
Chp. 68 Level 11 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(3).
Evans dan Lan Suzi sekarang berada di Lantai Ketiga Tower, di sana mereka berdua melihat pemandangan hutan mirip musim gugur. Monster yang ada di sini masih sama dengan Lantai sebelumnya dengan jumlah yang lebih banyak lagi.
Keduanya juga sering bertemu dengan para petualang yang lain, sepertinya tempat ini terkenal cocok untuk mereka para player Tahap Amateur Awal untuk menaikan level mereka. Karena banyak Amateur player Awal yang mati di sini, tempat ini kemudian menjadi tantangan bagi mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tingkatan untuk Amateur Player, dibagi menjadi ;
Amateur Player - Awal ( Lv. 1-20 )
Amateur Player - Menengah ( Lv. 21- 40 )
Amateur Player - Puncak ( Lv. 41-50 )
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lan Suzi tidak menghentikan Evans yang membunuh beberapa monster seiring perjalanan mereka, dan atas perbuatannya ini mereka akhirnya sering berhenti di jalanan karena Evans harus bertarung dengan para monster.
Lan Suzi tidak mempersalahkannya, dia mengira bahwa Evans sedang bersemangatnya untuk menaikan level seperti juga saat-saat dirinya dulu baru masuk ke dalam Sunny Guild.
Bedanya adalah Lan Suzi dulu ditemani dengan orang-orang yang juga berasal dari Guild nya dan juga dari satu generasi yang sama, mereka dipanggil masuk ke dalam pulau di waktu yang bersamaan.
Mereka semua akhirnya saling bersaing untuk menjadi lebih kuat dan mendapatkan pengakuan dari Guild nya.
Orang-orang yang berhasil mendapatkan pengakuan ini kemudian akan mendapatkan sumber daya dan uang dalam jumlah yang lebih banyak dari mereka yang dianggap lemah atau tidak berbakat. Lan Suzi memasang wajah cemberut saat mengingatnya.
Lan Suzi kembali tersadar dari kenangannya di masa lalu yang sangat ingin dia lupakan itu, dia berkali-kali menggeleng dan sekarang terlihat fokus menatap Evans. Jika saja Evans tidak mendapatkan job yang biasa mungkin dirinya akan menjadi salah satu player berbakat itu.
__ADS_1
Lan Suzi tersenyum tipis, mereka berdua sama-sama memiliki kekurangannya masing-masing. Evans sekarang sedang berusaha keras untuk menaikan levelnya, dia sedang bertarung dengan monster besar di hadapannya. Seorang monster berjenis Orc.
Monster Orc ini terlihat sedang kepayahan untuk berdiri. Orc mendapatkan belasan tebasan dari Evans dan keluar banyak darah dari tubuhnya, sehingga dia hanya mampu untuk berteriak dan mengerang kepadanya.
Evans sekarang melirik ke arah pedang kayunya lalu menyentuh bagian ujung dari pedangnya, dia mengamati pedangnya dari atas sampai ke bawah, "Pedang ini sepertinya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan."
Evans menghela napas sepertinya sebentar lagi dia akan berpisah dengan pedangnya. Evans kembali memasang kuda-kuda, dia melemparkan pedangnya dan menancapkannya tepat mengenai leher depan Orc.
Evans kemudian melompat mengambil kembali pedangnya itu dan memasukannya lagi lebih dalam. Evans sekarang berada di bawah kepala Orc yang memiliki tinggi sekitar lima meter.
Orc yang merasakan kehabisan napas karena tercekik ini tidak dapat berteriak dan hanya mengerang semampunya, dia juga terlihat memberontak dan mencoba menjatuhkan Evans dari lehernya.
Sayangnya sebelum tangan Orc mampu meraihnya, dengan cepat Evans berayun menggunakan pedangnya sampai ke leher belakang Orc, dia meninggalkan sebuah luka panjang berbentuk setengah lingkaran di lehernya.
Banyak darah yang keluar dari leher Orc, dan akhirnya monster besar ini tumbang ke tanah dengan posisi tubuh yang tengkurap bersama dengan Evans di atasnya.
[ + 15 Koin ]
[ Level Up! ]
Evans kembali mendapatkan tiga notif dari sistem dan juga mendapati tatapan mata Orc yang memerah dan melotot ke arahnya meskipun dengan perlahan tatapannya menjadi memudar dan menghilang.
