
"Viona?" Gumam Rey dalam hati.
Untungnya saat itu jam kerja Reynaldi sudah selesai, dia bisa mengangkat panggilan telepon dari istrinya.
"Ya, halo Ay. Kenapa?" sahut Reynaldi. Menjawab panggilan telepon dari sang istri.
"Kamu di mana? Kamu sudah pulang belum?" Tanya Viona.
"Masih di rumah sakit, ini aku lagi siap-siap mau pulang. Baru selesai kerja. Memangnya ada apa?" sahut Reynaldi.
"Aku ingin pulang ke rumah kamu lagi. Aku ingin kumpul bersama kamu. Kamu jemput aku ya di rumah. Aku tunggu kamu," jelas Viona.
"Kamu yakin mau pulang? Nanti kamu stres enggak di rumah aku? Memang sih, di rumah sekarang sudah ada ART yang bantu. Tetapi gitu deh, kamu harus sabar sama mama. Belum lagi keuangan aku di rumah juga 'kan lagi repot banget. Makanya, kita harus berhemat dulu. Kalau di rumah Mama kamu 'kan kamu bisa makan enak, bisa istirahat enggak ada yang ganggu," jelas Reynaldi mencoba memberi pengertian kepada sang istri.
"Iya aku tahu. Sebelumnya, aku sudah pikir baik-baik. Keputusan aku, aku tetap ingin pulang ke rumah kamu lagi. Aku kangen sama kamu. Aku ingin deket sama kamu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu," sahut Viona.
Akhirnya, mau tak mau Reynaldi memenuhi permintaan Viona. Terlebih saat ini, Viona masih berstatus istrinya. Reynaldi berjanji akan menjemput Viona di rumahnya.
Saat ini Rey baru akan pulang dari rumah sakit. Viona merasa senang, karena keinginannya bisa tercapai. Dia bisa berkumpul kembali dengan suaminya. Mulai saat ini, dia tak akan mengambil pusing, dan memikirkan ucapan Ibu mertuanya. Yang terpenting baginya, dia bisa bersama suaminya kembali.
Reynaldi baru saja sampai di rumah Viona. Sesampainya di rumah Viona, Reynaldi langsung disambut hangat oleh Viona. Dia terlihat begitu bahagia, rasa cintanya kepada Reynaldi begitu besar.
"Ma, Viona pulang dulu ya ke rumah Rey. Besok-besok Viona kesini lagi, main ke rumah Mama," pamit Viona, dia langsung mencium tangan sang mama.
"Ya udah, Mama sih terserah kamu saja Na. Semoga kamu baik-baik saja di sana. Ingat, kamu jangan stres dan kecapean! Rey, mama titip Viona sama kamu! Tolong jangan buat dia stres, dan kecapean. Kamu 'kan sudah tahu akibatnya, kalau dia seperti itu," ucap ibunya Viona.
"Iya,ma. Rey janji. Rey sama Viona pamit ya! Assalamualaikum," sahut Rey. Rey langsung mencium tangan Ibu mertuanya.
__ADS_1
Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Namun, sebelum pulang. Mereka mampir dulu ke tukang baso. Rey menuruti permintaan Viona. Rey ingin menyenangkan hati istrinya. Dia merasa kasihan, melihat kondisi Viona saat ini. Viona tampak bingung melihat sang suami yang melamun, tak mendengar dia bicara.
"Mengapa aku merasa, kalau wanita yang kulihat waktu itu adalah Nisa? Tetapi, untuk apa dia ada di Jakarta? Apa sekarang Nisa memang tinggal di Jakarta? Aku juga jadi penasaran sama dokter Abimanyu, apa dia laki-laki yang waktu itu bersama wanita yang mirip dengan Nisa? Sebenarnya, aku ingin tanya ke dia. Tetapi aku takut, kalau dia tersinggung. Ya sudahlah, biar waktu yang menjawab semuanya. Lebih baik aku simpan rasa penasaran ini," Rey bermonolog dalam hati.
Lamunan Reynaldi terhenti, saat Viona memegang tangannya.
"Kamu lagi mikirin apa si? Aku panggil-panggil enggak dengar," protes Viona.
