Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Nama Yang Sama


__ADS_3

Mobil yang Abi kendarai sudah memasuki parkiran mobil apartemen, di ikuti mobil Nisa.


"Alhamdulillah, sampai juga di Jakarta," ucap Nisa.


"Pegal ya kamu?" Tanya Abi. Abi mengusap punggung hingga pinggang Nisa dengan lembut.


"Sudah Mas, sudah enakan. Sebaiknya kita langsung masuk saja ke dalam. Aku sudah ingin selonjoran," sahut Nisa.


"Iya, Mas juga sudah pegal banget kakinya. Ya sudah, ayo kita turun! Khanza biar Mas saja yang gendong," ujar Abi.


Abi mengantarkan Nisa dan Khanza dulu ke unit apartemen mereka. Setelah itu, barulah dia mengurus kepulangan Pak Ahmad. Dia mau langsung pulang lagi ke Yogyakarta, naik bus.


Mereka kini berjalan memasuki apartemen, dan menaiki lift menuju unit apartemen yang mereka sewa. Setelah sampai di lantai di tuju, mereka langsung melewati lorong menuju kamar apartemen mereka. Setelah sampai di depan unit apartemen, Abi langsung membuka pintu kamar apartemennya dengan menggunakan kartu akses. Pintu kamar apartemen terbuka. Nisa begitu terpesona melihat apartemen yang akan mereka tempati.


"Bagus banget Mas apartemennya," ujar Nisa.


"Iya. Masa iya, buat kalian Mas pilih asal-asalan. Mas ingin memberikan kenyamanan untuk kalian," ucap Abi, dan Nisa membalasnya dengan senyuman termanisnya.

__ADS_1


Apartemen itu mempunyai dua buah kamar. Kelak kamar yang satu akan di tempati pembantunya dan juga Khanza. Nisa akan membelikan satu buah kasur lipat untuk pembantunya tidur di bawah. Sang ART akan baru akan datang dua hari lagi. Menyusul naik bus.


"Mas, urus Pak Ahmad pulang dulu ya Sayang," ujar Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya.


Setelah meletakkan Khanza ke ranjang, Abi langsung pergi meninggalkan Nisa untuk kembali ke parkiran mobil. Abi meletakkan Khanza di ranjang kamar dia dengan Nisa. Malam ini Abi mengalah tidur di kamar untuk Khanza.


Nisa memilih untuk membersihkan tubuhnya dan menggantikan pakaiannya dengan daster. Setelah itu, dia langsung menunaikan ibadah sholat isya. Abi turun ke parkiran mobil lagi.


"Bapak yakin mau langsung pulang ke Yogya malam ini. Tidak beristirahat dulu di sini?" Tanya Abi.


"Terima kasih. Bapak langsung pulang saja. Nanti istirahat di bus saja," sahut Pak Ahmad.


"Terima kasih ya Pak, sudah membantu saya dan istri. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Hati-hati di jalan ya Pak, maaf saya tak bisa mengantarkan ke terminal," ucap Abi.


"Iya, tak apa-apa. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih, karena bapak sudah membantu saya. Kurang lebihnya saya mohon maaf," ucap Abi kepada Pak Ahmad.


Setelah Pak Ahmad pergi, Abi kembali ke unit apartemennya lagi. Sambil menyeret dua buah koper besar. Satu koper sudah di bawa Nisa tadi.

__ADS_1


Abi menekan bel apartemennya, Nisa langsung bergegas untuk membuka pintu kamar apartemennya. Dia baru saja hendak tertidur.


"Istri aku cantik banget," puji Abi membuat Nisa tersipu malu.


"Mas sholat dulu sana sama bersih-bersih. Aku mau buatkan teh manis hangat," ujar Nisa dan Abi mengiyakan.


Nisa membuatkan dua cangkir teh manis hangat untuk dia dan juga suami. Pihak pemilik menyediakan air aqua, gas, teh, gula, kopi sebagai bonus.


Abi sudah selesai mandi dan sholat. Dia berniat membuka pintu yang terhubung ke balkon. Melihat suasana kota Jakarta saat malam hari, sambil menikmati angin malam.


"Semoga kamu betah ya disini! Sabar dulu ya kamu," ujar Abi dan Nisa mengiyakan. Nisa dan Abi terlihat mesra. Nisa meletakkan kepalanya di pundak sang suami. Langit begitu indah, di hiasi bintang yang menyinari kota Jakarta.


Pagi ini adalah jadwal Viona melakukan kemoterapi ke rumah sakit. Dia terlihat sudah bersiap-siap untuk berangkat, dengan di dampingi sang mama. Mereka pergi dengan menggunakan taksi online. Untungnya sang mama selalu setiap mendampingi dirinya.


Kini Viona dan sang mama sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Wajah Viona terlihat sendu, padahal dia ingin sekali di antar sang suami untuk melakukan kemoterapi. Namun, semua itu hanyalah tinggal angan-angan saja. Suaminya sudah tak peduli padanya.


Viona baru saja sampai di rumah sakit. Alangkah terkejutnya dia, saat melihat spanduk bertuliskan. Selamat datang Dokter Abimanyu Prasetyo, dokter spesialis nefrologi atau spesialis penyakit ginjal.

__ADS_1


"Abimanyu Prasetyo? Mengapa namanya sama? Ah, tapi rasanya tak mungkin kalau Abi pindah ke Jakarta. Dia 'kan berada di Yogyakarta," Viona bermonolog. Dia masih tercengang tak percaya.


__ADS_2