
"Kerjaannya tidur terus! Mentang-mentang sedang hamil, jadi kesempatan untuk menjadi Nyonya besar," sindir Mama Ratih. Setelah papa mertuanya meninggal, mama mertuanya semakin menjadi menyakiti hati Nisa.
"Diamkan saja, Bun! Kata Ayah, Bunda di suruh di tempat tidur saja! Tak boleh turun naik tangga," ucap Khanza yang mencoba mengingatkan sang bunda.
Berulang kali Khanza bercerita kepada ayahnya, tentang sikap neneknya kepada sang bunda. Berulang kali juga, Reynaldi sudah memperingatkan kepada mamanya untuk tidak memperolok-olok istrinya.
Reynaldi juga sudah menjelaskan kepada sang mama, kondisi kehamilan sang istri memiliki masalah. Hingga harus melakukan bedrest sampai melahirkan. Namun, sang mama tetap saja menyindir Nisa sebagai pemalas.
"Jangan salahkan suami, jika istrinya tak melayani dirinya dan memberi perhatian. Suami bisa saja mencari wanita lain, karena sang istri yang tak bisa memuaskan dirinya," sindir Mama Ratih, membuat Nisa naik pitam.
Nisa tersulut api amarah, dia langsung menuruni anak tangga dengan cepat, tak ingat kalau kandungannya bermasalah. Dia langsung menghampiri sang mama mertua.
"Mama kenapa sih senang banget menyindir aku? Salah aku apa sih sama Mama? Mas Reynaldi 'kan sudah membayar ART untuk mengurus rumah, agar aku tak bekerja. Karena kondisi kandungan aku memang bermasalah," protes Nisa.
"Alah, itu mah hanya akal-akalan kamu saja! Dasar saja kamu pemalas!" ujar Mama Ratih sinis.
Entah sampai kapan Nisa bisa bertahan, dengan sikap mertuanya yang selalu saja menyakiti hatinya. Rasanya dia sudah tak sanggup menahannya.
"Aw, sakit," ringis Nisa sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Perutnya tiba-tiba saja merasa sakit luar biasa.
Darah segar mengalir dari selangkangannya, membuat Nisa panik. Berteriak meminta tolong sambil menangis. Sedangkan sang ibu mertuanya justru bersikap cuek, tak peduli.
Untungnya Bi Surti datang, dan langsung menghampiri Nisa. Bi Surti merasa kasihan, melihat keadaan Nisa saat itu. Dia berinisiatif untuk menghubungi Reynaldi. Memberitahu kondisi Nisa.
"Den, Reynaldi. Ini Bi Surti. Non Nisa keluar darah dari selangkangannya, sepertinya akan melahirkan," ungkap Bi Surti yang mencoba memberitahu apa yang terjadi dengan Nisa. Untungnya Reynaldi saat itu langsung mengangkat telepon dari Bi Surti.
"Tolong Bibi cepat siapkan keperluan Nisa dan juga sekalian bawa tas bayi yang sudah di persiapkan! Saya pesan taksi online sekarang ya, soalnya tak akan sempat kalau menunggu saya pulang," titah Reynaldi kepada Bi Surti.
__ADS_1
Bi Surti langsung menyiapkan semua yang diperintah Reynaldi. Sambil menunggu taksi online datang. Rasa sakit yang Nisa rasakan, semakin bertambah. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Nisa sudah terlihat lemas. Karena darah yang keluar sangat banyak.
"Sayang, Bunda mohon bertahanlah!" ucap Nisa dalam hati sambil mengelus perutnya. Nisa terlihat panik dan juga menangis. Dia khawatir dengan bayi dalam kandungannya. Anak yang selama sembilan bulan mereka nantikan.
"Non, tahan ya!" ucap Bi Surti yang terus memberi semangat kepada Nisa dan Nisa hanya menganggukkan kepalanya, karena dia sudah tak mampu berkata-kata lagi. Khanza terlihat mengusap keringat di kening Bundanya.
Bahkan Mama Ratih tak ikut mengantarkan Nisa ke rumah sakit. Tak peduli dengan nasib cucunya. Reynaldi terlihat panik, dia segera pulang dari kantor menuju rumah sakit tempat istrinya berada.
"Ya Allah, tolong lindungi anak dan juga istriku," pinta Reynaldi. Selama dalam perjalanan dia terus berdoa untuk keselamatan istri dan juga anaknya.
Nisa sudah sampai di rumah sakit, dan langsung mendapatkan pertolongan. Nisa langsung dibawa ke ruang bersalin, untuk diambil tindakan. Tim medis langsung melakukan pertolongan kepada Nisa. Sang dokter juga langsung melakukan USG darurat untuk melihat kondisi bayi. Karena menurut pemeriksaan denyut jantung, denyut jantung bayi yang berada dalam kandungan Nisa sudah tak berdetak. Ternyata benar, bayi dalam kandungan Nisa dinyatakan meninggal.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dokter? Apa dia baik-baik saja?" tanya Nisa. Dia menatap serius wajah sang dokter.
