
Pagi ini Nisa berniat menghubungi Fina, untuk memberitahu rencana keinginannya untuk menerima tawaran dari Fina. Nisa akan pindah ke kota, dan terpaksa Nisa juga memindahkan Khanza kembali sekolah di kota. Karena Nisa tak ingin pisah dengan Khanza.
"Alhamdulillah, aku senang banget dengarnya Nis. Kalau gitu, kita harus segera mencari rumah sekaligus tempat usaha. Aku doakan semoga kamu bisa sukses Nis," ucap Fina dan diaminkan oleh keduanya.
Semakin cepat, semakin baik. Sang Bunda pun sudah mendukung langkahnya. Hari ini Nisa akan langsung mencari tempat untuknya bersama Fina. Untuk hari ini Nisa tak membawa Khanza. Atas dasar saran Bunda Anita. Nisa hanya mengantarkan Khanza dan Bunda Anita ke sekolah Khanza. Bunda Anita yang akan menunggui cucunya di sekolah.
Setelah mengantarkan Khanza, Nisa kembali melajukan kendaraannya lagi menuju rumah Fina. Dia sudah janjian dengan Fina. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya dia sampai di rumah Fina. Fina pun sudah menunggu kedatangan sahabatnya itu.
"Khanza mana Nis?" tanya Fina saat bertemu dengan Nisa.
"Khanza aku titip Bunda. Kata Bunda kasihan, kalau dia enggak sekolah. Aku pindahkan Khanza, setelah urusan untuk usaha selesai saja," jelas Nisa.
"Iya. Kasihan ya Nis, anak jadi korban kalau perceraian seperti ini. Ayahnya kok bisa ya benar-benar melupakan anaknya sendiri. Padahal dulu Khanza dekat 'kan ya sama Reynaldi?" tanya Fina.
"Iya, dekat Fin. Aku juga tak menyangka, kalau dia bisa melupakan Khanza begitu saja. Dia sudah hidup bahagia sama istri barunya. Mungkin istri barunya sudah hamil, dan memberikan dia anak. Makanya dia melupakan Khanza," sahut Nisa.
Fina dan Nisa akhirnya sepakat untuk berangkat sekarang, tak penting membahas tentang kehidupan Reynaldi. Mereka pergi dengan menggunakan mobil Fina. Fina menyetir mobil sendiri.
"Aku jadi ingat zaman kita sekolah SMA, kita kalau pergi selalu berdua. Sampai kita dikatain les*bi. Parah ya," ucap Fina. Keduanya tampak tertawa bersama saat mengenang zaman masih SMA. Mereka bersyukur, karena pertemanan mereka masih terus berlanjut sampai sekarang. Meskipun sempat terputus, karena Nisa tinggal lama di Jakarta.
"Kalau seperti ini aku bersyukur kamu pisah sama mantan suami kamu. Kalau tidak, kita tak akan seperti ini sekarang. Semuanya sudah jalannya Nis," ucap Fina lagi dan diiyakan oleh Nisa.
__ADS_1
Mereka kini sudah berada di sebuah perumahan. Terdapat rumah dikontrakan, ruma itu sangat luas. Memiliki garasi mobil dan juga kebun. Fina dan Nisa berniat turun untuk melihat dalamnya.
"Ini bisa juga Nis. Nanti garasinya kita jadikan tempat untuk menjahit. Kita ganti pintunya pakai pintu kaca. Jadi, kalau ada orang yang mau menjahit enak bisa masuk lewat sini. Bagaimana menurut kamu? Untuk ruang kerja dan tempat tinggal kamu sebelahnya. Sepertinya tadi aku lihat sekolah deh, sewaktu kesini," ujar Fina.
Setelah menimbang-nimbang. Nisa akhirnya setuju untuk menyewa rumah itu. Nanti, Nisa akan membagi waktunya untuk usaha miliknya dan mengurus butik.
"Berarti sudah ok ya? Tinggal aku bayar, ujar Fina untuk memastikannya.
Setelah urusan rumah selesai. Fina langsung mengajak Nisa ke butiknya. Fina akan mencari orang untuk mengganti pintu garasi rumah itu dengan pintu kaca. Fina juga yang akan membelikan semua kelengkapan. Seperti meja, sofa, mesin jahit, kulkas, TV, tempat tidur, dan yang lainnya.
