Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pertolongan Fina


__ADS_3

"Nis, kenalkan ini sepupu aku. Abimanyu namanya. Jadi sepupu aku, dokter Bunda? Ya ampun Nis, dunia sempit banget ya. Asli, aku tak menyangka loh. Kalau kalian sudah saling kenal," ujar Fina.


"Iya Fin. Aku juga enggak menyangka, kalau dia itu sepupu kamu. Karena aku memang tak pernah bertemu, kalau dulu main ke rumah orang tua kamu," sahut Nisa.


Abi mencoba untuk mengatur perasaan gugupnya. Hingga akhirnya dia memilih menghampiri keponakannya dan juga Khanza yang sedang asyik menikmati es krim sambil menonton.


"Om belum kenalan sama kamu. Nama kamu siapa?" tanya Abi ramah.


"Nama aku Khanza Om, Bunda aku namanya Annisa. Tetapi biasa di panggil Nisa. Om tinggal disini ya? Kok waktu aku pernah kesini, Om enggak ada," ucap Khanza.


"Wah, nama yang cantik seperti orangnya. Om enggak tinggal disini Sayang. Om tinggal di mes di dekat rumah sakit. Kamu waktu itu kesini hari kerja kali ya? Om 'kan kerja, jadi main kesininya hari libur, seperti sekarang," jelas Abi.


Fina tersenyum melihat kedekatan Abi dengan Khanza. Semakin besar keinginan Fina untuk menjodohkan Nisa dengan Abi. Fina rasa, mereka adalah pasangan yang cocok.


"Nis, yakin kamu enggak mau makan? Hari ini si Mbok masak banyak banget. Aku sengaja masak banyak karena Mas Abi mau kesini. Dia 'kan jarang-jarang kesini," ucap Fina. Namun, Nisa tetap saja menolak.


"Om kok beda banget si sekarang?" tanya Khanza yang kini menatap Abi dengan tatapan yang tak biasa.


"Beda gimana maksud kamu?" tanya Abi untuk memastikan. Dia melihat penampilan dirinya saat ini. Dia merasa tak ada yang berbeda dengannya.

__ADS_1


"Lebih ganteng, keren. Selama ini Om di tutupi pakai jas dokter. Ternyata dibalik itu, om keren banget," sahut Khanza duduk membuat Abi terkekeh. Bisa-bisanya dia di puji anak kecil.


"Maksudnya, selama ini Om enggak keren pakai jas dokter?" tanya Abi lagi sambil memainkan alisnya.


"Bukan gitu, maksud aku Om. Om jangan salah paham. Om keren kok pakai jas dokter. Tapi Khanza baru lihat Om berpakaian bebas seperti sekarang. Otot-otot om terlihat sekali, pasti badan om kotak-kotak kaya roti sobek ya," jelas Khanza polos membuat tawa Abi semakin keras.


Nisa dan Fina tampak bingung melihat Abi terlihat sangat bahagia dan tertawa selepas itu. Padahal mereka mengenalnya, Abi sosok yang cool. Bahkan Fina sepupunya saja merasa bingung.


"Kalian bicara apa si? Sampai heboh banget berdua," ucap Fina. Khanza langsung naik ke pangkuan Abi dan berusaha menutup mulut Abi agar tak memberitahu percakapan dia tadi. Abi tak menyangka bisa seakrab ini dengan Khanza. Bahkan Khanza kini memeluknya, seolah memohon untuk tidak memberitahu apa yang terjadi.


"Enggak kok. Mas senang saja, bisa berbincang dengan anak pintar seperti ini. Kamu kelas berapa si Khanza?" tanya Abi.


"Kelas 1, Om," sahut Khanza ragu-ragu.


Nisa meminta Khanza untuk turun dari pangkuan Abi. Mereka terlihat sangat akrab. Khanza seperti menemukan sosok seorang ayah kembali, bahkan lebih asyik dari ayah kandungnya sendiri. Sedangkan Nisa melanjutkan perbincangannya dengan Fina.


"Jujur, sebenarnya aku itu ingin sekali kamu bisa mengelola butik aku. Biar aku tenang kalau ikut suami ke Inggris. Tapi, kamu jangan khawatir. Kamu juga bisa sekalian buka usaha konveksi, tapi nanti kamu cari pekerja saja. Jangan kamu yang turun langsung. Aku akan bantu kamu, dalam pengembangannya. Biar produk kamu bisa go international. Aku yakin, kalau kamu pasti bisa jadi orang yang sukses," ucap Fina.


