Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Permintaan Sang Bunda


__ADS_3

Kondisi Bunda Anita semakin menurun. Abi terpaksa memberitahu Nisa. Dia ingin Nisa bertemu sang Bunda untuk terakhir kalinya. Abi merasa pesimis, dia tak yakin kalau Bunda Anita akan bertahan lama.


"Assalamu'alaikum. Iya, Mas. Ada apa?" Fina menerima panggilan telepon dari Abi.


"Dek, Mas minta nomor telepon Nisa dong. Ibunya kritis di rumah sakit. Mas harus memberitahu Nisa," sahut Abi.


"Ya Allah. Kasihan banget Nisa. Ada aja cobaannya. Aku kirim sekarang ya Mas nomor telepon Nisa," ujar Fina dan Abi mengiyakan.


Fina langsung mengirimkan nomor telepon Nisa Nisa, dan Abi langsung mencoba menghubungi Nisa. Sebenarnya, Abi sudah selesai jam prakteknya. Namun, melihat kondisi Bunda Anita yang menurun, Abi akhirnya mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk terus memantau kondisi Bu Anita.


"Nomor telepon siapa ya?" Nisa bermonolog. Nisa baru saja selesai sholat isya, dan mendengar ponselnya terus berdering. Saat itu Khanza sudah tidur. Karena tak pernah tidur siang. Khanza sering kali menemani sang Bunda bekerja.


Akhirnya Nisa menerima panggilan telepon itu.


"Waalaikumsalam. Maaf, siapa ya?" tanya Nisa.


"Aku Mas Abi. Dokter Abimanyu. Dokter Ibu Anita, bundanya kamu," jelas Abi.


"Iya Mas, eh maaf Dok. Ada apa ya?" tanya Nisa. Dia merasa grogi. Baru kali ini dia melakukan panggilan telepon dengan seorang laki-laki. Setelah menikah dengan Reynaldi, tak pernah sekalipun dia melakukan panggilan telepon dengan laki-laki lain.


Nisa langsung meneteskan air matanya. Saat mendengar kalau Bundanya kritis. Tanpa pikir panjang, dia berencana untuk segera berangkat ke rumah sakit tempat sang Bunda berada.


"Makasih ya Dok. Saya akan segera berangkat ke rumah sakit," ujar Nisa dengan terisak tangis.

__ADS_1


"Iya Nis, sama-sama. Kamu pergi sama siapa kesini? Hati-hati ya di jalan," ucap Abi. Dia merasa khawatir dengan Nisa. Abi yakin, kalau pikiran Nisa saat ini pasti sedang kacau.


"Sama Khanza, Dok. Aku bangunin Khanza dulu ya. Makasih ya, Dok. Aku siap-siap dulu ya Dok! Setelah ini langsung berangkat," ujar Nisa.


Kini Nisa dan Khanza sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Untungnya ada taksi online yang mau mengambil orderan Nisa. Nisa terpaksa membangunkan Khanza, karena dia tak mungkin meninggalkan Khanza dengan sang ART. Kini Nisa mempekerjakan ART sekaligus orang yang antar jemput Khanza sekolah.


Nisa tampak gelisah, sepanjang perjalanan dia terus berdoa. Dia mendoakan kesembuhan Bundanya.


"Sabar ya Bun! Aku yakin Nenek pasti kuat," ucap Khanza.


"Iya. Untungnya, Bunda punya kamu Sayang. Maaf ya, Bunda selalu melibatkan kamu dalam permasalahan hidup Bunda," sahut Nisa. Nisa langsung memeluk tubuh sang anak erat.


Akhirnya, mobil yang membawa mereka sampai di rumah sakit. Nisa langsung turun dan bergegas mencari keberadaan sang Bunda. Nisa juga mencoba menghubungi Dokter Abi, untuk memberitahu kalau dia sudah sampai di rumah sakit.


Abi langsung keluar mencari keberadaan Nisa. Akhirnya mereka bertemu. Karena Nisa sudah mendapatkan informasi juga keberadaan sang Bunda saat ini.


"Kondisinya menurun, Nis. Kamu sabar ya! Terus berdoa, semoga Bunda bisa melewati masa kritisnya," sahut Abi.


Nisa meminta Abi untuk mengantarkan dirinya bertemu sang Bunda. Dia menyuruh Khanza untuk menunggu di luar, karena ruangan itu tak boleh untuk anak di bawah 12 tahun. Nisa berjalan dengan di dampingi Abi.


Nisa mengambil kursi dan meletakkan di dekat ranjang sang Bunda terbaring lemah, kemudian dia duduk sambil meraih tangan sang Bunda yang terasa begitu dingin. Sesekali Nisa menatap ke arah monitor, untuk memperhatikan detak jantung sang Bunda.


