Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 12 |


__ADS_3

Chp. 12 Level 0 : Ladang Slime.


Evans hanya mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Eric yang mendapatkan job tingkat Epic sebagai Assasin.


"Bagaimana, kau mulai iri?"


Evans yang bingung harus bagaimana menghadapinya, kemudian bersyukur karena mendapatkan sebuah pemberitahuan dari sistem.


___________________


[ Lantai : 0 ]


Ladang Slime.


Sebuah hutan dan bukit, habitat yang sangat cocok untuk Monster kecil dan menggemaskan seperti Slime.


Player akan bertahan hidup selama dua hari di ladang Slime.


Selamat berpetualang.


_________°_________


Untuk mendapatkan koin di ladang slime para player harus membunuh Slime sebanyaknya dan mendapatkan skor. Skor ini kemudian akan dikonversi menjadi koin setelah dua hari berakhir.


Dan lagi meski hal ini hanya tertulis di buku panduan tetapi Enam Guild Besar melakukan perekrutan juga berdasarkan hasil skor dari lantai ke 0.


Kristal kembali memancarkan cahaya silau dan menarik para player untuk masuk ke dalamnya.


**


Hamparan tanah yang hijau mengelilingi mereka, tidak lupa dengan hutan dan beberapa bukit tinggi di sana. Para Slime sedang tersenyum dan berjalan santai di sini, mereka bahkan memberikan salam kepada para player yang baru saja tiba. Masing-masing Slime memiliki beragam warna dan ukuran yang berbeda.


"Mereka sangat imut... kyahh!" Para player perempuan di sana terlihat gemas memandangi Slime-Slime ini, sangat berbeda halnya dengan para pria mereka memikirkan untuk menjajal kekuatan job masing-masing di sini, "Hm, Hm. Jadi ini adalah tempat farming koin terbaik."


Hembusan angin sesekali terasa menampar mereka dan membuat suasana menjadi damai. Ladang Slime juga tidak terasa panas karena awan-awan besar selalu bergerak melindungi mereka.


Para player akhirnya mulai bergerak, mereka menyebar ke segala arah dengan membawa senjata kayu.


Player mendapatkan jenis senjata kayu mungkin tergantung dari job mereka tetapi kebanyakan adalah pedang. Seperti Evans yang sekarang, dia membawa sebilah pedang kayu ditangan kanannya sedangkan Eric membawa sebilah pisau.


Eric lalu memantapkan tujuannya dan mulai berpetualang diikuti oleh Evans di belakangnya. Mereka mulai berjalan menuju ke hutan terdekat di sana.


"Oh, lihat ini." Eric tertawa dan perlahan menghilang.


< Exclusive Skill: Stealth > < A >

__ADS_1


"Woah, di mana Kau sekarang." Evans menatap kesatu arah.


"Kau masih melihatku, sialan! Terlambat! Kau baru saja membalikan badan sekarang? Grrr-!" Eric berteriak dan mengumpat pada Evans.


Evans tahu jika dia seharusnya berpura-pura untuk tidak melihat Eric tetapi dia sedikit terkejut karena baru pertama kali ini melihat langsung sebuah skill, dia hanya membaca tentangnya dibuku panduan.


Evans yang merasakan bersalah kemudian menunduk untuk meminta maaf kepada sahabatnya itu. Eric yang masih menghilang dan sudah berpindah tempat, hanya menjatuhkan mulutnya, lagi-lagi Evans membongkar penyamarannya itu dengan mudah.


Evans sekali lagi membuat hati temannya yang sensitif itu kembali terluka.


"Hentikan! Kau mengetahui lagi Aku ada dimana, badj--"


**


"Jadi Kau sungguh bisa mengetahui penyamaran ku?" Setelah melotot cukup lama kearah Evans, Eric sekarang hanya menghela napasnya.


Bagaimana bisa seorang assassin bisa diketahui penyamarannya dengan mudah oleh seorang petani biasa? Hal itu lalu membuat Eric sekarang penasaran.


"Ah, Aku hanya kebetulan mendengar suara langkah kakimu di tanah."


"Huh?" Sayangnya mata Eric masih ditempatnya padahal dia sangat terkejut mendengarnya.


"Yah, mungkin tadi hanya sebuah kebetulan."


"Apa maksudmu kebetulan, bgst! Kau hanya malas untuk menjelaskannya. Grrr-!"


"Huff. Kau diamlah dan lihatlah ini." Eric tertawa pelan sebelum kembali menghilang.


< Exclusive Skill: Stealth > < A >


Slime itu tiba-tiba saja hancur lebur setelah satu dan tiga serangan dari Eric.


