
"Ma, Vi pergi dulu ya. Mau coba cari uang ke rumah orang tua sama kakak Vi," pamit Viona.
"Iya, Vi. Semoga saja kamu dapat pinjaman ya Vi. Biar Reynaldi bisa dibebaskan. Mama juga mau ke rumah kakak dan adik mama. Mau coba cari pinjaman," sahut Mama Ratih.
Viona pergi dengan menggunakan ojek online. Dia berharap suaminya bisa segera di bebaskan. Viona baru saja sampai di rumah orang tuanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Viona. Viona mencoba membuka slot pintu pagar dari luar, karena tak ada yang membukakan dia pintu.
Viona masuk dan membuka sandal yang dia gunakan.
"Assalamualaikum," Viona mengucap salam lagi. Tetapi tak ada yang membukakan pintu rumah, situasi rumah orang tuanya sangat sepi.
"Kok sepi banget ya? Mama sama papa kemana ya? Si bibi juga enggak ada. Pintu rumah di kunci, tetapi pagar enggak di gembok," Viona tampak bertanya-tanya sendiri.
Viona mencoba menghubungi sang mama, untuk menanyakan keberadaan sang mama dan sang papa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mama dimana? Viona di rumah Mama, tapi rumah kosong," ujar Viona.
"Papa gulanya tinggi, pingsan Vi. Sampai sekarang belum sadarkan diri. Kondisinya kritis. Sekarang mama di rumah sakit Persahabatan. Kamu kesini ya Vi. Mama mau menghubungi kamu sama si kakak belum sempat. Kamu kasih tahu kakak ya, suruh ke rumah sakit sekarang," ucap sang mama.
Viona langsung lemas, dia terlihat shock. Niatnya ingin meminjam uang, dirinya justru mendapat kabar kalau papanya dalam kondisi kritis. Sudah dua tahun belakangan ini, sang papa mengidap penyakit diabetes melitus.
Viona langsung memesan ojek online kembali, dia terlihat panik. Dia takut kalau sang papa nyawanya tak bisa tertolong. Tak butuh waktu lama, Viona sudah sampai di rumah sakit. Saat turun dari motor, dia langsung mengambil ponselnya dari dalam tas, dan mencoba menghubungi sang kakak. Ternyata sang kakak tak mengangkat panggilan telepon darinya.
__ADS_1
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan pesan chat kepada sang kakak, agar sang kakak membacanya saat membuka ponselnya. Dia memberitahu kalau sang papa masuk rumah sakit, karena gulanya sangat tinggi.
Viona langsung bergegas mencari keberadaan sang mama, dan dia melihat sang mama yang sedang menangis.
"Ma ...," panggil Viona.
Viona langsung menghampiri sang mama, dan memeluknya. Kondisi sang papa saat ini menurun, dan tak sadarkan diri.
"Gimana keadaan Papa, Ma? Kok bisa sampai seperti ini Ma? Kenapa emang awalnya?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Viona.
"Padahal kemarin baik-baik aja Vi. Mama juga enggak ngerti. Tiba-tiba saja Papa ribut kepalanya pusing, dan tak lama jatuh pingsan. Untung di sofa pingsannya, lagi duduk sama mama tadi pagi ngobrol sambil minum teh sama makan cemilan. Kalau jatuh, lebih parah lagi. Enggak akan tertolong lagi," jelas sang mama.
Viona memilih tidak menceritakan kondisi dirinya saat ini, karena dia tak ingin menambah beban orang tuanya.
"Ngomong-ngomong tumben kamu ke rumah? Gimana pernikahan kamu? Reynaldi baik 'kan sama kamu? Gimana, kamu sudah isi belum?" tanya sang mama.
Viona tampak terdiam. Dia merasa bingung. Di satu sisi dia membutuhkan uang untuk mengeluarkan suaminya dari penjara, di satu sisi lain dia juga tak mungkin membebankan orang tuanya. Terlebih papanya kita sudah pensiun.
"Reynaldi di tangkap polisi Ma. Karena dia melakukan penyelewengan uang perusahaan. Dia mencuri uang perusahaan senilai 500 juta, dan saat ini dia harus di penjara. Karena aku belum mendapatkan uang untuk menebusnya," jelas Viona.
