Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Dukungan Sang Bunda


__ADS_3

"Fin, sepertinya sudah mendung. Aku pamit pulang ya. Takut hujan," pamit Nisa kepada sahabatnya. Kalau saja Nisa tak bawa motor, pasti Abi akan menawarkan diri untuk mengantarkan Nisa.


"Dokter Abimanyu, saya pamit pulang dulu ya. Terima kasih atas kesabaran dokter dalam merawat ibu saya. Semoga Allah membalas kebaikan dokter," ucap Nisa.


"Iya, Nis. Amin. Kalau ketemu diluar gini jangan panggil Dokter. Terlalu formil banget. Panggil saja Mas Abi seperti Fina. Semoga Ibu Anita panjang umur, bisa melihat anaknya hidup bahagia kembali. Sudah menjadi tugas saya, untuk merawat semua pasien saya," ungkap Abimanyu.


"Khanza ayo cium tangan Om Abi dan Tante Fina," ujar Nisa.


Abi dan Fina mengantarkan Nisa sampai depan. Sampai Nisa keluar dari rumah Fina.


"Ya ampun, Fin. Mas enggak nyangka loh kalau Nisa yang kamu maksud itu, anak dari pasien Mas. Mas sangat dekat dengan Ibu Anita. Ternyata kita ini menceritakan orang yang sama. Mas kasihan sama dia Fin. Padahal dia cantik ya. Orangnya juga lemah lembut, sopan. Dia sosok wanita impian Mas banget. Sayangnya dia masih menutup diri," ucap Abi.


"Kejar dong Mas, Mas payah ah. Fina yakin, lama-lama Nisa pasti akan luluh. Tapi ingat, jangan sakiti dia ya! Sudah cukup selama ini dia menderita. Fina ingin melihat dia bahagia," ucap Fina.


"Ya enggaklah Fin. Kamu 'kan tahu sendiri. Kalau dulu Mba Viona yang meminta cerai sama Mas. Kata dia Mas terlalu sibuk sama karier Mas, hingga dia sering merasa kesepian kalau Mas tinggal. Lagi pula, dulu 'kan Mas sambil kuliah spesialis. Makanya sibuk banget. Mba Viona enggak sabar. Bukan karena Mas selingkuh. Mungkin kami memang tak berjodoh, makanya Mas sam dia tak diberi anak," jelas Abi.


"Iya, Fina percaya. Kalau Mas adalah laki-laki yang baik, makanya Mas dipertemukan sama Nisa. Kalau Mas menyakiti Nisa, Mas akan berhadapan sama aku. Aku akan potong burung Mas sampai habis," ujar Fina.


"Jangan dong, nanti Mas enggak bisa bikin anak. Mas juga 'kan ingin punya anak Fin. Kamu saja sudah punya anak, masa Mas yang usianya lebih tua dari kamu belum punya anak si," sahut Abi.


Fina sangat mendukung Nisa bersama sepupunya. Fina ingin keduanya bahagia, setelah kegagalan yang mereka rasakan.


"Mas pamit dulu ya, mau nge-gym dulu. InsyaAllah minggu depan Mas kesini lagi. Makasih ya untuk makanannya, dan makasih juga atas dukungan kamu," ujar Abi sambil merangkul sepupunya itu.


"Lain deh yang sekarang rajin nge-gym. Sepertinya sudah siap olahraga ranjang ni, ngejar target bikin anak," goda Fina dan akhirnya keduanya tertawa.

__ADS_1


Fina mengantarkan Abi sampai teras rumah. Fina melambaikan tangannya, melepas kepergian Abi. Nisa baru saja sampai di rumah. Tadi dia sempat mampir ke mini market dan dan warung sembako untuk belanja keperluan di rumah.


"Ya Allah Nis, kamu belanja banget si. Memangnya kamu punya uang banyak," ucap Bunda Anita yang menyambut kedatangan sang anak.


"Alhamdulillah, Bun. Aku dapat pinjaman dari Fina untuk modal usaha dan keperluan kita. Khanza juga di kasih uang 1 juta tadi sama Fina," jelas Nisa.


"Oh ya Nek, tadi kita ketemu Om Abi, dokter Nenek. Dia saudaranya teman Bunda," ungkap Khanza.


"Benar Nis? Dokter Abimanyu saudara Fina?" tanya Bunda Anita untuk memastikan.


Nisa menganggukkan kepalanya, dan membenarkannya. Nisa menceritakan, kalau Dokter Abimanyu adalah sepupu dari Fina.


"Ya Allah, dunia sempit banget ya. Ternyata Dokter yang merawat ibu, sepupunya Fina," ujar Bunda Anita dan Nisa hanya menganggukkan kepalanya.


"Nek, Om Abi keren lo aslinya. Tangannya berotot, pasti badannya bentuk roti sobek," ujar Khanza sambil terkekeh.


"Hush, anak kecil sudah mengerti roti sobek. Siap yang ngajarin," tegur Nisa.