"Woah, Kau sangat hebat Aku tidak tahu di mana Kau berada sekarang."


"Aku sudah melepas skill ku, bodoh." Eric melihat Evans dengan tidak percaya karena kini Evans sedang menatap kearah yang lain dan sepertinya bermaksud untuk membuat senang sahabatnya itu.


**


Evans dan Eric melanjutkan petualangan mereka. Di jalan mereka bertemu dengan beberapa slime dan menghabisinya satu persatu. Satu slime memiliki skor yang berbeda dan itu tergantung dengan ukurannya.


Evans dan Eric akhirnya mencapai hutan tempat tujuannya. Mereka berdua melihat sudah ada satu kelompok yang menempati daerah itu.


"Cih." Eric mengumpat kesal melihatnya.


Kelompok itu terdiri dari lima orang, empat pria dan satu wanita. Satu orang dengan tombak, tiga orang dengan pedang, dan satu orang lagi seorang wanita dengan tongkat (Staff).

__ADS_1


Evans yang melihatnya hanya berpikir jika wanita itu memiliki job mage atau healer karena berada dibelakang yang lain.


"Hmph! Job itu masihlah remeh, lihatlah." Eric memutar pisau kayunya seperti seorang ahli saja dan tiba-tiba mulai menghilang lagi di hadapan Evans. Seketika Eric menyeringai saat muncul dengan cepat dibelakang slime lalu menikamnya.


Dengan satu kali serangan slime meledak berhamburan menyisakan jeli yang berceceran dimana-mana.


Kelompok party itu terkejut dengan aksi Eric, setiap mereka membunuh slime dibutuhkan tiga hingga tujuh serangan tergantung ukuran slime.


"Kuatnya-!"


"Hanya sekali serangan?!"


"Dia pasti memiliki job class tingkat tinggi."


Eric terlihat sangat bangga dengan kekuatan yang ditunjukannya, dia hanya tertawa dan mengusap hidungnya berkali-kali. Tetapi salah satu orang dari kelompok itu terlihat kesal dan mendekati Eric, "Apa-apaan yang kau lakukan?! Kau sudah mencuri buruan kami-!"


"Hei, Kau ini kenapa, bung?" Jawab Eric saat melihat seorang player yang kesal dengannya.


"Kami yang duluan menemukan tempat ini, pergilah!" Salah satu orang yang membawa tombak terlihat beradu mulut dengan Eric karena merasa buruannya telah diambil.


Evans segera mendekat kearah mereka mencoba untuk melerai namun hal itu sudah terlambat dan berujung dengan saling mengarahkan senjatanya masing-masing. Semua anggota kelompok dari mereka juga mendekat dan mencoba melerai.


"Top, tenanglah ayo Kita lanjutkan perburuannya."


"Benar Top, itu hanya masalah satu slime biarkanlah..."


Kelompok mereka mencoba untuk membujuk Top, pemuda yang berusia sekitar dua puluhan. Saat Top sudah mulai sedikit tenang, mereka dikejutkan kembali oleh Eric yang menghilang didepan mereka.


Dalam satu tarikan napas Eric sudah berhasil menghabisi tiga slime terdekatnya dan mulai bergerak untuk menghabisi slime lainnya, tetapi sebuah tombak langsung meluncur dan tepat mengarah ke kepalanya.


"Tang!" Top gagal mendaratkan tombaknya di kepala Eric, dia melihat kesatu orang yang mengganggunya. Evans tersenyum tipis padanya karena mengenali orang ini.


**


"Kenapa kita mundur Top?"


"Mereka telah mengambil buruan kita, bukan hanya satu tapi tiga!"


"Benar Top, ayo beri mereka sedikit pelajaran!"


Empat orang itu sedikit kecewa dengan sikap Top yang tiba-tiba mundur dan tidak mau untuk memperpanjang masalahnya.


"Mereka cuma kedatangan satu orang, sedangkan kita ada lima orang."


"Jika kita bertarung dengan mereka kita hanya akan kalah." Jelas Top kepada semua anggotanya.

__ADS_1


"Mereka ada tiga, dua orang dari mereka sudah dipastikan memiliki job yang tinggi karena kemampuan mereka, sedangkan satunya..." Jika mereka memaksakan bertarung, mereka pasti akan kalah dengan kedatangan player yang menganggunya.


Top merasa jika orang ini sangat kuat karena berhasil menangkis tombaknya. Belum lagi kemampuan satu orang lagi yang masih belum diketahui. Top hanya mengambil keputusan yang terbaik untuk anggota-anggotanya.


__ADS_2