
Abi terlihat sedang memainkan ponselnya, membuka aplikasi rumah atau apartemen yang di kontrakan tahunan. Sebenarnya, Abi lebih condong tinggal di apartemen. Karena memiliki fasilitas yang lengkap, dan mereka juga tak perlu membeli perabot rumah tangga. Kalau memang nantinya mereka akan menetap di Jakarta, barulah mereka akan membeli rumah di Jakarta.
"Selamat siang Pak, perkenalkan saya Abi. Saya baru saja melihat iklan di aplikasi online. Apa benar apartemen milik Bapak mau di sewakan? Berapa ya Pak untuk nett nya?" Tanya Abi di panggilan telepon.
"Iya, benar Pak. Kami sudah nett Pak 30 juta per tahunnya. Jika Bapak minat, saat ini saya sedang berada di lokasi. Bapak bisa survey dulu. Furniture kami terawat, produk baru juga. Kami juga memfasilitasi perawatan per 3 bulan, untuk awal kami juga memberikan 2 buah galon berisi air aqua dan juga gas ukuran besar untuk memasak," jelas sang pemilik.
"Ok, kalau begitu sekarang saya langsung meluncur kesana. Kita bertemu di lobby apartemennya ya Pak. 5 menit lagi saya sampai, saya saat ini sedang berada di rumah sakit dekat apartemen," sahut Abi.
Abi langsung memesan aplikasi ojek online untuk ke apartemen tersebut.
"Khanza pasti senang, bisa renang, bisa main di taman bermain," gumam Abi.
Jarak rumah sakit ke apartemen yang akan Abi sewa sangat dekat. Bagi Abi yang berasal dari daerah, tentu saja nominal segitu bukanlah nominal yang kecil. Tetapi, nominal itu masih bisa tercukupi dengan pendapatan yang dia terima setiap bulannya.
Sang pemilik sudah menunggu Abi di lobby apartemen.
"Bapak Abi?" Tanya Pak Andi.
"Iya, perkenalkan saya Abi. Saya Andi." Mereka berjabat tangan, memperkenalkan diri.
Abi dan Pak Andi langsung menuju unit apartemen milik Pak Andi. Abi langsung melihat semua dalamnya. Tempatnya memang benar bersih dan terawat. Abi juga sempat foto area dalam apartemen Pak Andi.
"Baik, Pak. Saya coba bicarakan dulu sama istri. Kebetulan istri saat ini masih di kampung. Kalau dia cocok, nanti saya akan langsung hubungi Bapak dan melakukan transaksi pembayaran," ucap Abi dan Pak Andi mengiyakan.
Setelah urusan apartemen selesai, Abi memutuskan untuk kembali ke hotelnya untuk beristirahat. Besok dia baru akan berjalan-jalan mencari sekolah untuk Khanza.
__ADS_1
Abi baru saja sampai di hotel, dia langsung menghubungi sang istri. Nisa pun saat itu baru sampai di rumah. Abi dan Nisa melakukan panggilan video.
"Assalamualaikum, istri aku yang cantik," ucap Abi mengawali pembicaraan.
"Waalaikumsalam," sahut Nisa sambil tersenyum. Menunjukkan senyum termanisnya.
"Yang, tadi aku habis survey ke apartemen. Ada apartemen yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Per tahunnya 30 juta, lengkap sama furniturenya. Fasilitas apartemen juga lengkap, ada sarana bermain anak, kolam renang, laundry juga ada. Gimana? Kamu setuju enggak?" Tanya Abi.
Nisa sempat terkejut nominal yang di ucapkan Abi. Jika dibandingkan rumah, apartemen jauh lebih mahal.
"Kenapa enggak rumah saja Mas? Pasti harganya lebih murah," ujar Nisa.
"Iya, pasti harga sewa apartemen jauh lebih mahal. Karena kita sudah tinggal masuk saja, tak perlu mikir beli perabot rumah tangga. Semua sudah ada. Bagaimana kalau coba setahun dulu. Kalau aku bekerja di sana lama, baru nanti kita beli rumah sama perabotannya," jelas Abi.
