
Nisa dan Khanza baru saja sampai di apartemen.
"Assalamualaikum," ucap Nisa dan juga Khanza bersamaan.
Nisa dan Khanza langsung masuk ke kamar mandi, untuk mencuci tangan mereka. Setelah itu, mereka langsung mengganti pakaian mereka. Kini Nisa sudah berganti daster, dan Khanza sudah memakai pakaian rumahan.
"Gimana tadi pertemuannya?" Tanya Abi saat mereka kini sudah berkumpul di ruang TV.
"Alhamdulillah, berjalan lancar. Khanza sudah terbuka hatinya untuk memaafkan kesalahan ayahnya dan neneknya," ungkap Nisa.
"Alhamdulillah. Gitu dong! Itu baru anak Papa. Papa senang banget dengarnya. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kamu. Hubungan kamu dan ayah kamu kembali baik. Karena kelak Ayah kandung kamu yang nantinya akan menikahkan kamu," ucap Abi.
Nisa memberikan kesempatan kepada Khanza untuk ngobrol berdua dengan Abi. Sedangkan Nisa memilih untuk ke kamar untuk melihat kedua buah hatinya yang sedang tertidur nyenyak.
Hingga akhirnya dia memilih untuk pumping, memompa ASInya dan memasukkannya ke dalam botol. Nisa bersyukur, karena kedua buah hatinya tak kekurangan ASI.
__ADS_1
Setelah selesai, Nisa keluar kembali dari kamar menghampiri suami dan juga anaknya.
"Yang, besok kita pindah ya! Semua di sana sudah rapi. Sudah di siapkan semua 'kan yang untuk dibawa besok pindah?" Tanya Abi kepada sang istri.
Semua sudah disiapkan. Mereka akan menata kehidupan baru yang lebih baik lagi. Jika memang keluarganya merasa betah tinggal di rumah itu, nantinya Abi akan membeli rumah itu untuk keluarganya.
Hari yang di nanti telah tiba, mereka akan berangkat untuk pindah kontrakan. Nisa sudah menggendong Azzam dan sang ART menggendong Azzura. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju tempat tinggal baru mereka.
Mereka baru saja sampai di tempat tinggal mereka yang baru. Khanza langsung bergegas ke kamarnya. Dia senang, karena memiliki kamar sendiri. Abi merasa senang, karena bisa menyewa tempat tinggal yang lebih luas lagi.
"Tentu saja aku senang. Terima kasih ya," ucap Nisa sambil memeluk tubuh sang suami.
Kehidupan rumah tangga Abi dan Nisa selalu bahagia. Keduanya saling mencintai. Hal itu yang membuat rumah tangga mereka selalu harmonis.
Abi melingkarkan tangannya di pinggang Nisa, dan Nisa langsung melingkarkan tangannya di leher suaminya. Perlahan bibir mereka mendekat, hingga akhirnya ciuman pun terjadi. Sudah cukup lama mereka tak bermesraan seperti ini. Kini mereka manfaatkan waktu itu untuk bisa bermesraan.
__ADS_1
Namun, hal itu harus terhenti. Saat pintu kamar mereka di ketuk. Keduanya sama-sama tersenyum.
"Nanti malam, kita lanjut lagi ya!" Ucap Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.
"Papa sama bunda ngapain di kamar? Mengapa lama sekali keluarnya?" Tanya Khanza saat sang bunda membuka pintu kamar. Membuat jantung Nisa terhenti seketika. Wajahnya berubah memerah.
Untungnya, sang ART sudah menyiapkan makanan untuk mereka makan. Membuat Nisa dan Abi bisa mengalihkan ucapan Khanza. Kini mereka sudah berada di meja makan, sedang menikmati hidangan yang sudah tersedia.
"Besok, kita akan kedatangan mbak lagi. Jadinya, ada dua orang yang akan membantu bunda mengurus rumah dan juga kembar. Kakak, tidur sendiri berani 'kan?" Ujar Abi.
"Iya, berani kok. Aku 'kan dari dulu biasa tidur sendiri," sahut Khanza. Abu merasa salut dengan anak sambungnya.
__ADS_1