Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Intermediate player | 115 |


__ADS_3

"Siapa sebenarnya perempuan itu, dia luar biasa kuat sekali."


Orang yang mencoba berdiri dan kembali duduk karena mendengar tulang-tulangnya yang menjerit adalah anak buah dari setan cilik. Si alim.


"Dia adalah preman cantik yang orang-orang itu bilang dan rumorkan. Dia juga mendapatkan julukan sebagai Beauty of The Beast. Levelnya juga bukan sekelas preman kampung seperti kita."


Si alim terkejut karena baru pertama kali mendengarkan temannya itu berbicara panjang lebar.


'Kenapa kau tidak berbicara dari tadi bgst. Kan, jadi begini kan...'


Si alim dan Setan cilik secara bersamaan melihat kearah Si pendiam yang masih tiduran di atas tanah dan mengalihkan pandangannya sebagai rasa bersalah.


**


Ney penasaran kemana Fany akan membawanya. Dia tidak bertanya dan tidak juga menolak. Mungkin ada sesuatu hal yang sangat penting dan mendesak yang ingin dia bicarakan.


Ney sangat penasaran apa sebenarnya itu.


Ney melihat sebuah taman yang menyimpan kenangan terakhirnya bersama Evans dan tersenyum pahit.


"Mungkin di sini, sudah cukup. Kemarilah, silahkan duduklah dengan nyaman."


Fany menawarkan sebuah bangku taman kosong untuk duduk. Dia memilih tempat yang sepi dan terlihat nyaman untuk mengobrol.


Mereka diam sejenak di sana, situasi tiba-tiba menjadi sangat canggung atau mungkin hanya Ney saja yang merasakan hal ini.


Dua orang perempuan cantik dan memiliki sifat yang saling bertolak belakang tidak mungkin bersama jika tidak memiliki maksud lain.


Apalagi jika salah satunya terkenal dengan sikap buruknya. Bisa jadi orang itu ingin meminta uang dengan cara yang baik-baik tetapi dengan menawarkan tinjunya atau meminta secara baik-baik lagi hal-hal lainnya.


Tempat ini juga sangat mendukung untuk melakukannya.


Membayangkannya saja Ney menjadi bergetar ketakutan. Lagi-lagi setelah terlepas dari para preman itu dia harus menghadapi situasi buruk lainnya.


"...Kau..."


"Y-Ya?! Baik, Akan aku berikan! Akan kuberikan! Tolong jangan pakai kekerasan, aku mohon. Sebenarnya berapa banyak uang yang kau minta?"


"Huh? Pfffft. Hahaha. Ada apa dengan sikapmu itu. Kau bisa tenang, aku tidak sedang ke sini untuk meminta uang."


'Tidak sedang. Berarti dia sudah pernah melakukan hal seperti itu berulang kali, kan?'


Ney tertawa canggung, dia mengambil kerah seragamnya dan mengkibaskannya kedalam berulang kali untuk mengusir keringat yang mengucur deras sampai menembus pakaiannya.


"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

__ADS_1


"A-Ah! ...Mhm."


Ney tampak sedikit ragu untuk mengangguk di sana.


"Jadi dimana kita pernah bertemu?"


"Di sekolah... Waktu itu... Saat kita kelas satu..."


"Kenapa kau terlihat takut-takut begini. Santailah, aku tidak akan menggigit kok. Jadi apa yang kulakukan waktu itu."


"Membully dan meminta uang."


"A-Aaaah, beneran?"


Fany tertawa canggung setelah Ney memberanikan diri menjawabnya.


.


.


.


Waktu masuk pertama kali di kelas satu, adalah kenangan yang tidak pernah bisa dilupakan semua orang. Mereka pasti bersemangat membayangkan setiap hari-harinya.


Bertemu teman baru dan bermain bersama mereka. Bahkan mendapatkan kekasih.


Tetapi sekarang, hal itu sangat bertolak belakang dengan Ney yang berharap ingin melupakan segala kenangannya di masa lalu saat kelas satu.


Ney beruntung bisa satu kelas dengan orang yang disukainya. Dia juga bersyukur mendapatkan banyak sekali teman saat itu.


Setelah satu bulan berjalan entah kenapa segalanya menjadi berubah. Para perempuan di kelas tiba-tiba saja menjauhinya dan banyak rumor buruk yang beredar di seluruh sekolah tentangnya.


