Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Suami Idaman


__ADS_3

"Mas, sabtu libur enggak?" Tanya Nisa kepada sang suami. Saat mereka sudah di ranjang untuk tidur.


"Iya, libur. Kita bisa beli perlengkapan untuk kembar. Bulan depan kembar 'kan sudah lahir," sahut Abi dan Nisa mengiyakan.


Baru saja Nisa hendak memejamkan matanya, dia merasa ada tangan yang meraba masuk ke dalam dasternya. Membuat dia tersentak kaget, membuka matanya kembali. Ternyata sang suami pelakunya, dan sekarang terlihat cengengesan.


"Mas ...," rengek Nisa. Abi meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, meminta sang istri untuk diam.


"Mas pengen. Boleh ya? Nanti 'kan mas harus puasa lama," pinta Abi dengan wajah memelas dan Nisa akhirnya menganggukkan kepalanya. Tentu saja hal itu membuat suaminya tersenyum bahagia.


Abi langsung mulai melancarkan aksinya. Dia langsung mencium bibir istrinya. Nisa pun meresponnya, Ciuman mereka semakin lama semakin bergairah. Milik Abi pun sudah menegang.


Abi membungkam mulut istrinya, agar tak mende*sah saat tangannya asyik mere*mas-re*mas bukit kembarnya. Sambil menyusu seperti seorang bayi. Bulan depan tempat ini akan di kuasai anaknya sampai dua tahun.


Selama hamil nap*su Nisa semakin besar, dia semakin bergairah. Mungkin karena pengaruh dari hormon kehamilan. Namun, di usia kandungannya yang sekarang, dia sudah sangat kesulitan bergerak. Dia juga sudah mulai mendapatkan pelepasan, meskipun sudah merasa nikmat.


"Sayang, aku mulai ya," ucap Abi dan Nisa hanya menganggukkan kepalanya, dia begitu menikmati saat tangan suaminya bermain di area sensitifnya untuk mengecek apakah milik sang istri sudah siap apa belum. Abi tak ingin menyakiti sang istri, dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Terlebih ada dua makhluk kecil di dalam perut sang istri.


Abi pun berusaha untuk tidak mende*sah, dia tampak menggigit bibirnya. Karena posisi kamar mereka bersebelahan. Dia khawatir sang anak dan sang ART mendengarnya. Setelah bermain selama kurang lebih 10 menit, akhirnya Abi mendapatkan pelepasan. Dia masih enggan menyabut miliknya, karena masih tegang. Dia ingin sang istri mendapatkan pelepasan.


"Ayo sayang, keluarkan!" Ucap Abi. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh Nisa. Dia tampak berusaha keras, agar mendapatkan pelepasan. Hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan pelepasan.


Jantungnya masih berdegup kencang, dan napasnya masih terengah-engah. Dia mencoba menetralkan napas dan jantungnya.


"Terima kasih ya sayang, aku senang sekali melihat kamu akhirnya mendapatkan pelepasan. Sekarang sudah semakin sulit ya?" Tanya Abi saat dirinya memberikan kecupan di kening istrinya.


"Iya, kalau menjelang kelahiran aku suka seperti ini. Butuh waktu lama. Akhirnya ...," sahut Nisa.

__ADS_1


Abi langsung beranjak turun dan membersihkan area sensitif istrinya dengan tisu basah. Kemudian mengambil air putih di meja yang berada di kamarnya. Setiap malam hari, Nisa selalu menyiapkan air putih di botol minum.


Setelah memberikannya kepada sang istri. Abi langsung memakai pakaiannya kembali, dan keluar dari kamar untuk membersihkan miliknya. Nisa tampak menenggak minum itu dan meletakkan kembali ke meja. Kemudian dia langsung memakai dasternya kembali.


Nisa merasa senang karena bisa membahagiakan suaminya, dengan memberikan kepuasan di ranjang. Dia berharap suaminya tak akan pernah berpaling darinya. Mengingat pernikahan mereka bisa dikatakan masih sangat baru.


Kini giliran Nisa yang ke kamar mandi, untuk membersihkan miliknya. Abi tersenyum kala melihat sang istri yang berjalan dengan perut yang sangat besar. Berjalan masuk ke kamar dan naik ke ranjang. Saat itu Abi sudah membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Kenapa senyum-senyum? Gendut banget ya aku? Kehamilan sekarang aku gendut banget, tak seperti saat hamil kedua anakku dulu. Aku jadi takut nanti badan aku melar enggak bisa balik lagi. Pasti kamu nanti cari yang langsing lagi deh," ujar Nisa.


"Ya ampun Yang. Demi Allah, aku enggak pernah terpikir sama sekali seperti itu. Kamu boleh buktikan, aku itu tipe laki-laki setia. Dulu aku bercerai karena almarhumah Viona yang meminta cerai dari aku. Apalagi kamu seperti itu karena hamil dan melahirkan anak untuk aku. Bahkan kamu rela mempertaruhkan nyawa kamu untuk melahirkan keturunan untuk aku. Kebangetan banget, kalau aku mencari yang lain. Mau kamu melar seperti gentong atau apa, hal itu tak akan mengubah rasa cinta aku kepada kamu. Aku akan selalu mencintai kamu, dan aku akan selalu puas dan bangga dengan apa yang kamu miliki. Aku yakin, kalau aku tak akan bisa mendapatkan penggantinya lagi yang lebih baik. Sudah ya, jangan berpikir macam-macam lagi! Aku akan terima kamu apa adanya. Ya sudah, kita tidur yuk! Besok aku masih harus bekerja," jelas Abi. Nisa pun akhirnya mengerti. Dia berusaha percaya kepada suaminya.