"Assalamualaikum. Bun, ini Nisa. Kenapa si Bunda membohongi Nisa, menutupi semuanya dari Nisa? Sampai-sampai Nisa baru tahu, saat kondisi Bunda seperti ini. Nisa mohon, Bunda harus semangat! Bunda harus kuat! Tolong Bunda jangan tinggalkan Nisa, Nisa enggak mau kehilangan Bunda," ucap Nisa diiringi isak tangis. Nisa tak mampu lagi memendam perasaannya saat ini. Air matanya jatuh satu persatu menetes membasahi wajahnya.

__ADS_1


Nisa berharap sang Bunda segera membuka matanya. Mengetahui kedatangannya. Perlahan Bunda Anita membuka matanya. Wajahnya terlihat pucat, dan terlihat sangat lemas.


"Nisa, anakku. Akhirnya kamu datang Nak. Maafkan Bunda yang selalu saja menyusahkan kamu. Bunda senang, kamu kini sudah berhasil mengubah nasib kamu. Semoga kamu menjadi orang yang sukses. Bunda ingin lihat kamu bahagia," ungkap Bunda Anita dengan suara yang terdengar lemas.


"Iya Bun. Makanya Bunda harus cepat sehat! Agar Bunda bisa menikmati jeri payah aku. Aku ingin membahagiakan Bunda," sahut Nisa. Bahkan Nisa sampai sesenggukan. Ingin sekali Abi mengusap punggung wanita yang dia cintai. Semakin hari rasa cintanya kepada Nisa semakin besar.


Suasana hening seketika. Bunda Anita mencoba menahan rasa sesak di dadanya. Rasanya, sudah semakin sulit dia bicara. Namun, dia masih harus berbicara.


"Nis ...," panggil Bu Anita. Kini tatapannya mengarah ke anaknya. Nisa tampak menganggukkan kepalanya. Bunda Anita dapat melihat kesedihan di wajah sang anak. Dia pun tak ingin membuat sang anak seperti saat ini.


"Bunda ingin kamu menikah dengan Dokter Abimanyu," ucap sang Bunda dengan suara yang berat.


Detak jantung Nisa seakan terhenti. Nisa terlihat shock. Dia tak menyangka sang Bunda menyuruh dirinya menikah. Padahal, Nisa pernah bicara kalau dirinya tak mau menikah lagi. Dia ingin menjadi single parent untuk Khanza. Kalaupun ingin menikah, tak akan mungkin secepat ini. Nisa masih merasa trauma, dia takut kalau nantinya akan tersakiti lagi.


"Maaf Bun, Bunda 'kan sudah tahu alasan aku. Lagi pula, Dokter Abimanyu itu tak mencintai aku. Jangan paksa dia untuk menikahi aku. Tolong Bunda cabut ucapan Bunda," pinta Nisa dengan wajah mengiba.


"Waktu Bunda tak banyak Nis. Bunda ingin kamu mendapatkan pendamping yang tepat, yang bisa melindungi kamu dan juga Khanza. Yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Bunda rasa, Nak Abi cocok untuk kamu. Bunda yakin kalau dia adalah seorang laki-laki yang baik, yang akan mencintai kamu. Dia juga mencintai kamu," ungkap Bunda Anita.


Pernyataan apalagi ini. Nisa melirik ke arah Abi yang menundukkan kepalanya. Dia merasa malu. Dia yakin Nisa akan sangat marah padanya.


"Apa benar Mas Abi mencintai aku? Aku tak ingin, Mas Abi melakukan ini karena terpaksa," ujar Nisa.


"Nak Abi mau 'kan menikah dengan anak ibu? Ibu titip Nisa. Tolong sayangi dia dengan tulus, jangan sakiti hatinya lagi. Dia sudah banyak terluka dan menderita. Ibu yakin kalau kamu bisa membahagiakan dia," ujar Bunda Anita.

__ADS_1


"Iya Bu, saya bersedia. Karena saya memang mencintai Nisa sejak pertama kali bertemu, dan ternyata Nisa sahabat dari sepupu saya. Membuat saya semakin dekat dan yakin kalau Nisa adalah wanita yang baik. Hanya saja dia mendapatkan laki-laki yang tidak tepat. Saya janji akan mencintai dia dengan tulus, dan tak akan menyakiti hatinya. Saya juga akan menerima Khanza seperti anak kandung Saya sendiri," ungkap Abi.


"Pokoknya Bunda harus sembuh. Nisa enggak mau dengar Bunda bicara seperti itu. Karena Bunda tak akan pergi kemana-mana. Bunda akan selalu bersama Nisa," ucap Nisa.


__ADS_2