
Mama Ratih berteriak dari dalam kamar mandi, dirinya terpeleset jatuh di kamar mandi. Bahkan kepalanya terbentur lantai kamar mandi. Jatuh tergeletak di lantai. Saat itu Viona sedang belanja ke tukang sayur, dan Reynaldi sedang tidur. Mama Ratih berniat untuk mandi.
"Seperti ada yang berteriak di kamar mandi?" ucap Viona. Dirinya baru saja pulang berbelanja. Dia mendengar suara teriakan dari kamar mandi.
Viona bergegas untuk mencaritahu, dia mencoba membuka pintu kamar mandi. Tetapi pintu kamar mandi terkunci.
"Siapa di dalam?" teriak Viona sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Vi, ini Mama. Mama jatuh, enggak bisa bangun. Tolong bantu mama, Vi," ucap Mama Ratih diiringi isak tangis. Mama Ratih terlihat bersedih, karena tubuhnya tak bisa di gerakkan, saat dia berniat untuk bangun.
"Sabar dulu ya Ma, Viona coba bangunkan Reynaldi dulu," ucap Viona lagi. Tak dapat yang Mama Ratih lakukan, bayangan kelumpuhan menari di pikirannya. Bagaimana nasib dia nanti, jika dia benar-benar lumpuh.
Viona langsung masuk ke kamar dirinya dengan Reynaldi, dia mencoba membangunkan suaminya, dan memberitahu kalau sang Mama jatuh di kamar mandi.
"Ay, bangun! Mama kamu jatuh di kamar mandi. Cepat kamu tolong," Viona berusaha membangunkan Reynaldi, dengan menggoyang-goyangkan tubuh suaminya agar terbangun.
"Kenapa si Ay? Bikin kaget saja," gerutu Reynaldi.
Reynaldi langsung lompat dari ranjang, saat mendengar sang mama jatuh di kamar mandi. Dia langsung bergegas menghampiri sang mama.
"Ma, tunggu ya! Reynaldi mau coba buka pintunya dulu," ucap Reynaldi. Namun, tak ada sautan dari sang mama. Karena kini Mama Ratih sudah jatuh pingsan. Tentu saja hal itu membuat Reynaldi semakin panik. Dia takut terjadi sesuatu sama mamanya.
Reynaldi berusaha keras untuk membuka pintu kamar mandi itu dengan paksa, setelah 10 menit lamanya, barulah dia berhasil membukanya. Reynaldi terlihat panik, karena sang mama sudah tak sadarkan diri.
"Ay, cepat kamu pesan taksi online sekarang! Aku mau membawa mama ke rumah sakit terdekat," teriak Reynaldi sambil menggendong tubuh sang mama, dan membawanya ke sofa.
__ADS_1
"Ay, cepat kamu siapkan pakaian mama beberapa stel. Takutnya mama nanti di suruh di rawat. Sekalian tolong pakaikan Mama pakaian," ucap Reynaldi kepada sang istri.
Mama Ratih saat ini sudah dalam keadaan polos. Dia sudah membuka semua pakaiannya, hendak mandi. Namun, baru saja melangkah hendak mengambil gayung dia terpeleset lantai yang licin.
Reynaldi langsung mencuci muka dan menggosok giginya, setelah itu berganti pakaian. Kemudian langsung mencari keberadaan uang yang dimiliki sang mama.
"Kamu ganti pakaian juga Ay! Ikut aku ke rumah sakit," ujar Reynaldi.
Mobil taksi online sudah datang, Reynaldi langsung menggendong tubuh sang mama, dan membawanya ke dalam mobil. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Ma, Rey mohon bertahanlah!" ucap Reynaldi sambil mengelus pipi sang mama yang terlihat pucat. Reynaldi sangat menyayangi sang mama.
Mereka sudah sampai di rumah sakit, Reynaldi langsung menggendong tubuh sang mama ke IGD. Sedangkan Viona yang menenteng tas yang berisi pakaian dan surat-surat milik Mama Ratih.
Reynaldi mulai menceritakan kejadian yang terjadi pada sang mama kepada dokter di IGD. Tim medis langsung mengambil tindakan pertolongan. Denyut nadi Mama Ratih melemah, dan kritis. Reynaldi terlihat panik.
