
"Ayo kita berangkat sekarang Nis, biar tak terlalu kesiangan," ajak Mba Rania.
"Iya Mba, Nisa sama Khanza juga sudah siap kok. Nisa pesan taksi online dulu ya Mba," ujar Nisa dan Mba Rania mengiyakan.
Mereka kini hanya tinggal menunggu taksi online datang. Tujuan pertama mereka yaitu mencari kosan untuk Nisa dan Khanza sementara tempati, sampai proses perceraian dirinya dengan Reynaldi Selesai. Sampai Khanza juga selesai ujian semester satu dulu, setelah itu Khanza akan pindah sekolahnya ke Yogya.
Setelah mendapatkan kontrakan, Nisa berencana mengambil motornya di rumah Reynaldi, dan baru pada malam harinya dia akan menemui bosnya dulu, di kantor yang sama dengan Reynaldi. Sebenarnya, ini adalah keputusan yang berat untuk Nisa ambil. Karena dia yakin, Reynaldi akan marah besar kepadanya, dan tak akan menafkahi Khanza. Nisa harus pasrah dalam hal itu.
"Kamu harus kuat Nis menghadapi mereka, agar mereka tak merasa menang. Mba yakin kalau saat ini pasti Reynaldi sedang meratapi kepergian kamu," ujar Mba Rania.
"Em, belum tentu juga Mba. Bisa saja, dia sudah membawa istri sirinya itu ke rumah orang tuanya," sahut Nisa.
"Sabar ya Nis! Kamu tak boleh menunjukkan kesedihan kamu di depan mereka nanti, jika nanti bertemu mereka di rumah ibunya," ujar Mba Rania sambil menepuk-nepuk pundak Nisa. Menguatkan sang adik.
Untungnya Khanza adalah anak yang mengerti keadaan sang Bunda. Dia tak mengeluh sedikitpun, meskipun kondisi Bundanya tak seperti saat masih bersama sang ayah. Mereka kini sudah sampai di daerah sekolah Khanza. Nisa hanya membawa dua buah koper berisi pakaian dia dan juga Khanza. Tak lupa dia juga membawa tas sekolah dan semua buku-buku sekolah Khanza. Untuk barang-barang yang lainnya, sementara dia titipkan dulu di tempat Mba Rania.
"Terima kasih ya Pak," ucap Nisa sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah. Sisanya sengaja Nisa berikan sebagai tips. Dia sedikit ingin berbagi dengan orang lain.
Nisa, Mba Rania, Khanza, dan Nabila tampak berkeliling mencari kontrakan atau kosan yang kosong. Ada perasaan tak tega yang Nisa rasakan kepada sang anak. Perceraian dirinya dengan Reynaldi, membuat Khanza harus merasakan tinggal di kontrakan dengan penuh keterbatasan. Karena Nisa harus menghemat uang yang ada.
"Nis, sepertinya ada yang kosong tuh kontrakannya," ujar Mba Rania. Akhirnya, mereka semua mendatangi kontrakan itu. Nisa mengatakan, kalau dirinya berniat untuk mengontrak di situ. Untungnya di tempat itu, terdapat juga kosan.
__ADS_1
"Permisi Bu, maaf saya lagi mencari kontrakan atau kosan yang kosong. Apa benar disini ada yang kosong?" tanya Nisa kepada sang pemilik kontrakan.
"Iya ada Neng. Neng mau yang kontrakan apa kosan? Kalau kosan sudah ada kipas angin, kasur, sama lemari. Untuk dapur dan kamar mandinya bareng-bareng. Kalau kontrakan, dapur sama kamar mandi sendiri di dalam," jelas sang pemilik kontrakan.
"Saya, tidak punya barang-barang Bu. Saya hanya membawa baju saja. Saya ambil yang kosan saja deh Bu. Rencananya saya mau ngekos berdua saja sama anak saya. Kalau yang pakai AC ada tidak ya Bu?" tanya Nisa. Dia tak tega anaknya kegerahan. Khanza tau kalau Bundanya pasti sedang memikirkan dirinya.
"Khanza tak apa kok Bun, pakai kipas angin saja sudah cukup. Sayang uangnya Bun, lebih baik disimpan untuk kebutuhan lain saja yang lebih penting," ujar Khanza, membuat semua yang ada di sana merasa terharu.
