Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Suami Pajangan


__ADS_3

Keduanya sudah terlihat rapi, dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Mereka akan berangkat bersama ke kantor. Reynaldi turun lebih dulu, karena dia ingin menemui sang mama terlebih dahulu. Sedangkan Melani saat ini masih merias wajahnya.


Reynaldi berjalan menghampiri sang Mama yang saat itu sudah terbangun. Mama Ratih menanyakan tentang menantu barunya yang bersikap cuek kepadanya. Menunjukkan sikap tak suka atas keberadaan dirinya di rumah itu. Tak ada rasa hormat Melani kepada sang ibu mertua.


"Apa istrimu itu, tak menyukai kehadiran Mama di sini? Mengapa dia tak menemui Mama?" Tanya Mama Ratih. Jika dulu dia yang berbuat jahat kepada Nisa, kini giliran dia yang merasakan sikap tak baik dari menantunya.


"Bukankah kemarin Rey sudah membahasnya kepada Mama? Melani saat ini sedang sibuk, dia seorang pekerja keras. Semalam saja, dia pulang larut malam. Aku terbangun, saat dia pulang, dan sekarang Melani sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja," ujar Reynaldi.


Obrolan mereka harus terhenti, karena Melani memanggil dirinya untuk mengajak sarapan. Hingga akhirnya Reynaldi membuka pintu kamar sang mama. "Sayang, Mama menanyakan kamu! Dia ingin bertemu," ucap Reynaldi lembut.


"Oh, iya. Aku sampai lupa, kalau Mama kamu ada di sini," ucap Melani. Melani langsung berjalan menghampiri suami dan masuk ke dalam kamar Ibu mertuanya, bertemu dengan sang Ibu mertua.


"Mengapa Melani tak mencium tangan Mama," ucap Reynaldi dalam hati.


"Mengapa dia tak mencium tanganku?" ucap Mama Ratih dalam hati.

__ADS_1


Tak ada rasa hormat Melani kepada Ibu mertuanya, dia bersikap cuek. Reynaldi merasa tak enak hati, dengan sikap sang istri. Ingin menegurnya, dia takut nantinya Reynaldi akan marah padanya.


"Maaf aku lupa, kalau Mama sudah berada di sini. Semoga Mama kerasan tinggal di sini! Jika Mama membutuhkan sesuatu, atau ada makanan yang diinginkan. Bicara saja kepada pelayan di sini! Tolong Mbak bantu ya!" Ujar Melani kepada Ibu mertuanya dan sang ART yang mengurus Ibu mertua.


"Ya sudah, aku pamit dulu ya sama Reynaldi! Kami ingin sarapan dulu, kemudian berangkat bekerja. Mbak, nanti kamu ambilkan makanan untuk sarapan Mama! Tolong perhatikan makannya, kamu harus telaten mengurusnya! Oh iya, satu lagi. Tolong jendela kamar di buka ya kalau pagi begini! Biar ada udara masuk, jadi kamar enggak pengap. Jadi enggak bau!" Ucap Melani. Meskipun demikian, Melani tetap memperhatikan Ibu mertuanya.


"Ayo Sayang, kita sarapan sekarang! Aku tak mau terlambat datang ke kantor! Waktuku tak banyak," ucap Melani. Reynaldi mengiyakan, dia langsung pamit kepada sang Mama untuk sarapan. Reynaldi juga menyuruh sang ART mengambilkan makanan untuk sang Mama.


Kini Reynaldi dan Melani sudah berada di meja makan. Seperti biasa, Reynaldi harus mengambil makannya sendiri. Dia sudah mulai terbiasa melakukan sendiri, meskipun statusnya sudah memiliki istri. Bahkan ke istrinya pun, dia tak memiliki kuasa apapun. Dia hanya bisa menatap wajah istrinya, yang sedang menikmati makanannya.


Setelah selesai makan, Reynaldi pamit kepada sang Mama untuk berangkat bekerja. Dia mencium tangan sang mama, sedangkan Melani tak masuk lagi ke dalam kamar sang mama. Reynaldi tak mungkin mengingatkan kembali kepada sang istri, tentang kehadiran sang mama.


