Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Memaafkan


__ADS_3

Abi dan Khanza baru saja sampai di apartemen. Mereka langsung di sambut oleh sang bunda.


"Kok baru pulang? Ke mana dulu kalian?" Tanya Nisa kepada suami dan anaknya.


"Makan es krim dulu. Ini buat bunda," ujar Khanza sambil memberikan satu bungkus berisi es krim.


"Pantes, kirain ke mana dulu. Asyik, bunda kebagian juga ini," ujar Nisa.


"Iya, tadi si papa ngajakin aku makan es krim dulu. Biasa, sekalian ada yang ingin papa bicarakan sama aku," sindir Khanza yang langsung pergi meninggalkan papa dan bundanya begitu saja.


Membuat Nisa kini menatap serius ke arah Abi, dia ingin tahu apa maksud ucapan anaknya itu. Apa yang sebenarnya di bicarakan sang suami kepada anaknya. Membuat Nisa bertanda tanya besar.


"Aku mandi dulu ya! Nanti aku jelaskan semuanya," ujar Abi. Sebelum sang istri bertanya, dia berkata itu duluan. Nisa pun menganggukkan kepalanya.


Abi langsung mandi, agar tubuhnya terasa bersih. Sebelum dia memegang kedua anaknya. Abi baru saja selesai mandi, dan sudah memakai pakaian. Dia langsung menghampiri sang istri yang berada di kamarnya.


Lusa, dia akan pindah ke rumah baru yang Abi kontrak. Semua barang-barang sudah tersusun rapi di sana, dari apartemen Abi hanya menyewa satu buah mobil pickup untuk membawa barang-barang miliknya.


"Tadi Reynaldi datang menghampiri aku. Dia mengatakan kalau mamanya sakit, mamanya Reynaldi menderita penyakit diabetes melitus. Dia mengatakan keinginannya untuk bertemu dengan kamu dan Khanza. Dia takut, kalau nantinya umurnya tak panjang, dan dia belum sempat meminta maaf sama kamu. Maka dari itu, dia ingin sekali bertemu kalian. Tadi aku sudah sempat membicarakan hal ini kepada Khanza. Tetapi Khanza tetap saja bersikeras kepada pendiriannya. Dia tetap tak ingin bertemu dengan mamanya Reynaldi," jelas Abi.


Berbeda halnya dengan Khanza, Nisa justru merasa iba dengan mantan mertuanya itu. Dia justru berniat untuk menengok sang mantan mertuanya, meskipun Mama Ratih dulu bersikap jahat kepadanya. Nisa sudah menghilangkan rasa sakit di hatinya. Lagi pula, dia kini sudah hidup bahagia bersama Abi. Dia harusnya bersyukur.


"Coba nanti aku bicarakan sama Khanza. Semoga Khanza terbuka hatinya, untuk memaafkan mamanya Mas Reynaldi. Ya bagiku, untuk apa lagi mempermasalahkan hal itu. Mereka sudah cukup menderita, menanggung perbuatan yang mereka lakukan dulu kepada kami," sahut Nisa.

__ADS_1


Akhirnya Nisa mencoba menghampiri sang anak yang berada di kamarnya. Nisa berniat membicarakan masalah Mama Ratih kepada sang anak.


"Kak, ada yang ingin Bunda bicarakan sama kamu, " ucap Nisa.


"Pasti Bunda mau bicarakan nenek Ratih lagi kan? Sudahlah Bun, Khanza audah enggak mau mendengar tentang dia lagi. Untuk apa kita peduli kepadanya, toh dia pun tidak pernah peduli kepada kita. Kenapa bunda masih saja mau bersikap baik kepadanya?" Cerocos Khanza.


"Sebagai manusia, kita itu harus saling memaafkan. Setiap orang pasti memiliki kesalahan. Allah saja maha pemaaf. Mau memaafkan semua kesalahan hambanya yang berbuat salah. Masa iya, kita tak bisa memaafkan kesalahan sesama manusia." Nisa mencoba mengingatkan sang anak.


"Loh kita 'kan bukan Allah, Bun. Kita itu hanya seorang manusia. Mempunyai hati dan perasaan, seharusnya dulu Nenek Ratih tak boleh bersikap itu kepada kita. Kita kan memiliki hati dan perasaan. Kita bisa merasakan sakit hati. Sekarang, giliran sudah seperti itu, dia baru teringat sama Bunda. Sudahlah, aku sudah malas membahasnya Bun. Karena aku enggak akan mau menengok nenek," ucap Khanza ketus.


"Ayolah Kak, jangan seperti itu. Selama ini Bunda tak pernah loh mengajarkan kamu seperti itu. Kita harus menjalani kehidupan dengan ikhlas, harus berbuat baik kepada orang. Meskipun orang itu tidak baik kepada kita, kita tak harus membalasnya dengan keburukan," jelas Nisa.


Khanza tampak terdiam. Dia mencoba berpikir dan mencerna setiap ucapan sang Bunda. Hingga akhirnya dia terbuka hatinya. Setelah sekian lama dia menolak untuk memaafkan sang ayah, hari ini dia akan membuka hatinya untuk memaafkan sang ayah dan sang nenek.


Apa yang diucapkan sang bunda memang ada benarnya, untuk apa kita bersikap benci kepada seseorang yang terlalu berlebihan. Karena nantinya setan yang akan masuk di hati kita.