"Ah, enggak. Aku lagi enggak mikir apa-apa kok," sahut Reynaldi.
Reynaldi mencoba mengalihkan pembicaraan. Mencoba mengajak mengobrol sang istri, berpura-pura perhatian.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Kini mereka baru saja sampai di rumah. Reynaldi langsung memarkirkan motornya di halaman parkir, mereka masuk bersama ke dalam rumah.
"Rey, kamu sudah pulang?" panggil Mama Ratih dari dalam kamar.
Melihat sang anak datang bersama Viona, Mama Ratih langsung menunjukkan rasa tak suka.
"Rey, mengapa kau bawa wanita penyakitan itu ke rumah ini lagi? Bikin susah saja," sindir Mama Ratih. Membuat Viona mengepalkan tangannya.
"Sudahlah Ma! Bagaimanapun Viona itu statusnya masih menjadi istri aku. Mengapa sekarang Mama begitu membencinya? Padahal dulu, mama 'lah yang menyuruh aku untuk kembali bersamanya," sahut Reynaldi.
"Itu dulu! Sekarang beda. Makanya, Mama sangat menyesal. Kalau tahu seperti ini, lebih baik kamu bersama Nisa saja. Dia bisa memberikan kamu anak, dan bisa membuat hidup kamu bahagia. Daripada hidup sama dia, kamu harus hidup susah," sindir Mama Ratih. Membuat Viona merasa panas, karena Mama Ratih memuji Nisa.
Viona memutuskan untuk meninggalkan sang ibu mertua pergi ke kamarnya.
"Sudahlah Ma, Rey tak ingin Mama bertengkar lagi sama Viona! Rey pusing melihatnya," ujar Reynaldi.
__ADS_1
Sama halnya dengan Viona, Rey pun meninggalkan sang mama. Rey berniat mengenalkan Viona kepada sang ART.
"Mba, ini istri saya! Jika dia butuh apa-apa tolong layani dengan baik ya," ucap Reynaldi kepada sang ART.
"Baik, Pak," sahut sang ART.
Reynaldi memutuskan untuk mandi, sedangkan Viona memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Setelah selesai mandi, barulah Rey masuk ke kamar menyusul sang istri.
"Ay, apa nanti kalau aku meninggal kamu akan kembali lagi sama mantan istri kamu?" Tanya Viona.
"Sudah, tak usah bahas seperti itu! Lebih baik pikirkan kesehatan kamu! Biar kamu bisa umur panjang, tak usah mikir macam-macam. Lagipula, aku yakin Nisa tak akan mau sama aku lagi. Dia sudah mendapatkan yang lebih baik," sahut Reynaldi.
Reynaldi tak mau memperpanjang percakapan dengan sang istri. Dia memilih keluar dari kamar. Reynaldi berniat mencari informasi tentang istrinya di aplikasi google.
Reynaldi mencari data pribadi penerima penghargaan pengusaha wanita terbaik. Dia ingin tahu data suami Nisa. Apakah benar suaminya Nisa adalah Dokter Abimanyu.
Reynaldi tampak serius mengecek satu persatu artikel tentang Nisa. Namun tak mendapatkan informasi tentang suami Nisa.
"Huhft, ternyata dia menutup rapat informasi tentang data pribadinya," ucap Reynaldi.
Rasa penasaran Reynaldi semakin besar. Reynaldi berniat menghubungi sang anak, dia ingin menghubungi Khanza. Reynaldi mulai mencari nama sang anak di kontaknya.
"Assalamualaikum. Khanza apa kabar? Maaf, Ayah baru menghubungi kamu. Kondisi Ayah saat ini benar-benar sedang terpuruk. Ayah malu sama kamu. Ayah menyesal," tulis Reynaldi di pesan chat kepada sang anak.
Pesan terkirim, Reynaldi menunggu balasan pesan dari sang anak. 1 jam telah berlalu, tetapi sang anak tak juga membalas pesan darinya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan kembali.
"Kamu marah ya sama Ayah? Kok chat Ayah enggak di balas?" Tulis Reynaldi lagi. Reynaldi berharap sang anak merespon pesan chat darinya.
__ADS_1