Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Keputusan Nisa


__ADS_3

Nisa menatap serius Pak Arman. Berharap Pak Arman tak menutupi kebohongan suaminya. Bisa menolongnya.


"Pak, aku mohon sama Bapak! Bapak lihat 'kan saya ke sini sampai bawa anak. Karena saya ingin tahu kebenarannya. Asal Bapak tahu, Pak Reynaldi sering kali berbohong kepada saya. Dia bermain api dengan wanita lain," ungkap Nisa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sebenarnya Nisa tak ingin melibatkan anaknya dalam urusan orang dewasa, dia tak ingin anaknya tahu kelakuan bapaknya. Tetapi dia tak mungkin meninggalkan anaknya di rumah, lagi pula sudah saatnya sang anak tahu permasalahan orang tuanya. Agar suatu saat nanti, sang anak tak membencinya.


"Maaf Bu, Bapak mohon maaf banget. Tolong Ibu jangan bilang tahu dari sini ya Bu sama Pak Reynaldi. Saya takut di pecat Pak sama Pak Reynaldi. Kalau saya nanti di pecat, anak istri saya makan apa," ungkap Pak Arman.


"Iya Pak, Bapak tak perlu khawatir. Saya janji tak akan bilang, kalau saya tahu dari Bapak. Saya bersyukur, kalau Bapak bisa membantu saya untuk mengatakan dengan jujur," ucap Nisa yang sudah terlihat lebih tenang.


Pak Arman mulai menceritakan, kalau di kantor tak ada kegiatan kunjungan ke kantor cabang. Reynaldi terbukti bohong.


"Ternyata benar Mas, kamu tak pernah berbohong. Sekali berbohong, kamu pasti akan selalu berbohong. Selama ini aku salah, telah memberi kesempatan kepada kamu lagi. Kamu memang tak pantas aku maafkan lagi," ucap Nisa lirih dalam hati.


"Makasih ya Pak, terima kasih atas bantuan Bapak. Saya bersyukur, karena masih ada orang baik yang berniat membantu saya. Oh ya Pak, ini ada sedikit rezeki untuk Bapak. Bapak tak perlu khawatir, saya tak akan cerita kalau saya mendapat informasi dari Bapak," ucap Nisa sambil memberikan satu lembar uang berwarna merah.


Setelah mendapatkan informasi, Nisa pamit pulang. Dia melajukan sepeda motornya lagi, dan berhenti di sebuah kafe. Dia berniat menenangkan hatinya.


"Bun, sabar ya! Ayah benar-benar keterlaluan," ucap Khanza mengawali pembicaraan.

__ADS_1


"Ayah tega sama Bunda. Bunda salah apa sih sama Ayah? Kenapa Ayah terus menerus menyakiti hati Bunda," ucap Nisa diiringi isak tangis.


"Kak, kalau Bunda bercerai sama Ayah boleh tidak? Bunda sudah tak sanggup menjalani pernikahan sama Ayah, Ayah sudah keterlaluan. Selama ini Bunda bertahan, karena Bunda masih merasa tak tega melihat kamu harus terpisah sama Ayah. Tapi sekarang, Bunda sudah tak sanggup lagi. Ayah tak benar-benar berubah," ucap Nisa lagi, dia mencoba memberi pengertian kepada sang anak.


"Kamu setuju ya Sayang, Bunda bercerai sama Ayah? Kasihan Authornya di bully terus sampai dikatain pelakor, sampai dia sedih karena rating karya ini jd 4,6. Padahal dia sudah menyiapkan balasan yang tepat untuk Nenek Ratih, Ayah Reynaldi, dan sang pelakor."


Melihat wajah sang Bunda yang sudah bergelinang air mata, tentu saja Khanza merasa tak tega. Khanza dapat memahami perasaan sang Bunda. Terlebih neneknya pun selalu bersikap jahat kepada sang Bunda.


"Iya Bun, Khanza setuju. Khanza setuju apapun yang terbaik untuk Bunda. Khanza sayang sama Bunda, Bunda harus kuat melewati semua ini," ucap Khanza sambil menciumi tangan sang Bunda.


