
Akhir-akhir ini, Papa Faisal merasa tak enak badan. Bahkan kali ini terlihat pucat. Sejak tadi Nisa melihat gelagat tidak beres pada Papa mertuanya. Dia langsung menghampiri Papa Faisal.
"Papa sakit?" tanya Nisa seraya memegang tangan sang Papa mertua.
"Dada Papa sedikit sesak, mungkin kurang istirahat saja," jawab Papa Faisal sambil tersenyum menandakan dirinya tidak kenapa-kenapa. Tentu saja Papa Faisal tidak mau membuat menantunya itu khawatir.
"Ini juga sudah waktunya tidur, Pa. Sebaiknya Papa segera tidur! Pasti Mama Ratih juga sudah menunggu Papa di kamar. Nisa matikan TV-nya ya?" Nisa segera meraih remot TV yang dipegang Papa Faisal sejak tadi, tetapi dia tidak langsung mematikan TV itu karena tangan Papa mertuanya terasa dingin. Membuat Nisa penuh tanda tanya.
Memang beberapa hari terakhir ini banyak berita yang cukup menarik perhatian Papa Faisal, dan dia rela menonton TV sendirian selepas makan malam. Bahkan ajakan sang istri untuk segera tidur tidak pernah dihiraukan, demi mendengar perkembangan berita di TV.
"Nisa, Papa sangat berterima kasih sama kamu. Karena kamu begitu sabar menghadapi sikap Rey. Papa harap kamu bisa bahagia dengan anak Papa." Tiba-tiba saja Nisa merasa sangat sedih dengan apa yang dikatakan Papa mertuanya.
"Iya Pa. Ayo, Papa segera istirahat! Biar Nisa antar Papa ke kamar," Nisa hendak membantu Papa Faisal untuk beranjak dari tempat duduknya, tetapi tangan Papa Faisal menahannya.
"Kenapa, Pa? Papa butuh sesuatu?" tanya Nisa yang heran, karena Papa Faisal masih tetap ingin duduk.
"Nisa … Papa takut waktu Papa tak akan lama lagi."
"Papa bicara apa? Nisa yakin Papa akan panjang umur. Nisa Sayang Papa. Papa sudah Nisa anggap seperti Papa kandung Nisa. Selama ini Papa begitu menyayangi Nisa," ungkap Nisa. Sejak tadi dia mencoba menahan perasaan sedihnya.
"Kamu memang wanita baik Nisa. Papa bangga punya menantu seperti kamu. Papa berdoa semoga Rey tak pernah meninggalkan kamu. Jika hal itu terjadi, Rey akan hancur," ucap Papa Faisal sebelum dirinya beranjak dari tempat duduknya.
"Papa ke kamar dulu ya. Kamu juga segera tidur," Nisa mengangguk dan Papa Faisal pun berlalu, tetapi sebelumnya dia sempat memberikan sebuah senyuman yang justru membuat jantung Nisa berdegup kencang.
Setelah memastikan Papa mertuanya masuk ke dalam kamar, barulah Nisa mematikan TV. Kemudian dirinya baru kembali ke dalam kamarnya. Hati dan pikirannya tidak tenang karena perkataan Papa Faisal yang cukup mengganjal di hatinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rey menatap Nisa yang seperti kebingungan.
__ADS_1
"Em, tak ada apa-apa. Kamu belum tidur?" Nisa pun ikut berbaring di ranjang bersama Rey.
"Nungguin kamu, Sayang."
"Aku capek, langsung tidur ya!"
"Iya Sayang," Rey memeluk Nisa dan keduanya pun tertidur.
Namun, belum lama mereka terlelap, tiba-tiba saja suara ketukan pintu dan teriakan Mama Ratih membangunkan mereka berdua.
"Rey … buka pintunya Rey! Cepat … Rey," Rey dan Nisa tersentak kaget, dan langsung membuka matanya. Kemudian Rey langsung bangkit turun untuk segera membuka pintu kamarnya.
"Kenapa, Ma?" tanya Rey ikut panik melihat wajah sang Mama yang telah bercucuran air mata.
"Rey … Papa kamu, Rey." Mama Ratih tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Papa kamu … Papa kamu jantungnya kambuh. Kita harus segera bawa ke rumah sakit," jelas Mama Ratih dan tanpa basa-basi lagi, Rey segera berlari menuju kamar orang tuanya. Nisa juga ikut menyusul.