Malam ini Nisa berniat berbicara empat mata dengan sang Bunda. Dia berharap kalau sang Bunda bisa mengerti keinginannya untuk maju. Karena Nisa tertarik ingin mengambil job menggantikan posisi Fina. Ini adalah tantangan tersendiri untuknya. Selama ini dia belum pernah mengembangkan bakatnya dalam segi fashion.


"Bun, Nisa mau nemani Khanza tidur dulu ya. Setelah itu, ada yang Nisa ingin bicarakan sama Bunda," ujar Nisa dan Bunda Anita mengiyakan. Bunda masih asyik menonton TV.


Tak butuh waktu lama, Khanza sudah terlelap. Karena rasa lelah, seharian pergi dengan sang Bunda. Nisa mengecup kening anaknya dan memakaikan sang anak selimut.


"Bunda akan selalu berjuang untuk membahagiakan kamu," ucap Nisa dalam hati.

__ADS_1


Nisa keluar menemui sang Bunda, dan duduk di sebelahnya.


"Bun, ada yang ingin Nisa katakan sama Bunda," ucap Nisa.


"Iya, katakanlah!" ujar Bu Anita.


Nisa mulai menceritakan apa yang dia bicarakan tadi dengan Fina. Dia mengajak sang Bunda untuk pindah ke kota. Karena Nisa akan memulai usaha konveksi di kota, sekaligus dia bekerja mengurus butik milik Fina.


"Gimana ya Nis? Jujur, Bunda merasa berat kalau sampai meninggalkan kampung ini dan menjual rumah yang sudah memberikan kenangan yang banyak untuk Bunda," ujar Bunda Anita.


"Iya, Nisa mengerti. Tetapi Fina ingin, aku mengurus butiknya. Aku tak mungkin pulang pergi setiap hari. Karena harus membutuhkan waktu cukup lama untuk perjalanan pulang pergi butik dan rumah. Nisa juga tak mungkin meninggalkan Bunda sendirian di rumah. Nisa enggak akan tenang. Khanza juga 'kan harus sekolah. Nisa ingin sekolah Khanza dekat tempat usaha, jadi Nisa enak bolak balik ke rumah," jelas Nisa.


Bunda Anita tampak terdiam. Sebenarnya dia merasa berat untuk menjual rumah yang memberikan kenangan yang banyak untuk dirinya. Namun, apa yang diucap sang anak ada benarnya juga. Nisa harus maju. Kalau di kampung, akan dalam keterbatasan.


"Kalau kamu saja gimana Nis? Biar Bunda di sini. Bunda disini sudah merasa nyaman, tetangga semua sudah seperti keluarga sendiri. Bunda mendukung kamu untuk maju. Buktikan sama Rey! Kalau kamu mampu hidup tanpanya. Kamu bisa menjadi orang yang sukses. InsyaAllah Bunda akan baik-baik saja. Lagi pula, kematian seseorang sudah di atur Allah. Kita tak dapat menghindarinya. Ayo Nis semangat, anggap saja seperti dulu. Anggap Bunda ada di kampung, kamu di Jakarta! Nanti, sekali-kali Bunda akan mengunjungi kamu ke kota. Sudah saatnya kamu bangkit, mumpung ada jalannya," ucap Bunda Anita.


Nisa memeluk Bunda Anita. Dia tak mampu membendung perasaannya saat itu. Air matanya mengalir deras. Ada yang harus dia korbankan untuk meraih kesuksesan. Dia sebenarnya merasa berat untuk meninggalkan sang Bunda. Tapi dia juga butuh uang untuk membesarkan anaknya dan menafkahi sang Bunda. Nisa sudah melarang sang Bunda untuk menerima orderan lagi. Semua kebutuhan hidup sang Bunda, akan Nisa tanggung.


"Makasih ya Bun atas dukungan Bunda kepada Nisa. Tolong doakan Nisa! Semoga Nisa bisa menjadi orang yang sukses. Nisa bisa membahagiakan Bunda dan juga Khanza. Nisa juga bisa membantu Mba Rania lagi. Sebenarnya Nisa berat meninggalkan Bunda," ungkap Nisa diiringi isak tangis.


"InsyaAllah Bunda baik-baik saja. Jika memang sudah saatnya Bunda pergi, Nisa harus tetap semangat. Buktikan kepada semua orang yang menghina Nisa. Kalau Nisa mampu untuk menjadi orang sukses. Ingat, ada Khanza yang sangat membutuhkan biaya yang besar untuk pendidikannya," ucap Bunda Anita sambil mengelus punggung sang anak dengan lembut.


"Bunda jangan bicara seperti itu! Bunda harus sembuh, Bunda tak boleh ninggalin Nisa. Bunda harus lihat Nisa menjadi orang yang sukses. Bunda harus merasakan jerih payah Nisa," ucap Nisa.


"Iya Sayang. Cita-cita kamu begitu mulia. Semoga Allah memudahkan langkah kamu. Bunda berharap, kelak kamu akan mendapatkan kebahagiaan," ucap Bunda Anita.

__ADS_1


__ADS_2