokan di sini?" Bam mengeryitkan keningnya dengan sebuah mobil yang tidak memiliki mesin hanya badan berkaratnya saja.
Kerangka mobil ini berwarna kuning keemasan karena berkarat dan menutupi seluruh badannya. Kerangka ini berada tepat di bawah pohon dengan danau yang luas di sampingnya.
Evans menatap lama kerangka ini apa maksud cahaya ungu sekarang, pertama cahaya ungu untuk job seorang petani dan sekarang kerangka mobil yang sudah karatan, dia memegangi kepala mobil dan mulai memejamkan mata.
.
.
.
"Evans, jangan katakan kau ingin bermain air, ingat kita tidak memiliki waktu lagi atau--" Bam menghela napas pelan melihat Evans yang berdiri di pinggir danau dan mulai membasahi rambutnya.
"Ayo kita pergi sekarang, besok kau bisa bermain air yang terpenting sekarang kita harus kembali dan bekerja besoknya, benar menanam padi di tanah seperti yang biasa kita lakukan."
Bam sekarang mendekati Evans dan menoleh kepadanya, dia menemukan Evans yang sedang mematung menatap air di bawahnya. Bam tidak bisa menebak apa yang Evans pikirkan sekarang tetapi bisa dilihat dari pantulan bayangannya Evans seperti tersenyum tipis.
"Asal di tanah." Evans tiba-tiba saja menyeringai kearah Bam.
Bam yang melihatnya hanya dibuat mundur kebelakang. Orang yang terbiasa tenang dan santai, setiap berbicara selalu datar dan lemah energi itu hampir berhasil membuatnya jantungan.
Evans segera mengambil sesuatu dari inventorinya, sebuah benih segera muncul di tangan kanannya.
Dengan cepat Evans langsung menuju ke tanah yang kosong dia mulai menggali sebuah lubang menggunakan satu tangannya.
Bam yang melihat tingkahnya itu kemudian mulai mendekat, dia melipat kedua tangannya di dada dan merenung, "Apa yang sekarang terjadi-?"
Evans sekarang telah selesai menanam sebuah benih itu di tanah yang tidak jauh dari danau, setelah memberikan sedikit air kepadanya keluar sebuah hologram yang membuat mata Bam hampir keluar.
__ADS_1
"I-Ini, ini..." Bam langsung menunjuk tepat ke sebuah hologram, telunjuknya bergemetaran mengetuk sebuah layar dengan timer hitung mundur yang mulai berdetak.
"Kita masih harus menunggu sehari." Evans berbicara seolah biasa saja dan melanjutkan menanam satu lagi di samping benih yang pertama.
"Jadi hanya bisa satu, kemungkinan satu orang bisa menanam satu di setiap lantai atau hanya satu di satu lantai." Evans meminta Bam untuk mencobanya juga.
Sebuah timer lagi-lagi keluar di atasnya, Bam merasakan lelah karena terus terkejut sehingga memaksakan untuk bersikap tenang dan terbiasa sekarang.
"Baiklah sekarang lanjut menanam di lantai pertama lalu pulang bagaimana."
"..."
Bam hanya diam dan mengangguk.
**
"Nampaknya aku harus berceramah kali ini..." Hendra bergumam dan tertawa kecil.
Semua anggota Paguyuban Usaha Tani sudah berkumpul di depan ladang, mereka sedang bersiap untuk berkerja tetapi tidak disangka ada dua orang di kejauhan yang datang terlambat menghampiri mereka.
Evans dan Bam mereka berlarian menuju ke barisan, tatapan semua orang khususnya para anggota paguyuban langsung melotot kearah mereka tidak percaya.
"Kurasa satu orang memang sudah terbiasa hampir terlambat, tetapi Bam juga-?"
Beberapa orang menepuk jidatnya, ada yang menghela napas panjang, ada juga orang-orang yang sampai menjambak rambutnya sendiri, "Br*ngs*k!" Batin semuanya.
"Baiklah sebelum kalian mulai bekerja dengarkan sepatah kata dari pria bijak ini..."
Melihat Bam dan Evans masuk ke dalam barisan setelah mendapatkan ijinnya, mereka semua kemudian mendengarkan pidato singkat dari sang Ketua Paguyuban Usaha Tani, Hendra August.
Ceramah singkat kemudian berlangsung sampai pukul sepuluh, hampir tiga jam sudah mereka berdiri di sana.
Tatapan membunuh sesekali diarahkan pada Bam dan membuatnya hanya tersenyum canggung kemudian menunduk meminta maaf, sebaliknya Evans tidak mendapatkan hal yang semacam ini, dirinya tertidur pulas sembari berdiri di sana.
"Dasar bocah sialan! Bisa-bisanya tertidur sekarang. Urgh..."
"Apa dia tidak memiliki hati? Bukankah dia yang harusnya paling merasa bersalah sekarang-?"
"Cih, semoga kau tidak pernah bangun dari tidurmu itu. Sial!"
__ADS_1
Mereka mengumpat dan melotot kepada Evans sangat lama, sebelum menyadari semua tindakan yang dilakukan mereka hanyalah menguras tenaga dan memilih membiarkannya untuk bermimpi indah.
**
Sore harinya Evans dan Bam berangkat sekali lagi menuju Katedral seusai bekerja, setelah mendapatkan hukuman tambahan lembur selama satu jam mereka tidak merasakan lelah sama sekali dan tetap menuju ke Kota Centre, di mana Tower berada.
Keduanya memiliki tujuan yang berbeda, Bam dengan maksud leveling dan Evans dengan maksud menjenguk Malika di sana.
Baru selangkah menginjakan kaki di Lantai Pertama Tower, mereka berdua merasakan perasaan yang kurang nyaman.
Menyadari tidak adanya satupun player yang keluar dan masuk, membuat Tower menjadi sunyi dan sedikit menakutkan. Evans yang melihat raut wajah Bam melipat karena melihat ke sekitar segera menepuk pundaknya pelan.
"Ayo berburu monster dan segera pulang." Evans tersenyum tipis kepada Bam.
Melihat Evans yang masih tetap tenang membuat Bam sedikit lega dan segera menggelengkan kepalanya mengusir semua yang ada dipikirannya dan melanjutkan leveling.
.
.
.
Seorang player berjalan dengan gagah dan membusungkan dadanya masuk ke dalam Tower Lantai Pertama setengah jam setelah Evans dan Bam masuk ke dalam, player ini memang menunggu keduanya untuk masuk terlebih dahulu.
Player ini tidak sendirian dua orang terlihat sedang menghampirinya dengan berlari kecil di belakang.
Player itu memejamkan matanya sekaligus mendengarkan dua orang yang menghampirinya itu.
"Salam Kapten Jun..." Dua orang menundukkan kepalanya dalam waktu yang bersamaan.
"Kemana perginya mereka?" Jun melirik dua orang yang ada disebelahnya.
"Mereka masih di dalam Lantai Pertama, dan sekarang hampir mendekati kristal..."
"Baiklah, Ayo! Saatnya pergi dan menemui sampah itu." Jun menyeringai dan bergerak ke depan, segera dua bawahannya itu juga mengikuti.
**
Lantai pertama dalam sistem di sebut Level Satu, di sana terdapat tanah lapang yang luas hutan belantara yang rindang dan batu-batuan besar yang tinggi dengan tanpa adanya satupun bukit dan gunung.
__ADS_1
Evans dan Bam sekarang hampir mencapai kristal, akhir perjalanan setelah memburu monster sampai setengah jam di sana.