Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Rasa kecewa Khanza


__ADS_3

Balik lagi ke mukjizat, mungkin saja Viona akan sehat kembali. Viona kembali kritis lagi, tim medis berlari menghampiri Viona untuk memberikan pertolongan.


"Ay, aku datang. Kamu harus kuat ya! Kamu pasti bisa sembuh! Semangat!" Reynaldi berdiri di dekat Viona dan membisikkan kata-kata semangat kepada istrinya itu.


Cinta Viona kepada Reynaldi begitu besar. Benar saja, mendengar suara suaminya, perlahan dia membuka matanya.


"Ay ...," ucap Viona lemas. Wajah Viona benar-benar pucat, dan tangannya begitu dingin. Saat Reynaldi menggenggam tangan istrinya. Reynaldi terlihat sedih melihat kondisi istrinya saat ini.


"Iya. Semangat ya! Kamu pasti bisa melewatinya! Kamu pasti sehat kembali," ucap Viona yang memberi semangat istrinya.


Viona tampak tersenyum. Dia tahu, ucapan suaminya itu hanya untuk menyenangkan hatinya saat ini.


"Penyakit aku sudah parah, sulit untuk sembuh. Tak lama lagi aku akan meninggalkan kamu selamanya. Ay, apa kamu bisa temui aku sama Nisa? Aku ingin meminta maaf kepadanya. Aku sudah menyadari, kalau aku banyak dosa kepadanya," ungkap Viona.

__ADS_1


Reynaldi sampai meneteskan air matanya. Dia begitu terharu mendengarnya. Reynaldi bersyukur, karena Viona akhirnya menyadari kesalahannya di sisa hidupnya.


"Iya, Ay. Aku akan berusaha mewujudkan keinginan kamu, untuk bertemu Nisa. Sabar dulu ya! Aku harus hubungi Khanza dulu. Semoga saja Khanza mau menerima panggilan telepon dari aku, jadi aku bisa bicara dengan bundanya," ujar Reynaldi dan Viona menganggukkan kepalanya.


Viona terlihat sudah pasrah. Dia sudah pasrah, jika Allah akhirnya mencabut nyawanya. Satu hal yang masih mengganjal di hidupnya, yaitu dosanya kepada Nisa. Betapa jahatnya dia dulu, yang tega merebut Reynaldi darinya. Menyakiti hati sesama wanita.


Reynaldi pamit kepada Viona, untuk menghubungi Nisa. Reynaldi takut, kalau waktunya Viona tak lama lagi. Reynaldi langsung keluar dari ruangannya.


"Viona sudah sadar, dan dia sudah pasrah dengan penyakitnya. Dia meminta kepada aku, untuk mempertemukan dia dengan Nisa mantan istri aku. Viona berniat untuk meminta maaf atas kesalahan yang dia perbuat dulu kepada Nisa, karena dia ingin pergi dengan tenang," ungkap Reynaldi membuat sang mama merasa sedih. Dia tak menyangka, kalau akhirnya sang anak akan pergi meninggalkan dirinya.


Reynaldi pamit ingin menghubungi Khanza dan mencoba bicara kepada Nisa. Sang mama bergantian masuk ke dalam, menghampiri sang anak.


Di tempat berbeda, Reynaldi sedang mencoba menghubungi Khanza. Dia berharap Khanza dan Nisa mau menerima panggilan darinya.

__ADS_1


"Ayo dong Kak, angkat teleponnya ayah mohon!" Reynaldi tak putus asa, dia masih terus berusaha menghubungi nomor anaknya. Masih berharap, kalau sang anak mau menerima panggilan telepon darinya.


Ternyata Khanza masih tak mau menerima panggilan telepon dari sang ayah. Dia lebih memilih mengabaikannya.


"Kak, siapa yang telepon itu. Bunda dengar dari tadi bunyi terus. Takutnya ada yang penting, diangkat dulu," ujar sang bunda mengingatkan.


"Biarin saja bun, aku malas! Aku enggak peduli, tak penting," sahut Khanza ketus.


"Jangan seperti itu! Bagaimanapun, Ayah Reynaldi adalah ayah kamu. Nanti, saat kamu nikah. Kamu akan membutuhkan dia," Nisa mencoba memberi pengertian kepada sang anak.


"Bunda tenang saja! Nanti aku nikahnya, nunggu dia mati saja. Semoga saja lekas mati, jadi aku tak butuh dia," sahut Khanza ketus. Rasa kecewanya kepada sang ayah begitu besar. Sampai-sampai dia berani bicara seperti itu.


__ADS_1


__ADS_2