Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Bersama Khanza


__ADS_3

Hari ini Rey akan pergi bersama sang anak. Dia ingin mengajak jalan-jalan sang anak. Rey terlihat sudah rapi, dan hendak berangkat. Dia langsung pamit kepada sang mama, untuk berangkat menjemput dan main bersama sang anak.


"Iya, Rey. Hati-hati ya di jalan! Titip salam ke Khanza ya! Semoga kamu selalu bahagia dengannya," ucap Mama Ratih saat sang anak mencium tangannya, pamit untuk berangkat.


"Iya, nanti Rey akan sampaikan ke Khanza! Rey berangkat dulu ya!" sahut Rey dan Mama Ratih tampak menganggukkan kepalanya.


Rey langsung pergi melajukan motornya menuju rumah mantan istrinya. Traffic saat itu cukup ramai. Namun, tak menyurutkan niatnya untuk menemui sang anak. Dia sudah sangat merindukan sang anak. Khanza dan sang mama yang membuat dia selalu membuat dia kuat menjalani kehidupan, yang rasanya begitu berat.


Setelah menempuh selama kurang lebih 1,5 jam. Akhirnya Rey sampai di rumah Nisa. Rey memarkirkan motornya, di depan rumah sang mantan istri, kemudian turun dan mengucap salam. Dia juga menekan bel rumah.


"Bi, coba bibi lihat! Sepertinya, ada tamu di luar! Pak Reynaldi mungkin, ayahnya Khanza," ucap Nisa kepada sang ART.


Nisa berteriak memanggil Khanza dari lantai bawah, karena Khanza saat ini masih di kamarnya yang berada di lantai 2. Mendengar sang bunda memanggil dirinya, Khanza segera menghampiri sang bunda. Dia langsung mengambil tas dan ponselnya, kemudian menuruni anak tangga menghampiri sang bunda.


"Kayanya yang datang ayah, coba kamu lihat sana!" Ujar Nisa kepada sang anak.


Khanza langsung bergegas keluar menghampiri keluar. Ternyata, benar sang ayah yang datang menjemput dia. Khanza terlihat senang, dia langsung menghampiri sang ayah dan mencium tangan sang ayah.


"Benar Kak, ayah yang datang?" teriak Nisa dari dalam.


"Iya bun, ayah," sahut Khanza.

__ADS_1


Khanza berjalan memasuki rumah, dan pamit untuk pergi bersama sang ayah. Khanza mencium tangan sang bunda terlebih dahulu, sebelum dia pergi meninggalkan rumah. Nisa mengantarkan sang anak sampai teras depan rumahnya.


"Nis, aku ajak Khanza pergi dulu ya! Nanti langsung aku antarkan lagi," ujar Rey dan Nisa mengiyakan.


Abi saat itu sedang bermain dengan si kembar di kamar. Membantu sang istri mengasuh buah hatinya, karena sang istri sedang sibuk memasak di dapur. Sejak dulu, Nisa memang hobi memasak untuk suaminya. Baik saat bersama Rey maupun sekarang.


Rey memakaikan helm ke kepala Khanza, setelah itu Khanza langsung naik ke atas motor sang ayah.


"Pegangan Ayah, Kak!" ucap Reynaldi kepada sang anak.


Kini mereka sedang dalam perjalanan. Rey ingin mengajak Khanza menonton bioskop, sesuai permintaan sang anak. Rey melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan mereka tampak asyik mengobrol. Meskipun Papa Abi begitu menyayangi dirinya, Khanza tetap menganggap ayahnya yaitu ayah Rey.


"Kakak sudah lapar belum? Kalau lapar, kita makan dulu!" Ujar Ayah Rey kepada sang anak.


"Nanti saja, Yah! Aku belum lapar. Setelah nonton saja! Kita langsung ke bioskop saja!" Sahut Khanza.


Rey menuruti saja permintaan sang anak. Kini mereka langsung menuju bioskop. Rey langsung memesan dua buah tiket bioskop, untuk dia dan sang anak. Mereka akan menonton film, sesuai yang Khanza inginkan. Setelah selesai membelinya, Rey dan juga Khanza langsung mencari tempat duduk untuk mengobrol sambil menunggu pintu teater yang mereka tuju di buka. Kini keduanya sudah duduk di kursi yang berada di depan pintu teater.


