
"Pak, kata dokter Ibu Viona sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Silahkan bapak urus administrasinya ya sekarang," ujar sang perawat.
"Baik Sus," sahut Reynaldi.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau mengabulkan doaku," ucap Reynaldi dengan tulus.
Tentu saja hal ini membuat Reynaldi merasa senang, karena dia bisa dekat dengan sang istri. Reynaldi langsung mengurus administrasi kepindahan sang istri ke ruang perawatan. Mencari ruangan untuk tempat sang istri.
Dengan setia Reynaldi mendampingi sang istri. Viona sudah tak menggunakan alat bantu lagi. Namun, dokter belum memperbolehkan dia untuk pulang ke rumah. Reynaldi tampak menggenggam erat tangan Viona sepanjang perjalanan menuju ruang perawatan. Kesetiaan Reynaldi di sini di uji.
Kini Viona sudah berada di ruang perawatan kelas 3. Viona yang sekarang, sudah benar-benar berubah. Dia sudah tak sombong lagi. Dia menerima keadaannya sekarang. Selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
"Alhamdulillah kondisi kamu semakin membaik, semoga kita bisa segera pulang ke rumah," ujar Reynaldi.
"Iya, alhamdulillah. Aku masih bisa diberi kesempatan untuk menatap kamu," ucap Viona sambil tersenyum. Terlihat sekali, kalau Viona begitu mencintai Reynaldi. Reynaldi tampak membalasnya dengan usapan lembut di kepalanya dan memberikan kecupan di kening Viona.
"Terima kasih ya Ay, kamu mau menerima aku apa adanya. Meskipun kondisi aku sekarang sudah tak cantik lagi, bahkan sekarang aku tak memiliki rambut, dan tubuhku hanya tinggal tulang," ucap Viona diiringi isak tangis.
Reynaldi langsung memeluk tubuh Viona, membawa dalam dekapannya. Bukannya berhenti, Viona justru semakin menjadi. Dia semakin sedih, bahkan sampai sesenggukan.
"Ay, kamu bisa enggak bantu aku untuk sholat? Aku ingin sholat. Selama ini aku enggak pernah sholat. Aku ingin melakukan hal yang bermanfaat di sisa hidupku," ujar Viona.
__ADS_1
"Iya, aku akan bantu kamu. Besok aku minta mama bawakan mukena untuk kamu. Sekarang kamu tidur dulu, aku juga ingin istirahat dulu," ucap Reynaldi dan Viona menganggukkan kepalanya. Reynaldi tampak menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut. Reynaldi juga memberikan kecupan di kening istrinya. Membuat Viona merasa bahagia, karena merasa dicintai.
Setelah itu, dia langsung menggelar sajadah dan meletakkan tas bajunya untuk bantal dia tidur. Reynaldi tidur beralaskan sajadah, karena dia tak membawa tikar.
"Aku sudah berjanji pada diriku, untuk menemani kamu hingga akhir hayat. Aku enggak akan meninggalkan kamu, ataupun menceraikan kamu. Aku tak akan tega melakukan hal itu padamu. Aku harus terima jalan hidupku. Meskipun aku harus kecewa, karena tak bisa hidup bahagia menikah denganmu," ucap Reynaldi dalam hati.
Perlahan mata Reynaldi akhirnya terpejam. Mulai besok pagi, Viona ataupun Reynaldi berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mereka akan mulai rajin sholat kembali. Karena hanya Allah yang membantu mereka untuk melewati semuanya.
Jam alarm di ponsel Reynaldi sudah berbunyi, Reynaldi pun tampak menggigil kedinginan. Padahal dia sudah menggunakan sarung. Sekarang, perutnya sudah mulai terasa lapar. Setelah sholat subuh, Reynaldi berniat membeli makanan untuk dirinya dan sang istri sarapan. Dia ingin membeli nasi uduk, agar bisa sarapan bersama sebelum dia bekerja. Karena jam 06.00 pagi, dia harus bekerja. Dia tak mungkin izin, karena dia baru saja bekerja.
Reynaldi memilih untuk mandi agar tubuhnya terasa segar, setelah itu dia langsung mengambil wudhu untuk sholat subuh.
"Ay, aku mau sholat juga. Jangan lupa chat mama. Nanti, kalau mama kesini, suruh bawa mukanya, ujar Viona kepada sang suami.
