
Baru dua hari terpisah saja, Abi sudah tak sabar ingin pulang bertemu sang istri. Padahal baru tadi malam dia melakukan panggilan video dengan sang istri, pagi ini Abi sudah melakukan panggilan video lagi dengan Nisa. Sama halnya dengan Abi, Nisa pun merasa tak bisa jauh dari sang suami.
Semalam saja, dia tak bisa tidur karena merindukan sang suami. Rasanya begitu hampa, tanpa hadirnya sang suami di sisinya. Padahal semalam dia tidur di temani sang anak.
Abi terlihat sudah bersiap-siap untuk sarapan pagi. Setelah itu, dia akan mencari sekolah untuk Khanza. Abi terlihat sedang menikmati sarapan pagi di hotel.
"I Miss You .... Aku berangkat cari sekolah Khanza dulu ya. Aku naik pesawat jam 11.00 WIB, tunggu aku ya," tulis Abi di pesan chat. Padahal tadi dia sempat melakukan panggilan video dengan sang istri.
Abi sedang berputar-putar mencari sekolah yang bagus untuk Khanza. Abi memilih memasukkan Khanza ke sekolah islam swasta. Tentu saja bukan nominal yang sedikit yang akan Abi keluarkan. Abi tak mempermasalahkan biaya yang akan dia keluarkan, untuk sekolah anak tirinya itu.
Setelah urusan sekolah selesai, Abi langsung memutuskan untuk pulang ke Yogyakarta. Di kini sudah sampai di bandara.
"Assalamu'alaikum. Mas, sudah di bandara. Menunggu jadwal keberangkatan. I miss you," tulis Abi.
Saat itu Nisa sedang ada meeting di usahanya yang berada di rumah. Sama halnya seperti kemarin saat di pabrik, di sini pun Nisa sudah memesan nasi kotak untuk makan bersama.
Semua karyawannya merasa sedih, kalau sebentar lagi akan berpisah dengan bosnya itu. Namun, hidup adalah pilihan. Dia tetap harus memperhatikan keluarganya. Dia tak mungkin terlalu lama berpisah dengan sang suami.
Abi sudah dalam penerbangan menuju Yogyakarta, dan kini pesawat yang di tumpangi Abi sudah mendarat di bandara Yogyakarta. Abi bergegas untuk segera pulang, dengan menggunakan taksi online.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, kini Abi sudah sampai di rumah. Namun sayangnya, sang istri sedang sibuk meeting. Dia harus menunggu sampai sang istri selesai meeting.
"Bapak mau saya buatkan teh manis atau mau makan?" Tanya sang ART.
"Tidak usah Bi, saya ingin istirahat saja dulu sambil menunggu ibu selesai meeting. Lagipula saya belum lapar, saya ingin makan di temani ibu," sahut Abi.
Abi memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia sangat rindu wangi tubuh istrinya itu. Perlahan mata Abi justru meredup, hingga akhirnya dia tertidur pulas.
__ADS_1
Meeting sudah selesai. Hanya tinggal makan bersama. Sebelum makan, dia membuka ponselnya terlebih dahulu. Untuk melihat apa ada yang menghubungi dirinya. Karena sengaja tadi dia silent, agar tak mengganggu dirinya meeting.
"Mas Abi sudah menuju pulang. Loh, tapi ini sudah hampir dua jam lebih. Apa jangan-jangan sekarang sudah sampai?" Nisa bermonolog.
Nisa pamit untuk sholat dulu. Dia memilih makan di rumah. Nisa keluar sambil menenteng kantong plastik berisi 3 kotak nasi untuk dia, Khanza, dan juga sang ART.
Nisa memasuki rumah dan melihat koper suami suaminya yang masih berada di depan kamarnya. Sang ART saat ini sedang menjemput Khanza pulang dari les. Setelah pulang sekolah, Khanza hanya makan dan berganti pakaian saja, setelah itu dia langsung berangkat untuk les.
Nisa membuka pintu kamarnya, dan melihat sang suami yang sedang tidur terlelap. Dia berjalan menghampiri sang suami, dan duduk di tepi ranjang.
