
Sang ART terkejut saat melihat Mama Ratih yang tak sadarkan diri, awalnya dia berniat membangunkan Mama Ratih dari tidurnya untuk menyuapi Mama Ratih makan siang.
"Ibu, Ibu kenapa? Bangun, Bu!" Sang ART berusaha membangunkan Mama Ratih.
Sang ART terlihat panik. Dia mencoba menghubungi Reynaldi, tetapi tak di angkat teleponnya. Dirinya baru tersadar, kalau saat ini belum jam Reynaldi pulang. Reynaldi tak akan bisa tahu, kalau mamanya sakit. Karena dia belum bisa menerima panggilan telepon.
"Harus gimana ya ini? Pak Reynaldi belum pegang handphone, gimana aku bisa memberitahu dia, kalau mamanya pingsan," ucap sang ART.
Dulu Viona pingsan, sehingga Sang ART harus membawa Viona ke rumah sakit. Sekarang, Mama Ratih yang jatuh pingsan. Akhirnya Sang ART, mencoba mencari pertolongan keluar. Sang ART berteriak minta tolong.
"Kenapa Teh?" Tanya Sang tetangga.
"Ini, Ibunya majikan saya pingsan. Saya bingung mau bawa dia ke rumah sakit gimana? Anaknya lagi kerja belum bisa dihubungi. Kalau lagi kerja, soalnya dia enggak bisa pegang handphone. Waktu itu bilang sama saya," ungkap Sang ART.
Untungnya, ada saja yang berbaik hati. Sang ART langsung dipesankan taksi online ke rumah sakit terdekat. Bahkan dia juga yang membayar taksi online itu.
__ADS_1
"Lebih baik sekarang teteh siapkan barang-barang yang akan dibawa! Biar pas mobilnya datang, teteh sudah siap! Barang-barangnya juga sudah siap!" Ujar sang tetangga.
Sang ART langsung menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit. Setelah taksi online datang, dua orang tetangga laki-laki membopong Mama Ratih hingga masuk ke dalam mobil. Kini sang ART dan Mama Ratih sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Reynaldi bekerja. Ini kedua kalinya sang ART membawa ke rumah sakit tanpa Reynaldi.
Setelah sampai di rumah sakit Mama Ratih langsung mendapatkan tindakan dari tim medis. Dokter mulai memeriksa kondisi Mama Ratih saat ini. Tekanan Mama Ratih saat ini sangat rendah. Sang ART juga memberitahu tentang luka di tubuh Mama Ratih. Dokter menyarankan melakukan tes hemoglobin A1c (HbA1c), dengan tujuan untuk mengukur jumlah gula darah (glukosa) yang melekat pada hemoglobin. Dokter memprediksi, kalau saat ini Mama Ratih mengidap penyakit diabetes melitus.
"Assalamualaikum. Pak, Ibunya masuk rumah sakit di tempat bapak bekerja. Ibu Ratih jatuh pingsan, tak sadarkan diri. Sekarang lagi di tangani dokter. Tadi habis melakukan tes darah. Kalau bapak sudah baca pesan ini. Tolong segera ke sini ya Pak!" Tulis sang ART.
Penderita penyakit diabetes mudah drop, jika mengalami stres yang cukup tinggi. Mungkin hal ini terjadi, karena Mama Ratih merasa tak menerima keadaannya saat ini. Meskipun mulut berbicara iya, dan menerima. Hati dan pikiran tak bisa dibohongi. Dia masih terus kepikiran.
Alangkah terkejutnya Reynaldi saat dirinya baru selesai bekerja, dan melihat ponselnya. Dia melihat ada pesan chat dan juga telepon dari sang ART, yang memberitahu kalau saat ini sang Mama dilarikan ke rumah sakit karena jatuh pingsan. Tanpa pikir panjang lagi, Reynaldy langsung menghubungi sang ART untuk menanyakan keberadaan mereka saat ini.