"Nanti kalau sudah selesai jam pulang kerja, kamu pulang duluan saja ya! Soalnya hari ini aku ada janji sama teman-temanku. Sudah lama juga aku tak ke clubbing, mereka sudah menanyakan," ucap Melani. Membuat Reynaldi terkejut mendengarnya.


"Apa, Clubbing? Kamu mau ke Clubbing?" Tanya Reynaldi memastikan.

__ADS_1


"Ya, mengapa? Mengapa kamu begitu terkejut? Apa ada masalah? Apa kamu tak pernah datang ke Club malam?" Melani balik bertanya.


Tentu saja Reynaldi menggelengkan kepalanya. Senakal-nakalnya dia, dia tak pernah menginjakkan kakinya ke sana. Dia mengatakan hal itu kepada Melani. Gaya hidup Melani sudah terbiasa seperti dia dulu, saat kuliah di Inggris. Kehidupannya sangat bebas.


"Jadi, kamu belum pernah ke tempat seperti itu? Ya sudah, lain kali aku akan ajak kamu ke sana! Aku sering ke sana, untuk menghilangkan rasa penat yang aku rasa sehabis sibuk bekerja. Terkadang aku merasa pusing, paling tidak aku bisa melupakan meskipun hanya sejenak. Beruntungnya aku mendapatkan suami yang baik. Semoga saja kamu tak lagi bermain perempuan, hanya puas denganku saja. Aku pun ingin meninggalkan kebiasaan burukku dulu. Bercinta saat mabuk, memiliki sensasi tersendiri. Bolehlah suatu hari nanti kita mencobanya. Apa kamu pernah mencicipi alkohol? Nanti kalau ada waktu santai, kita menginap di hotel. Kita party berdua," ucap Melani dengan cueknya.


"Aku tak terbiasa minum seperti itu, dan insya Allah aku tak ingin mencicipinya sampai kapanpun! Semoga saja kamu bisa berhenti! Aku ingin memiliki anak dari kamu! Alkohol juga tak baik untuk kesehatan dan bisa membuat wanita sulit hamil," ucap Reynaldi.


"Apa kamu lupa dengan ucapanku kepadamu? Aku tak suka di kekang. Ok, kamu memang suamiku. Tetapi, kamu tak bisa mengatur hidupku! Aku bisa mengurus hidupku sendiri! Aku pun tak akan mengatur hidupmu! Aku pun belum terpikir untuk memiliki anak dalam waktu dekat ini, aku tak ingin tubuh indahku rusak karena hamil. Usiaku sekarang pun sangat rentan untuk hamil. Aku tak ingin mati konyol, karena melahirkan," ungkap Melani.


Mati konyol? Bisa-bisanya dia berkata mati konyol, karena melahirkan buah hatinya. Dia pun tak ingin menjadi wanita yang sempurna, yang bisa merasakan hamil, melahirkan, dan menyusui.


Mobil yang membawa mereka sudah sampai di perusahaan. Reynaldi memilih tak melanjutkan pembicaraan mereka. Tak ada gunanya juga dia berbicara dengan sang istri, yang bersikap seenaknya. Dia merasa seperti suami pajangan, hanya sebuah status.


Sesampainya di perusahaan, mereka langsung terpisah ke ruangan masing-masing. Kini Reynaldi menjabat sebagai manager keuangan. Jabatan yang pernah dia raih dulu, saat bersama Nisa. Dia berjanji untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Meskipun perusahaan itu adalah milik istrinya, dia akan tetap bertanggung jawab dalam pekerjaannya.

__ADS_1


Kini Reynaldi sudah berada di ruangannya. Dia tampak diam, ucapan sang istri tadi masih terngiang menari di pikirannya. Jika harus berkata jujur, Reynaldi akan mengatakan kalau dirinya merasa shock saat mengetahui kehidupan istrinya. Namun, dia tak mungkin bercerai dengan Melani. Dia masih membutuhkan pekerjaan untuk kehidupan dia. Dia pun masih harus menggantungkan hidupnya kepada Melani. Meskipun harga dirinya terinjak sebagai seorang suami, karena dia merasa tak dihargai oleh sang istri.



__ADS_2