"Mas, Mas sudah pulang?" Nisa mengelus wajah suaminya dengan lembut.
Perlahan Abi pun membuka matanya, dan melihat wajah cantik istrinya yang sedang menatap ke arahnya.
"Yang, Mas kangen," ucap Abi yang langsung bangkit dan memeluk tubuh sang istri erat. Nisa tersenyum, kala melihat suaminya yang manja seperti saat ini. Semenjak dirinya hamil, justru Abi 'lah yang terlihat lebih manja.
"Iya, mau. Tapi di suapin ya?" sahut Abi sambil memainkan alisnya, dan Nisa menganggukkan kepalanya. Bukannya membahagiakan hati seorang suami, sebuah ibadah?
Kini Nisa sudah berada di meja makan bersama sang suami. Nisa tampak mesra menyuapi sang suami. Mereka makan berdua.
"Makasih ya, kamu sudah mencintai Mas," ucap Abi dan Nisa membalas dengan senyuman. Nisa terlihat malu-malu.
Kemesraan mereka harus terhenti, karena sang ART dan Khanza baru saja sampai di rumah. Khanza langsung mencium tangan sang papa dan juga sang bunda.
"Ayo Ka, sini makan bareng," ajak sang papa.
Khanza langsung mencuci tangannya, dan makan lagi bersama kedua orang tuanya. Mereka terlihat harmonis, saling menyayangi. Tak pernah ada pertengkaran.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka melanjutkan sholat berjamaah.
"Yang, meetingnya sudah selesai belum?" Tanya Abi kepada sang istri.
"Sudah. Kenapa, Mas?" Tanya balik sang istri.
Abi meminta sang istri menemani dirinya tidur, sambil mengobrol. Dia masih ingin bermanja-manja dengan sang istri. Karena besok dia harus bekerja kembali.
Kini keduanya sudah di kamar. Untungnya Khanza mengerti, kalau sang bunda membutuhkan waktu untuk berduaan dengan Papa Abi. Khanza ikut senang melihat sang bunda terlihat bahagia.
Setelah pertimbangan matang, Nisa dan Abi akhirnya sepakat untuk menyewa apartemen selama 1 tahun. Untuk bekerja sehari-hari Abi memilih untuk bekerja dengan menggunakan motor sport yang, terlebih jalanan ibu kota sangat padat, meskipun letaknya tak jauh.
Minggu depan Nisa sudah mulai mengurus kepindahan sekolah Khanza. Nisa juga ingin bertemu Fina dulu, sebelum dia berangkat ke Jakarta. Rencananya minggu depan Fina kembali ke Yogyakarta.
Berbeda halnya dengan Nisa yang selalu mesra dengan Abi. Viona justru sedang menangis seorang diri, rasanya dia sudah tak sanggup menahan perasaan ini.
"Mengapa cinta begitu menyakitkan. Hiks ... hiks ... hiks. Mengapa selalu seperti ini? Apa aku tak pantas untuk hidup bahagia?" Air mata Viona terus mengalir. Dadanya terasa sesak.
Viona memegangi perutnya yang terasa sakit. Rasa sakitnya semakin menjadi. Keringat bercucuran membasahi wajahnya.
"Ya Allah, sebenarnya aku sakit apa? Mengapa hidupku menderita banget," ucap Viona.
Viona teringat kalau dia dulu memiliki penyakit kista, tetapi penyakit itu sudah sempat di operasi. Semenjak itu dia tak pernah lagi merasa sakit. Namun, beberapa bulan belakangan ini dia sering merasakan sakit lagi.
"Sepertinya aku harus periksa ke dokter lagi. Jangan-jangan kista aku kambuh lagi," Viona bermonolog.
Penyakit kali ini memang sangat berbeda, tetapi tetap bermasalah di perutnya. Dulu, dia hanya merasakan saat datang bulan. Kalau sekarang, rasa sakit sering muncul saat berhubungan intim, dan kambuh secara dadakan seperti sekarang. Berat tubuhnya pun menyusut, tubuhnya sering kali merasa sakit, sering merasa mual, tak nap*su makan, dan waktu itu pernah mengeluarkan darah saat berhubungan dengan Reynaldi.
__ADS_1