Nisa membaringkan tubuhnya di ranjang, Abi tampak menyelimuti tubuh istrinya dan dirinya dengan selimut.


"Selamat tidur istri aku yang cantik. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintai kamu. Sudah ya jangan berpikir macam-macam, lebih baik kamu fokus dengan kehamilan kedua buah hati kita," ucap Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya. Tak lupa, Abi memberikan kecupan di kening istrinya.


Hal itu membuat tidur Abi terusik. Hingga dia terpaksa membuka matanya, dan melihat ke arah istrinya.


"Kenapa?" Tanya Abi lembut. Padahal, besok pagi dia harus bekerja, dan saat ini jam sudah menunjukkan jam 23.30 WIB.


"Enggak bisa tidur," sahut Nisa manja.


Abi mencoba mengusap kepala Nisa. Biasanya, sang istri akan tertidur, jika dia melakukan hal ini.


"Coba matanya di pejamkan! Nanti, lama kelamaan pasti jadi mengantuk," titah Abi. Nisa. mencoba memejamkan matanya sesuai perintah suaminya. Tetapi tak kunjung bisa tidur dan justru perutnya malah berbunyi. Membuat Abi membuka matanya lagi, padahal dia sudah hampir akan tertidur lagi.


"Kamu lapar? Kok perutnya bunyi?" Tanya Abi lagi. Dia begitu perhatian kepada sang istri. Nisa pun menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.

__ADS_1


"Kalau lapar, ya makan dong! Hal ini kerap terjadi pada ibu hamil besar. Mereka sering kali merasa lapar saat malam hari. Makan deh, jangan di tahan! Kamu mau makan apa?" Tanya Abi.


Abi menahan rasa kantuknya, demi mewujudkan keinginan istrinya. Dia langsung bangkit duduk, dan menatap ke arah istrinya.


"Aku ingin makan nasi goreng sama telor mata sapi buatan kamu," jelas Nisa.


"Ya sudah, tunggu ya aku buatkan! Bahan-bahannya ada 'kan di kulkas? Aku masak dulu ya," ujar Abi.


"Maaf ya! Aku jadi merepotkan kamu malam-malam. Padahal, kamu lagi enak-enaknya tidur. Eh, aku malah minta di masakin nasi goreng," ungkap Nisa dengan wajah bersalah.


"Enggak apa-apa kok. Selama aku bisa, aku akan mewujudkannya. Kamu tunggu di sini dulu ya!" Ujar Abi. Namun, Nisa ingin ikut keluar dari kamar. Menemani sang suami memasak. Abi ingin menyenangkan hati istrinya, meskipun tak menjamin masakannya enak.


Abi mulai meracik bumbu untuk nasi goreng, berhubung dia ingin cepat. Jadi, bumbu-bumbu itu hanya di iris tak di ulek. Kemudian dia mulai memotong-motong bakso dan sosis. Abi mulai membuat telor mata sapi. Setelah itu dia mulai menumis bumbu untuk nasi goreng. Abi juga memasukan satu buah telor yang sudah di kocok yang di letakkan di mangkuk.


Nisa tersenyum, suaminya itu memang suami yang idaman. Mau menuruti permintaan anehnya. Tak butuh waktu lama, Abi sudah selesai membuatkan makanan yang di minta istrinya. Kemudian di letakkan di piring.


"Makanan sudah jadi untuk istri dan kedua anakku," ucap Abi sambil memberikan piring itu kepada sang istri. Tidak cukup di situ, Abi juga rela menemani sang istri makan.


"Gimana enak?" Tanya Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah kalau kamu suka, aku pun ikut senang melihatnya. Padahal, aku jarang masak loh," ucap Abi sambil tersenyum.


Tak butuh waktu lama, nasi goreng itu sudah habis di makan. Perut Nisa sudah merasa kenyang. Abi masih setia menemani sang istri, agar makanannya sampai turun dulu. Setelah itu, barulah mereka masuk ke kamar untuk tidur.


"Kalian tidur ya! Papa 'kan sudah membuatkan nasi goreng untuk kalian. Jangan ganggu bunda lagi ya! Biarkan dia tidur yang nyenyak, kasihan! Papa juga ingin tidur, nanti jam 04.30 pagi harus bangun. Harus mandi, dan sholat subuh," ucap Abi kepada sang anak. Dia juga memberikan kecupan di perut istrinya, dan mengusapnya. Sang anak tampak bergerak, meresponnya.


Perlahan, mata Nisa pun akhirnya terpejam. Dia sudah tertidur nyenyak. Membuat Abi merasa tenang, melihat sang istri yang sudah tertidur. Hingga akhirnya dia pun ikut tertidur, menyusul sang istri.

__ADS_1



__ADS_2