
"Apa yang dikatakan oleh guru agama aku ternyata benar ya. Ustadzah Fatimah bilang kepada kami, janganlah kamu berbohong atau berbuat yang tidak baik di dunia ini. Meskipun orang lain tak melihatnya, Allah Maha melihat, dan dia tak akan segan-segan untuk menghukum orang yang telah berbuat salah. Istilah kata kerennya, karma. Saat ini Allah sedang menghukum ayah, karena ayah tak bersyukur. Bukan itu saja, ayah juga banyak membohongi Bunda dan berbuat yang tidak di sukai Allah," ucap Khanza.
Nisa di buat tercengang mendengarnya, anak sekecil itu bisa berbicara panjang lebar seperti itu. Nisa terkejut melihat reaksi Khanza, saat mendengar penuturan tentang sang ayah.
"Tadi ayah bilang, dia ingin bertemu kamu. Dia kangen sama kamu," ujar Nisa.
"Yakin itu, ucapan ayah? Tumben dia ingat sama aku. Aku enggak percaya dia kangen sama aku. Bukankah dia telah melupakan aku. Jika sudah seperti ini, baru dia ingat sama aku. Kemarin-kemarin dia kemana? Di saat berada di atas, dia tak ingat aku sama sekali. Sudahlah bun, diamkan saja. Biar dia merasakan, kalau di cuekin dan di lupakan itu seperti apa," sahut Khanza.
Rasa kecewa Khanza kepada sang ayah begitu besar. Sang ayah yang lebih dulu melupakan dirinya.
Mendengar percakapan Nisa dan Khanza, Abi pun ikut gabung bersama mereka. Abi langsung duduk di sebelah Khanza sambil mengusap punggung Khanza.
"Kakak, kakak enggak boleh seperti itu. Kita tak boleh dendam. Bagaimanapun, Ayah Rey adalah Ayah kandung Kakak. Kalau tak ada Ayah Rey, kakak tak akan ada di dunia ini. Maafkan dia, Kak! Dia sudah menyadari kesalahannya, dia ingin bertemu kakak," Abi mencoba memberi pengertian kepada Khanza.
"Aku tak pernah minta dilahirkan olehnya," sahut Khanza tegas. Khanza langsung pergi meninggalkan Nisa dan Abi begitu saja ke kamarnya, dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
Khanza tak akan seperti ini, jika Rey tak bersikap buruk kepadanya. Sikap buruk sang ayah begitu membekas di hati Khanza. Membuat dia merasa dendam. Khanza begitu kecewa padanya. Selama ini Rey melupakan dirinya. Padahal selama ini hubungan Khanza dengan sang ayah sangat dekat. Rey begitu menyayangi sang anak.
__ADS_1
"Ayah jahat! Aku benci ayah! Ayah saja tak peduli sama aku, untuk apa aku peduli sama ayah. Giliran ayah sekarang susah, ayah baru ingat aku. Dulu, disaat ayah jaya. Ayah tak pedulikan perasaan aku dan bunda, ayah lebih peduli kepada Tante Viona. Hiks ... hiks ... hiks," Khanza meluapkan perasaannya. Hatinya terasa sakit, kala mengingat apa yang sang ayah lakukan dulu kepadanya.
Abi tampak merangkul Nisa, dan mengusap rambut sang istri.
"Aku harus gimana mas?" Tanya Nisa kepada sang suami.
"Biarkan Khanza tenang dulu. Dia butuh waktu, untuk menghilangkan perasaan kecewa terhadap sang ayah. Semua ini karena ulah mantan suami kamu, mungkin hal ini yang membuat Khanza memendam perasaan kecewa yang begitu mendalam kepadanya. Dia pernah merasakan menjadi orang yang enggak beruntung, dilahirkan ke dunia. Hingga dia sampai bicara seperti itu," ucap Abi mencoba memberi pengertian kepada sang istri.
Hari terus berlalu, tetapi Khanza masih enggan memaafkan sang ayah. Keputusannya masih sama. Dia masih menolak bertemu dengan sang ayah. Meskipun Abi dan Nisa, sudah memberi pengertian kepada Khanza.