Monster Orc ini adalah yang paling kuat di lantai ketiga, dalam sistem dia disebut sebagai [ Leaders of Orc Tribe ] Salah satu ketua suku dari bangsa Orc. Evans menatap Orc ini cukup lama, dia menjadi penasaran bagaimana dengan Boss Monster dari Lantai Ketiga sebelumnya.
Evans kemudian kembali melanjutkan urusannya, dia mencoba untuk menarik pedangnya yang tertancap dan mendapati pedangnya yang patah menjadi dua bagian persis dengan tebakannya.
**
"Sepertinya Kau telah menjadi lebih kuat lagi, seharusnya monster ini dua kali lipat lebih kuat dari Black Kanibal Mantes yang membuatmu sedikit kerepotan sebelumnya." Lan Suzi yang mendekat kemudian duduk di atas mayat Orc.
__ADS_1
Lan Suzi tersenyum ke arah Evans, dia mengingat kembali pertarungan Evans dengan monster yang memiliki dua cangkang itu. Evans cukup kesulitan untuk menembus cangkangnya.
"Jadi apa yang membuatmu ingin menjadi lebih kuat lagi?" Lan Suzi sedikit penasaran dengan motivasinya, jika dulu semua ini dia lakukan demi mendapatkan pengakuan dari Guild nya lalu bagaimana dengan Evans.
Lan Suzi menatap Evans cukup lama, tetapi Evans memalingkan wajahnya dia lebih memilih untuk tidak menjawabnya.
Evans tidak berani bilang jika dia akan menyeret paksa Bam untuk membuatnya kembali, mengingat Bam yang tidak mungkin kembali dengan pasrah dan menurut begitu saja.
Evans juga mengerti Lan Suzi yang sedang jatuh hati kepadanya, dia tidak mungkin bertarung dengan serius melawan Bam. Hanya dirinyalah yang dapat diandalkan nantinya, Evans menghela napas pelan.
"Tidak mungkin. Jangan bilang Kau ingin menjadi populer dengan kekuatanmu dan menggoda banyak perempuan, 'kan? Hihihi." Lan Suzi tertawa dengan menutupi mulutnya, dia mendekat kepada Evans dan berkali-kali mencolek pipinya.
"Cuit, Cuit. Kau sudah tumbuh besar rupanya hihihi. Di mana Evans yang biasa saja saat dikerumuni banyak perempuan itu?"
Lan Suzi mengatakannya karena dahulu dia sudah pernah melihat lebih dari sekali, beberapa anggota perempuan dari Paguyuban Usaha Tani mencoba mendekati dan merayu Evans.
Lan Suzi sendiri saat itu tidak mengerti kenapa perempuan ini bersikap begitu kepadanya mengingat tampangnya yang pasaran, tetapi setelah Evans menunjukan uangnya saat makan malam di sebuah restoran mewah Lan Suzi kemudian menjadi paham.
Setelahnya Lan Suzi terlihat terus bercanda dan menjahilinya tetapi Evans sama sekali tidak terganggu, dia sendiri tidak menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya malah membuat Lan Suzi sendiri kelelahan dan mengambil napas sekarang.
Beberapa menit kemudian, Lan Suzi menjulurkan sebuah pedang kepada Evans, "Terimalah, Kau mungkin akan membutuhkannya nanti. Aku sudah tidak menggunakannya lagi sehingga Kau bisa menyimpannya jika mau."
[ Blue Bird Crystal : Katana Swords ] [ C ]
Sebuah pedang dengan kelas ( C ) sekarang berada di tangan Evans, dia mencoba melihat bentuk pedangnya dengan menarik gagang pedang dari sarungnya.
Pedang ini berbentuk mirip dengan sebuah katana pada umumnya dan memiliki panjang sekitaran satu meter lebih. Setelah Evans membukanya pedang ini memiliki bulu-bulu burung tepat di atas gagangnya yang sangat cantik.
Anehnya pedang ini sangat ramping sekali bahkan pedang ini seakan terlihat sangat rapuh dan mudah pecah saja.
__ADS_1
Tetapi sesungguhnya pedang yang terbuat dari kristal berwarna biru cerah ini adalah senjata yang paling tajam dan juga paling indah yang pernah dilihatnya, Evans tersenyum tipis melihat pantulan bayangannya dari pedang ini.
"Terimakasih." Evans menyarungkan kembali pedangnya.