"Lihat, Bukankah Ney sangat sombong. Dia sok kecantikan, kan?"


"Dia mendekati seorang pria lagi."


"Ney menjilat gurunya, pantas saja dia bisa mendapatkan nilai yang bagus."


Ney yang mendengar semua itu hanya tersenyum pahit dan mencoba untuk tetap tenang. Lagipula semua itu hanya sekedar rumor dan pasti akan berlalu.


Tetapi sayangnya tidak berhenti di sana, mereka malah semakin menjadi dan membully Ney.


Suatu pagi sebuah tikus mati ditemukan di laci mejanya. Tentu saja Ney menjadi panik dan menjerit di sana. Dia kemudian meminta tolong pada Evans untuk melakukan sesuatu.


Evans kemudian membuang tikus itu dan mengganti mejanya.

__ADS_1


Besoknya, seseorang datang kepadanya dan meminta maaf. Ney yang mendengarnya terkejut dan memiringkan kepalanya, kenapa tersangkanya malah meminta maaf. Padahal dia bisa bersembunyi tanpa ada yang menyadari perbuatannya.


Awalnya Ney berpikir jika tersangka itu merasa sangat bersalah dan meminta maaf kepadanya.


Sorenya Ney tetap dirundung. Dia menemukan seragam olahraganya itu disobek dan dicoret-coret.


Besoknya, seseorang datang kepadanya dan meminta maaf.


Meskipun mereka merundungnya berulangkali, tetapi keesokan harinya Ney kembali mendapatkan permintaan maaf dari orang-orang.


'Lagi?'


Sudah berapa kali semua orang meminta maaf kepadanya bahkan sampai menangis-nangis. Ney sama sekali tidak mengerti. Jika begitu kenapa semua orang merundungnya dan meminta maaf besoknya.


Hasilnya, sekali lagi tersebar rumor buruk tentang Ney. Tidak ada lagi orang yang berani bermain-main dengannya apalagi sampai merundungnya.


"Menakutkan sekali... Bagaimana bisa dia melakukan semua hal itu sendiri?"


Semua siswi perempuan menghindarinya. Tidak ada dari mereka yang berbicara dengannya, Ney menjadi kesepian dan sangat depresi di sana tanpa memiliki satupun teman di kelas.


Mungkin hanya Evans yang bisa diajaknya bicara.


Evans kemudian mengenalkan Ney kepada teman-teman prianya. Luar biasanya, Ney dapat bersosial dengan cepat. Dan seminggu kemudian Ney resmi berpacaran dengan salah satu dari mereka.


Evans menjadi jarang terlihat bersama dengan Ney mulai hari itu. Ney juga terlihat murung dan selalu mengawali untuk mendekati Evans pertama kali.


Setelah semuanya menjadi lancar bagi Ney.


Tiba-tiba dia bertemu dengan Fany. Dia tidak sengaja menabraknya sampai terjatuh.


Ney segera mengulurkan tangan kepadanya, tetapi ditepis dan raut wajah yang teramat benci ditunjukan oleh Fany.


Gadis pirang itu kemudian meminta uang kepadanya dan karena Ney menolak sebuah tamparan keras melayang pada pipi kirinya.


Ney sesengukan dan menangis di sana.


"Jika kau tidak membawakan uangnya besok. Maka kau akan merasakan akibatnya. Datanglah ke belakang sekolah setelah istirahat kedua. Sekarang pergilah."


Ney pergi dengan wajah murung dan tidak bertenaga. Dia juga sudah mendengar rumor yang mengatakan tentang gadis pirang di depannya.


Karena hanya ada satu gadis dengan rambut pirang di sekolah, mudah saja mengenali siapa orangnya. Sikap buruk dan kelakuan layaknya berandalan melekat padanya.


Satu sekolah bahkan takut dengannya. Dia juga sampai dihormati kakak kelasnya di kelas tiga baik laki-laki maupun perempuan. Rumor mengatakan lebih dari setengah persen wilayah ini berhasil dikuasainya.


Meskipun baru duduk di bangku pertama, tetapi sepak terjang Fany sangat luar biasa dan...

__ADS_1


Belum pernah ada orang yang berhasil mengalahkannya sampai sekarang.


+++++


__ADS_2