Setiap Rey menghubungi dirinya, Khanza tak pernah meresponnya. Bahkan sekarang dia sudah memblokir nomor telepon sang ayah. Dia tak ingin peduli lagi dengan sang ayah. Menutup hatinya untuk nama sang ayah.
Masa depannya begitu suram, bahkan anak satu-satunya membenci dia. Dia pun tak akan memiliki keturunan lagi, jika dia tak menikah lagi. Namun, jika dia menikah lagi. Dia merasa tak tega dengan Viona.
"Mengapa aku lihat hari-hari ini suamiku terlihat berbeda? Apa yang terjadi padanya?" Viona bermonolog. Hubungan pernikahan dirinya dengan sang suami begitu hambar. Rey lebih banyak diam.
Padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIb. Namun Rey masih memilih untuk duduk di teras, di temani rokok dan secangkir kopi.
__ADS_1
"Kamu belum tidur?" Tanya Viona yang datang tiba-tiba menghampiri suaminya. Viona langsung duduk di sebelah sang suami, dan menatap wajah laki-laki yang masih berstatus menjadi suaminya.
"Kok kamu bangun?" Tanya Reynaldi.
"Iya, tadi aku kebangun dan tak melihat kamu di samping aku. Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Aku perhatikan, wajah kamu terlihat kusut. Apa kamu sedang ada masalah di pekerjaan?" Tanya Viona.
"Sebenarnya, ada hal penting yang selama ini mengusik hidupku. Nisa dan Khanza sekarang tinggal di Jakarta. Kamu tahu tidak, Nisa menikah dengan Dokter Abimanyu. Dokter di rumah sakit tempat aku kerja. Waktu itu aku sempat bertemu, saat Nisa ingin periksa kandungan. Dia menghampiri suaminya terlebih dahulu," jelas Rey.
Mendengar nama Dokter Abimanyu. Viona jadi teringat nama yang sama mantan suaminya dulu. Membuat dia bertanya-tanya, apakah dokter itu adalah mantan suaminya dulu.
Viona menjadi penasaran. Dia berniat menemui Dokter Abimanyu besok. Dia ingin mendatangi rumah sakit, setelah suaminya kerja. Kebetulan besok jadwal dia kemoterapi.
"Terus kenapa kamu seperti itu? Memangnya kamu berniat ingin kembali lagi sama dia?" Tanya Viona menyelidik, dia takut kalau suaminya itu meninggalkan dirinya. Terlebih dia kini sudah penyakitan, sedangkan mantan istri suaminya justru kini lebih segalanya.
"Ya enggaklah. Ngaco kamu. Mana mau dia kembali sama laki-laki kere seperti aku, terlebih dia telah mendapatkan segalanya. Aku sudah mengikhlaskan dia, melihat dia bahagia aku pun ikut bahagia. Yach ... meskipun sebenarnya aku merasa menyesal. Andai saja dulu aku tak selingkuh sama kamu, pasti aku masih hidup bahagia sama Nisa dan anakku. Aku juga masih bisa memiliki anak kembali dengannya. Tapi, ya sudahlah. Mau gimana lagi. Semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Hanya penyesalan yang aku rasakan. Terlebih sekarang, anak satu-satunya aku membenci aku. Khanza membenci aku. Itulah yang sangat aku sesali. Selama ini aku melupakan dia, karena aku pikir aku bisa memiliki anak dari kamu. Namun Allah berkata lain, kamu justru sakit, dan tak bisa memiliki anak. Satu-satunya cara untuk memiliki anak, hanya satu. Aku harus menikah kembali, dan memiliki anak dari wanita lain," sahut Rey. Membuat mata Viona membulat sempurna.
"Ma-maksud kamu? Kamu mau menikah lagi? Enggak Ay, aku enggak mau di madu! Lebih baik aku mati saja," ujar Viona di iringi isak tangis. Viona langsung meneteskan air matanya.
__ADS_1