"Pa, kita ke rumah sakit ya, Pa. Aku mohon, Papa bertahan," Rey segera meletakkan tubuh sang Papa di punggung dan menggendongnya menuju mobil yang terparkir di depan rumah.
"Ma, cepat buka pintunya," titah Rey dan segera dilaksanakan oleh Mama Ratih. Mama Ratih langsung menekan remot mobil Papa Faisal.
Rey meletakkan papanya di kursi belakang, kemudian Mama Ratih pun ikut naik dan duduk di sisi suaminya. Nisa juga ikut bersama mereka, dia masuk kedalam mobil dan duduk di depan bersama Rey. Sebelumnya Nisa sempat menitipkan Khanza terlebih dahulu, karena Khanza saat itu sudah tertidur. Secepat mungkin Rey melajukan mobil menuju rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Rey kembali menggendong sang Papa dan membawanya ke IGD. Rey disambut seorang perawat dan memintanya untuk menurunkan Papa Faisal di brankar.
"Sus, tolong Papa saya," pinta Rey setelah menidurkan sang Papa di atas brankar.
__ADS_1
"Baik, Pak. Tolong tunggu di luar, Dokter akan segera datang." Jawab perawat tersebut dan menutup gorden untuk menutupi pasien.
"Sayang, tenang! Jangan menangis terus! Kamu juga harus mikirin anak yang ada di dalam perut kamu," ucap Rey sambil mengelus punggung istrinya. Nisa tak mampu lagi membendung perasaannya. Air matanya sudah mengalir deras.
"Tetapi …." Nisa tidak melanjutkan perkataannya karena melihat Dokter datang untuk memeriksa Papa Faisal. Cukup lama penanganan Papa Faisal, tetapi beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Papa Faisal menghampiri Rey dengan wajah sedih.
"Keluarga pasien?" Dokter menyapa Rey, Mama Ratih, Rey, dan juga Nisa segera beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, Dok. Bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Rey yang begitu khawatir.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi takdir berkehendak lain. Pasien menghembuskan napas terakhirnya pada pukul dua puluh tiga lewat sepuluh menit, kami turut berduka atas meninggalnya pasien," jelas sang dokter.
"Tidak, tidak mungkin! Tidak mungkin Papa meninggal. Papa, mengapa Papa meninggalkan Nisa? Baru saja Nisa bicara sama Papa," ucap Nisa yang langsung histeris mendengar papa mertuanya meninggal.
Nisa hampir saja ambruk di lantai, untungnya Rey dengan cepat menangkap tubuh Nisa. Sedangkan Mama Ratih langsung masuk untuk melihat suaminya yang baru saja dinyatakan meninggal.
Mama Ratih langsung memeluk tubuh Papa Faisal. Air matanya semakin deras karena dia tidak lagi mendengar dan merasakan detak jantung suaminya lagi.
"Pa, bangun, Pa! Jangan tinggalkan Mama! Mengapa Papa pergi meninggalkan Mama secara tiba-tiba begini, Pa …." Isak tangis terdengar jelas di sisi mayat Papa Faisal. Namun, tentu saja semua itu tidak akan membuat Papa Faisal bangun kembali. Wajahnya telah pucat seutuhnya. Dia merasa menyesal, selama ini kerap bersikap kasar dan tak baik kepada suaminya.
Nisa dan Rey ikut masuk melihat Papa Faisal. Reynaldi pun ikut meneteskan air matanya, meskipun dirinya masih berusaha untuk terlihat tegar.
"Pa, ini Nisa, Pa. Tolong Papa bangun! Nisa mohon …." Nisa meraih tangan Papa Faisal dan menggenggam tangannya yang telah dingin itu lalu menciumnya beberapa kali.
Rey tidak kuasa melihat kedua wanita yang dia sayangi itu terisak tangis. Ditambah kepergian sang Papa membuat dadanya terasa sesak. Rey hanya bisa memeluk secara bergantian istri juga Mamanya. Dia berusaha untuk kuat, meskipun dia sangat kehilangan papanya. Papanya 'lah yang mengajarkan banyak hal kepadanya. Untuk selalu bersikap jujur dalam bekerja dan selalu menjadi suami yang baik. Meskipun Mama Ratih selalu bersikap buruk kepadanya.
"Sayang, ikhlaskan kepergian Papa! Mama juga harus ikhlaskan Papa. Papa sudah tidak merasakan sakit lagi. Papa sudah tenang. Kita tidak boleh seperti ini. Nanti Papa pasti akan sedih," ucap Rey yang kini memeluk istri dan juga Mamanya.
__ADS_1