"Em, ya sudah. Aku si inginnya kembali ke Yogya saja. Tapi, kalau karier Mas di Jakarta lebih baik. Aku sebagai seorang istri mendukung saja," sahut Nisa.
Nisa pun berjuang keras untuk masa depan ketiga buah hatinya. Rencananya, kalau buah hatinya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, Nisa berencana untuk tidak memiliki anak kembali. Dia ingin fokus mengurus ketiga buah hatinya. Dia takut perhatiannya semakin terbagi, jika memiliki anak sangat banyak.
"Jadi kamu setuju ya? Besok aku tinggal cari sekolah Khanza, setelah itu Mas langsung pulang ke Yogya," ujar Abi dan Nisa mengiyakan. Mendengar suaminya akan pulang tentu saja Nisa merasa senang.
Mama Ratih baru tersadar dari komanya. Perlahan dia membuka matanya, dan melihat sekeliling ruangan.
"Apa aku masih hidup?" Mama Ratih bertanya-tanya dalam hati. Dia melihat tangannya yang terpasang jarum infus. Dia mengira kalau kemarin dia tak bisa tertolong.
Dia mencoba menggerakkan badannya, tetapi tak bisa. Hanya bisa menggerakkan tangan dan kakinya.
__ADS_1
"Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan badanku?" Teriak Mama Ratih.
Mama Ratih terlihat menangis histeris, satu persatu air matanya menetes membasahi wajahnya. Sang perawat langsung memanggil dokter jaga untuk mengecek kondisi Mama Ratih.
"Keluarga pasien Nyonya Ratih," panggil sang perawat.
"Saya anaknya, Sus. Ada apa Sus dengan ibu saya?" Tanya Reynaldi kepada sang perawat.
Reynaldi di suruh untuk masuk ke dalam, sang perawat juga mengatakan kalau Mama Ratih sudah sadar, dan sedang di periksa oleh dokter jaga.
"Rey, apa yang terjadi dengan Mama?" Tanya Mama Ratih di iringi isak tangis. Saat sang anak masuk. ke dalam.
"Sabar Ma, Mama harus kuat melewati semuanya," ucap Reynaldi yang mencoba menenangkan sang mama.
Dokter mulai menjelaskan kepada Mama Ratih, apa yang terjadi padanya. Dokter mengatakan kalau Mama Ratih saat ini mengalami kelumpuhan, tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Tidak! Tidak mungkin! Lebih baik Mama mati saja Rey, untuk apa Mama hidup, kalau harus tersiksa seperti ini," ucap Mama Ratih.
"Mama harus bersyukur, karena masih diberikan kesempatan untuk hidup oleh Allah. Mama harus sabar melewatinya," ucap Reynaldi yang mencoba memberi pengertian kepada sang mama.
"Semua ini gara-gara Viona, karena malas menyikat kamar mandi. Makanya seperti ini," ucap Mama Ratih ketus.
"Namanya musibah enggak ada yang tahu Ma. Bukan murni kesalahan Viona, mungkin memang sudah jalannya Ma seperti itu," jelas Reynaldi.
"Kamu itu belain terus istri tak berguna. Mama benar-benar menyesal menyuruh kamu menikah sama dia, mama kira kamu bisa hidup bahagia. Eh ternyata, kamu malah menderita. Dasar perempuan pembawa sial," cerocos Mama Ratih.
__ADS_1
Membuat dokter dan perawat geleng-geleng kepala. Mereka baru melihat, orang yang baru sadar dari tidur panjang, saat sadar malah seperti itu. Bukannya mengucap syukur, karen masih diberikan kesempatan untuk hidup.
"Pergi sana! Aku tak ingin melihat kamu lagi. Dasar istri tak berguna! Bahkan sampai sekarang saja, kau tak bisa memberikan keturunan untuk anakku," ucap Mama Ratih membuat wajah Viona memerah menahan rasa malu dan kesalnya.