Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 26 |


__ADS_3

Chp. 26 Level 4 : Lan Suzi.


"Apa maksud kalian? Seorang bocah yang bermimpi tanpa tahu bagaimana dunia luar sesungguhnya itu... tidak baik loh..." Seorang perempuan tiba-tiba muncul entah darimana dibelakang semua orang.


Perempuan itu tiba-tiba saja jatuh di depan wajah semua orang dengan rambut hitam panjangnya yang terurai saat perlahan mendarat di tanah.


Perempuan itu mengenakan pakaian yang formal lengkap dengan jas berwarna hitam dari atas sampai ke bawah, tetapi dari semua itu yang paling mencolok adalah emblem emas dan bergambar matahari di dadanya.


"Siapa kau? Darimana kau berasal?" Ketiga teman Evans mengernyitkan dahinya dan mencoba untuk mencari tahu identitas player di depan mereka.


Mereka tidak pernah sekalipun melihat orang ini dii Paguyuban mereka juga.


"Oh, Maafkan aku yang kurang sopan ini. Aku adalah player salah satu Guild Besar dan sedang dalam misi untuk menemui ketua kalian."


Wanita itu tersenyum ramah dan menundukkan kepalanya, dia memiliki paras yang cantik tinggi langsing dan berponi dengan rambut hitam panjang sepinggang.


Kulitnya tidak kalah putih seputih susu, mengenakan riasan yang tidak berlebihan tetapi sangat pas untuk wajahnya.


Mereka memandang lama perempuan tadi dengan menahan napas dan mengusap mata melihat kecantikannya sebelum kembali tersadar.


"Hm? Hanya seorang bawahan saja, kenapa sombong sekali. Paling cuma disuruh memesan persediaan makanan, 'kan?"


Riza tertawa kecil sebelum mendapatkan pukulan dari Anton yang ada disampingnya karena sudah tidak sopan kepada wanita cantik.


Mata perempuan itu sekarang melebar tebakan Riza yang benar kemudian membuat perempuan ini menggigit bibirnya.


"Cuma seorang petani rendahan memiliki mimpi yang tidak masuk akal? Sepertinya kalian memang tidak memiliki uang untuk membeli cermin, sebaiknya aku memberikan beberapa sedekah kepada kalian."


Bunyi koin yang bergemerincing kemudian berjatuhan di tanah, koin itu ada sekitaran puluhan jumlahnya tetapi bukan masalah banyaknya, melainkan ekspresi yang ditunjukannya saat melempar koin membuat teman-teman Evans ini tidak kuasa untuk menahan amarah.


Mereka mengepalkan kedua tangannya dan tidak terima untuk direndahkan.


Didi yang melihatnya kemudian bergerak paling pertama, dia sudah menahannya sedari tadi tetapi meledak sekarang, dengan cepat Didi menunduk dan mengambil koin-koin itu satu persatu.

__ADS_1


"Hihihi yang benar saja? Apa yang kau lakukan itu?"


Sebuah pukulan tiba-tiba melayang tepat kearah wajah cantik player asing itu, pukulan yang diberikannya penuh dengan rasa benci dan amarah keduanya bersatu dan sekarang menempel di pipi kanan sang perempuan.


Pukulan itu berasal dari salah satu teman Evans yang menggunakan kacamata, Riza.


"Bagus sekali Di, kau berhasil mengalihkan perhatiannya kerja bagus."


Anton yang melihatnya kemudian mendekat dan meminta maaf kepada perempuan itu atas perbuatan kedua temannya ini.


Tetapi anehnya, perempuan itu sekarang malah menyeringai dan terkekeh selepas mendapatkan pukulan di pipinya.


Riza yang melihatnya hanya menggelengkan kepala takut merusak otak player di depannya, bagaimanapun Riza sudah memukulnya sekuat tenaga dan tidak tahu jika daya hancurnya bisa sampai demikian.


"Inilah kenapa kalian harus melihat dunia luar. Pukul berapa kali pun kalian juga akan mendapat hasil yang sama, toh, kalian cuma petani biasa jadi akan percuma juga..."


Gelak tawa kemudian muncul dari gadis itu dan membuat ketiga lainnya tidak ada pilihan untuk bekerjasama dan mengepung dari berbagai arah.


