
Hari ini Mama Ratih sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Selain dia sudah tak betah, dia juga hanya tinggal masa penyembuhan saja di bekas operasinya. Untuk sementara waktu, dia tak boleh banyak bergerak dan beraktivitas berat. Kini Mama Ratih dan Reynaldi sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah. Sedangkan Viona di suruh menunggu mereka pulang.
"Semakin repot saja ini gue harus mengurus nenek-nenek penyakitan. Nasib ... nasib. Heran, hidup gue menderita banget," gerutu Viona.
Suara klakson mobil Rey terdengar, Viona bergegas untuk membuka pintu pagar. Mobil Rey sudah memasuki area pekarangan rumah. Rey turun lebih dulu, kemudian membantu sang mama untuk turun, dan memapahnya ke dalam rumah, membawanya ke kamar.
"Mama istirahat saja ya! Kalau mama butuh apa-apa. Mama panggil Rey atau Viona ya. Rey nurunin barang-barang di mobil dulu ya, habis itu mau mandi dulu," ujar Rey dan sang mama menganggukkan kepalanya.
Mama Ratih masih terlihat lemah, dia masih sering merasakan nyeri di bekas operasi. Rey keluar dari kamar sang mama untuk menurunkan barang-barang dari mobil.
"Ay, setelah ini aku mau mandi dulu. Aku titip mama ya, takut dia butuh sesuatu," ucap Rey kepada sang istri dan Viona mengiyakan.
Jika dulu, Rey selalu mencari waktu untuk bisa bersama Viona untuk menuntaskan hasratnya. Setelah menikah mereka justru jarang melakukan hubungan suami istri. Terlebih Viona kerap mengeluh sakit di perutnya, bahkan dia pernah keluar darah saat Rey melakukan dengan keras. Hal itu membuat Rey kerap merasa ilfeel, untuk melakukan hubungan suami istri. Dia lebih sering meminta Viona untuk mengulumnya.
Setelah menurunkan barang-barang dari mobil, Rey langsung naik ke kamarnya. Meninggalkan Viona yang merasa kesal di hati. Karena harus mencuci pakaian kotor Mama Ratih dan Rey selama di rumah sakit.
Dengan perasaan kesal, Viona memasukan pakaian kotor itu ke dalam mesin cuci, dan mulai menggilingnya. Setelah selesai mandi, Rey turun menghampiri istrinya.
"Ay, kamu masak enggak?" tanya Rey.
"Enggak. Uang aku habis. Tadi aku hanya makan mie instant. Itu juga stoknya habis. Pada habis semua di rumah," sahut Viona. Semenjak Rey tak bekerja, keuangan Viona di jatah dan diminta untuk irit.
__ADS_1
"Bukannya kemarin aku kasih kamu uang 300 ribu ya untuk kamu. Kok kamu boros banget sih? Nisa dulu irit loh. Satu minggu hanya 500 ribu untuk kita makan satu keluarga," ucap Reynaldi membuat Viona kesal.
"Oh, jadi kamu masih belain mantan istri kamu? Kamu pikir yang 300 ribu itu besar ya? Aku harus beli token, beras, air minum, dan juga untuk makan. Kamu sudah mulai hitung-hitungan ya sama aku?" cerocos Viona.
"Bukan seperti itu. Aku 'kan masih belum dapat pekerjaan. Makanya kita harus bertahan dulu, mengencangkan ikat pinggang. Kamu harus sabar dulu," jelas Reynaldi.
Semenjak menikah, Viona tak pernah lagi ke salon dan main ke Mall untuk shopping. Dia hanya menghabiskan waktunya di rumah, mengurus rumah. Tubuhnya semakin tak keurus, dan wajahnya tak seperti dulu yang kerap makeup. Sehari-harinya dia juga hanya memakai daster.
Rey merasa begitu menyesal harus kehilangan Nisa. Viona sangat berbeda dengan Nisa. Meskipun Nisa jarang sekali ke salon dan berdandan, dia tetap terlihat cantik alami. Berbeda halnya dengan Viona yang justru terlihat tua. Dari segi usia, Nisa memang lebih muda.