"Kakak gimana sekolahnya? Lancar?" Tanya Rey kepada sang anak.


"Alhamdulillah, lancar Yah," sahut Khanza.

__ADS_1


Rey mulai menceritakan apa yang terjadi dengannya. Khanza merasa kasihan dengan sang ayah, selalu saja ada masalah yang harus di hadapi oleh sang ayah.


"Ya sudahlah, Yah! Mungkin Tante Melani bukan wanita yang baik untuk ayah. Ikhlaskan saja, Yah! Semoga kelak, ayah bisa mendapatkan wanita yang lebih baik untuk ayah! Nanti, kalau sudah menemukannya, jangan di sakiti lagi seperti ke bunda dulu!" ucap Khanza mengingatkan sang ayah.


"Iya, enggak akan! Ayah tak ingin menyakiti wanita lagi. Ayah takut, kalau nanti kamu akan di sakiti juga sama laki-laki. Ayah berdoa, semoga Ayah saja yang menanggung semua kesalahan yang Ayah perbuat dulu. Bukan kamu yang menjadi korban," ucap Reynaldi.


Kini sudah saatnya mereka menonton. Obrolan mereka harus terhenti. Rey dan Khanza langsung masuk ke dalam studio. Mereka langsung mencari tempat duduk mereka. Sebelum mereka masuk ke dalam studio, Rey membeli satu buah popcorn, dan 2 gelas minuman untuk dia dan juga sang anak.


Rey merasa bahagia, karena dia bisa mewujudkan keinginan sang anak yang ingin menonton bioskop. Meskipun hanya sederhana yang dia lakukan, karena Khanza telah mendapatkan semuanya dari Abi dan juga Nisa sang mantan istri. Rey sebenarnya merasa malu, sebagai seorang ayah. Tugas yang menyekolahkan Khanza, adalah tugas dia sebagai seorang ayah. Tapi sekarang, justru Nisa dan Abi yang membiayai sang anak. Dia merasa tak berguna, sebagai seorang ayah.


Mereka terlihat kompak. Rey begitu menyayangi Khanza. Demi rasa sayangnya, dia rela menemani Khanza menonton. Kini mereka sudah selesai menonton. Rey langsung mengajak sang anak untum makan.


"Kakak mau makan apa? Kita makan dulu ya!" Ujar Rey kepada sang anak.


Mereka memutuskan untuk makan di restoran Jepang. Awalnya Khanza menolak, untuk makan di Malla. Dia khawatir sang ayah tak memiliki uang. Namun Rey, justru menyakinkan sang anak. Kalau dia bisa mewujudkan keinginan sang anak. Kini mereka sudah berada di restoran yang mereka tuju. Kini mereka sedang menikmati makanan yang mereka pesan, sambil mengobrol.


"Maafin Ayah ya, Kak! Ayah belum bisa menjadi Ayah yang baik dan bertanggung jawab kepada kamu! Semoga saja, Ayah bisa segera mendapatkan pekerjaan kembali, agar Ayah bisa menafkahi kamu, dan juga nenek! Sebagai seorang Ayah, Ayah merasa malu. Seharusnya, yang membiayai kamu itu, adalah ayah bukan bunda!" ungkap Rey.


Setelah dia bercerai dengan Nisa, kehidupan Rey langsung hancur. Namun dia, tak pernah berputus asa. Rey selalu bersemangat. Setelah selesai makan, Rey langsung mengajak Khanza mengobrol. Mereka mencari tempat duduk untuk bersantai. Banyak hal yang mereka bicarakan saat itu.


Setelah berbincang selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Meskipun hanya seperti itu saja, baik Khanza maupun Rey sudah merasa senang. Mereka bisa bersama, walaupun hanya dalam waktu yang singkat. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju pulang. Meskipun mereka sangat dekat, Rey tak pernah terpikir merebut gak asuh Khanza dari sang istri. Dia yakin, kalau Khanza jauh lebih baik hidup bersama sang mantan istri. Dari pada bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2