
"Ma, Rey keluar dulu ya! Rey mau coba temui suaminya Nisa. Rey mau menunggu dia di dekat poli. Biasanya, jam segini dia datang," pamit Reynaldi kepada sang mama. Sang mama langsung menganggukkan kepalanya.
Reynaldi sudah menunggu Abi datang di kursi-kursi yang berada di depan poli tempat Abi bekerja. Benar saja, tak lama kemudian Abi pun datang. Dari jauh dia sudah melihat wajah Rey yang sedang duduk, seperti sedang menunggu dirinya.
Melihat Abi datang, Rey langsung bangkit dari tempat duduknya, dan menghampiri Abi.
"Dok ...," panggil Rey kepada Abi.
"Mau apalagi kamu menemui saya? Saya sudah sangat kecewa sama kamu," ucap Abi tegas. Bagaimana Abi tak merasa kesal, kalau Reynaldi berniat merebut Nisa darinya.
"Saya mohon, Dok! Tolong kasih kesempatan saya untuk berbicara!" pinta Reynaldi sedikit memohon.
"Baiklah! Cepat katakan, apa yang ingin kamu katakan kepada saya! Karena saya harus segera praktek," ujar Abi.
Reynaldi mengungkapkan kalau mamanya saat ini sedang di rawat di rumah sakit ini. Menderita penyakit diabetes melitus, dan dia ingin bertemu Nisa dan juga Khanza. Reynaldi mengatakan, kalau sang mama ingin meminta maaf kepada mereka.
"Saya mohon, Dok! Tolong sampaikan hal ini kepada Nisa dan juga Khanza. Mama saya ingin pergi meninggalkan dunia, dalam keadaan tenang. Umur manusia tak ada yang tahu, bisa saja mama saya cepat dipanggil Allah. Maka dari itu, saya mohon pada Dokter. Semalam saya sempat ingi menghubungi dokter, tetapi sepertinya nomor saat di blokir sama dokter. Saya juga sudah menghubungi Khanza, tetapi dia hanya membacanya saja. Tak membalasnya," ungkap Reynaldi.
"Oke, nanti saya akan coba sampaikan sama istri saya dan juga Khanza. Semoga hatinya terbuka untuk memaafkan mama kamu. Ya, memang benar. Nomor telepon kamu sudah saya blokir, karena saya sangat kecewa sama kamu. Bisa-bisanya kamu terpikir untuk merebut Nisa lagi dari saya. Apa kamu tak malu, dengan apa yang kamu lakukan dulu kepadanya? Tentu saja dia tak akan mau kembali sama kamu. Dia kini sudah hidup bahagia bersama saya, bahkan kami telah memiliki dua orang anak. Mana mungkin Nisa akan mengorbankan kedua anak kami demi laki-laki pengkhianat seperti kamu," ucap Abi. Abi menatap Reynaldi sinis.
Reynaldi meminta maaf kepada Abi, dia berjanji tak akan mengganggu Nisa lagi. Namun, dia meminta kepada Abi, agar Abi mau menolongnya. Mempertemukan Khanza dan juga Nisa dengan sang mama.
"Ya sudah, saya pamit dulu! Soalnya sudah mau mulai praktek. Sekarang ibu kamu di ruang apa? Nanti, saya akan coba bicarakan sama istri saya. Mungkin yang sulit itu Khanza. Jangankan sama mama kamu, kamu saja yang ayahnya sampai saat ini belum dimaafkan," ujar Abi.
__ADS_1
Reynaldi mengakui, kalau dirinya memang salah. Khanza seperti itu, karena perbuatan dirinya kepada Khanza dulu. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam. Dia begitu berharap, agar sang anak mau memaafkan dirinya.
Reynaldi kembali ke ruangan sang mama kembali, saat itu sedang ada dokter yang menangani sang mama. Dokter sedang menjelaskan kepada sang mama. Tentang penyakit yang di derita Mama Ratih saat ini.
Menurut hasil pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa jantung dan ginjal Mama Ratih bermasalah. Efek samping dari penyakit Diabetes melitus yang Mama Ratih derita saat ini.