"Ya sudah, aku enggak mau ribut. Aku capek. Aku minta sama kamu, tolong urus mama sebaik mungkin. Tolong perhatikan makannya, dan bantu dia untuk mandi atau apapun. Terlebih saat aku tak ada di rumah. Mama tak boleh capek. Nanti aku transfer uang untuk belanja. Tolong kamu belanja semua keperluan di rumah, dan besok tolong kamu belanja ke pasar. Belanja semua bahan-bahan untuk memasak," ucap Reynaldi.
"Sudah harus mencuci baju, jagain nenek-nenek, di suruh belanja sendiri juga. Enggak ada perhatian banget. Menyesal gue nikah sama dia, kalau akhirnya seperti ini. Dia enak-enakan tidur pulas," gerutu Viona.
Rasa kesalnya semakin menjadi, saat Mama Ratih memanggil Viona dan Reynaldi secara bergantian karena ingin ke kamar mandi. Mau tak mau dia harus masuk ke kamar Mama Ratih, dia tak ingin Rey akan marah sama dia.
"Bikin susah gue saja ini nenek-nenek," umpat Viona.
"Vi, tolong bantu Mama ke kamar mandi," ucap Mama Ratih lemas.
Selama ini Mama Ratih mengira kalau Viona adalah calon menantu idaman dia. Namun nyatanya dia salah. Justru dia berani membentak Mama Ratih.
__ADS_1
"Ma, memangnya Mama tak bisa ya ke kamar mandi sendiri? Bikin susah aku saja. Aku ini capek Ma, harus kerja ini itu. Ini juga cucian banyak banget. Aku harus nyuci. Rey mah enak tidur nyenyak. Belum lagi aku haru belanja keperluan rumah dan ke pasar," cerocos Viona membuat Mama Ratih geleng-geleng kepala.
"Vi, kalau Mama bisa. Mama juga tak akan merepotkan kamu," jelas Mama Ratih.
"Ya sudah, ayo! Aku harus lanjut pekerjaan lainnya," sahut Viona.
Viona memperlakukan Mama Ratih dengan kasar, tak sabaran. Mama Ratih salah, orang yang akan sabar merawat dia adalah Nisa. Selama ini dia salah, membuang wanita yang lembut, dan sabar.
"Vi, Mama mau makan pakai soto ayam," ungkap Mama Ratih.
"Iya, tetapi nanti ya. Aku mau selesaikan cucian dulu. Setelah itu, aku baru keluar," sahut Viona.
"Tapi perut Mama sudah terasa lapar sekali," protes Mama Ratih.
"Ma, Vi harus selesaikan cucian dulu. Habis itu baru bisa keluar rumah," jelas Viona. Dia berusaha untuk sabar. Meskipun dirinya merasa panas.
Viona pamit untuk melanjutkan pekerjaan. Dia terlihat kelelahan. Karena dia memang jarang bekerja dulunya. Setelah selesai mencuci, Viona langsung masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia melihat suaminya yang tertidur pulas.
"Untungnya aku cinta sama kamu. Kalau tidak, sudah aku tinggal kamu. Aku capek hidup seperti ini. Aku jenuh," ucap Viona dalam hati.
Setelah berganti pakaian, Viona langsung pergi keluar rumah untuk berbelanja. Padahal dulu, orang tuanya tak pernah sekalipun menyuruhnya seperti ini. Saat menikah dengan Abimanyu suami pertamanya, dia juga selalu hidup berkecukupan. Hanya saja, Abimanyu sangat sibuk. Membuat dia merasa jenuh. Saat menikah dengan Reza pun, mereka selalu beli. Tak pernah masak, hanya tinggal memanasi. Reza juga selalu mencukupi kebutuhannya, hanya saja pernikahannya harus berujung dengan perselingkuhan.
__ADS_1