"Aku mau nasi uduk pakai telor balado sama gorengan bakwan," sahut Viona.
"Iya. Ya sudah, aku mau sholat dulu. Ini dari tadi jadi enggak sholat-sholat," protes Reynaldi. Reynaldi berdoa dengan khusyuk, bahkan sampai meneteskan air matanya. Dia berharap kesembuhan istri dan juga mamanya. Rey juga berdoa agar dilancarkan rezekinya, dan juga dia berharap sang anak mau memaafkan dirinya.
"Ya Allah, selama ini aku telah melupakanmu. Banyak kesalahan yang Aku perbuat. Aku mohon, ampunilah dosa-dosaku selama ini yang aku perbuat," doa yang Reynaldi ucapkan.
Setelah selesai sholat, Reynaldi berniat pergi untuk membeli makanan.
__ADS_1
"Ay, aku beli sarapan dulu ya untuk kita," ucap Reynaldi dan Viona menganggukkan kepalanya. Reynaldi langsung membeli 2 bungkus nasi uduk untuk dirinya dan juga sang istri. Dia juga membeli air minum, cemilan, dan juga teh manis untuk sang istri.
Reynaldi baru saja sampai di ruangan sang istri. Dia harus segera makan dan menyuapi sang istri. Karena dia masih harus kerja shift 1 belum berubah ke shift 2.
"Ayo Ay, makan dulu ya! Biar kamu cepat sehat," ujar Reynaldi. Demi menyuapi sang istri, dia rela menahan laparnya. Dia ingin menjadi suami yang siaga untuk istrinya. Reynaldi mencoba untuk menerima kenyataan yang ada. Dia harus menyadari, kalau Viona yang sekarang menjadi istrinya. Dia harus benar-benar melupakan Nisa. Karena Nisa telah hidup bahagia dengan Abi.
Viona merasa sedih, merasa terharu. Atas perlakuan Reynaldi kepadanya. Memang dari dulu Viona merasa hanya Reynaldi yang bisa membuat dia bahagia. Makanya, dia berjuang untuk mendapatkan Reynaldi. Saat ini dia merasa kalau perjuangannya tidak sia-sia. Karena Reynaldi tetap menerima dia dengan segala kekurangan yang dia miliki.
Tak sia-sia dia sempat menderita mengurus mertua yang kini berubah menjadi mertua jahat untuknya.
"Sudah ah, jangan nangis terus! Kamu itu harus bahagia terus! Biar kamu bisa umur panjang," ujar Reynaldi.
Viona sebenarnya senang di suapin sang suami, tetapi sayangnya dia tak bisa makan banyak. Obat kanker yang dia minum dan kemoterapi yang dia lakukan, membuat perut dia merasa mual. Nap*su makannya menurun.
Setelah sang istri selesai makan, barulah Reynaldi makan. Namun, baru saja beberapa suap dia memasukkan makanannya ke dalam mulut. Viona merasa mual dan ingin muntah. Memuntahkan kembali makanan yang dia makan tadi. Hingga akhirnya Reynaldi terpaksa meninggalkan makanannya dan mengurus sang istri.
Dia terlihat begitu telaten mengurus sang istri, sampai-sampai Viona menangis kembali merasa terharu. Karena sang suami begitu baik kepadanya, dan tak merasa jijik membersihkan muntah sang istri.
"Maafin aku ya Ay, kamu jadi harus membersihkan muntah aku, padahal kamu lagi enak makan. Aku juga jadi ngerepotin kamu. Nanti kamu chat mama saja, minta tolong bawain karpet, bantal, sama selimut biar kamu enggak kedinginan," ujar Viona.
"Iya, nanti aku coba chat mama minta tolong dibawakan bantal, selimut, dan mukena kamu, dan juga tikar atau karpet kecil. Sudah ya jangan dipikirkan! Ini semua sudah menjadi tanggung jawab aku. Selama ini kamu pun selalu sabar mengurus Mama aku, meskipun Mama aku selalu bersikap tidak baik kepada kamu. Sekarang waktunya aku membalas budi kepada kamu. Lagi pula sudah sewajarnya aku melakukan itu, karena kamu adalah istri aku. Sudah sepantasnya aku mengurus kamu dengan baik.
__ADS_1