"Ya Allah Neng, bager pisan. Sayang ya Neng sama Bundanya," ujar sang pemilik kontrakan dan Khanza menganggukkan kepalanya.
Nisa langsung membayar uang sewa kepada sang pemilik, kemudian dia langsung masuk meletakkan barang-barang yang dia bawa. Kini tujuan selanjutnya yaitu ingin mengambil motornya di rumah mantan mertuanya.
"Iya Bun, Khanza di sini saja sama Kak Nabila. Bunda hati-hati ya! Bude, Khanza titip Bunda ya jangan sampai tergoda lagi sama ayah," ujar Khanza membuat Nisa tersenyum, tangannya mengelus rambut anaknya lembut.
Nisa dan Mba Rania pergi dengan naik taksi online menuju rumah Reynaldi. Jantung Nisa berdegup kencang, ada perasaan tegang bertemu dengan laki-laki yang sudah menemani hari-harinya selama delapan tahun.
Reynaldi terlihat sedang berada di meja makan bersama mama tercintanya dan Viona. Viona sengaja datang pagi-pagi menemui suaminya. Dia takut kalau Reynaldi akan mencari keberadaan Nisa.
"Assalamualaikum." Nisa baru saja sampai di rumah Reynaldi dan mengucap salam. Hatinya terasa sakit, kala melihat Viona duduk berada di sampingnya.
"Cih, ternyata benar. Air matamu itu air mata buaya. Kamu memang pembohong besar. Baru kemarin kamu mengemis agar aku tak pergi, saat ini aku melihat kamu duduk bersamanya menikmati kebersamaan kalian. Aku benci kamu!"
__ADS_1
"Tahan Nisa, kamu harus kuat! Apa yang kamu lakukan, adalah keputusan yang terbaik untuk kamu. Sudah cukup dia menghancurkan hati kamu, kini giliran kamu yang membuat ketiganya hancur," bisik Mba Rania sambil menggenggam tangan sang adik untuk menguatkan Nisa tampak menganggukkan kepalanya dia mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya.
Reynaldi langsung menghempaskan tangan Viona, saat Viona hendak menghalangi dirinya untuk menghampiri Nisa.
"Maaf Mas, ganggu waktunya. Aku hanya ingin mengambil moto milikku. Permisi," ucap Nisa.
"Tunggu Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku! Kamu tau tidak, kalau aku semalaman tersiksa. Aku kehilangan kamu dan Khanza," ungkap Reynaldi.
"Oh ya? Terus Mas yakin kalau aku percaya lagi dengan ucapan Mas? Tak akan, sampai kapanpun! Kisah kita telah selesai Mas! Selamat berbahagia dengannya. Baru kemarin Mas meminta aku untuk tidak pergi, hari ini aku melihat Mas duduk berdampingan dengan wanita murahan itu. Aku permisi, sampai bertemu di pengadilan," ucap Nisa.
Nisa pergi membawa luka di hatinya. Dia berjanji dalam hatinya, inilah terakhir kalinya dia menginjakkan kakinya di rumah yang memberikan kenangan buruk untuknya. Karena kebahagiaan yang selama ini dia rasakan, sudah berganti dengan luka yang di goreskan suaminya. Hilangnya cinta suaminya untuknya yang membuat dia memutuskan untuk bercerai dan mencari kebahagiaan sendiri.
Nisa tak mampu menahan air matanya. Hatinya terasa sangat sakit. Untungnya saat itu Mba Rania yang mengendarai motor Nisa.
"Luapkan perasaan hati kamu Nisa, agar kamu merasa tenang. Laki-laki seperti dia tak pantas untuk kamu maafkan, biarkan dia hidup dalam penyesalannya. Ayo Nisa! Kamu pasti bisa melewatinya!" ujar Mba Rania.
"Makasih ya Mba, Mba ada untuk Nisa. Menjadikan Nisa tak merasa hidup sendiri di dunia ini. Menguatkan Nisa untuk menjalani kehidupan ini," ungkap Nisa.
Sambil menunggu up mampir yuk di karya author lainnya😍
__ADS_1