"Tapi, aku enggak mungkin meninggalkan Bunda. Bunda harus ada yang jaga, dia sudah tak bisa capek-capek," sahut Nisa.

__ADS_1


"Coba kamu bicarakan sama Bunda kamu. Bagaimana kalau kalian pindah saja ke kota. Rumah di kampung, di jual saja. Jadi kamu bisa berkembang Nis. Ingat! Untuk meraih kesuksesan, harus ada yang dikorbankan. Biar kamu juga tenang. Nanti aku coba carikan rumah yang luas. Sebelahnya untuk usaha konveksi kamu, dan sebelahnya untuk tempat tinggal kalian. Aku yakin, pasti Bunda kamu akan mendukung kamu. Coba kamu pikirkan! Semua ini demi masa depan kalian. Aku ingin kamu menjadi orang yang sukses Nis," ucap Fina.


"Makasih banyak ya Fin, kamu sudah baik banget sama aku. Aku tak tahu, harus bagaimana membalas semua kebaikan kamu kepada aku. Aku coba bicarakan dulu sama Bunda. Aku punya usaha saja, sudah senang. Apalagi kalau sampai go international, aku pasti bangga banget," ungkap Nisa.


"Aku senang bisa menolong kamu Nis. Kamu buktikan, kepada mantan suami kamu kalau kamu bisa sukses tanpa dia," ujar Fina dan Nisa menganggukkan kepalanya.


Dengan berat hati, Nisa akhirnya meminjam uang kepada Fina. Tentu saja Fina pasti langsung mengiyakan. Terlebih Nisa mengatakan kalau dirinya saat ini tak hanya memegang uang seratus ribu.


"Berapa yang ingin kamu pinjam? Katakan saja! Nanti, coba kamu bicarakan sama Bunda kamu. Agar kamu segera punya usaha. Kasihan Khanza, ayahnya tak tanggung jawab," ucap Fina.


Nisa meminjam uang sebesar 5 juta kepada Fina, dan Fina memberikan uang satu juta untuk Khanza. Dia langsung meminta nomor rekening Nisa. Hal itu membuat Nisa meneteskan air matanya. Dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Nisa.


"Makasih ya Fin. Kalau kamu enggak menolong aku, aku tak tahu akan seperti apa," ucap Nisa diiringi isak tangis. Abi pun melihat ke arah Nisa dengan Fina. Ada perasaan iba kepada Nisa.


"Khanza memangnya Ayahnya kemana?" tanya Abi.


"Khanza sudah tak memiliki Ayah, Om. Ayah sudah tak peduli dengan kami, dia lebih memilih hidup bersama selingkuhannya. Doakan aku ya Om, semoga aku bisa menjadi orang yang sukses. Agar aku bisa membahagiakan Bunda," ujar Khanza. Abi merasa kagum dengan sosok Khanza, yang memiliki pemikiran yang dewasa.


Setelah selesai mengobrol dengan Fina. Akhirnya Fina dan juga Nisa menghampiri Abi dan Khanza. Abi merasakan getaran di hatinya. Mungkinkah dia benar-benar telah jatuh cinta kepada Nisa. Namun, Abi masih merasa ragu untuk mengungkapkannya. Terlebih mereka tak saling mengenal, dan rasanya masih terlalu sebentar mereka bertemu.

__ADS_1


"Dok, bagaimana kondisi Bunda aku? Apa ada perubahan?" tanya Nisa.


"Gimana ya Nis. Jujur, saya berat mengatakan ini kepada kamu. Namun, aku harus mengatakannya. Penderita gagal ginjal yang sampai harus melakukan cuci darah itu, artinya sudah kronis. Harapan untuk sembuh sangatlah kecil, cuci darah itu hanya untuk memperpanjang umurnya saja. Tetapi tak mampu menyembuhkan penyakit yang di deritanya. Saya salut dengan Bunda kamu Nis. Dia kuat bertahan dengan penyakit yang dia derita saat ini," jelas Dokter Abimanyu.


__ADS_2