"Sabar, Ma! Mama pasti bisa sembuh!" Rey tampak menggenggam tangan sang mama. Mencoba menguatkan. Dokter menyarankan, agar Mama Ratih melakukan cuci darah.
"Penyakit mama sudah banyak Rey! Lebih baik, secepatnya mama diambil Allah. Agar mama tak menyusahkan kamu terus," ucap Mama Ratih sambil terisak tangis dan meneteskan air matanya. Dia terlihat begitu sedih.
"Kapan Khanza sama Nisa datang? Mama ingin secepatnya bertemu mereka. Takut mama tak sempat bertemu dengannya," ucap Mama Ratih.
"Tadi Rey, sudah bicarakan hal ini kepada Abi suami Nisa. Dia akan mencoba membicarakan hal ini kepada Nisa dan juga Khanza. Semoga saja, dia bisa membantu memberi pengertian kepada mereka. Jadi, Nisa dan Khanza bisa datang menemui mama," ungkap Rey.
Abi baru saja sampai di sekolah Khanza. Dia berniat ingin berbicara empat mata dengan anak sambungnya tentang keadaan neneknya dari Ayah Reynaldi.
"Assalamualaikum. Papa sudah lama?" Tanya Khanza. Dia langsung menghampiri sang papa yang sudah menunggunya. Dia langsung mencium tangan sang papa.
"Waalaikumsalam, baru kok," sahut Abi.
"Kak, mau es krim enggak? Kita mampir beli es krim dulu yuk!" Ajak Abi. Tentu saja Khanza mau. Dia terlihat begitu senang.
Abi melajukan motornya menuju kafe es krim. Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di kedai es krim itu.
__ADS_1
"Kakak mau es krim apa?" Tanya Abi kepada Khanza.
"Es krim strawberry. Ditambah Choco chips," sahut Khanza.
Abi memesan dua es krim. Satu es krim strawberry untuk sang anak dan satu es durian untuknya. Kini mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.
"Kak, sebenarnya ada yang papa ingin bicarakan sama kamu. Kamu jangan marah sama papa ya! Papa hanya ingin menyampaikan saja kepada kamu," ujar Abi.
"Aku tahu, pasti papa ingin membahas masalah Nenek Ratih 'kan yang lagi sakit? Kalau memang iya, biarkan saja Pa. Aku sudah tak peduli padanya. Dia pun dulu tak pernah menganggap aku sebagai cucunya. Dia pernah bilang gitu sama bunda dan ayah di depan aku. Masih aku ingat jelas, apa yang dia ucapkan duku. Apa salah aku? Hanya karena bunda orang miskin, dia tak sudi memiliki cucu dari wanita miskin. Bunda pun tak salah sebenarnya, dia menikah sama ayah karena ayah dulu sangat mencintai bunda," cerocos Khanza.
Jika sudah seperti ini, Abi pun bingung harus berkata apa kepada Khanza. Namun, dia merasa tak tega juga.
"Kak, apa tak sebaiknya kakak memaafkan Nenek Ratih saja? Itukan dulu kak, sekarang dia kasihan. Nenek Ratih mengidap penyakit diabetes melitus, umurnya tak panjang lagi. Sewaktu-waktu, Alla bisa saja mengambil nyawanya. Dia ingin pergi dengan tenang, setelah mendapat maaf dari Kamu dan bunda," Abi mencoba memberi pengertian kepada sang anak.
Khanza tetap saja bersikeras, pada pendiriannya. Dia tak mau menemui Mama Ratih. Hatinya terasa begitu sakit. Padahal, Abi sudah menjelaskan kepada Khanza.
Abi ingin mencoba membicarakan hal ini kepada Nisa. Abi yakin, kalau Nisa akan memaafkan Mama Ratih. Karena sang istri memiliki hati yang seluas samudera.
Setelah selesai makan es krim, Abi berniat untuk pulang. Namun sebelumnya, dia membelikan juga sang istri es krim coklat.
__ADS_1