"Mama pasti kuat! Rey mohon, jangan tinggalkan Rey sendiri," ucap Reynaldi. Reynaldi tampak menciumi tangan sang mama, wajah Mama Ratih terlihat pucat. Air mata Reynaldi menetes satu persatu, dia takut kehilangan sang mama.
"Tolong Bapak tunggu di luar dulu ya! Kami akan berusaha melakukan tindakan kepada pasien!" Titah sang dokter. Reynaldi berjalan gontai mencari tempat duduk di depan IGD.
Viona hanya bisa memandang wajah sang suami, tanpa sepatah katapun.
"Kamu malas menyikat kamar mandi si, jadinya begini deh. Mama jadi jatuh," tegur Reynaldi.
"Aku ini capek Ay, kalau semuanya aku harus urus. Harusnya kamu bantuin aku dong, kamu sekarang pengangguran. Apa salahnya kamu bantu aku, jangan kerjaannya hanya tidur saja. Kamu lihat 'kan? Badan aku langsung merosot, jadi kurus kering begini. Sampai enggak nap*su makan, aku juga sering merasa nyeri di panggil makanya aku enggak bisa kalau jongkok. Sampai-sampai menstruasi aku saja sampai enggak teratur," jelas Viona.
__ADS_1
Rasanya dia sudah tak sanggup menjalani hidup bersama Reynaldi, tak seperti yang dia pikirkan dulu.
"Keluarga pasien Nyonya Ratih," panggil sang perawat.
"Iya, saya sus," sahut Reynaldi. Reynaldi langsung bangkit menghampiri sang perawat, ikut ke ruangan kembali.
Dokter menjelaskan kalau Mama Ratih mengalami pembekuan darah dalam otak, karena terkena benturan yang cukup kuat. Hingga harus dilakukan operasi. Mama Ratih juga akan mengalami kelumpuhan, karena kerusakan di tulang panggil.
"Ya Allah, tolong sembuhkan mama aku," ucap Reynaldi dalam hati.
"Lakukan yang terbaik, Dok! Tolong sembuhkan mama saya," ucap Reynaldi memohon.
Reynaldi diminta segera mengurus administrasi untuk operasi, dan penandatanganan surat perjanjian. Ternyata semua biaya pengobatan tidak di tanggung sepenuhnya, ada yang harus Reynaldi bayarkan. Untungnya Mama Ratih masih memiliki uang dari hasil menjual rumah. Meskipun sudah tak banyak, karena sudah di pakai untuk kebutuhan sehari-hari.
"Mama harus di operasi karena ada pembekuan darah di kepala. Dokter juga sudah bilang, kalau mama akan mengalami kelumpuhan. Karena mama mengalami kerusakan pada tulang panggul. Untung saja Mama masih ada uang hasil jual rumah, kalau tidak aku enggak tahu lagi caranya untuk menyelamatkan dia. Karena tak semua biaya di tanggung," jelas Reynaldi.
Setelah administrasi selesai, Reynaldi kini dipusingkan dengan pencarian kantung darah untuk transfusi darah. Mama Ratih membutuhkan kantung darah banyak, tetapi stock di rumah sakit tak banyak. Terpaksa harus mencari ke PMI.
Demi sang mama Reynaldi rela mencari keliling. Dia lakukan demi menyelamatkan nyawa sang mama.
Berbeda hal dengan Reynaldi yang sedang bingung karena belum mendapatkan stock darah untuk sang mama, Abi pun sedang merasa bingung. Karena dia di pindahkan ke rumah sakit di Jakarta.
Abi merasa bingung karena sang istri memiliki usaha di Yogyakarta, kedua orang tuanya pun tinggal di Yogyakarta. Dia juga tak ingin pisah dengan sang istri yang saat ini sedang hamil. Padahal Abi berniat ingin pindah di rumah sakit di kota Yogyakarta. Pihak pemerintah justru melakukan mutasi Abi Ke Jakarta.
"Ya Allah ada-ada saja. Padahal aku lagi bahagia, karena istriku hamil. Rasanya aku tak sanggup kalau harus berpisah dengan istri, Khanza, dan kedua orang tua aku. Ya Allah, aku harus bagaimana? Tolong beri aku petunjuk," doa yang Abi panjatkan.
__ADS_1