"Ya Allah Fin, makasih banget ya. Aku janji akan secepatnya bayar ke kamu," ucap Nisa.
"Sudah! Tak perlu dipikirkan! Jalani saja dulu! Yang penting kamu stabil dulu. Semoga rezeki kamu Khanza, dan ibu kamu lancar ya," ujar Fina.
"Ya Allah Fin. Mimpi apa ya aku? Aku sudah punya usaha konveksi saja sudah bersyukur banget, tak pernah berpikir untuk sampai go international dan membuat pabrik garment," sahut Nisa.
"Kita perlu berpikir maju, agar usaha kita berkembang. Kamu tak perlu khawatir, aku akan membantu kamu. Aku tak akan minta macam-macam sama kamu. Melihat kamu sukses saja, aku sudah senang banget Nis. Sudah saatnya kamu hidup bahagia bersama Ibu dan anak kamu," ucap Fina dan Nisa mengiyakan. Ucapan Fina akan Nisa jadikan motivasi hidupnya.
Nisa sudah menempati rumah yang Fina sewakan untuknya. Bunda Anita menginap di rumah Nisa. Khanza pun sudah dipindahkan sekolahnya. Hari ini akan ada peresmian pembukaan usaha. Bu Anita dengan dibantu Nisa membuat tumpeng, untuk acara selamatan. Rencananya, Fina akan mengundang Abi dan juga orang tua Fina untuk meramaikan acara.
"Alhamdulillah ya Bun, akhirnya Nisa punya usaha. Doakan Nisa ya Bun, semoga semuanya lancar. Alhamdulillah, ada orang yang baik kepada kita," ucap Nisa. Matanya terlihat sudah berkaca-kaca, karena merasa terharu.
__ADS_1
"Iya Nis, Bunda akan selalu mendoakan kamu. Semoga kelak kamu akan menjadi orang yang sukses," sahut Bunda Anita.
"Tujuan Nisa hanya ingin membahagiakan Bunda, Khanza, Mba Rania, dan juga Nabila. Nisa memutuskan untuk hidup sendiri saja Bun. Nisa tak ingin menikah lagi. Takutnya suami Nisa nanti tak menyayangi Khanza. Nisa mau seperti Bunda saja. Yang memilih tetap hidup sendiri sampai sekarang," jelas Nisa.
"Bunda 'kan ceritanya beda sayang. Kalau kamu karena perceraian. Kamu butuh kebahagiaan. Tak semua laki-laki sama. Kamu tak bisa menolaknya, jika Allah sudah memberikan jodoh untuk kamu. Semoga kelak kamu mendapatkan jodoh yang baik. Yang menyayangi kamu dan Khanza secara tulus," nasihat Bunda Anita.
"Entahlah Bun. Untuk saat ini aku masih ingin hidup sendiri Bun. Aku ingin fokus sama karier aku dan juga Khanza," sahut Nisa.
Ibunya Fina sudah datang bersama Fina. Abimanyu pun datang ke acara peresmian itu. Meskipun Fina yang mengundangnya.
"Dokter Abimanyu? Makasih ya Dok sudah datang. Saya dengar dokter sepupunya Fina ya?" tanya Bunda Anita.
"Iya Bu. Dunia sempit banget ya? Ternyata anak ibu sahabat sepupu saya. Hari ini saya di undang Fina. Katanya buat meramaikan," sahut Abi sambil terkekeh.
"Iya benar, buat seru-seruan saja si. Mohon doa nya, semoga usaha anak saya berjalan lancar," ucap Bunda Anita.
Acara syukuran peresmian usaha konveksi di mulai. Fina mengundang seorang ustadz juga untuk memimpin doa. Tak ada acara macam-macam, hanya doa bersama dan makan nasi tumpeng yang Nisa dan Bu Anita masak.
"Em, enak-enak masakannya," puji Tante Lusi, ibunya Fina.
"Iya, Nisa dari dulu 'kan memang sudah pintar masak. Wong ibunya suka terima pesanan catering. Makanya beruntung jadi suaminya, setiap hari di masakkan terus," ujar Fina ikut bicara.
__ADS_1
Mendengar kata suami, mengapa Abi yang seperti tertusuk.