Setelah dia sudah mengetahui keberadaan Mama Ratih, Reynaldi langsung bergegas menghampiri sang Mama di IGD. Dia mencari satu persatu, hingga akhirnya dia melihat sang ART yang sedang duduk di dekat sang Mama.
"Bi, apa yang terjadi dengan Mama saya?" Tanya Reynaldi kepada sang ART. Saat itu Reynaldi baru saja sampai di tempat sang Mama.
__ADS_1
Sang ART langsung menjelaskan kembali apa yang terjadi dengan Mama Ratih. Melihat Reynaldi datang, sang perawat langsung meminta Reynaldi untuk mengurus administrasi pemindahan Mama Ratih ke ruang perawatan.
Setelah itu, Mama Ratih di pindahkan ke ruang perawatan. Dia masih di tahap observasi, sang dokter akan selalu memantaunya. Perlahan Mama Ratih membuka matanya. Wajahnya terlihat pucat, dan tubuhnya terasa lemas tak berdaya.
"Ma, Mama sudah sadar? Sebenarnya, apa yang terjadi sama mama?" Tanya Reynaldi kepada sang mama.
Mama Ratih mulai menceritakan apa yang terjadi padanya, kepada sang anak. Saat itu, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, matanya kunang-kunang, dan seperti muter-muter. Hingga dia tak tahan lagi, dan akhirnya jatuh pingsan.
"Rey yakin, mama pasti seperti ini karena mama stres? Makanya tekanan darah mama drop. Soalnya mama 'kan makannya sekarang susah. Ditambah lagi, Rey yakin kalau saat ini mama mengidap penyakit diabetes. Jadi kalau stres, pasti langsung deh. Sabar Ma! Sekarang pikirnya sehat saja dulu! Rey juga sedang berusaha. Agar mama tak lagi tinggal di rumah petakan seperti itu. Mama pikir Reynaldi cuek aja? Tenang-tenang saja? Enggak ma! Rey juga stres. Tapi, Rey bertekad dalam hati untuk berusaha melewati semua ini. Rey berusaha untuk semangat, agar Rey bisa mengontrak rumah yang lebih nyaman dan layak. Doakan Rey! Semoga Rey bisa menjadi anak yang berguna untuk mama, yang bisa mengangkat derajat mama lagi," ungkap Reynaldi. Dia berusaha terlihat kuat di hadapan sang mama, meskipun sebenarnya dia merasa rapuh. Bukan suatu hal yang mudah bagi Reynaldi, untuk melewati semua itu.
"Iya, Rey. Mama akan selalu mendoakan kamu. Semoga kamu bisa hidup bahagia lagi, bisa mendapatkan pendamping hidup lagi. Agar kamu tak merasa kesepian. Bagaimanapun, kamu membutuhkan seorang pendamping hidup yang nantinya akan menemani kamu sampai akhir hayat nanti," ucap Mama Ratih.
"Entahlah Ma, Rey belum memikirkan terlalu jauh. Bukan Rey tak menginginkan punya istri kembali, tapi untuk saat ini Rey masih ingin fokus mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik lagi. Rey ingin fokus membahagiakan Mama. Lagi pula, mana ada wanita yang mau menikah dengan laki-laki yang kere seperti Rey. Yang hanya bekerja sebagai seorang cleaning service. Tinggalnya saja di kontrakan petakan. Jarang ada wanita yang mau diajak hidup susah Ma. Rey juga tak ingin membuat wanita itu ikut susah karena menikah dengan Rey. Sudah ya, jangan pikir yang macam-macam dulu! Lebih baik sekarang mama fokus sama kesehatan mama. Semoga mama segera sehat. Karena Rey ingin selalu melihat wajah mama, meskipun mama hanya terbaring lemah di ranjang. Rey sayang mama," ucap Rey sambil mencium tangan sang mama. Rey juga memberikan kecupan di wajah tua itu. Wajah yang selalu dia cintai.
__ADS_1