Mata yang dipancarkan mereka juga sangat merah, sekarang mereka terlalu berlebihan menurut Evans.


Puluhan pukulan akhirnya menghujam ke tubuh wanita itu dan membuatnya menyeringai, dia tidak menunjukan perubahan ekspresi bahkan mengeluarkan suara sakit sama sekali.


"Jadi segini kah kekuatan para petani rendahan? Aku sungguh ingin menangis jika melihat mimpi kalian yang begitu besar."


Evans hanya melihat mereka semua dari belakang dan masih belum bergerak.


Jika dilihat dari sudut pandang luar maka merekalah yang salah dengan mengeroyok seorang player, apalagi player itu adalah delegasi kiriman dari guild besar.


Dan jika ini semua berlanjut dan berakhir melukai player itu maka guild besar akan memberikan perhitungan yang besar kepada mereka.


Paguyuban Usaha Tani pasti tidak akan mampu jika menghadapi player lain apa lagi para player dari guild besar, maka Evans sejenak merasakan lega karena teman-temannya yang tidak memberikan sedikitpun luka kepada delegasi player dari guild besar itu.


Tetapi bukan berarti disini Evans masih tetap tenang di belakang, dia sedang kesulitan untuk menahan dirinya dan sesekali menghela napas mencoba berpikir secara rasional.

__ADS_1


Evans yang sedang berpikir sesuatu kemudian sedikit terkejut saat tiba-tiba tiga temannya itu perlahan jatuh satu persatu.


Teman-teman Evans jatuh ke tanah setelah mendapatkan pukulan dari perempuan itu, mereka meringis kesakitan dan memeluk perutnya masing-masing.


"Memang aku tidak boleh membela diri di sini? Aku korbannya dan ini juga merupakan bentuk pertahanan diri."


Player itu semakin menjadi dan memukul teman-teman Evans membabi buta di tanah, sekarang bukan lagi sebuah pertarungan melainkan bentuk pembulian untuk orang-orang lemah, dia melampiaskan sesuatu di dalam dirinya yang kemudian membuatnya tersenyum lebar.


Evans yang tidak tahan melihatnya akhirnya mulai bergerak, namun tidak disangka dari belakangnya sesosok bayangan hitam berlari dengan kencang dan memukul delegasi player itu, membuat kakinya terangkat beberapa senti dari tanah kemudian jatuh meringkuk di atas tanah.


...***...


Di sebuah gedung pencakar langit, Sunny Guild. Lan Suzi pergi menemui Wakil Guild Master.


"Tuan memanggil saya?"


"Oh, Suzi, kemarilah aku akan memberikan tugas kepada mu."


Lan Suzi adalah seorang wanita yang baru bergabung 2 tahun di Sunny Guild, Lan Suzi sangat bangga kepada guildnya itu, dia bekerja sangat keras dan mengabdikan dirinya dengan berjanji akan membuat Sunny Guild menjadi Guild No.1 suatu hari nanti.


Sayangnya Lan Suzi dihadapkan kepada suatu masalah dan berpikir jika dia telah mencapai batas kemampuannya sendiri.


Lan Suzi telah menjelajahi Tower dari Lantai 1 sampai 15 dan menjadi lebih kuat dan semakin kuat lagi tetapi saat Lan Suzi menjelajahi Tower Lantai 17 dia menghadapi monster yang sangat berbeda di sana.


Lan Suzi dibuat mati berulang kali oleh monster-monster di sana, membuat dia mendapatkan penalti pengurangan level sebanyak 10 berulang kali.


Namun hal itu tidak membuat Lan Suzi putus asa, dia berjuang sekali lagi untuk menaikan levelnya dan bahkan melebihi saat pertama kali menantang monster lantai 17.


Tetapi Lan Suzi pada akhirnya gagal dan


masih terus berusaha dan mengulangi siklus yang sama itu, sampai lima puluh kali dan pada akhirnya membuatnya menyadari kenyataan yang pahit.


Besoknya muncul seorang player baru yang membuat Lan Suzi semakin berkecil hati.

__ADS_1


Player baru itu seharusnya membuat Lan Suzi senang karena menjadikan guildnya semakin kuat.


Tetapi...


__ADS_2