"Dengan berat hati, saya harus mengatakan kalau bayi Anda sudah meninggal di dalam kandungan," ungkap sang dokter.
Nisa masih tak percaya, bayi yang selama ini dia jaga. Kini harus pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Mungkin Allah memiliki rencana lain, yang terbaik untuknya. Mengambil anak itu kembali.
"Sayang, mengapa kamu meninggalkan Bunda?" ucap Nisa lirih, diiringi isak tangis.
Membuat orang-orang yang berada di sana merasa kasihan. Pastinya seorang ibu akan merasa hancur, saat kehilangan anak yang pergi untuk selamanya. Terlebih selama sembilan bulan, dia sudah menantinya. Bahkan semua perlengkapan untuk anak itu sudah siap. Khanza pun ikut menangis, karena tak jadi memiliki adik.
Reynaldi baru saja sampai di rumah sakit, dan langsung mencari keberadaan istrinya. Hingga akhirnya dia menemukan sang istri, dan Nisa saat itu sedang menangisi kepergian anaknya.
"Ada apa, Dok? Apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Reynaldi kepada sang dokter, sambil memeluk tubuh istrinya.
Dokter mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan anaknya. Menjelaskan kalau anak mereka meninggal di dalam kandungan.Tak bisa tertolong lagi, karena Nisa mengalami pendarahan. Air mata Reynaldi pun akhirnya ikut tumpah.
__ADS_1
"Ya Allah, mengapa Engkau mengambil anakku? Anak yang selama ini aku nantikan," ucap Reynaldi. Sama halnya dengan Nisa, Reynaldi pun merasa sedih. Namun dia akhirnya sadar, karena dia harus menguatkan istrinya. Sungguh tak mudah bagi Nisa mengikhlaskannya semuanya.
"Sabar, Yang! Mungkin Allah lebih sayang sama anak kita," ucap Reynaldi sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut.
Dokter menjelaskan, harus melakukan tindakan persalinan untuk mengeluarkan bayi yang masih berada di dalam kandungan Nisa. Melihat kondisi Nisa yang lemah, Reynaldi akhirnya memilih untuk melakukan tindakan operasi sesar. Nisa terlihat rapuh, hanya air mata yang menunjukkan perasaannya saat itu.
"Sayang, kamu harus operasi dulu ya! Mengeluarkan anak kita. Kamu harus kuat ya," ucap Reynaldi yang mencoba memberi semangat kepada istrinya.
Nisa tak mampu lagi berkata-kata, dia hanya pasrah. Saat dokter melakukan operasi sesar. Reynaldi tampak mendampingi istrinya, selama operasi berlangsung. Bayi mungil itu akhirnya keluar dari perut Nisa.
Reynaldi langsung menghampiri sang dokter, untuk melihat bayinya yang kini sudah tak bernyawa.
"Anak kita laki-laki, Sayang. Wajahnya mirip dengan kamu, dia sangat tampan dan tubuhnya pun gemuk. Seperti bayi yang sehat pada umumnya," bisik Reynaldi diiringi isak tangis.
Reynaldi sempat memfoto mayat bayinya. Sebagai kenang-kenangan untuk dirinya dan juga istrinya. Dadanya terasa sesak, harus kehilangan buah cinta yang selama ini dia harapkan. Ternyata Allah tak berkenan, mengambil anak itu lagi dari mereka.
Reynaldi memilih untuk menyegerakan penguburan, tak menunggu istrinya terbangun. Setelah menguburkannya, dia langsung kembali ke rumah sakit. Karena dia harus mendampingi istrinya, saat sang istri sadar.
Nisa terbangun, dan melihat sekeliling ruangan tempat dia berada.
"Dimana anakku? Jangan ambil anakku," teriak Nisa diiringi isak tangis.
"Tenang, Sayang! Anak kita sudah tenang di surga," ucap Reynaldi kepada sang istri.
Nisa terlihat histeris, masih merasa tak terima. Hingga akhirnya dokter terpaksa menyuntikan obat penenang ke tubuhnya, membuat Nisa tertidur kembali.
Reynaldi menanyakan kepada sang anak dan juga Bi Surti atas apa yang terjadi dengan istrinya. Bi Surti dan Khanza mulai menceritakan apa yang terjadi. Reynaldi tercengang, kala mendengar semua ini karena kesalahan mamanya.
__ADS_1
"Berulang kali aku bilang, jangan ganggu Nisa! Tetapi Mama selalu saja memperlakukan Nisa tak baik," gerutu Reynaldi. Dirinya terlihat merasa kesal. Dia berniat menegur sang mama. Karena dirinya harus kehilangan anaknya, karena sang mama.