"Nah gitu dong! Ini baru anak bunda. Anak bunda jangan jadi orang yang pendendam, karena dendam itu tak baik. Besok sore kita tengok nenek ya sama Bunda. Adik Azzam sama adik Azzura biar sama Papa Abi dulu saja di apartemen," ucap Nisa dan Khanza menyetujuinya.


Kini saat yang dinanti. Khanza dan Nisa sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit, untuk menengok mama Ratih. Ini adalah hal pertama kalinya bagi Khanza untuk memaafkan sang ayah dan sang nenek.


Sebelum ke rumah sakit, Nisa berniat untuk membelikan parcel buah dan juga kue untuk sang mama mertuanya. Padahal dulu, mama Ratih begitu jahat kepadanya. Namun Nisa tak membalasnya.


Nisa pergi dengan naik taksi online menuju Mall. Dia berniat untuk membelikan buah, roti dan juga kue yang berada di Mall. Setelah itu barulah mereka pergi ke rumah sakit, untuk menemui Mama Ratih. Mereka baru saja sampai di rumah sakit. Nisa dan Khanza langsung memasuki rumah sakit mencari keberadaan Mama Ratih.

__ADS_1


Hingga akhirnya mereka menemukan ruangan Mama Ratih. Mereka langsung masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya Reynaldi, saat melihat kedatangan dua orang wanita yang dulu sangat dia cintai yaitu Khanza dan juga Nisa mantan istrinya. Dia begitu terharu, bahkan Reynaldi sampai meneteskan air matanya. Dia langsung memeluk tubuh sang anak. Khanza terlihat seperti patung.


"Makasih ya Kak, akhirnya kamu mau datang ke sini menengok nenek. Nenek ingin sekali bertemu kamu. Dia ingin meminta maaf kepada kamu dan juga bunda, untuk semua kesalahan yang diperbuat nenek dulu kepada kalian. Maafin Ayah juga ya kak! Ayah banyak salah sama kamu dan bunda," ucap Reynaldi.


"Iya, aku sudah memaafkan Ayah dan nenek," sahut Khanza.


Nisa mengajak sang anak untuk mencium tangan Mama Ratih. Dia mencontohkannya kepada sang anak. Setelah sang bunda. Khanza pun mau mencium tangan sang nenek dan juga sang ayah.


"Nis, makasih ya kamu sudah mau datang menengok Mama. Padahal dulu, Mama begitu jahat kepadamu, bahkan Mama juga yang membuat kamu dan Renaldi terpisah. Padahal, kalian berdua itu saling mencintai. Tetapi, dengan teganya Mama justru memasukkan Viona di pernikahan kalian. Sekarang Mama menyesal, Mama sudah menyadari kalau kamu adalah wanita yang terbaik untuk Reynaldi. Menantu terbaik yang telah memberikan mama dan juga Reynaldi keturunan," ucap Mama Ratih. Terlihat sekali penyesalan di wajah Mama Ratih. Reynaldi pun menjadi sedih, karena teringat kenangan dulu.


"Sudah lah ma, enggak usah dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Nisa sudah memaafkan kesalahan mama dulu. Nisa sudah mengiklaskan semuanya. Lagi pula, sekarang Nisa sudah hidup bahagia bersama suami Nisa yang baru. Nisa juga sudah memiliki dua orang anak. Semoga nanti Mas Reynaldi bisa menemukan pendamping yang baik yang mau menerima dia apa adanya," ucap Nisa.


Reynaldi merasa senang, karena akhirnya sang anak mau menerima dirinya di hidupnya lagi. Mau memaafkan semua kesalahannya dulu. Reynaldi terlihat dekat lagi dengan Khanza. Mama Ratih merasa bersyukur, pertemuan kali ini membawa berkah. Dia bahagia, melihat Reynaldi bisa di terima kembali oleh anaknya.


"Jika engkau hendak mencabut nyawaku, aku sudah merasa tenang. Karena akhirnya, anakku bisa dekat kembali dengan anaknya. Nisa dan Khanza pun sudah memaafkan kesalahan aku," ucap Mama Ratih.


"Kapan-kapan kakak mau ya jalan-jalan sama Ayah! Ayah sudah kangen ingin main sama kamu. Nanti, kalau Ayah ngubungin kamu lagi. Kakak terima ya," ucap Reynaldi dan Khanza mengiyakan.


Nisa pamit pulang. Karena dia tak bisa meninggalkan kedua anaknya terlalu lama. Nisa mencium tangan Mama Ratih, sebagai rasa hormatnya sebagai orang yang lebih tua. Khanza pun mencium tangan Ayah dan neneknya.


Reynaldi mengantarkan sang anak dan juga Nisa sampai lobby, sampai mereka naik taksi online.


"Terima kasih ya Allah, akhirnya engkau membukakan hati anakku. Aku bersyukur sekali, bisa mendapatkan maaf darinya," ucap Reynaldi dalam hati.

__ADS_1


Kini Nisa sudah dalam perjalanan menuju apartemen. Nisa tampak merangkul sang anak. Dia memuji sang anak. Karena akhirnya, sang anak terbuka hatinya untuk memaafkan kesalahan nenek dan juga ayahnya.



__ADS_2