"Astaghfirullah. Kok Reynaldi gitu ya? Memangnya buat apa uangnya si, sebanyak itu?" tanya sang mama.
Viona menceritakan, kalau saat ini Reynaldi sudah diberhentikan dari pekerjaannya sebagai manager. Reynaldi hanya bekerja di bagian gudang. Gaji yang didapat tak mencukupi untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Hingga akhirnya Reynaldi tergoda untuk main saham atau apa gitu, aplikasi lewat online. Agar bisa mendapatkan uang tambahan.
Reynaldi berbuat korupsi sedikit-sedikit, karena selama ini aman tak pernah ketahuan. Namun, kali ini dia sudah tak bisa mengelak lagi. Sudah ada barang bukti, dan nominal yang dia ambil tak terasa sudah sangat banyak. Membuat bagian keuangan merasa curiga, dan melaporkan kejadian ini kepada pemilik perusahaan dan juga bagian HRD.
Mereka langsung mengusut kasus ini, dan akhirnya terbukti kalau Reynaldi melakukan penyelewengan uang perusahaan. Selama ini Reynaldi menjual barang ke konsumen tanpa sepengetahuan perusahaan, dan uang itu masuk ke rekening pribadinya.
__ADS_1
"Vi harus mencari uang pinjaman Ma, agar suami Vi bisa dibebaskan. Sampai sekarang Vi belum juga hamil Ma. Vi juga enggak ngerti kenapa sulit sekali memiliki anak. Masa iya, Vi akan dicerai lagi karena permasalahan yang sama. Vi mencintai Reynaldi, Vi enggak mau kehilangannya," ungkap Viona. Dirinya terlihat lesu tak bersemangat.
"Coba sekali-sekali kamu periksa ke poli kebidanan, sekalian konsultasikan keluhan yang kamu rasa. Semoga saja ada solusinya. Mama yakin, lama-kelamaan Reynaldi pasti meminta keturunan juga dari kamu. Sebelum semuanya terlambat, lebih baik kamu segera periksakan kesuburan kamu!" sahut sang mama.
"Doakan Vi ya ma, semoga saja semuanya baik-baik saja! Vi, takut banget ma," ujar Viona.
"Iya, mama akan doakan yang terbaik untuk kamu. Semoga, rumah tangga kamu kali ini langgeng sampai mau yang memisahkan kalian," ucap sang mama dan diaminkan oleh Viona.
Obrolan Viona dengan sang mama harus terhenti, karena sang kakak Sang kakak baru saja membaca pesan chat dari Viona. Dia segera menghubungi sang adik ke ponselnya. Untuk memastikan chat yang sang adik kirim, mengenai kondisi sang papa.
"Ya sudah, kakak berangkat dulu ya ke rumah sakit," ujar sang kakak.
Sang kakak langsung pergi dengan menaiki taksi online, karena harus membawa anaknya yang saat ini sudah berusia 10 tahun.
"Dok, pasien kritis," ucap sang perawat kepada dokter jaga.
Dokter jaga dan perawat langsung bergegas menghampiri papanya Viona. Dokter langsung melakukan tindakan pertolongan. Namun, sayangnya nyawa papanya Viona tak bisa tertolong.
Sang perawat langsung keluar menghampiri keluarga pasien, untuk memberitahu kalau papanya Viona tak bisa tertolong.
"Keluarga pasien Tuan Hamid," ucap sang perawat.
"Saya Sus."
"Kami, Sus. Ada apa ya?" tanya mamanya Viona.
"Turut berduka cita ya bu. Nyawa Tuan Hamid tak dapat tertolong, dokter menyatakan kalau Tuan Hamid meninggal. Silahkan ibu dan Mbanya masuk ke dalam bertemu dokter," jelas sang perawat.
__ADS_1
Tubuh Viona bertambah lemas. Seakan kakinya tak mampu bertumpu. Air matanya mengalir deras. Dia terlihat sangat sedih, karena kehilangan orang yang dia sayangi. Permasalahan suaminya belum selesai, kini dia harus dihadapkan dengan kematian papanya.