"Makasih ya Sayang, Bunda juga sayang banget sama kamu. Nanti kita pulang kampung saja ya ke Nenek di Yogya, Khanza pindah sekolah saja ya," ucap Nisa dan Khanza menganggukkan kepalanya.


"Semoga Bunda bisa segera mendapatkan bukti perselingkuhan Ayah sama wanita itu," ucap Nisa dan diaminkan oleh Khanza.


Kini ada pasangan yang sedang berbahagia. Karena akhirnya mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju Puncak, kawasan yang berada di daerah Bogor.


Viona tampak meletakkan kepalanya di bahu laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya. Tangannya terlihat melingkar di tangan Reynaldi dan sesekali memberikan kecupan di pipi suaminya. Reynaldi tampak tersenyum, dan melupakan wanita yang berada di rumah. Yang menangis karena perbuatan dirinya.


Nisa dan Khanza baru saja sampai di rumah. Mama Ratih sudah berada di rumah, dan tersenyum mengejek saat melihat menantu yang tak diinginkannya memasuki rumah.

__ADS_1


"Aku ingin lihat, apa yang terjadi nanti! Aku yakin pasti Reynaldi akan membuang kamu dari hidupnya," ucap Mama Ratih dalam hati.


Nisa tak peduli dengan apa yang dilakukan mertuanya itu kepadanya. Mulai detik ini dia harus mengurus hidupnya. Mempersiapkan semuanya, saat dirinya benar-benar harus meninggalkan rumah yang selama ini seperti neraka untuknya.


Nisa tampak memasuk-masukkan barang-barang miliknya yang penting ke dalam tas dan juga koper. Dadanya terasa sesak, dia tak masih tak menyangka kalau pernikahannya akan berakhir seperti ini. Nisa sengaja tak menghubungi Reynaldi, dia sudah tak peduli dengan apa yang dilakukan suaminya itu.


"Ya Allah, aku mohon! Tolong bantu aku, untuk bisa berpisah dengan laki-laki pengkhianat! Aku ingin bahagia," doa yang Nisa panjatkan dalam sujudnya.


Di keheningan malam, dia bersujud dan berdoa. Meminta bantuan kepada yang paling berkuasa. Dia yakin Allah akan mengabulkan doa orang yang yang di dzolimi.


Pukul 03.00 pagi Reynaldi dan Viona baru saja selesai menuntaskan hasratnya. Viona terlihat sudah tak berdaya, bahkan dia merasakan nyeri di perutnya. Rasa sakit ini sebenarnya sering kali dia rasakan setiap kali berhubungan intim, tetapi dia mencoba menahannya. Dia tak ingin Reynaldi kecewa, dan akhirnya meninggalkan dirinya.


"Lakukan saja Mas, apa yang kamu sukai! Aku yakin, suatu saat nanti kamu akan mendapatkan balasan atas apa yang kamu lakukan kepada aku dan Khanza. Di saat kamu menyesali perbuatan kamu, aku sudah tak ada di samping kamu," ucap Nisa.


Nisa menarik napas panjang, mencoba untuk mengikhlaskan jalan hidupnya.


"Kamu pasti kuat Nis! Kamu pasti bisa melewatinya! Ada Allah yang selalu ada bersamamu!"


Nisa melepas mukena yang dia pakai dan melipatnya. Kemudian dia berjalan menghampiri sang anak yang sedang tertidur dengan tenang, dan duduk di tepi ranjang. Dia usap rambut sang anak dengan lembut.

__ADS_1


"Mungkin hal ini bukan yang terbaik untuk kamu, karena jika kamu boleh memilih pasti kamu ingin memiliki orang tua yang utuh. Bunda janji, Bunda akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kamu. Apapun itu, Bunda akan berjuang untuk kebahagiaan kamu. Maafkan Bunda, Bunda tak bisa mempertahankan pernikahan dengan Ayah. Meskipun demikian, Bunda tak akan pernah melarang Ayah untuk dekat dengan kamu," ucap Nisa dalam hati.


__ADS_2